
Karena Badai dan si kembar belum pulang yang tadinya izin sekedar jogging, Embun pun memutuskan mencari ketiga orang itu.
"Punten, Mang!" Embun yang berpapasan dengan seorang pria setengah paruh bayah yang sedang memanggul satu karung rumput, segera ia hentikan.
"Iya, ada apa ya?" Jawab si Mamang seraya merigis peluang menahan beban rumput.
"Apa Mamang melihat dua anak kecil, satu cewek dan satunya cowok berasama pria yang ada di foto ini?" Embun memamerkan foto Badai di layar handphone.
"Oh, iya! Iya... Tadi saya saling sapa sama Bapak ramah ini. Tapi, anak anaknya laki laki semua."
Laki laki semua? Oh... Embun baru sadar kalau penampilan rambut Cahaya itu sekarang sama persis potongan rambut Surya. Kalau hanya melihat sekilas, semua orang juga pasti akan salah paham, mengira Cahaya adalah anak lelaki karena pakaiannya pun sudah tidak mau memakai rok bunga bunga atau baju feminin lainnya.
"Iya, Mang?"
"Mereka tadi berjalan ke arah perkebunan teh."
Embun tersenyum sopan. Lalu berkata, "Terimakasih ya, Mang!" Di balas senyum ramah sang Mamang.
Embun pun melanjutkan langkahnya. Penasaran, apa yang sebenarnya dilakukan oleh anak dan suaminya sampai sampai lupa pulang dan melewatkan sarapannya?
"Hah...?"
Sampai di pinggir perkebunan, mulut Embun dibuat menganga dan susah tertutup untuk beberapa detik akan pemandangan di depan sana.
Lima janda yang tadi mengantar makanan untuk si A'a alias Badai, saat ini sedang bersama suaminya. Duduk bersama-sama di sebuah gubuk bambu seraya bercakap cakap yang ia pun tidak mendengarnya apa yang sedang di bahas oleh mereka.
"Kok sakit ya?" Embun menekan dadanya. Ada rasa sesak penuh kecemburuan melihat Badai mengobrol ramah bersama wanita wanita lain. Meski ramai ramai, tetapi tetap saja membuat hatinya tercubit.
"Suuuuurr!"
"Caaaaaaa!"
Demi membubarkan rombongan Badai, Embun berseru panjang memanggil kedua anak-anaknya yang sedang bermain lari larian di sela sela tumbuhan teh yang bedengannya tertata rapi.
__ADS_1
Badai yang melihat kedatangan Embun sedari tadi, memang sengaja mengabaikan Embun. Ia semakin asyik mendengarkan cerita cerita unfaedah lima wanita di depannya.
"SURYA...! CAHAYA, BALIIIIIK SARAPAN DULU !" Teriakan Embun semakin terhakiki.
"Kami sudah sarapan!" Balas teriak Surya apa adanya. Karena memang ia dan Cahaya ditraktir bubur keliling sama sang Ayah tadi.
Mendengar itu, wajah Embun tertekuk dalam. Ia merasa diabaikan oleh Cahaya dan Surya yang kembali bermain kejar kejaran di antara pemandangan teh yang mengagumkan.
"Kenapa dia begitu tega mengabaikan ku?" Dia? maksud Embun adalah Badai. Cueknya si kembar bisa dimaklumi karena namanya juga bocah yang mementingkan kesenangan bermain aktif di umur emasnya. Tetapi Badai...? Hah... Embun tidak terima. Mau marah marah pun rasanya malu. Ya sudahlah, balik kiri, langkah tegap maju ke arah sungai. Mau curhat sama ikan di sungai saja.
Dan sampailah Embun di tepi sungai. Duduk di batu hitam besar. Menurunkan kedua kakinya, membiarkan menjuntai dibasahi oleh air yang mengalir tanpa beban.
"Dia itu sebenernya, maunya apa sih? Semalam saja ngajakin rujuk, tetapi sekarang dia sudah tebar pesona sama semua wanita di kampung ini." Embun mendumel tanya, seraya tertunduk ke arah kakinya yang basah. Ia galau mendadak dibuat kelakuan Badai yang membangonkan.
Tanpa ia sadari, Badai sedari tadi mengikutinya. Berdiri dengan empat langkah di belakang sana. Bibirnya tersenyum geli mendengar samar gerutuan Embun. "Lucu...!" gumam Badai.
Sedang Si kembar sendiri masih ingin bermain di perkebunan teh, di bawah penjagaan lima wanita yang sok curi perhatiannya.
Embun terkesiap mendengar suara Badai tiba-tiba. Ia pun menoleh dengan malas. Matanya terpancar sinis. Dan berkata, "Ngapain kamu di sini? Sana pergi! Pergi saja sama lima wanita-wanita mu tadi!" usir Embun jengkel. Lalu segera memutuskan pandangannya dari wajah Badai yang malah tersenyum manis.
"Yakin, aku boleh nih pergi sama mereka?" Goda Badai seraya melangkah dan mengambil duduk di dekat Embun.
Wanita itu kembali menoleh sinis, lalu membuang lagi pandangannya lurus lurus ke seberang sungai. Wajah Badai terlalu tampan untuk di omelin. Sayang, nanti luntur bak kain batik murah.
"Boleh, nggak?" tanya Badai lagi dengan tangan itu menyikut pelan pinggang Embun.
"Terserah..." Jawab Embun kalem kalem tapi gereget dalam hati.
"Yakin, nih?" Badai tersenyum lalu menusuk nusuk pipi kiri Embun.
"Tau ah, lepas!" tepis Embun akan jari nakal Badai.
"Ciee...ciee... Ada yang cemburu nih...!" goda Badai lagi. Bagaimana pun caranya, ia harus berhasil membuat Embun mengakui perasaannya. Bahaya kalau lama lama di pendam, takut adiknya di bawa sana karatan karena belum pernah dihasah lagi.
__ADS_1
"Siapa yang cemburu? Jangan ge'er!" Embun mengelak. Ia lagi tidak mau di goda. "Lebih baik kamu pergi! Terserah kamu mau jalan sama wanita di luar sana!" Katanya tetapi hatinya berkata lain. Dasar munafik! batinnya merutuki diri sendiri.
Ck... masih saja mengelak. Gue cipo* nih!
Dan benar saja, kali ini ancaman Badai terlaksana. Menarik tengkuk Embun lalu menempelkan bibirnya. Ia bodo amat akan mata sang Empu bibir membulat kaget menatapnya di posisi intim itu.
Sepasang sejoli itu tidak tahu kalau ada pencari rumput, melihat adegan unyu Embun dan Badai yang tidak kenal tempat. Takut kena kutil di bagian matanya, Sang Mamang hadap haluan, pergiiiii.
Dan seperkian detik, Badai terus mencuri nafas Embun yang asyiknya Embun tidak meronta tetapi tidak juga membalas pagutan Badai yang di saksikan pemandangan alam yang asri.
Sudah merasa cukup, Badai pun melepaskan bibirnya. Lalu cepat cepat menaruh telunjuknya ke bibir Embun yang sudah tersadar dari keterpaku kagetnya dan hendak mengomel.
"Aku yang menyuruh lima wanita tadi ke rumah. Dengan alasan ingin mengetahui reaksimu. Dan cerita mereka, kamu mengusirnya dengan teriakan galak. Dan di perkebunan tadi, aku cuma berpura pura mengabaikanmu. Buktinya sekarang aku ada di sini sedari tadi. Aku hanya ingin kamu mengakui perasaanmu, Embun. Aku tau kamu pun ada rasa padaku. So...mari kita buat kisah yang indah?"
Dengan senyum manisnya, Badai juga mengulurkan tangannya. Berharap Embun meraihnya dan mau menerimanya.
"Mau ya?"
Embun masih diam membisu. Pokoknya sebelum ia mendapat kata restu dari pihak keluarga Badai, ia enggan mengakui perasaannya.
"Aku ... aku__" Embun tidak jadi menjawab. Kembali bibir itu mengatup bak di beri lem.
Cinta oh cinta! Lima huruf yang mudah ditulis namun mempunyai kerumitan. Kadang cinta sudah ada untuk menguasai hati, tetapi 'keadaan tertentulah' yang sering menjadi musuh kata cinta.
"Please, akui sekarang! Atau aku akan bunuh diri. Terjun ke sungai dengan kata pasrah di bawa arus!" Paksa Badai mengancam. Ia teringat dengan saran sesat Guruh yang menyuruhnya terjun ke jembatan. Berujung tidak ada jembatan, sungai pun jadi.
Embun menaikkan satu alisnya. Lalu tersenyum ejek. "Aku tau kamu hanya menakutiku! Terjun dan bunuh diri saja kalau berani," tantang Embun. "Awas, aku mau pulang!"
Wanita itu pun berlenggok pergi. Meninggalkan Badai yang merasa kecewa karena Embun masih mengelak saja.
"Eum...baiklah! Lihatlah aksiku!" gumam Badai menyeringai cerdik. Sebagai laki-laki, ia juga paling anti di tantang. Harga diri coeg, limaaa ratusan eh... kok kayak dagang tahu bulat. Badai menepuk jidatnya baru beraksi yang akan membuat Embun menyesal karena sudah menantangnya.
Dan byuuurrr... Suara air bergolak terdengar keras. Membuat langkah Embun terhenti. "Apa dia---?" Embun menggantung ucapannya seraya berbalik dan menggantinya dengan berlari ke tepi sungai yang di pijaki Badai tadi. Pria itu sudah tidak ada di penglihatannya, sedang air di sungai bergolak golak bekas guncangan beban berat. Dan itu pasti tubuh Badai.
__ADS_1