AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 41# Mencari Embun


__ADS_3

"Apa kamu tahu, kira kira Embun pergi ke mana?"


Beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Badai pulih juga. Meski terkadang bekas operasinya masih berdenyut, Badai tetap tidak peduli. Hari ini, ia akan mencari Embun melalui bantuan Guntur yang ditanya-nya saat ini.


" Kenapa kamu bertanya padaku?" Guntur tersenyum diam diam seraya memperhatikan orang orang yang saat ini berselfie selfie ria di dekat patung berkepala singa tetapi bertubuh ikan yang diyakini daerah setempat adalah salah satu hewan mitologi, patung itu dinamai Marlion, ikonnya Negara tersebut. Ah, bukan! Guntur bukan memperhatikan orang asing, melainkan si kembar. Tadinya saja sedih karena sudah merasa rindu dengan sang Bunda, katanya. Tetapi saat sampai di tempat wisata tersebut, keduanya seperti kambing yang baru dilepaskan dari kandang untuk mencari makan sendiri.


"Kamu kan mantan pacar... eh sahabatnya yang banyak tau tentangnya."


Guntur kembali mengulas senyumnya. Kali ini bukan buat si kembar karena dua anak itu sekarang sudah hilang batang hidungnya. Naik ke perahu di temani Bimo.


"Apa ada tampang badut di wajah ku?" Badai mendengus kesal. Iparnya ini di tanya serius malah cengir cengir kuda. Jual gigi kali ya.


"Kamu cemburu padaku?" Itulah yang menggelitik bibir Guntur untuk masem masem sendiri. Si adik ipar teh, cemburu tidak jelas.


"A-apan sih, ya nggaklah. Gue mana cemburu?" Badai tergagap seraya membuang pandangannya lurus lurus, patung kepala singa yang mengeluarkan air di mulutnya lebih sedap di pandang mata dari pada menatap lawan bicaranya yang gaje beut. Tapi, ini pipi kenapa panas lagi ah...


"Itu buktinya, wajah mu bersemu pink pink gitu. Pakai blush-on ya__hahahaha..." Bukannya berhenti menggoda, Guntur malah terbahak bahak. Ia merasa lucu saja mendapati kecemburuan Badai yang tidak berdasar padanya. Guntur tidak peduli dengan mata sinis Badai yang sudah berhasil ia goda.


Fine, Embun memang dulu bersahabat plus mencintainya. Tetapi ia hanya menganggap Embun sebagai adiknya saja. Tidak lebih karena hatinya dari remaja sudah dicuri terlebih dahulu sama Pelangi.


"Sudahlah, bicara padamu hanya __"


"Mungkin Embun pergi ke tempat asalnya," ungkap Guntur tiba tiba menghentikan langkah Badai yang ngambek seperti bocah.


"Di mana?"


"Ya ampun! Suami macam apa kamu ini? Masa asal usul isteri nggak tau sama sekali? Ck... Ck... Ck..." Guntur geleng-geleng kepala, mengejek.


Si kunyuk, untung kakak ipar, kalau bukan sudah ia lempar ke danau yang ada di depan sana. Selalu saja menggoda mencari celanya.


"Yaaa...mana gue tau! Lo kan nggak amnesia kalau Embun tiba tiba datang ke pernikahan gue sama __. Ah, jangan di bahas yang nggak penting. Lebih baik jangan banyak bacot, beri tahu cepat!" Hampir saja ia menyebut nama istri ke duanya yang sudah jadi setan gentayangan.


"Ah elaah... Sensi amat sih jadi cowok? Lagi PM ya?" goda Guntur kembali. Namun sejurus kemudian, ia memberitahukan asal Embun yang ternyata sama saja orang pertiwi.


"Tunggu dulu! Desa yang lo sebutin itu bukannya desa yang sama seperti Abah dan Ambu-nya Vay?"


Guntur mengangguk mantap.

__ADS_1


"Kok bisa? Embun kan tadinya tinggal di LA bersama si kembar?"


"Ish... Intinya, gue dan Embun itu bertemu pertama kalinya di Desa itu. Dalam pelarian gue bersama Mommy dulu, kami tetanggaan di desa itu. Dan saat orang tuanya meninggal, Mommy mengajak Embun dan Erlan tinggal bersama dan semua hidup Embun di saat itu menjadi tanggung jawab Mommy gue, sebagai balas budi kebaikan keluarga Embun. Tetapi delapan tahun terlewat, lu tau sendiri kalau aku pun mencari carinya.


Dan penjelasan terus panjang kali lebar tentang Embun. Badai sama sekali tidak menyela, ia hanya mempertajam pendengarannya, mencermati seksama info segala tentang Embun.


Badai menghela nafas pelan. " Kalau rumah lama itu kosong, bagaimana dong?"


Guntur tersenyum. Lalu menjawab enteng, "Kalau kosong, itu berarti Embun nggak ada di sana!"


Si anying. Iparnya nyebelin abis deh ah.


"Semoga pulang pulang, Pelangi amnesia berat dan melupakan punya suami seperti lo!"


Setelah mendumel kesal yang hanya masuk ke telinga kanan dan bablas ke telinga kiri Guntur, Badai pun berlalu pergi. Si kembar sudah turun dari perahu.


"Kalau Pe ngelupain gue, berarti gue pergi ke Embun. Merajuk asaaaaaa....!"


Badai berbalik cepat mendengar suara setengah teriakan Guntur. Sejurus, ia mengangkat dua jarinya, memperagakan mencolok matanya lalu mengacung ke arah Guntur yang sialnya disambut oleh Pria itu dengan gelak tawa menggodanya.


" Dasar Ipar kurang ajar! Adik iparnya kesusahan malah diledek mulu sedari tadi. Apa di muka gue ada tulisan cemburu gitu? Ishh... Kok dia tau kalau gue sedikit jealous? Hemm... Semoga Embun nggak punya rasa lagi ke Guntur." Badai terus mendumel seraya melangkah ke arah si kembar yang juga berjalan mengikis jarak padanya.


"Bagaimana mainnya, seru?" tanya Badai. Saat ini, Cahaya sudah berada di atas gendongannya.


"Seru sih, tetapi kurang! Hemm... Caca ingat Bunda lagi!" adunya merengek. Ia tidak sadar kalau Surya sudah melototinya.


"Caca, itu dada Ayah pasti masih sakit! Turun, Bodoh!" omel Surya. Cahaya mencibikan bibir bawahnya. Lalu menjawab ejek, "Iya iya, aku bodoh! Tapi kamu rajanya bodoh!"


"Eitss... Jangan ribut di sini!" Lerai Badai cepat seraya menurunkan Cahaya karena apa yang dikatakan Surya benar adanya. Dadanya masih berdenyut. "Nanti sore, kita akan melakukan penerbangan. Mencari Bunda kalian di desa asalnya. So, Are you ready to look for it?"


"Readyyyyyy!" Si kembar menjawab semangat. Membuat Bimo menggosok telinganya karena suara mereka cempreng sekali.


***


Selesai mempersiapkan dokumen perjalanan pulang, Badai pun menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang.


Seraya menyenderkan punggungnya, Badai iseng iseng membuka story - story kerabat di aplikasi hijaunya, berhapar ada hiburan yang menghilangkan kegalauannya.

__ADS_1


"Sama saja membosankan semua!" Bagai sayur tak di garamin, begitulah hidup Badai tanpa adanya Embun, hambar dan hampa meski ada si kembar yang kadang membuatnya mencerojos melerai pertengkaran dua anak itu yang selalu ribut, akur, dan ribut lagi belakangan ini.


Istrinya itu galak dan pembangkang, sering membuat darahnya naik ke kelapa karena sering berdebat selama pernikahan, tetapi argumen itu ia rindukan. Ah... Sedang apa wanita itu? Apa Embun pun merindukan dirinya? Kok ia menderita galau sendiri sih? Pokoknya awas saja kalau sudah bertemu kembali, cipo* basah sampai bengkak tuh bibir. Eh...


"Hem...!" Badai melenguh, seraya melihat story Nining - istri sahabatnya yang bernama Guruh yang pembawaannya somplak abis.


Hijau hijau, Bunga bunga eh Teh ding...


Seulas senyum tipis Badai, menghadiahi vidoe nyanyian asal asalan istri sahabatnya itu yang memperlihatkan kebun teh milik perkebunan Batara- keluarga besar Ibundanya yang sekarang di olah oleh suami Nining.


"Ehhh..." Saat Video memperlihatkan Nining yang sedang bergoyang goyang kecil. Ada sosok tidak asing di mata Badai. Seperti Embun yang tidak sengaja tertangkap oleh kamera. Di belakang sana, Embun berjalan di sela sela tingginya tumbuhan teh. Lalu menghilang karena keluar dari bidikan kamera.


Badai terus mengulang ulang video story Nining, harap harap ia tidak salah melihat.


"Jangan bilang gue uda gila efek malarindu." gumam Badai. Stopp... Video itu di beri pause. Di zoom dan benar saja, itu adalah Embun. Tidak salah lagi!


Ahhh.... Senangnya. Badai gegas mengomentari status istri sahabatnya.


'Ning, lu the best dehhh... Umuaahhh!'


'Idihh... Lu kalau gila ya, jangan jauh jauh di Negara orang! Di Indonesia juga banyak beut rumah sakit jiwa! Salah kirim kah ciumaaannnya? Jangan bilang lu naksir bini sahabat sendiri! Ngeri gue kalau lu adu jotos sama Guruh!'


Badai tersenyum geli membaca balasan chat Nining. Biar tidak salah paham, ia pun kembali menari narikan dua jempolnya untuk mengetik balasan.


"Sun gue tertuju ke wanita yang ada di belakang lo!"


"Ouh ... Selera lu sekarang nenek nenek yang mandinya di sungai?"


"Hah...?"


"Iya, di belakang gue sekarang ada Ibu ibu keriput sedang mandi di sungai."


Ajajsjddjfjdjd... Badai meringis membaca chat terakhir Nining. Ia baru memperhatikan waktu story istri somplak sahabatnya itu.


"Astaga, Story-nya sudah mau expired!" Badai bergumam. Pantas saja Istri Guruh yang berasal dari desa itu, menjabarkan background lain dari ekspektasi - nya. Ah... Sabodohlah tentang si Ibu keriput, terpenting ia sudah mengetahui keberadaan Embun yang benar saja perkiraan Guntur kalau Embun balik ke Desa kelahirannya.


Tingg...

__ADS_1


"Dai, lu masih di sana kan? Uda gue sampaiin salam cium lo ke ibu itu!"


Aih... Memang dasar itu istri Guruh. Di sampaiin katanya.


__ADS_2