AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 9# Menghancurkan Pesta


__ADS_3

Hari esok pun tiba, di mana hari yang ditunggu-tunggu oleh Embun untuk memulai rencananya. Syukurnya, si kembar sudah sembuh.


Hotel bintang lima, karpet merah yang terjulur panjang dari lobby utama sampai ke pintu ballroom, ditambah juga dekorasi mewah yang khusus bertema pernikahan, telah terlihat nyata di mata Embun saat ini. Indah, tetapi akan ada kehancuran elegan yang akan terjadi akan ulahnya. Bibir itu tersenyum licik.


"Apa Ayah ada di dalam sana, Bunda?" tanya Cahaya yang telah berada di genggaman jari lembut Embun. Di sisi kanan ada Surya yang sudah ber-style texedo. Wajah mereka berseri seri.


"Iya, Sayang. Inilah saatnya waktu yang kalian tunggu tunggu. Ayo!" ajak Embun dan segera berjalan menginjak karpet merah itu.


Suasana diluar ballroom sudah sedikit sepi, itu tandanya pernikahan di dalam sana sedang berlangsung. Namun, ada beberapa anak buah Badai yang telah berjaga jaga.


"Saya tidak boleh telat ..." lirih Embun kian cepat menuntun anak anaknya untuk segera masuk ke inti acara. Namun di depan pintu ballroom, Embun dan si kembar telah di cegah oleh anak buah Badai yang bertugas untuk menjaga pintu tersebut.


"Perlihatkan undangan Anda, Nona," pinta penjaga itu.


"Kami tidak punya," sahut Embun yang lupa menyediakan undangan palsu.


"Maaf, kalian tidak boleh masuk dan pergilah dari sini!" usirnya tanpa ada kata toleransi.


Cahaya dan Surya tak pantang menyerah, sudah saling kode kenakalan. Keduanya kompak menarik tangannya dari genggaman sang Bunda dan menerobos masuk ke pintu yang tertutup itu dengan cara brutal.


"Hey___"


Bugh...


Embun dari belakang segera memukul tengkuk leher kedua penjaga tersebut sampai pingsan yang tadinya hendak mencegah si kembar.


Tiga penjaga lainnya segera beringsut kompak untuk menangkap Embun.


Tetapi, Embun yang pintar beladiri pun segera saja melawan ke-tiga pria tersebut. Gaun merah ketatnya dia angkat sepaha lalu segera melayang ke udara dengan teknik flying kick-nya.

__ADS_1


Tendangan memutar memakai hak tinggi yang bertenaga itu, sudah berhasil membuat anak buah Badai jatuh ke lantai. Sesegera mungkin, Embun menerobos pintu sebelum ketiga Pria itu bangkit dari jatuhnya yang memang belum terlumpuhkan. Dia tidak mau telat, jangan sampai kata sah di dalam sana terucap dahulu.


"Ayo, Sayang." ajak Embun cepat ke Cahaya dan Surya yang ternyata masih di dekat pintu mengintip sang Bunda berkelahi. Ternyata, Bunda mereka jagoan toh? Si kembar baru tahu fakta itu.


"TIDAK SAH!"


Semua para tamu undangan, serta keluarga Badai kompak menoleh ke arah Embun yang terpekik lantang, menghentikan janji suci Badai dan Eliza. Si kembar melototkan matanya ke arah pengantin pria yang ternyata si Om tampan.


"Embun...?" lirih seorang pria yang duduk di antara keluarga Badai. Ia adalah Guntur, Kakak ipar Badai yang tak lain adalah sahabat Embun. Guntur sudah lama mencari keberadaan sahabat rasa adiknya itu. Tepat kematian Erlan delapan tahun lalu, Guntur pun terluka tembak yang tak sadarkan diri. Bangun bangun, Embun sudah menghilang. Semua jawaban kunci masalah dendam Embun ada pada Guntur.


Ia ingin beringsut ke arah Embun, namun tertahan karena suasana semakin ribut.


"Wanita itu...?" Lirih Badai terpaku yang mencoba mengenali wajah Embun. Badai belum memperhatikan dua bocah yang setia berada digandengan Embun.


"Apa-apaan ini? Siapa kamu, hah? Kurang ajar sekali! Penjaga! Tangkap wanita tidak waras itu!!!"


Para tamu semakin terdengar bising.


Keluarga Badai pun dibuat heran akan kedatangan wanita asing yang sedang membawa dua bocah itu.


"Pergilah, pria yang akan menikah itu adalah Ayah kalian!" Kata Embun santai seraya melepaskan kedua anaknya dari genggamannya. Tak peduli oleh suasana yang sudah mulai tak kondusif.


Penjaga yang dipanggil Eliza, tak kunjung datang. Kemana mereka? Kesal Eliza dalam hati.


"Ayah? Om tampan itu Ayah kami?" riang Cahaya yang sangat senang. Air muka Surya pun amat berbinar-binar.


Embun hanya mengangguk. Sejurus, si kembar berlari menghampiri Badai yang tertegun karena keberadaan Embun yang kini sudah diingatnya, kalau wanita itu adalah wanita yang pernah diambil kegadisannya.


"AYAAAH!" pekik si kembar yang masih berlomba-lomba menggapai Badai.

__ADS_1


Mulut keluarga Badai serta para sahabatnya pun kompak menganga lebar. "Ayah...?" Begitulah mulut mereka mengulang panggilan si kembar.


Biru dan Mentari, sebagai orang tua Badai serasa shock tak tertolong. Bagaimana mungkin anak ke tiga mereka sudah mempunyai buntut dua? Lebih lebih, cucu mereka itu sudah besar. Melebihi umur dari Agni, Arpina dan Sky.


"Apa-apaan ini?!" Bentak Eliza menghadang dua bocah tak tahu diri itu. Si kembar yang nakal, segera mendorong Eliza hingga wanita itu terhuyung kebelakang. Untungnya, ada tubuh Badai sehingga tidak jadi terjerembab. Badai pun tersadar yang tadinya tertegun melihat Embun yang melakukan kegaduhan di hari sakralnya.


"Om, benarkan kalau Anda itu Ayah kami?" tanya Cahaya sopan. Sudah bergelayut di jenjang kaki Badai, dengan kepala itu mendongak ke wajah sang Ayah. Surya juga sudah berada di sisi kaki Badai yang sama saja bergelayut manja.


Namun, Badai hanya sedia kalanya menatap Embun yang berjalan santai mengambil jarak padanya.


"Ini ada apa sih? Prank apa yang kalian perbuat, hah?" Ibunda Badai dibuat bingung. Ia kira ini hanya kejahilan saudara-saudari serta para sahabat Badai yang jahil jahil semuanya.


Namun, kembaran Badai yakni Topan dan Pelangi serta dua adik lainnya hanya menggeleng tidak tahu.


"Perkenalkan, saya adalah Ibu dari anak anak dari Badai Sagara!" Embun bersuara lantang. Menatap kedua orang tua Badai, serta keluarga pria tersebut secara bergantian. Pandangan rindunya sedikit lama di wajah Guntur dan berhenti pada wajah Badai yang nampak terkejut berat.


Suasana pesta semakin seru di tonton oleh para undangan. Sedang semua keluarga terkejut bukan kepalang.


"Badai!" Biru berseru meminta penjelasan kebenaran akan pengakuan Embun. Melihat anggukan Badai yang seakan-akan membenarkan, Biru pun terpaku kecewa. Mentari pun demikian yang tak menyangka, kalau anaknya sudah pernah membuang kecebong, dan berakhir berudunya sudah besar besar seperti si kembar saat ini.


"Sini kamu!" Kesal Badai menggeret-geret Embun untuk masuk keruangan khusus. Badai tidak mau dipermalukan lebih dalam lagi di depan khalayak umum. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk berbicara di tempat tertutup bersama Embun.


Eliza dan para keluarga pun mengekori dua orang itu. Si kembar? Tentu saja tidak mau ketinggalan. Namun sejenak berhenti saat Agni dan Arpina sebagai saudara sepupu menyapa hangat. Dua bocil itu serasa mempunyai kemistri pada Surya dan Cahaya. Kemistri kenakalan terhakiki maksudnya.


"Kalian tunggu saja di luar. Ini masalah orang dewasa!" Surya berseru pada dua bocah di depannya. Ia sok merasa paling besar di antara mereka. Sejurus, menarik Cahaya yang malah sibuk mencubit cubit gemas pipi gembul adik lelaki Arpina -- Sky yang baru berumur sekisaran empat tahunan.


"Ck, sok tua!" Agni berdecak pinggang galak di depan Surya. Dua bocah laki laki itu adalah bibit unggul dari klan Sagara.


***

__ADS_1


__ADS_2