AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Minta Dedek Bayi!


__ADS_3

"Bun...!"


"Yah...!"


Entah sekarang jam berapa? Surya tak tahu. Yang ia lihat pertama kalinya saat bangun dari tubuh yang masih lemah, adalah kedua orang tuanya.


Kedua orang terkasih nya itu sedang tertidur bersama dengan posisi duduk. Ayahnya bersandar di sofa, sedang kepala sang Bunda bersandar nyaman di bahu sang Ayah.


"Sssstt... Diam, bodoh! Nanti mereka bangun."


Aih ... Bodoh katanya.


Refleks Surya melirik ke samping kanan. Ternyata Cahaya sepertinya sudah bangun lebih awal darinya.


"Ayah dan Bunda pasti capek dan kecewa punya anak nakal seperti kita?" racau Cahaya yang sedari tadi memang menatap sendu orang yang tertidur itu.


Surya tak menanggapi. Ia lebih berpikir, tentang kejadian awal awal dirinya merasakan panas luar biasa di bagian tenggorokannya dan terbangun dengan keadaan leher yang mempunyai perban medis sekarang ini.


"Ca, kita terakhir makan apa sih?" Surya bertanya. Membuat pikiran ngaur Cahaya menguap.


"Entahlah__eh, kita kan makan di dalam pesawat bersama Tante ondel ondel!" Ingat Cahaya yang tadinya lupa. "Apa si Tante yang memberi kita racun?"


Surya pun berpikir demikian yang baru saja ditebak tanpa bukti dari Cahaya.


"Tapi... Kapan dia mencampurkannya?" Cahaya kembali berseru.


"Iya juga ya. Aku rasa bukan dia deh. Memang kita makan bersama dengannya, tetapi dia tak melakukan aneh aneh di depan mata kita bukan?"


Baru juga tersadar dari pingsannya, Surya dan Cahaya sudah mengobrol seraya berpikir keras tentang keadaan yang menimpanya. Seperti tidak merasakan sakit apa pun. Anak energik itu, tidak bisa diam bawaannya.


" Om Panu!" kompak dua bocah itu berseru menuduh Vano dan dua orang lainnya yang tiba-tiba sok menyapa ingin berkenalan, saat para orang tua nya ke toilet.


Kalau cuma mau berkenalan, kenapa harus menunggu sang Bunda dan Ayah mereka pergi dulu? Kan bisa awal keberangkatan.


Itu lah kesimpulan kecil dari Surya dan Cahaya.


"Tapi, siapa memang mereka? Motifnya apa coba? Kenal saja, tidak!" Cahaya berpikir logis.


"Ah, entahlah. Nanti saja berpikir yang rumit rumit nya. Bagaimana kalau __" Surya terjeda. Ia lebih memilih menoleh ke arah samping dan berbisik bisik ke Cahaya. Bibir pucat gadis kecil itu pun, tersenyum manis. Setuju akan ide Surya.


"Ayah...!"

__ADS_1


"Bunda...!"


Cahaya memanggil sang Ayah, sedang Surya memanggil sang Bunda dengan suara keras, seperti tak ada rasa sakit lagi di bagian leher.


"Bunda!" Panggilan Surya lagi, berhasil membangunkan Badai. Bukan Bundanya.


"Euhh..." Badai melenguh. Ia ingin memposisikan duduknya untuk tegak, tetapi tertahan karena ada beban kepala Embun yang masih tertidur.


"Yah," Panggil Cahaya kembali. Membuat Badai tersadar kalau dua bocahnya sudah siuman.


Karena kegirangan, Badai refleks berdiri. Melupakan ada Embun yang bersandar nyaman. Alhasil, bugh... Embun terjatuh ke lantai.


"Aww...!" pekik Embun yang tersadar seratus persen. Ia segera bangun dari lantai dengan delikan kesalnya tertuju ke Badai. Tetapi sesaat saja, karena ada hal bahagia di depan matanya.


"Kalian sudah __" Embun terjeda. Wajah itu nampak sembringa dalam langkah cepatnya sampai sampai Badai yang sudah mengelus sayang rambut Cahaya, ia senggo. Menggantikan posisi Badai.


Meski kesal, Badai tetap diam. Tak mau adu mulut di depan anaknya. Sabar!


"Bunda senang, kalian sudah sadar. Apa sekarang masih sakit, Sayang?" Embun menciumi kedua Anaknya secara bergantian. Hampir sepuluh menit, Badai tak mendapat kesempatan.


"Gue goreng juga jadi bakwan nih manusia menyebalkan," gumam Badai. Sialnya, Embun berbalik di saat itu juga. Mata wanita itu, langsung memicing sinis padanya. Dia dengar rupanya.


Badai hanya membalas bisikan penuh emosi tertahan Embun dengan cara menyenggol sisi tubuh Embun, tapi bukan senggolan menggunakan lengan, melainkan sisi pinggulnya ia tubrukkan. Membuat Cahaya dan Surya tertawa tanpa beban. Meski meringis karena ada denyut ngilu di bagian lehernya.


Hah... Mulut Embun terbuka setengah. Demi apa coba, Badai mencandainya di saat ia sudah memberi kode kode permusuhannya.


Lain halnya Badai, ia berseloroh lucu karena ingin mengobati anaknya, bukan hanya fisiknya saja, melainkan juga psikisnya. Ia tak mau si kembar mempunyai kata trauma, meski sekecil apapun itu.


"Apa ada yang ingin di cium oleh Ayah?" tanya Badai, jenaka. Bibirnya ia monyong - monyongkan dengan alis tebal itu naik turun di depan Cahaya. Kedua bocah itu kembali tergelak. Sakit di lehernya sudah mereka abaikan.


Embun yang melihat ke akraban ketiganya, segera berbalik. Memalingkan penglihatannya. "Pembunuh tetap harus di hukum," batinnya menegaskan lagi misi nya. Ia tak mau lemah hanya karena sikap baik Badai untuk si kembar.


"Kami tak mau di cium, Yah. Tapi kalau boleh meminta lainnya, bisa?" ujar Surya bertanya.


Embun berbalik lagi. Ikut penarasan.


"Apa, Sayang?" Badai siap mendengarkan. "Apa pun itu, Ayah janji akan kabulkan. Terpenting kalian sembuh sedia kalanya."


"Kami mau dedek bayi...!" kompak mereka bersungguh-sungguh.


Uhuukk...

__ADS_1


Embun terbatuk. Sedang Badai segera menggigit lidahnya yang main berjanji lebih dahulu. "Sangat bodoh diri ku ini. Mana ada manusia tampan seperti ku yang mau mengawini singa betina. Adanya mati akunya," katanya dalam hati. Sepertinya Badai amnesia kalau ia sudah kawin sama wanita yang dijuluki singa betina itu. Bonus nya pun sudah ada dua bocil nakal di depannya.


" Bun, Ayah! Kok diam saja sih?" Cahaya merengek. Meminta jawaban 'Yes' tanpa mengenal kata 'No'.


Hoaammm...!


"Cieee... Angopnya kompak banget sih." goda Surya.


Embun dan Badai saling pandang, keduanya tahu kalau mereka menguap demi lari dari tuntutan jawaban. Mudah memang menjawab ya atau tidak. Tetapi, mereka tak mau membuat harapan palsu.


"Sini, Yah, Bun. Kita tidur berempat. Pasti seru. Dan ini pula salah satu impian ku sejak dulu." Mata bening Surya berkaca-kaca, akhirnya ia sebentar lagi akan merasakan satu ranjang bersama kedua orang tua nya seperti cerita teman-temannya di sekolah dulu.


"Tentu saja, Sayang. Mari kita tidur bersama." Setuju Badai dengan sorot mata jahil tertuju ke istri singanya itu. Tangan nya pun saat ini sudah bekerja tanpa ada perawan.


Embun ingin sekali mematahkan tangan Badai yang main merangkul sok mesra pinggangnya. Tapi kembali lagi mengingat, kalau ia tak boleh kasar di depan mata si kembar.


Dan setelah mengatur posisi suka suka ala Cahaya di bantu oleh Surya, mereka pun tidur bersama di atas bed king size itu.


Embun dan Cahaya berada di tengah tengah sebagai cewek, itu kata Surya. Dan Badai, saat ini berada di samping berbaringnya Embun. Tubuh wanita itu terasa kaku seketika, tatkala Badai main melingkarkan tangannya di bagian perut.


Badai sengaja menggoda Embun di balik gelapnya ruangan yang sudah di matikan lampunya.


"Kondisikan tangan mu." bisik Embun geram. Ia menahan nafas saat Badai sengaja mengelus perutnya. Ia pun terus menepisnya. Namun Badai tetap saja tengil.


"Ouh, oke. Aku kondisikan. Begini kan..."


Ress...


"Hmmpp..."Embun membekap sendiri mulutnya tatkala Badai semakin tengil. Su*u nya di remas coeg. Pelecehan ini mah namanya. Awas saja!


" Itu bayaran dari perbuatan mu. Merem*s balas diremas." Badai menyeringai. Buah yang baru ia lepaskan serasa menantangnya. Ingin lagi, tapi takut juga pada sang pemilik dada yang mendengus dengus kesal tanpa ada suara lainnya. Kelemahan istri nya itu ternyata di depan si kembar toh. Ah, rasanya tak sabar lagi ingin mengerjai istri pendendamnya itu.


'Emang enak! Rasakan lagi nih remasanku.' Badai ingin sekali lagi melakukannya, tetapi tangan Embun lebih dahulu mencekalnya.


Kreeekk...


Awwwww.... Jeritan itu, hanya bisa tertahan seperti tikus kejepit. Embun hampir saja mematahkan telunjuk tangannya.


"Tidur atau jari jari mu ini benar benar tak akan berfungsi lagi." ancam Embun.


"Cih, dasar wanita kasar!"

__ADS_1


__ADS_2