AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 15# Satu Angka


__ADS_3

Keluar - keluar dari kamar mandi, mata Badai sudah di suguhkan Embun yang kini meringkuk nan terselimut nyaman di tengah tengah bed king size-nya.


"Sialan benar sih, harus nya Eliza dan aku yang sedang bergelut indah di atas sana," batin Badai kesal. Ia menatap sengit punggung Embun karena angan angan terbang ke langit tujuh, gagal sudah.


Sejurus, kekesalan itu mendadak sirna. Ia berniat meninggalkan kamar demi bersama Eliza.


Segera, Badai mengendap endap mencari kunci. Di sisi bantal yang di pakai tidur Embun, ia gerayangi secara pelan.


"Cari aja terus sampai jenggotan lebat," batin Embun yang jelas saja belum tidur.


"Duh, di mana ya?"


Suara lirih yang penuh kegusaran itu, masih terdengar oleh Embun. Ia ingin tersenyum ejek, tapi tertahan demi kepura - puraan tidur nya tidak ketahuan.


"Apa iya masih disembunyikan di balik bajunya?" Mata Badai melirik bagian gunung kembar Embun. Ia jadi panas sendiri, karena bayangan demi bayangan pada delapan tahun lalu kembali segar.


Rasa tubuh itu, empuk empuk legit. Bikin capek nan berkeringat, tetapi nagih sampai berkali kali.


" What the fuc*!" Badai menepuk keningnya secara konyol demi menghilangkan otak liarnya. Ia tidak mungkin melakukannya lagi bersama Embun, secara ia sangat tahu kalau Embun datang tiba tiba pasti karena satu tujuan dan tujuannya mungkin balas dendam. Jelas Badai tak bodoh.


Saat ini, mata Badai terpejam dalam posisi berdiri di samping bed. Ia mencoba masuk ke dalam ingatan tepat delapan tahun lalu. Di mana ia menembak mati Erlan, karena pria jahat itu tiba-tiba ingin menembak Pelangi-Kakak kembarnya. Namun Guntur -- Pria yang sudah menjadi suami Pelangi sekaranglah yang tertembak, demi menjadi tameng sang kakak kembarnya.


Dulu, awal nya pun ia tak tahu kalau Erlan itu adalah adik dari wanita yang pernah memberikan kehangatan satu malam. Tepat detik detik tertembaknya Erlan, Embun datang tepat di depan mata.


Dor...


Suara nyaring dari senjata apinya di kala itu, seakan-akan masih terdengar nyata saat ini. Mata itu terbuka kaget dan refleks menangkap bantal yang tiba-tiba melayang ke arah wajahnya.


Hap...


"Kenapa kamu melempar ku?" Badai melempar kembali bantal itu ke wajah Embun yang rupanya sudah duduk di atas bed.


"Tidur di bawa! Awas saja berani macam macam!" Warning Embun tegas. Kembali lagi, ia melempar bantal untuk Badai pakai.


Namun, Badai yang tak mau kalah. Main melesatkan tubuhnya ke kasur. Sampai sampai duduk Embun terguncang saking brutalnya cara duduk pria yang di bencinya itu.

__ADS_1


"Turun nggak? "


Badai hanya tersenyum menyebalkan di mata Embun tanpa mau turun dari ranjang. Ia menyeringai lebar, seraya bersiul siul nakal dengan mata itu naik turun mengamati tubuh empuk empuk segar Embun, menakuti.


Embun jelas menyadari tatapan nakal tersebut, segera saja ia memasang tinjunya di depan wajah suami-suamiannya.


"Lima ronde sepertinya seru! Cepat buka baju mu!" Badai mana takut dengan kepalan wanita. Ia malah menjilat kepalang tangan tersebut. Membuat Embun melotot jijik ke arah tangannya yang sudah ternodai. Apalagi mendengar perintah Badai. Cih... Ora sudi buka baju.


"Jorok amat!"


Buggh...


Setelah mengusap asal asalan tangannya, Embun segera menyilak selimut. Badai kira wanita itu akan turun dari kasur, tapi oh tapi... Ia tertendang dan berujung terjengkang di lantai.


"Aww..." ringis Badai seraya mengusap bokongnya yang berdenyut. Matanya menatap sinis ke Embun. "Dasar wanita kasar! Beda sekali sama Eliza!" omel nya membandingkan. Embun tak peduli dengan perbandingan itu. "Terus, kamu itu mau tidur apa mau hang out? Masa tidur pakai celana levis berikut tali pinggang sih?" Dalam kekesalannya, Badai juga penasaran melihat penampilan Embun. Bukannya kalau tidur itu lebih nyaman pakai bahan yang tipis tipis, istrinya malah lain dari yang lain. Wanita memang rumit dan aneh, nilai nya dalam hati.


"Bukan urusan mu!" ketus Embun. Tidak mungkin ia menjelaskan kalau levis berikut tali pinggang terpakai apik demi menghindari Badai yang mungkin saja memperkosanya saat ia lengah dalam tidur nya. Kalau pakai levis ketat kan, Badai pasti kesusahan melucitinya. Itu lah pikiran pintar pintar konyol nya.


"Sekali lagi berani menatap ku nakal, maka ku bunuh kamu seperti__"


"Seperti aku membunuh Erlan!" Badai menyambung perkataan Embun yang terjeda. Ia bangkit dari lantai dengan mimik wajah sudah menampilkan aura dingin nya. "Aku membunuh adik mu, karena dia salah!"


"Ck... Kenapa malah tidur? Setidaknya, beri aku kunci nya. Aku mau ke kamar Eliza saja!"


"Mati saja dulu, baru bisa menembus pintu!" ketus Embun menyahut dari balik selimut. Membuat Badai gemas ingin menendang wanita itu, namun berpikir lagi. Bagaimana pun, Wanita itu adalah ibu dari anak anak nya.


Badai pun mengalah. Tapi bibir nya manyun manyun karena gagal malam pertama dengan kekasih halal sesungguhnya.


"Punya dua istri, tapi ujung ujungnya meringkuk di lantai! Ini sih namanya 'satu angka'." Dumel Badai seraya melebarkan bed cover tebal sebagai alas tidur nya di atas lantai tepat sebelah ranjang.


Ia pun tertidur pulas yang memang hari ini sedang capek badan dan pikiran.


Detik, menit dan jam sudah berlalu dan sekarang menunjukan pertengahan malam. Embun yang sering gelisah dalam tidur nya, bergerak gerak sendiri mencari posisi nyaman.


Buggh...

__ADS_1


Wanita itu terjatuh ke samping, di mana ada tubuh Badai yang tidur.


Embun sama sekali tak sadar kalau dirinya terjatuh, itu karena bayangan masa lalunya datang kembali menghantuinya dalam mimpi.


Kepala yang bergerak gelisah tepat di atas lengan berotot Badai itu, terhenti. Di kala Badai bergerak memeluknya, layaknya guling. Pria itu sama saja, tidur kebo karena kelelahan.


Dan alhasil, mereka tertidur dengan posisi intim tanpa sadar satu sama lain.


***


"Huawwaaaaa...."


Pagi hari nya, Eliza yang sudah sadar dari korban tangan tangan ajaib dua bocah nakal kesayangan Embun, mulai menjerit-jerit di dalam kamar nya. Lihat saja, dua bocah itu akan mendapat hukuman setimpal.


Cahaya dan Surya yang sengaja bangun nya lebih awal, tentu saja sudah mempunyai rencana lain untuk membuat alasan ulah kenakalan yang di buat nya semalam.


"Ayo, Sur! Kita mulai!" ujar Cahaya. Kedua nya itu berada di ambang pintu Eliza yang hanya terbuka sedikit.


"Huaaawww..." Eliza kembali menjerit jerit. Itu demi mengambil perhatian Badai yang masih tertidur. Embun pun sedia kalanya terpejam di dalam pelukan Badai.


Bukan hanya dua kali jeritan Eliza, tetapi terus menerus. Membuat rencana kedua bocah itu berubah seratus delapan puluh derajat.


"Aku panggil Ayah dan Bunda ya, kamu di sini saja," ujar Cahaya mengatur atur kembarannya.


Gadis kecil yang masih mengenakan piayama doraemon itu, berlari ke arah kamar orang tuanya. Sedang Surya terus mengintip Eliza yang mencak mencakkan kakinya yang terduduk di lantai, guna menyingkirkan selimut yang melilit nya.


Semalam, Surya dan Cahaya tidak kuat mengangkat Eliza naik ke ranjang. Jadi, terpaksa mereka biarkan ibu tiri nya tertidur semalaman di atas lantai dingin. Toh pingsan ini, ditaruh di got pun, Ibu tiri nya itu nggak bakalan protes. Iya kan?


Tok, tok, tok....


"Bundaaa!!!"


"Ayaaaah!!!"


Cahaya mengetuk daun pintu, membabi buta seraya berteriak kencang memanggil kedua orang tuanya.

__ADS_1


Kedua orang yang tadi nya masih tertidur nyaman, terganggu seketika.


Ke-duanya pun kompak membuka mata. Mengerjap erjap, mencari kesadaran seratus persen.


__ADS_2