AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)

AYAH! (Di Antara 2 Dendam Istri)
Bab 7# Diusir!


__ADS_3

"SURYA...CAHAYA!!!"


Di pelataran rumah Embun, orang tua Barli sedang berteriak marah. Ada Barli dan Pak RT selaku pemimpin di komplek itu, datang ingin menyidang Embun berikut anak-anak nakalnya.


"Ibu Embun! Keluarlah dan bawa anak-anak badung mu itu!"


"Sabar, Pak Boim!" Pak RT menenangkan orang tua tunggal Barli yang sedia kalanya berteriak teriak marah.


Embun yang sedang berbenah di dapur, segera mencopot celemeknya. Lalu berlari kecil keluar rumah. Dia membelalakkan matanya melihat tiga orang di pelataran rumahnya.


Para tetangga rempong pun pada kepo semua, sehingga sudah pada menonton yang entah ada drama apalagi yang diperbuat oleh si kembar badung itu?


"Ada apa, Bapak-Bapak? Kenapa berteriak-teriak begitu?" tanya Embun dengan nada sopan. Tetapi dalam hatinya, dia sudah was-was melihat kepala Barli dililit oleh perban medis yang berwarna putih itu.


Apakah ulah si kembar? gumam Embun dalam hati.


"Ada apa, ada apa!!!" Papa Barli yang bernama Boim itu, ngegas. "Lihatlah! Kelakuan anak-anak nakalmu! Mereka sudah membuat kepala Barli bocor berdarah darah!"


Embun dibentak-bentak. Hari ini, rasa malunya terhadap para tetangga sudah di atas ubun-ubun. Dia kecewa sama dididikannya sendiri. Padahal, dia tidak pernah mengajarkan si kembar hal negatif seperti itu.


"Ma-maaf, Pak..." Embun menunduk tidak enak hati. "Tapi, kenakalan terjadi mungkin karena ada sebabnya," sambung Embun sedikit membelah anaknya.


Pak Boim yang mendengar itu, kian kesal saja dan kembali membentak dengan mata itu melotot marah ke Embun.


"Jadi maksud Ibu Embun, anak saya-lah yang memulainya? Oh, hebat sekali Anda ya! Sudah ada korban begini masih membela anak. Beginilah pertumbuhan anak haram itu ... nakal menyerupai anak iblis yang tak mengenal didikan__"


"Cukup!" Embun menyerka. Ikut membentak dengan jari telunjuknya menghardik wajah Pak Boim. Dia tidak terima si kembar dibilang sebagai anak Iblis dan anak haram, walaupun demikian kebenarannya dia hamil di luar nikah. Ada rasa ketidakterimaan di hatinya sebagai orang tua, kalau anaknya dihina meski anak salah sekalipun.


"Lihatlah semuanya! Ibu Embun sudah salah, namun masih bisa berperilaku kasar macam tidak terima."


Pak Boim memprovokasi tetangga Embun yang kian banyak berkumpul di pelataran sederhana itu.


Embun tersudut, dikala semua tetangganya menaruh simpati ke Barli yang nyata di depan mata sebagai korban.


"Sudah! Ini saya sebagai RT di hadapan kalian kok kagak dianggap sih? Kita bisa menyelesaikan secara baik-baik dengan kata rukun tetangga." Pak RT menengahi warganya sebagai pemimpin di komplek itu. Dia sebenarnya kasihan ke Embun, sayang sekali wanita cantik semampai itu di bentak bentak oleh si Boim. Tapi, posisi Embun sebagai wali si kembar memang salah, itulah menurutnya.


"Tidak bisa, Pak RT. Anda lihat saja kepala anak saya sudah bocor seperti itu. Ini kedua kalinya si nakal itu melukai Barli, jadi saya mohon untuk mengusir Ibu Embun dari sini. Dari pada anak orang lain pun kena korban kenakalan Surya dan Cahaya, apa kalian menginginkan itu?"


" Usir saja!"


Para tetangga Embun, kompak berseru dua kata tega tersebut. Mereka semua termakan provokasi dari Papa Barli. Tentu saja mereka takut kalau ada Barli Barli lain yang terluka akan kenakalan si kembar.


"Eh, sabar!" Pak RT kualahan menengahi para tetangga Embun. Tapi masih pada ribut saja untuk segera mengusir Embun yang saat ini merasa tidak berkutik lagi, karena sana sini semuanya tidak suka kepadanya.


"Saya akan pergi dari sini, jadi kalian pergilah ke rumah damai kalian masing-masing. Tapi saya mohon, beri saya waktu untuk menunggu pulang anak-anak saya, sekalian berbenah juga."


Embun terpaksa mengikuti kemauan para warga, bukan karena dia takut ke Papa Barli melainkan demi kedamaiannya sendiri. Mengalah tidak selamanya kita salah!


"Ya, pergi jauh-jauh! Bawa sana pergi Iblis nakal itu." Papa Barli meneriaki punggung Embun yang sedang berjalan menuju pintu rumahnya. Dia tersenyum jumawa oleh ketidakmampuan Embun melawannya.


Embun yang mendengar lagi kata iblis dari mulut besar si laki berotot itu, segera berbalik dengan mata sinis menghardik si Boim, di sela langkah cepatnya mengambil jarak. Kali ini, tidak ada ampun lagi bagi orang tua Barli!


"Ibu Embun, sabar ya!" Kata Pak RT menenangkan.


Embun hanya menyeringai tajam yang tak mau lepas pandangan pemangsanya ke wajah Papa Barli, yang mempunyai mulut kayak burung gacor. Dia sudah tepat di depan tubuh besar Boim yang berjarak setengah meter saja.

__ADS_1


"Halaaa ... bisa apa Anda? Jangan kebanyakan gaya dengan sok berani menantang saya yang seakan-akan mengajak saya berkelahi. Tenaga cewek itu bak gigitan semut semata." Boim meremehkan. Dia tidak tahu saja, siapa Embun itu. Mantan Dokter yang pernah merangkak sebagai anggota mafia pada waktu delapan tahun lalu.


"Anda pikir, cewek itu lemah? Coba lihat dan rasakan ini!"


Setelah Embun berucap dingin...


Bugh...


Bugh...


Duarh...


Pak RT dan para gerombolan tetangga kompak ternganga-nganga mulutnya, tatkala melihat aksi beladiri Embun yang sangat hebat.


Bagaimana bisa? Embun seorang wanita yang ramping, bisa mengalahkan seorang pria dengan cara... Men-jab wajah Pak Boim berkali kali. Belum juga, flying kick memutar Bunda si kembar yang mampu merubuhkan tubuh gaban pak Boim ke tanah.


Tapi karena tidak mau kalah, Pak Boim bangkit dan berniat cepat meninju wajah Embun. Pak RT yang ingin melerai pun tidak bisa, pria itu takut terkena sasaran.


Kreeekkk...


Aaargh...


Bukan Embunlah yang melolong keras nan sakit, melainkan Pak Boim. Saat tinju laki laki itu melayang ke wajah Embun, dengan cepat Bunda si kembar menahan tangan pak Boim lalu mematahkannya.


"Ini hadiah dariku karena Anda sudah pernah menampar Surya. Dan satu lagi, jangan sering meremehkan seorang perempuan. Asal Anda tahu...." Embun menggerlyakan matanya ke seluruh orang dihadapannya ..."Orang yang terlihat lemah, tidaklah selalu lemah. Jadi, pergilah semuanya! Jangan khawatir, saya dan anak anak saya akan meninggalkan rumah ini."


Semuanya pun pada bubar ke rumah masing-masing, takut pada Embun yang ternyata wanita tangguh dan pintar beladiri. Serem!


Pak Boim di papah oleh Pak RT yang bergetar lututnya karena aksi Embun yang mengejutkan baginya. " Untung kemarin kemarin pas aku godain, tidak mengeluarkan jurusnya," batinnya ngeri.


"Kok ada koper, Ca?" Bisik Surya yang sudah berada di ruang tengah.


"Tidak tau juga," sahut Cahaya pun berbisik dengan mata indah itu memutar mencari keberadaan sang Bunda.


"Kita di usir, karena kelakuan nakal kalian. Puas, hah?"


Bugh, bugh, bugh, bugh...


Sekonyong-konyongnya, Embun menyahut dari belakang si kembar dengan nada kesal. Tak lupa, tangan Embun itu sudah memukul mukul bokong, turun ke paha dan betis Cahaya juga Surya secara bergantian menggunakan gagang sapu.


Saking marahnya dengan kelakuan nakal anaknya, Embun lupa menanyakan terlebih dahulu duduk permasalahannya seperti apa? Sehingga berujung melukai kepala Barli sampai berdarah darah.


"Hiks, hiks, sakit, Bunda ..." Cahaya menangis seraya mengadu. Surya tidak bisa menolong adiknya karena diapun merasakan denyutan nyeri itu yang masih dipukuli oleh Embun.


Surya memang meringis, tetapi tidak bergeming. Hanya lelehan air mata saja yang mengalir, tanpa ada isak tangis seperti Cahaya yang sudah meraung-raung.


"Pukul Surya saja, Bunda. Jangan pukul Cahaya," pinta Surya seraya menangadakan kepalanya untuk menatap wajah marah Embun. Dia sudah memeluk sayang adikya agar tidak terkena pukul lagi.


Deg...


Mendengar suara pilu anaknya, Embun tersentak dari kekalutan kemarahan yang terpicu rasa malu terhadap para tetangga, membuatnya tidak sadar sudah melukai kedua anaknya. Sapu itu pun terjatuh seiring rasa sesal menggorogoti perasaan Embun.


"Maafkan Bunda, Nak ..." pinta Embun dengan suara bergetar. Dia sudah bersimpuh dihadapan Cahaya dan Surya. Lalu memeluk kepala anak anaknya.


"Bunda__" Embun terjeda. Kehilangan kata kata sendiri karena tangan bodohnya sudah membuat kulit mulus anaknya jadi memerah. Dia tahu kenapa si kembar nakal dan terus membuat ulah. Mungkin itu sebagian bentuk protesnya yang selama ini telah mendambakan sesosok Ayah yang ia rahasiakan rapat-rapat identitas pembunuh adiknya.

__ADS_1


"Kami yang nakal Bunda! Kami yang salah! Kami yang harusnya minta maaf...hiks, hiks."


Surya yang tadinya kuat untuk tidak terisak-isak, sekarang tidak mampu untuk membendung buliran itu.


Cahaya sendiri sudah meraung sedari tadi, hidung mungil nan bangir itu sudah memerah karena tangisnya tersedu sedu.


"Nanti malam, kita akan pergi dari Negara ini dan akan pergi ke Negara Indonesia," kata Embun bertekad akan memulai rencana balas dendamnya.


Mendengar tutur Embun, sang anak seketika berhenti menangis, juga segera menarik kepala masing masing dari dekapan dada Embun.


Surya dan Cahaya masih belum paham. Kenapa harus ke Indonesia?


"Ayah kalian berasal dari sana," jelas Embun yang seakan-akan tahu raut wajah kebingungan anaknya.


Lantas, si kembar tersenyum lebar seraya kompak menggosok air mata buayanya yang masih di pelupuk mata.


"Bunda akan membawa kalian kepada Ayah kalian, tapi dengan syarat ... bantu Bunda jadi pelakor!"


Pelakor? Ya...dia mempunyai rencana bagus untuk menghancurkan Badai Sagara. Hanya bantuan si kembar lah dia bisa masuk kedalam hidup pria yang sudah membunuh adiknya. Ingat! Embun akan menjadi pelakor bukan karena harta, apalagi cinta. Tetapi DENDAM!


"Baiklah, Bunda!"


Lagi, si kembar menyahut kompak. Padahal, mereka tidak paham betul apa maksud Bundanya yang akan menjadi pelapor katanya.


Ah, masa bodo dengan kata asing itu. Terpenting, Surya dan Cahaya akan bertemu dengan Ayahnya dan siap berkeluh kesah kepada beliau.


"Senangnya..." lirih Cahaya. Ia sudah melupakan bokongnya yang sakit. Ah... Sebenarnya, ia meraung raung tadi itu hanya menipu sang Bunda saja.


"Akhirnya, Ca." Surya berbisik di telinga adiknya. Mereka berpelukan. Jadi Embun tidak mendengar bisik bisik setan mereka.


"Jadi tidak sabar deh," bisik Cahaya juga.


"Ayo kita pergi!"


Kedua bocah itu pun melepaskan pelukan satu sama lain, lalu kompak mengikut Embun.


"Ayah, kami datang..." Cahaya terpekik senang. Dapat delikan peringatan dari Embun.


"Hehehe... Bunda jangan marah. Kami hanya senang." Cahaya tercengir.


"Apa pukulan Bunda masih sakit, Sayang?" Embun sebenarnya mengerti perasaan senang anak anaknya. Ia hanya khawatir pada pukulannya tadi.


"Mana ada sakit! Rasanya cuma di gigit gigit semut!"


"Hah...?" Mulut Embun melongo Bak orang bodoh akan seruan Surya yang di angguki oleh Cahaya pun.


"Tadi kan nangis nangis, itu bukannya sakit?" Embun memancing, spontan Cahaya menyahut polos. "Itu tadi cuma nangis mengiba."


"Bukan nangis mengiba, Bodoh. Tapi buaya buaya apa gitu istilahnya." Surya menimpali yang tak tau juga mau ngomong apa.


"Dasar bocah bocah kurang akhlak," batin Embun speacleesh. Ia mengatur nafas nya, seperti mau melahirkan hanya demi menurunkan emosinya yang tertipu oleh anak anak badungnya. "Mana sudah janji lagi mau mempertemukan mereka dengan pria biadab itu." Embun menyesal. Tetapi kalau tak menepati janjinya, takutnya dua anaknya semakin kecewa padanya.


"Mungkin memang saatnya untuk muncul dari persembunyian ku. Dendam memang perlu di balas!"


Embun terus bergulat batin di antara ke antusiasan sang anak yang mereka saat ini sudah berada di dalam taksi menuju bandara.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2