
Dari gerbang, si kembar lanjut mengendap endap bak maling ke arah samping rumah. Berhenti tepat di dekat jendela. Mereka mengintip dan terlihat seorang wanita yang sedang dipangku oleh seorang pria.
"Mereka sedang apa, Sur?" tanya Cahaya polos.
"Lagi minum susu," sahut Surya gamblang. Lagian memang benar kok pemandangan di sofa sana. Seraya dipangku, bagian atas Eliza sedang di nyot nyot oleh bayi gondrong yang Surya dan Cahaya sudah mengingat si Om yang dinamainya Om Panu. Orang yang sama dengan pria yang mengajak mereka berkenalan di pesawat waktu itu.
"Ouh, memangnya orang dewasa pun sering minum susu ya? Ayah juga begitu dong ke Bunda?" Cahaya makin penasaran. Mata suci mereka tercemar akibat kemesuman tak tahu tempat dua orang cabul di dalam sana.
"Mana aku tau!"
"Kenapa nggak tau? Bukannya kamu pintar dalam segi pelajaran?" Cahaya terus mencerca keingin tahuannya. Mana si Tante ondel ondel seperti meringis ringis gimana gitu. Cahaya kan ngeri tapi kepo pakai banget. Pasti itu sakit, buktinya si Tante merem melek menahan sakit. Begitulah pemikiran Cahaya yang masih polos meski badung kelakuannya.
"Ckk..." Surya berdecak kesal akan kekepoan Cahaya. "Di pelajaran, hanya tertulis bagi bayi kecil yang dianjurkan ASI dalam waktu selambat lambatnya dua tahun," terang Surya berbisik bisik. "Mungkin si Om Panu itu masih bayi umur dua tahun kali." ujar Surya asal asalan.
"Tapi__"
"Sssstt... Diam!" Surya menekan paksa kepala Cahaya untuk bersembunyi, saat Vano menarik kepalanya dari dada Eliza. Hampir saja ketahuan.
"Siapa di sana?" teriak Vano seraya menurunkan Eliza dari pangkuannya.
Eliza yang penasaran, segera merapikan penampilannya. Lalu ikut berdiri dan malangkah di belakang Vano, hendak menghampiri jendela yang terpasang tralis tralis besi.
"Meooonggg..."
Mata Surya melotot geram tanda peringatan, saat Cahaya tiba tiba meniru suara kucing.
"Meooonggg..." Bukannya mengerti peringatan kode mata itu, Cahaya malah memperjelas suara kucingnya. Berkali kali.
"Itu cuma kucing, Sayang! Abaikan saja!"
Langkah Vano tertahan akan seruan Eliza. Segera pun, ia berbalik dan berhadap hadapan dengan pacar hotnya itu. Tidak jadi menoleh ke sekitaran luar jendela. Surya mengelus dada, selamat.
"Aku akan pulang sekarang, Vano. Takutnya, Badai lebih dahulu sampai ke rumah. Cepat, Berikan obat itu padaku. Malam ini adalah waktunya Badai tidur bersama ku. Setelah surat pemindahan harta ditandatangani, maka byuusss... is dead. Badai akan aku bunuh tanpa ada perlawanan. Sesuai rencana, Embun lah yang akan menjadi tersangka di sini."
Eliza tersenyum licik membayangkan Embun yang menjadi kambing hitam nya dengan konsep memakai cela Embun yang mempunyai dendam ke Badai. Ah... Tak sabar menunggu puncak pembalasannya nanti malam.
Rencana Eliza sangat jelas masuk ke dalam pendengaran si kembar yang memang posisi mereka sangatlah dekat, hanya tembok saja penyekatnya.
" Ternyata Tante Eliza jahat..." gumam Surya sangat lirih. Hanya bibir mungilnya yang berkomat kamit tanpa menimbulkan suara.
Cahaya yang mendengar orang tuanya akan dibunuh, refleks mengepalkan tangan mungilnya. Tidak akan ia biarkan.
__ADS_1
"Eitss... Tunggu sebentar, Sayang. Aku minta satu ronde lagi, baru obat bius ini akan ku berikan," tahan Vano segera mencumbu bibir Eliza yang untungnya si kembar tak melihatnya, karena memang tak berani mendongak. Takut ketahuan!
Entah apa itu arti satu ronde? Surya dan Cahaya tak mau ambil pusing. Saat ada suara ahhh... uhh ... ahh seperti mendes** kepedesan sambel, si kembar mengambil kesempatan untuk beranjak dengan cara mengendap endap. Seperti awal mereka masuk.
"Kita harus beri tahu Ayah dan Bunda secepatnya, Sur, " ujar Cahaya di sela sela langkahnya. Tangan mereka bertaut satu sebagai tanda saling menjaga.
"Iya, Ca. Kamu benar! Ayo buruan kita pergi dari rumah Om Panu!" Surya bergidik ngeri melihat tatto tatto Vano yang memenuhi tubuh atasnya yang memang pria tersebut hanya mengenakan celana panjang saja.
"Woiii...!"
Aihh mati ... Kenapa penjaga yang molor tadi malah terbangun tepat tangan tangan mungil itu ingin mendorong pintu gerbang besi. Padahal, mereka hampir saja lolos keluar. Tapi kok rasanya, gerbang pakai macet segala.
"Kalian maling ya...?" pekik penjaga berkumis nan berkepala botak tersebut. Ia segera berdiri dari kursi jaga.
"Bukan, Paman. Kami hanya mau mengambil bola yang terpental masuk ke sini!" sahut Surya berbohong seraya tangan mungil nya berusaha membuka gerbang dengan bantuan Cahaya pun.
"Bola? Mana bolanya?" tanya si Paman seraya melangkah cepat ingin menangkap dua bocah badung itu yang sudah berhasil mendorong pagar meski hanya selebar dua jengkal orang dewasa.
"Itu di kepala Paman!"
Aihh... Kepala botaknya dikira bola oleh bocah wadon itu. Asem sekali tuh bocah. Anak siapa sih? Kok minta dijadikan kambing guling.
Surya tentu saja tidak tega meninggalkan sang adik. Sebagai anak lelaki yang memang mempunyai jiwa pelindung, Surya dengan refleks menarik batu sebesar kepalan tangannya yang berasal dari got, samping gerbang.
Plukk...
Batu itu menghantam kepala botak si Paman, layaknya kepala Barli waktu itu yang bocor oleh kelakuan nekat Surya.
"Awww..." pekik sang Paman botak. Karena amat sangat sangat sakit, tangannya pun terlepas dari baju Cahaya. Kepala botak itu berdarah membuat emosi sang Paman memuncah.
"Ayo, Ca...!" tarik cepat Surya di tangan adiknya itu. Mereka ngacir ke arah rumah sang Ayah yang sialnya gerbang putih yang menjulang tinggi itu tertutup rapat. Bahkan, Surya masih mengingat kalau ialah yang tadi mengunci gerbang dengan tangan sendiri. "Bodoh..." rutuknya kesal.
Karena melihat sang Paman botak mengejar mereka dengan tongkat satpam mengacung marah, Surya tak jadi berhenti di depan gerbangnya. Ia tak mau tertangkap karena kelamaan membuka gembok.
"Larinya ke sini Sur," ujar Cahaya. Sekarang, gadis kecil itulah yang mengomando Surya. Berlari ke arah taman kompleks. Sialnya, keadaan komplek mewah itu selalu sepi. Tak ada orang yang harus dimintai tolong.
"Woi... Lebih baik kalian menyerah!" pekik si Paman yang larinya semakin kencang. Ia tak mau kalah sama dua bocah itu. Awas saja kalau tertangkap. Tak ada ampun pokoknya.
Di rumah, Bimo yang sudah selesai memasak, saat ini sedang menaiki tangga untuk memberi tahukan kalau makanan siap santap di meja makan.
"Bimo...! Kamu kok bisa di sini?"
__ADS_1
Saat langkahnya di tengah-tengah tangga, asisten Badai itu terhenti akan seruan Eliza yang baru masuk ke dalam rumah. "Aku kira, rumah masih kosong karena gerbang di gembok!" sambung Eliza seraya memamerkan kunci yang memang semua penghuni rumah tersebut, mendapat masing-masing duplikat dari Badai agar adil katanya.
"Apa suami ku sudah pulang?" Eliza terus bertanya, membuat Bimo hanya membuka tutup mulutnya yang tadinya mau menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Tuan berikut Nyonya Embun belum pulang!" Demi kesopanan, Bimo tidak jadi naik ke lantai dua. Ia malah turun lagi. Mengikis jarak ke Eliza yang sudah berdiri di dekat tangga.
"Uhh... Selamat." batin Eliza. Ia tak punya alasan kalau Badai mencerca pertanyaan. Pasalnya, tadi pagi ia berpura-pura sakit.
"Terus, kamu sedang apa di sini?"
"Jagain si kembar, Nyonya."
"Pergilah, biar aku yang menjaga mereka!" Eliza menyeringai setan. Mumpung Embun dan Badai tak ada, ia akan memberi tekanan pada Surya dan Cahaya. Saatnya jadi ibu tiri yang jahat.
"Tidak bisa, Nyonya. Saya tidak berani melanggar perintah Tuan Badai. Maaf! Kalau begitu, saya undur diri. Mau menyuruh si kembar makan."
Ck... Eliza mendengus. Pekerja Badai ini sangat patuh pada Tuannya.
"Eehh... Tunggu dulu! Biar saya saja yang memanggil mereka. Kamu di sini saja!" Eliza tak mau di bantah kali ini. Dengan itu, ia bergegas beranjak menelusuri anak tangga.
Bimo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak bisa berbuat banyak karena ia memang hanya kacung di keluarga Badai.
" Ehh.. Kok dua bocah nakal itu tidak ada?" gumam Eliza setelah membuka lebar lebar pintu kamar si kembar. Hanya keheningan yang menyapa Eliza.
Setelah memastikan keberadaan si kembar di balkon dan di kamar mandi yang tak ada batang hidungnya. Eliza pun kembali turun ke hadapan Bimo yang masih sedia kalanya berdiri di dekat tangga.
"Surya dan Cahaya, kemana Nyonya?" Alis Bimo terangangkat satu penuh tanda tanya.
"Mereka lagi tidur! Susah sekali dibangunkannya!" Bohong Eliza. Bimo tanpa curiga, hanya mengangguk paham. Ia sadar diri kalau tadi ia memasak kelamaan.
"Lebih baik kamu pulang saja. Nungguin si kembar bangun itu sama saja buang buang waktu," desak Eliza sangat memaksa.
Bimo yang ingin menolak. Jadi tertahan karena ucapan Eliza yang menohok untuk di dengarnya.
"Kamu tak mau kan menimbulkan fitnah di antara kita?"
"Saya permisi, Nyonya."
Eliza mengembangkan senyum setannya. Akhirnya, pria yang jadi saksi dirinya yang tak sakit dan baru pulang ke rumah, pergi juga.
"Tapi, si kembar kemana ya?" gumamnya bertanya-tanya. "Bodo amat mereka pergi kemana? Lebih baik mandi dulu dari sisa sisa aroma Vano." cueknya tak peduli.
__ADS_1