
Satu setengah jam berlalu setelah jus tertelan oleh Eliza dan si kembar. Itu tandanya, sisa waktu hanya tiga puluh menit lagi. Eliza mulai gelisah. Ia takutnya, jus itu adalah satu dari dua gelas yang di racuni oleh Vano. Eliza berharap, jus yang tumpah adalah gelas beracun dan isi gelas satunya semoga saja yang diminum oleh si kembar, bukan yang di minumnya. Semoga!
Mereka baru sampai di rumah Badai yang akan mereka tempati dalam satu atap bersama. Tanpa ada pembantu yang di siapkan. Lagian, buat apa coba punya istri dua kalau masih butuh ART. Satu orang nyuci, masak dan lain-lainnya, bisa di bagi bagi. Kalau Embun membantah, maka tinggal cerai saja dengan alasan sudah pasti, tak becus. Alasan kuat ada untuk membawa gugatan. Beres kan?
"Kamu kenapa, Eliza?" Badai merasa aneh dengan suhu tubuh Eliza yang berkeringat dingin. Bahkan, keringat sebesar bisi jagung ada yang menetes dari pelipis. Padahal, rumahnya itu full AC. Hanya ruangan kamar mandi saja yang tak ber-Ac.
"Tak apa kok, mungkin aku hanya lelah!" elaknya menepis keringat tersebut. Setelahnya ia pun tersenyum manis, seolah-olah ia tak kenapa kenapa. Lalu melirik si kembar yang sedang mengamati ruangan bernuansa putih di mix biru langit. Kedua bocah itu masih tak menampilkan gejala apapun. Eliza semakin gusar dan takut kalau dirinya yang mungkin keracunan.
"Ayah, kamar kami di sebelah mana?" tanya Cahaya, antusias. Ia tak menyangka kalau Ayah nya itu orang yang sangat tajir.
"Dan kamar utama sebelah mana?" Tanpa tedeng aling - aling, Embun sudah menampilkan taring nya sebagai istri pertama yang berkuasa.
Badai dan Eliza mendengus bersamaan.
"Sebelum kalian semua beranjak, perlu dan wajib kalian dengar peraturan di rumah ini." Badai berseru tegas. Memutari tubuh semampai Embun, pelan. Si istri pembangkang ini memang perlu di tegasi. Dari kemarin, ia sudah banyak bersabar. Status nya sebagai pria gentle nan cool akan tercoreng coeg kalau kalah tegas sama perempuan.
" Cepat katakan! Jangan seperti gasing rusak yang berputar putar tak jelas."
Aih, sianying! memang istri pertamanya ini. Ada saja kata kata yang nyelekit untuk di dengar nya. Semoga kuping nya masih terus diberi kesehatan.
"Biar adil, maka kamar utama adalah milikku."
Embun manyun. Ia ingin memprotes, tetapi Badai segera menaruh telunjuknya ke bibir nya.
"Ish..." tepis Embun pelan, karena Surya dan Cahaya sedia kalanya menatap mereka. Ia tak mau sikap kasar nya ke Ayah mereka itu, terlihat nyata di depan kedua bocah nya.
"Di sini, tak ada pembantu! Kalian berdua harus bekerja sama mengurus rumah dan sebagainya. Kalau ada yang keberatan, maka katakan lah. Biar aku suruh orang pembangkang itu tidur di gudang saja..." Tegasnya seraya menatap dalam dalam ibu dari anak-anaknya. Lalu atensi berikutnya tertuju ke Eliza yang hanya diam menjadi pendengar budiman. Memang manis nan lembut sekali istri keduanya itu. Coba Embun pun sama, maka seperti Raja lah hidupnya. Tapi oh tapi... Tau sendiri si istri pertamanya yang pembangkang itu.
"Aku sih, yes!" Embun mencoba berkelakar. Sok manis di depan anak-anaknya semata. Ia sebenarnya memang tak masalah. Toh, delapan tahun lamanya ia memang sudah melarat hidupnya. Apa apa seorang diri.
__ADS_1
Eliza lah yang mendengus kesal dan mendumel dalam hati. Ia mau menikah dengan Badai karena misi, bukan berlama lama dan berujung jadi babu pria itu.
"Waktu ku dalam satu pekan pun, harus di bagi adil!" Badai menatap tajam Embun yang mau nya sok kuasa. "Tiga hari untuk istri pertama, dan begitu pun untuk Eliza. Dan satu hari nya khusus me time ku."
"Untuk kami?" Surya memprotes, ia dan Cahaya juga kan mau di beri dongeng tiap malam. Sama Bundanya kan sering di bacain, beda dengan Ayahnya yang belum sama sekali.
Oh iya, aku kan punya buntut.
"Dua hari untuk Bunda, dua hari untuk Mama. Dan dua hari nya untuk anak anak Ayah! Bagaimana, adil kan sekarang?" Badai merasa bangga. Si kembar tersenyum.
"Sangat adil, Sayang! Tapi, sekarang aku boleh ke kamar kan? Capek tau!" rengek Eliza manja. Padahal ia ada niat untuk menelpon Vano.
"Silahkan! Dan kalian bebas pilih kamar masing-masing. Tapi terkhusus yang ada di sana, itu adalah milik ku!" Badai menunjuk pintu kamar. Di lirik cepat oleh Embun. Dan seperti biasa, si istri pembangkang nya itu berjalan ke arah kamar yang di maksud oleh Badai.
"Badai! Lihat tuh?!" Eliza merengek protes karena kelakuan Embun yang tak peduli dengan peraturan.
" Biarkan saja! Itu adalah kamar biasa. Kamar utama sebenarnya ada di sana!" Badai menyeringai licik. Orang seperti Embun itu memang harus di cerdikin.
Embun tertipu pemirsa.
Eliza pun tersenyum ejek ke punggung Embun yang hendak tertelan pintu kamar. Lalu beranjak ke kamar pilihannya.
"Hufft... Semoga aku tetap waras!" keluh Badai seraya membanting bokongnya ke sofa.
Di dalam kamar, Eliza langsung mendail kontak Vano yang ternyata, kekasih nya itu sedari tadi menghubungi nya karena begitu banyak panggilan yang tak terjawab.
"Halo__"
"Eliza, bagaimana keadaanmu?" Vano segera bertanya. Cemas.
__ADS_1
"Bagaimana, bagaimana, katamu? Bodoh! aku akan mati!" Eliza marah marah seraya bolak balik di depan kasur.
Di seberang sana, Vano sampai menjauhkan teleponnya itu dari daun telinganya.
"Racunnya ada penawarnya, Kan?" tanya Eliza berharap. Namun, jawaban Vano membuatnya kecewa nan semakin marah!"
"Kamu sangat bodoh, Vano. Kalau aku mati, maka bukan Badai saja yang akan aku hantui, tetapi kamu pun."
Selesai memaki dan tanpa mendengar suara Vano lagi, Eliza membanting handphonenya ke lantai sampai layar pipih yang harganya mahal itu, pecah seketika. Rambutnya yang tergerai indah, ia jambak jambak frustasi seraya terus mondar mandir seperti setrikaan.
"Mungkin aku harus memutahkannya."
Eliza masuk ke dalam kamar mandi. Di depan cermin, ia membuka mulut nya lebar lebar, lalu memasukkan satu jari nya ke pangkal rongga mulutnya.
Hoekk...
Ia memang sengaja menyiksa diri nya, yang bermaksud mengeluarkan seluruh isi lambung nya, maka jus yang entah beracun atau tidak itu, keluar semuanya sebelum zat berbahaya itu menyatu ke dalam sel sel darahnya.
Praaangg...
Belum tiga puluh menit sisa waktu itu terlewat, tanda tanda racun sudah bereaksi telak.
Surya dan Cahaya lah korban dari Vano. Sedang Eliza masih sehat wal'afiat.
Gadis kecil itu, berusaha keluar dari kamar dengan susah payah dan tak sengaja menabrak guci setinggi dadanya yang berada di sebelah bupet hias.
"Bu--Bun--da... " Cahaya memegangi leher nya yang serasa rongga tenggorokan nya terasa terbakar. Susah bernafas dan sangat susah mengeluarkan suaranya.
Surya, bocah yang biasanya lincah itu, lebih dahulu tergolek di lantai kamar sebelum Cahaya berusaha keluar kamar yang bermaksud ingin mengadu pada orang tuanya.
__ADS_1