AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 14# Melumpuhkan Maling


__ADS_3

"Keparat!"


Eliza yang kalah memperebutkan kamar luas miliknya bersama Badai, menghardik marah kepada Embun yang tidak ada di depan matanya. Saat ini, ia sudah berada di dalam kamar lain.


Baju pengantin yang berbalut di tubuhnya, ia lepas secara kasar, menyisakan underwear merah muda kacamata di bagian atas dan segitiga di intinya itu. Lalu, menghempaskan tubuhnya untuk rebahan di kasur.


"Tak apa aku gagal malam ini, Badai Sagara! Tetapi lihat saja pada malam malam berikutnya, kamu akan aku mutilasi seperti kamu dulu membunuh Ayah dan Kakakku."


Ya, itulah tujuan Eliza. Membunuh Badai seperti keinginan Embun pun.


Eliza adalah anak dari Jerry dan adik dari Tommy. Dua pria itu memang mati mengenaskan di tangan Badai dengan suatu alasan kuat, pada waktu delapan tahu silam.


"Bosan!"


Eliza bangkit dari rebahannya. Meraih gawainya, lalu mendail kontak orang yang bernama Vano dengan panggilan video. Padahal, penampilannya masih dalam setengah naked.


Sambungan itu pun terhubung, memperlihatkan sosok pria yang berambut gondrong dengan leher itu mempunyai tatto berbentuk ular cobra. Sangat sangar terlihat di mata, namun pria tersebut adalah kekasih Eliza.


"Bagaimana, Sayang? Tugas mu sudah selesai?" tanya Vano di seberang sana dengan mata nakalnya tertuju pada area sensiti* Eliza yang seakan-akan melambai untuk dijamah.


"Gagal total!" adu Eliza dengan nada malas.


"Kok, bisa? Aku kira kamu sudah melakukan tugasmu di malam pernikahan kalian?" ujar Vano. Dia memang membantu Eliza untuk membalas dendam. Bahkan, ide untuk meluluhkan hati Badai adalah dari dia. Menikah, lalu membunuh Badai pada malam pertamanya.


Vano memang mengakui kalau Badai Sagara adalah mantan sikopet yang bersembunyi dalam sikap lugunya. Badai susah untuk dibunuh secara terang-terangan, jadi harus pakai intrik elegan.


"Karena masa lalu Badai datang menghancurkan segalanya...."


Eliza pun menceritakan semuanya tentang Embun dan si Kembar. Kejadian di acara pernikahan pun, ia ceritakan tanpa terlewat.


"Begitu ya!" ujar Vano yang sudah mendengar cerita Eliza. "Itu tandanya, aku harus masih menahan hasrat ku sedikit lama lagi? Sungguh, aku merindukan mu, Sayang."


Tatapan mata Vano benar benar tak bisa lepas dari dada Eliza yang rupanya wanita itu sengaja memancingnya.


"Hahaha ..." Eliza tertawa kecil. "Begitukah, Sayang? Lihat ini..." Tanpa malu, Eliza melepaskan underwear-nya sampai benar-benar polos. Lalu melanjutkan ucapan nakalnya, "Aku juga merindukan hisapan mu, Baby. Ahh..."


Eliza berhasil membuat Vano kepanasan di seberang telepon, dengan tangannya itu menyentuh dua gundukan kembarnya sendiri, tak lupa... ******* Eliza terdengar seksi oleh Vano.


"Pilihlah! Aku yang akan ke rumah suami sialanmu itu, atau kamu sendiri yang akan mengantarkannya kepadaku? Sungguh Eliza, aku tidak tahan." Vano menelan ludahnya sendiri. Tubuh polos Eliza berhasil membuat jakunnya naik turun berkali kali.


"Tunggu aku di sana, Sayang. Malam pengantin ku bersama mu, bukan untuk Badai."

__ADS_1


Eliza pun segera bersiap-siap. Setelahnya, ia keluar kamar dengan cara mengendap endap seperti maling.


Dari lantai dua, Surya yang haus dan berniat mengambil minum di lantai bawah, tak sengaja melihat orang berhoodie hitam.


" Ada maling di rumah Ayah," gumamnya. Bukannya berteriak untuk memanggil pertolongan jikalau memang itu maling, Surya malah berniat melumpuhkan maling tersebut dengan caranya sendiri.


Surya segera berlari ke kamar nya. Menarik selimut. Cahaya yang sudah menari nari di dalam mimpi indahnya, menjadi terganggu. Ia memang tidur bersama adik nya.


"Surya!" rengek Cahaya. Protes dengan mata itu malas sekali terbuka.


"Ssstt... Diam, Ca. Di bawa sana ada maling! Ayo kita bikin kapok maling nya."


Cahaya yang tadinya mengantuk. Mendadak mata sayunya itu menjadi below, lebar lebar. Lalu segera mengikuti Surya dengan tangan sudah memegang sebuah pukulan golf yang kebetulan ada di samping pintu kamar. Siap empat lima memukul sang maling.


Tap...


Lampu mendadak mati di ruangan tengah yang sedang di pijaki Eliza.


Dan itu ulah Surya.


Di mata bocah bocah nakal itu, Eliza berhenti melangkah karena kegelapan.


Cepat cepat, Surya berlari tanpa menggunakan sendal rumah dan menguntungkan diri nya dari suara derap kaki.


Hap ... Berhasil! Kepala Eliza sudah tertutup. Wanita itu menjerit kaget. Tapi kedua bocah nakal Embun, mana peduli. Maling harus digebukin bukan. Oleh karena itu, Cahaya yang memang sedari awal membawa tongkol golf, segera di ayunkan untuk memukuli bagian tubuh Eliza.


"Aww ... sakit bodoh!" Eliza kesusahan melepaskan diri dari jala selimut lebar, karena Surya menahannya.


"Pukul terus, Ca! Lebih kencang!"


Buggh...


Buggh...


Eliza yang malang. Cahaya sangat menikmati olahraga malam nya.


"Stop! Stop! Stop! Sakit, bodoh!"


Apa katanya, Bodoh? Sudah dua kali ia di hardik bodoh. Cahaya jelas geram di katain bodoh sama maling yang roman roman nya pintar meniru suara ibu tirinya.


"Maling kurang ajar! Cantik cantik begini, plus pintar tapi minusnya cuma nakal, malah di katain bodoh! Cih... Caca nggak terima! Caca juga nggak akan tertipu dengan suara mu yang mirip tante ondel ondel!"

__ADS_1


Buggh...


Buggh...


Kegaduhan di ruang tengah yang gelap itu, tidak terdengar oleh Embun dan Badai. Selain Badai yang sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi dan Embun yang sedang buru buru bergegas menguasai kasur, kamar tersebut di lengkapi spesifikasi kedap suara.


Mereka akan sadar jikalau Surya dan Cahaya membuat getaran gempa.


"Ini Tante Eliza ... aww... lepasin selimut nya! Anak nakal! Sakit! Aww...!"


Bugh...


"Aih ... Telat!" Surya dan Cahaya kompak berkata lirih demikian. Mereka menyayangkan Eliza yang katanya telat menyebut namanya tadi. Pasalnya, kata telat itu sudah membuat Eliza pingsan karena pukulan terakhir Cahaya tepat mengenai kepala Eliza.


"Sur, cepat nyalakan lampu!" pinta Cahaya sedikit panik.


Bocah lelaki itu pun menurut.


Tap...


Cahaya segera menyilak selimut yang menutupi tubuh tergolek di atas lantai dingin itu.


"Iya, Sur! Ini tante ondel ondel!"


"Duh, gimana dong?"


Dua bocah kesayangan Embun itu, sedikit cemas. Bukan karena kasihan pada sang korban kenakalan terhakiki mereka. Melainkan takut di marahi sang Ayah kalau ketahuan istri keduanya habis mereka keroyok.


"Ayo, Ca! Bantu aku, kita bawah masuk ke dalam kamarnya. Anggap saja kita sedang mimpi melakukan nya." Ide Surya. Cahaya mengangguk seraya mengangkat satu kaki Eliza yang bermaksud akan memindahkan ibu tirinya.


"Sur, berat tau!" keluh Cahaya.


Sampai pagi pun, mereka tidak akan kuat menggendong beban tubuh Eliza.


Surya dan Cahaya kelimpungan sendiri.


"Duh, Sur. Pakai otak kenapa! Otot kita kan seupil, jadi mana kuat!"


Cahaya ingin menyerah, bukannya berhasil memindahkan, malahan sepatu Eliza yang copot, tertarik.


"Begini saja..." Akhirnya, otak pintar Surya berjalan juga. Ia segera melebarkan selimut, lalu membolak balik tubuh Eliza dengan bantuan kekuatan tangan mungil Cahaya, sampai tubuh itu berada di tengah-tengah selimut putih nya.

__ADS_1


"Nah... Baru kita tarik!" Surya tersenyum tanpa dosa. Cahaya pun demikian di sela kerja sama mereka yang sudah menarik narik tubuh Eliza dengan bantuan selimut dan lantai licin.


***


__ADS_2