
Mobil Badai melesat di tengah malam yang terselimuti kabut hujan rintik rintik.
Ada Embun yang menceracau cemas pada anak anaknya yang kini berhasil dibawa pergi oleh Eliza.
"Kenapa harus kehilangan jejak?" Badai memukul kesal setir kemudinya.
"Ini semua salah mu! Kamu memang pembawa bencana dalam hidup ku. Dulu kamu membunuh adik ku dan sekarang anak-anak ku yang kena imbas buah kejahatan mu!"
"Diamlah Embun, jangan berisik! Aku juga cemas pada anak anakku. Kamu tak seharusnya menyalahkan ku seratus persen. Aku hampir membunuh Eliza tapi kamu malah masuk membawa anak anak__"
"Jadi kamu menyalahkan ku? Yang benar saja!"
Keduanya malah berdebat, saling menyalahkan satu sama lain. Dan perdebatan itu terganggu oleh dering ponsel milik Embun.
"Eliza!" seru Embun seraya melirik ke Badai yang juga menoleh cepat kepadanya.
Badai pun menepikan mobilnya, sejurus menyambar ponsel Embun yang belum sempat diterimanya.
"Urusan mu padaku, Eliza. Bukan Embun apalagi si kembar!" tembak Badai tanpa tedeng aling aling.
Hahahaha...
Samar samar, Embun mendengar suara Eliza tertawa jahat.
"Speaker, Bodoh!" pinta Embun ketus. Ia juga ingin mendengar suara wanita yang fixed ... sudah menjadi musuhnya juga.
Badai menurut, ponsel itu pun berada di tengah-tengah.
"Kalau kalian memang mau menolong anak anak badung ini, maka temukanlah persembunyianku! Dan ah, satu lagi ... jangan libatkan polisi. Kalau aku mendapat laporan tentang kalian bekerja sama dengan hak berwajib, maka ku pastikan, Surya dan Cahaya hanya tinggal nama saja."
"A__"
Makian Embun tertahan. Eliza main mematikan teleponnya. Dengan geram, Bunda Si kembar hanya bisa meninju ninju udara.
"Bagaimana caranya kita akan mengetahui keberadaan mereka?" Kesal Embun prustasi membuat Badai mendengus kesal karena tak bisa berpikir ulah suara Embun yang naik oktaf terus dari tadi.
"Tenanglah Embun! Percaya padaku kalau Eliza tidak akan mencelakai si kembar. Ia hanya memancing ku menggunakan si kembar," ujar Badai lembut. Ia mencoba meredam emosinya yang mudah terpancing dengan kata kata frontal Embun.
Tidak mau dipungkiri dari hati nya yang paling dalam, ia memang mengakui kalau ini salahnya. Eliza dendam padanya karena ulahnya di waktu lampau. Begitu pun Embun yang dendam mendarah daging untuknya.
"Maka sana, berikan nyawa mu padanya demi anak-anak ku!" seru Embun tanpa beban.
"Ya... Apapun aku akan lakukan! Termasuk mati di depan matamu dan Eliza." sahut Badai kalem. Terbesit nada kesungguhannya membuat Embun terdiam seribu bahasa. Apalagi Embun mendapati binar mata pria itu berkaca-kaca sedih.
__ADS_1
"Tapi sebelum aku mati entah di tangan mu atau Eliza sekali pun, kamu harus tahu Embun. Aku menembak Erlan, karena adikmu mau menembak Pelangi terlebih dahulu! Tapi naas, sahabat mu sendiri yaitu Guntur lah yang terkena. Kalau tidak percaya, maka tanyakanlah pada Guntur! Aku hanya refleks melindungi saudara ku! Itu saja! Mungkin bila kamu ada di posisi ku waktu itu, kamu pun pasti akan berbuat sama dengan aksi ku!"
Badai menerangkan secara pelan dan terus menerus menatap mata Embun tepat di netranya itu. Berharap, Embun mau mengerti dan mau bekerja sama.
Sedang Embun yang mendengar kenyataan tersebut, tiba-tiba seperti tak punya mulut. Bisu seribu bahasa dengan wajah segera berpaling dari tatapan dalam Badai. Hatinya tergelitik pertanyaan besar, "Apa motif Erlan ingin membunuh Pelangi?"
"Asumsi Guntur, Erlan mau membunuh Pelangi karena dirimu!" Badai seolah olah tahu arti kebungkaman Embun.
"Karena diri ku? Maksudnya gimana? Aku tidak pernah menyuruh Erlan untuk berselisih paham dengan Pelangi. Bahkan, Pelangi sempat aku tolong saat Guntur membawa kembaran mu itu dalam keadaan luka tembak yang katanya di sebabkan oleh Tommy! Yang benar saja aku dalang semua ini?" Embun tidak terima akan asumsi Guntur yang terucap oleh Badai. Seolah dirinya itu adalah musuh dalam selimut.
Badai tidak langsung menjawab, ia lebih dahulu menyalakan mesin mobilnya yang berniat membela kesunyian malam untuk mencari keberadaan Eliza yang belum ada petunjuk apa pun.
"Erlan marah karena Guntur mengabaikan cintamu. Adikmu itu marah ke Pelangi karena mengira telah merebut Guntur."
Hah ... Ternyata karena cinta! Embun meringis dengan kepala ia sandarkan ke kursi mobil. Mata yang berembun itu menatap kosong keluar jendela.
Meski cara Erlan salah, tapi Embun masih merasakan kasih sayang adiknya itu padanya. Adiknya ingin memberi kebahagiaan untuk nya dengan cara mempersatukan cinta bertepuk sebelah tangannya ke Guntur. Embun dilema kembali. Apakah ia masih pantas untuk membalas Badai? Sedang ia sangat mengerti arti saling menjaga keselamatan persaudaraan.
Embun bergulat dengan batinnya sendiri. Sampai ia tak sadar kalau Badai mengajaknya berbicara.
"Apa kamu mendengar ku?"
Embun tersentak saat pundaknya di sentuh oleh Badai.
"Aku bertanya, apa kamu mendengar ku?"
Satu alis Embun terangkat, seraya menggeleng. Pertanda, ia tidak mendengar apa yang Badai katakan.
Badai kembali fokus ke jalanan seraya membuang nafas pelannya. "Aku ingin kita bekerja sama untuk saat ini, Embun. Tolong kesampingkan dahulu dendam mu padaku, demi keselamatan Surya dan Cahaya, bisa?" pinta Badai mengulang perkataannya yang tidak didengar oleh Embun tadi. Ia butuh kesedian Embun dalam hal kekompakan. Bukan saling bertengkar yang malah membuat kepala nya sakit tiap Embun bercetus ria.
"Cepat temukan cara untuk mendapatkan lokasi Eliza." Alih alih menjawab permintaan Badai, Embun malah mengalihkan pembicaraan.
"Diam pertanda setuju!" Badai tersenyum tipis. Ia yakin, kalau Embun itu gengsi mengakui kesediannya.
"Cihh... Sok tahu," gerutu Embun yang tentu saja masih di dengar Badai. Namun, pria itu hanya diam. Kalau dilawan, maka fixed... Si Embun pagi ini akan mengeluarkan terus kata kata sarkasme-nya yang membuat telinga akan berdampak berari-ari bau busuk bin congean.
Tanpa meminta persetujuan Embun, Badai main menyambar ponsel di tangan Embun yang hendak menelepon Bimo.
"Kurang sopan!" cibir Embun mendelik sinis.
Badai tersenyum miring, lalu berkata seraya menunggu jawaban Bimo yang tak kunjung diangkat di seberang sana. "Aku nggak bawa ponsel, tahu sendiri tadi aku sibuk menggendong mu."
Wajah Embun tetiba panas diingatkan kebodohan nya yang main jadi patung tanpa meronta saat Badai menggendongnya agar terhindar dari kaca pecah di kamar tadi.
__ADS_1
"Nanti aku bayar jasa odong odong mu!"
Odong odong katanya? Uhh ... Memang ajaib mulut istri pembangkangnya ini. Huu... Sabar! Badai pura-pura sibuk dengan gawai yang menempel di kupingnya.
"Halo, Bimo! Tolong kamu hubungi Anevay, suruh bantu aku menhack lokasi nomer telepon Eliza."
"Tapi, Tuan Badai. Bukannya Nona Vay ada di Belanda? Memangnya bisa menhack dengan jangkauan jarak jauh?"
Iya, juga! Badai meringis pelan.
"Apa kamu bawa laptop?" Embun bertanya seraya mengedarkan penglihatannya ke arah kabin belakang. Ia baru ingat skills-nya yang sudah lama terkubur.
"Buat apa?" Badai main mematikan sepihak pembicaraannya dengan Bimo.
"Jawab saja, bawa apa nggak?" ketus Embun, gemas.
"Ada di belakang!"
Tak banyak bacot lagi, Embun segera pindah ke belakang. Memaksa tubuhnya berdesakan dengan sela kursi.
"Apa kamu seorang hacker seperti Vay?" tanya Badai menebak. Perhatiannya tak lepas dari kaca spion untuk memindai Embun yang sibuk dengan laptopnya.
"Tidak jago, tetapi sekedar mencari lokasi istri mu yang katanya lemah lembut mu itu, aku bisa." Embun menyahut sekaligus mengejek Badai.
"Kamu mengatai ku bodoh!" Badai kesal dalam hati. Ish... Boleh ngarungin wanita galak itu nggak sih?
"Baru sadar kalau kamu itu bodoh? Gayanya pernah menyandang nama klan The Kurcil Smart. Cih... Adanya The Stupid Charming."
Fjdjfjfjfffasisj... Badai berkomat kamit kesal setengah mati. Tapi sejurus kemudian, bibirnya mengembang. Seraya mengatainya Stupid, tanpa sadar, Embun itu juga memujinya sebagai pria yang mempesona.
" Ralat, bukan The Stupid Charming, melainkan The stupidest in the world."
Gjejdjdjdjfjfjdhd.... Badai kembali berkomat kamit mendengar julukan Embun yang katanya ia adalah pria yang terbodoh sedunia. "Halo... Gue sumpahin lo bucin sama seseorang dan tak bisa membedakan tai kucing sama tai ayam."
Sejenak Embun mendelik ke arah kaca di depan kemudi Badai, ia ingin melihat ekspresi Badai yang mendapat ejekan telak darinya.
"Coba perjelas acara komat kamit mu! Aku ingin dengar!"
"Komat kamit apaan? Jangan sok tahu, lebih baik cepat dapatkan lokasi Eliza." Badai mengelak.
"Di dekat laut, aku menemukan titik sinyal lokasi Eliza di daerah ini." Embun membalik laptop nya ke arah Badai agar suaminya itu bisa membaca daerah yang ia tidak begitu luas tentang negara ber-ikon singa tersebut.
Tak banyak pertanyaan lagi, Badai segera menancap lebih dalam pedal gasnya. Eliza akan ia beri pelajaran.
__ADS_1
Dalam kemudi ugal ugalannya, Badai sesekali melirik Embun yang masih sibuk dengan layar laptopnya. Tanpa terucap dengan bibir, ia memuji dalam hati skills Embun yang ternyata mempunyai keahlian seperti Anevay, sahabat plus salah satu personil klan the Kurcil Smart yang sudah bubar karena kesibukan masing-masing.