
Tok... Tok... Tok...
"Bunda!"
"Ayah!"
"Aaar__hhmpppt...!"
Gedoran pintu dan teriakan ulang Cahaya, berhasil menyadarkan Embun seratus persen. Ia hendak berteriak karena kaget yang telah berada di dalam pelukan Badai. Namun, tertahan oleh ciuman kasar Badai yang tiba-tiba membungkam bibirnya.
Kenapa ciuman kasar? Ya ... Badai juga kesal mendapati Embun berada di dalam pelukannya. Semalam sok jual mahal, tapi giliran ia tidur, wanita kasar itu mencari kesempatan.
Embun meronta dengan cara menancapkan kuku kukunya di bagian dada Badai.
Terlepas!
Segera ia bangun dan menjauh dari rebahan Badai seraya menatap sinis.
"Munafik sekali jadi orang!" ejek Badai. Sejurus mengelus dadanya yang sakit.
"Kamu__" Emosi Embun terjeda karena gedoran dan Cahaya kembali terdengar.
Karena cemas pada anaknya yang memanggil manggil secara tak sabaran, Embun pun menahan dahulu amarahnya.
Ia bergegas membuka pintu. Badai juga segera mengikis jarak yang sama saja penasaran pada Cahaya.
Ceklek...
"Bun, Tante Eliza kesurupan reog!"
"Hah... Kesurupan?" kaget Badai. Embun cuek cuek saja. Bodo amat, batinnya.
Tapi karena penasaran, ia juga segera mengekori Badai yang berlari kecil menuju kamar Eliza.
Cahaya, bocah nakal itu tersenyum devil di belakang. Lalu ikut melangkah. Wajah lugunya sudah mulai berakting.
__ADS_1
"Huawwwaa... Hiks... Hiks!"
Setelah pintu dibuka lebar lebar, Badai tercengang di samping Surya saat melihat penampilan acak acakan Eliza yang masih terduduk di lantai. Menangis kejer seperti bocah.
"Kamu kenapa Eliza?" Meski cemas, Badai enggan juga mendekat. Takut tertular reognya. "Ihhhh... Seram!" batinnya bergidik ngeri. Kalau lawan nya preman sih, bisa aja ia mengalahkan. Tetapi kalau setan, pikir pikir dahulu deh.
Tangan Eliza terangkat menunjuk ke arah dua bocah yang berdiri kiri kanan Badai. "Surya dan Cahaya mukulin aku semalam sampai pingsan!" adunya pilu. Hiks hiks... Eliza kembali menangis, tergugu gugu. Ia akan membuat Badai menghukum anak anaknya sendiri di depan mata Embun. Lihat saja. Kalau kata untaian mah, sekali berlayar dua tiga pulau terlampaui.
" Sur, Ca?" Badai meminta penjelasan.
Embun ingin membela anak-anaknya. Tapi tahan dulu. Pasti ada cerita menarik penyebabnya si kembar berbuat nakal. Sebenarnya, ia percaya sih dengan omongan Eliza, secara buntut buntutnya itu memang nakal kok. Sudah makanan sehari hari Embun di jejeli keajaiban si kembar.
"Bohong itu, Yah. Masa kami mukulin Tante sih! Pikir logika coba." tepis Surya membela diri.
"Tante Eliza pasti minta di ruqiah, Yah." Cahaya ikut berkata.
Mendengar suara suara penuh alibi si kembar, Eliza bangun dari duduknya dengan pergerakan kesal. Badai serta Embun, menyadari sepatu Eliza hanya terpasang sebelah.
"Kenapa kamu memakai sneakers, Eliza?" selidik Badai. Keningnya berkerut, berpikir kalau Eliza itu hendak pergi.
Hufff... Terdengar helaan berat dari Badai. Ia tak pernah bermimpi mempunyai istri dua. Pusing, pusing dan pusing.
" Nak, jawab yang jujur. Apa benar ucapan Mamamu?" Badai berjongkok di depan kedua anaknya. Ia ingin berlaku adil dan berniat mendamaikan satu sama lain dengan memulai dari sebutan Tante Eliza menjadi Mama untuk si kembar.
"Mama-Mama, Mama dari sarang semut! Mereka anak anak ku seorang!" Embun menyela. Tak terima dengan sebutan itu.
"Diamlah, Embun. Di sini aku adalah kepala keluarga. Jadi semuanya harus menurut!" ujar Badai tegas. Embun menguap malas sebagai ejekannya.
"Ca, Sur!" Kembali Badai menginterogasi anak anaknya yang hanya diam cemberut.
"Ayo, ngaku nggak?" bentak Eliza.
Sebagai orang tua, Embun tidak terima anak anaknya di kasari. "Sekali lagi kamu membentak bentak anak ku, tepat di depan mata dan telingaku, maka ku pastikan mulut mu akan robek," warning Embun galak.
"Iya! Kami mengaku salah!" Surya tiba-tiba berkata. Ia memilih jujur karena tidak mau membuat Embun dan Badai bertengkar.
__ADS_1
"Tuh kan, dia ngaku!" Eliza menyeringai dibalik wajah teraniayanya. "Kamu harus menghukumnya, Sayang." pintanya ke Badai. "Ini demi mengajari anak anak mu juga, agar masa depan kelak mereka tak kurang ajar lagi sama orang tua."
" Tante ondel ondel yang tua! " celetuk Cahaya. Ia kesal karena Surya mengakui kesalahan nakal mereka.
" Cahaya, tidak boleh seperti itu, Sayang. Sebagai anak, kalian memang harus sopan pada yang lebih tua." Badai sedikit melirik ke Embun. Ia menyalakan cara didik wanita itu. "Coba cerita sama Ayah, kenapa kalian memukul Mama kalian, eum?" tanyanya lembut seraya memegang satu masing-masing lengan anaknya. Sebagai kepala keluarga, ia harus berdiri di tengah-tengah, bukan? Siapa yang salah maka harus berani tanggung jawab.
"Semalam itu..." Surya pun menceritakan semua kejadian semalam. "Sumpah, Yah. Kami kira, Tante itu maling yang mengendap endap."
Kali ini, wajah Eliza berubah pias tatkala Badai menatapnya penuh selidik.
"Kalau begitu, kalian harus meminta maaf pada Mama kalian." Badai tak menginterogasi Eliza di depan kedua bocah yang masih polos itu.
Surya dan Cahaya menurut manis. Ia memang kompak membangun imege sebagai anak baik di depan Badai. Tetapi, di belakang Ayahnya, mereka tidak mau janji.
Oleh karena itu, mereka kompak membelakangi Badai dan Embun. Berhadapan dengan Eliza. Lalu kembali kompak membungkukkan kepalanya, takzim seraya berkata secara bersamaan. "Tante, maafkan kami!" Sejurus, memeletkan lidah yang jelas saja tak di lihat oleh Badai dan Embun. Hidung Eliza kembang kempis seperti ingin menyeruduk anak rupawan tapi kelakuannya melebihi dajjal di hidup tenangnya.
"Sabar, sabar, sabar... ada saatnya." Eliza mengelus dada seraya merafalkan tiga kali kata sabar dalam hati.
"Hukum dong! mereka harus dibuat jera!" protes Eliza. Embun sudah mulai mengeram seraya melotot pada Badai, seperti kode 'Berani menghukum anak ku, maka jab melayang.'
Badai serba salah jadinya. 'Halo pria di luar sana yang punya istri dua atau tiga, masih hidup kan kalian?' Badai frustrasi. Refleks menjambak rambutnya. Punya istri dua tak enak! Catat ya!
"Sudahlah, Eliza. Toh mereka sudah meminta maaf!"
Eliza mendengus kesal. Apalagi melihat senyum ledek Embun yang jumawa lagi darinya.
"Kalian boleh pergi," sambung Badai ke anak-anaknya. "Mandi dan bersiap-siap ke Bandara. Jadwal penerbangan ke Singapore, Ayah majukan." Bukan hanya untuk si Kembar peringatan itu, tetapi kedua istrinya pun. Ia sengaja memajukan jadwalnya, demi menghindari keributan di awal pagi yang cerah tetapi tak secerah kehidupan rumah tangga nya.
"Baik, Yah!" sahut Surya. Sebelum beranjak, tubuh mungilnya kembali berbalik ke arah Eliza. Cahaya pun sama. Dan dengan cepat, Surya memasukkan telunjuknya ke satu lubang hidung, mengupil. Lalu, jari kotornya ia acungkan ke Eliza. Membuat Eliza mual.
Sedang Cahaya, ia mengejek Eliza dengan cara mendorong naik ujung hidungnya, sehingga cuping hidung itu mirip hidung bab*. "Tante, maaf sekali lagi ya." Hahha... Cahaya ketawa puas dalam hati karena berhasil membuat Eliza darah tinggi. Tak bisa berbuat leluasa di depan Ayahnya.
"Tunggu pembalasan ku!" batin kesal Eliza. Sekarang, musuh nya itu bukan hanya Badai saja, melainkan Embun dan si kembar juga.
****
__ADS_1