BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
BIMBANG


__ADS_3

Pagi itu,terlihat didapur seorang gadis sedang memasak sarapan pagi untuk kekasihnya dengan raut muka kusut.


Caterine semalam tidak bisa tidur memikirkan lamaran dari kekasihnya itu.


Meski pada awalnya dialah yang mengejar cinta pria tampan itu dan memimpikan akan bersanding dengannya dipelaminan.


Namun saat impian tersebut menjadi nyata, entah kenapa tiba - tiba hatinya merasa bimbang dengan semua rasa yang ada.


Dia tidak tahu harus merasa senang atau malah sedih, saat semalam kekasihnya mengutarakan keinginannya untuk segera menikahinya.


Rasa yang dulu kuat seakan mulai tersedot oleh rasa takut dan menganggap apa yang terjadi tersebut hanyalah sebuah imajinasinya saja.


" Apa dia benar - benar sudah mencintaiku ", batin Caterine resah


Banyak pikiran negatif mulai melintas dikepalanya, karena sejak awal statusnya dan Stevanus hanyalah palsu.


Awalnya mereka hanya bersandiwara agar kakeknya Stevanus merasa tenang.


" Apakah menikahiku juga bagian dari sandiwaranya? ", gumannya pelan.


" Sandiwara apa sayang....", ucap Stevanus yang tiba - tiba sudah memeluknya dari belakang.


" Eh...sayang, bikin kaget aja ", ucapku terkejut.


" Harumnya...pasti enak ", ucap Stevanus saat mencium bau nasi goreng yang sedang dimasak kekasihnya itu.


" Kamu duduk disana dulu sebentar lagi nasinya siap ", ucapnya lagi.


Stevanus pun menuruti keinginan sang kekasih, sambil menunggu nasi gorengnya siap dia terus memandangi Caterinne yang mulai mengoreng telur mata sapi.


Setelah semua selesai, dia segera menyajikan nasi goreng spesialnya dengan telur mata sapi diatasnya.


Tak lupa dia beri irisan mentimun dan tomat disampingnya yang ditata seapik mungkin agar menarik dipandang.


Melihat tampilan nasi goreng yang sungguh menggoda, Stevanus segera melahapnya hingga habis tak bersisa.


" Nasi goreng buatanmu sangat enak sayang.aku jadi ingin memakannya setiap hari ", ucap Stevanus sambil tersenyum.


Mendengar hal tersebut wajah Caterine berubah menjadi merah merona.


Ditatapnya laki - laki tampan yang ada dihadapannya itu.


Melihat kekasihnya makan dengan begitu lahap menyantap masakan buatannya, tiba - tiba hati Caterine terasa berbungga - bungga.


Dipandanginya lelaki yang sudah menjadi kekasihnya selama beberapa bulan terakhir ini dengan intens.


Perasaan ragu tersebut kembali menghantui hati dan pikirannya.


" Apa sebenarnya yang dia sukai dariku ", batin Caterine cemas.


Stevanus yang melihat raut muka cemas kekasihnya ingin bertanya, tapi kemudian niatnya tersebut diurungkannya.


Dia tidak ingin melihat kekasihnya itu tertekan atas permintaannya untuk segera meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.


Caterine yang ditatap kekasihnya sedemikian rupa hanya bisa menelan ludahnya beberapa kali, kemudian diapun mulai bersuara.


" Kasih waktu untuk menjawab permintaanmu semalam " , ucap Caterine memecah kesunyian yang sempat terjadi.


" Aku sangat mengharap kamu berkata " iya" sayang , ucap Stevanus lembut dengan tatapan penuh cinta.


" Tapi jangan buat aku terlalau lama menunggu " , ucapnya lagi sambil tersenyum.


Tanpa berkata lagi, Caterine segera membereskan piring kotor yang ada diatas meja makan.


" Biar aku saja...", ucap Stevanus langsung mengambil alih untuk mencuci piring kotor yang dibawa Caterine.


Disaat Stevanus sedang mencuci piring, Caterine mulai membersihkan meja makan dan merapikan gelas yang ada.


" Hari ini kamu ada acara kemana...", tanya Stevanus sambil merapikan anak rambut Caterine dan menyelipkannya dibelakang telingga.


Hari ini aku free...besok sore yang ada acara nobar bareng pengemar " , ucapnya sambil mengelus pipi kekasih yang ada dihadapannya itu.

__ADS_1


" Kalau begitu, hari ini kamu tunggu aku di rumah ya. Jangan kemana - mana. Habis meeting dengan klien aku segera kembali " , ucapnya sambil menegecup kening Caterine dengan lembut.


" Siang mau dimasakin apa ? " , tanya Caterine sebelum kekasihnya itu masuk kedalam mobil.


" Apa aja aku makan, asal kamu yang masak " , ucap Stevanus dari dalam mobil.


" Hati - hati di jalan ya sayang ", ucap Caterine sambil melambaikan tangan.


Mobil yang dikendarai Stevanus pun melesat meningglakan Caterine di rumah sendirian.


Selama perjalanan Stevanus terlihat senyum - senyum sendiri karena bahagia.


" Jadi begini ya rasanya berangkat kerja diantar istri sampai depan rumah " , batin Stevanus bahagia.


Diapun segera memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai kantor dan bisa menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin karen diavsudah merasa rindu dengan kekasihnya itu.


Sementara itu, dirumah sendirian membuat Caterine sedikit bosan.


Diapun mulai melihat - lihat rumah tersebut. Dimasukinya beberapa ruangan yang ada di dalam rumah munggil itu.


" Ternyata dia memang sangat rapi dan teratur ", ucapnya memandang ruang kerja Stevanus yang tertata rapi.


Bahkan buku yang berjajar rapi di dalam lemaripun disusun berdasarkan alphabet.


Semuanya tersusun rapi sesuai tempatnya.


Saat sedang melihat lihat tiba - tiba pandangan matanya tertuju pada sebuah majalah bisnis yang beberapa bulan ini dicarinya.


" Ini majalah yang kapan hari itu ingin aku baca ", ucapnya sambil berusaha meraih majalah tersebut.


Karena posisinya yang cukup tinggi, dia terpaksa harus sedikit melompat agar bisa mengapainya.


Brukk.....


Beberapa buku yang berada diatas majalah tersebut ikut terjatuh bersama majalah yang diinginkannya dan menimpah kepalanya.


Awww...., teriaknya kesakitan.


" Apa ini...", ucap Caterine penasaran saat melihat selembar foto yang jatuh dari dalam buku yang menimpahnya tadi.


Deg....


Cukup lama Caterine memandangi foto tersebut.


Jantungnya serasa berhenti, foto tersebut memperlihatkan kekasihnya sedang tertawa bahagia dengan seorang wanita cantik.


" Siapa dia ? apakah pacarnya ? " , batin Caterine penasaran.


" My lovely....", tulisan yang ada dibalik foto saat tanpa sengaja dia melihat tulisan tersebut saat hendak mengembalikan foto tersebut kedalam buku


Saat ini banyak pertanyaan yang berkecamuk dikepalanya.


Ingin rasanya Caterine saat ini juga menghubungi kekasihnya untuk menanyakan hal tersebut.


Tapi niat itu dia urungkan mengingat pentingnya jadwal rapat yang saat ini kekasihnya lakukan.


Dengan wajah sedih ,akhirnya Caterine hanya mampu menyimpan rasa penasaran tersebut dalam hati.


Setelah cukup lama terdiam membisu, tak sengaja matanya menatap jam yang tergantung didinding.


" Sudah jam sebelas siang. Sebaiknya aku segera memasak sebelum Stevanus datang ", ucapnya langsung beranjak menuju dapur.


" Masak apa ya...", gumannya binggung sambil membuka lemari es.


Melihat bahan yang ada didalam lemari es, akhirnya Caterine memutuskan untuk membuat sayur sop, ayam goreng dan perkedel.


Tak ketinggalan dia juga membuat sambal yang cukup pedas untuk dirinya, karena kekasihnya tersebut kurang bisa makan pedas.


Setelah berkutat didapur selama satu jam, akhirnya semua makanan sudah siap dan mulai disajikan diatas meja makan.


" Akhirnya selesai juga. Sekarang tinggal membuat es mocca ", ucapnya saat melihat ada buah Alpukat disana.

__ADS_1


Setelah selesai semua, Caterinepun merebahkan diri diatas sofa dsambil mendengarkan musik dan memainkan ponselnya.


Tak selamh berapa lama kemudian, kekasihnya tersebut datang.


Caterinepun menyambutnya dengan senyuman termanisnya.


" Baunya harum....", ucap Stevanus langsung pergi ke dapur mencari sumber aroma sedap tersebut berasal.


" Mau makan sekarang ? " , ucap Caterine menawari.


Melihat Stevanus mengangukan kepala, Caterine langsung mengambilkan kekasihnya itu piring beserta nasi serta lauk pauk diatasnya.


Tak lupa segelas air putih dan es mocca yang telah disiapkannya.


Mereka berdua mulai menyantap makan siang tersebut dengan lahap sambil bercengkerama dengan mesra.


" Sebentar lagi aku akan terbang ke Amerika, ada urusan mendesak yang harus aku selesaikan disana ", ucap Stevanus setelah selesai makan.


" Berapa lama disana ? " , tanya Caterine sendu.


" Sekitar semingguan " , ucap Stevanus datar.


" Kalau begitu aku mau mempersiapkan perlengkapanku dulu ", ucap Stevanus yang langsung beranjak menuju kamarnya untuk mempersiapkan semua hal yang akan dibawanya, termasuk dokumen - dokumen penting.


Caterine yang sudah selesai membersihkan meja makan dan mencuci piring segera menuju kamar kekasihnya untuk membantunya berkemas.


Namun langkahnya terhenti saat dia mendengar percakapan mesra kekasihnya itu dengan seorang wanita yang kebetulan ponselnya diloudspeaker jadi dia bisa mendengarnya.


" Sayang....sudah pesan tiket pesawat ?", tanya wanita itu


" Sudah. Kenapa telepon...", ucap Stevanus datar sambil sibuk memasukkan barang - barang kedalam kopernya.


" Kenapa aku tidak boleh menghubungimu ? " , ucap wanita itu merajuk.


" Hey.....apa kamu ada wanita selain aku....", tanyanya penuh selidik.


" Sudahlah....aku hanya bercanda ", ucapnya lagi saat Stevanus hanya diam saja.


" hahaha.....jam berapa pesawatmu tiba, nanti aku jemput ", ucapnya menawarkan.


" Sampai disana pagi. Buat apa ? lagi pula kita ada waktu bersama selama seminggu ", ucapnya sambil tersenyum.


" Sudahlah....sampai berjumpa di New York ", ucapnya lagi sambil mulai menutup koper


Melihat kekasihnya mau keluar dari kamar, Caterine segera berlari menuju teras pura - pura sedang menghubungi seseorang agar tidak ketahuan sedang menguping.


Stevanus yang melihat kekasihnya sibuk menghubungi seseorang, segera beranjak kembali kedalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


Melihat Stevanus masuk kedalam kamar, Caterine terlihat sangat sedih.


Dia tidak menyangka kalau kekasihnya tersebut sudah memiliki pacar dan sekarang berada di New York


"Apa itu wanita yang ada di foto tadi ", guman Caterine cemas.


" Jadi tugas mendesak itu apakah menemui wanita itu ", batinnya sedih.


Ingin rasanya Caterine menanyakan semuanya, tapi entah kenapa mulutnya terasa sulit untuk berbicara.


Setelah mengantar kepergian kekasihnya sampai ke bandara, Caterine segera diantar pulang ke apartemen oleh supir Stevanus.


Sesampainya di dalam apartemen, Caterine mulai mandi untuk membersihkan diri.


Sekelebat bayangan kekasihnya yang terlihat bahagia waktu mengangkat telepon wanita yang menunggunya di New York itu kembali menghantuinya.


Ratna yang baru saja masuk kedalam apartemen merasa sangat heran dengan raut wajah artisnya itu.


Tapi semua pertanyaan yang dilontarkan manajernya itu tidak Caterine hiraukan.


Sekarang dia sudah menghadap kearah laptopnya berusaha untuk mengerjakan tesisnya agar pikirannya teralihkan.


" Oh....dia lagi konsen nyelesaiin tesisnya ", pikir Ratna.

__ADS_1


Diapun tidak mau menganggu konsentrasi artisnya tersebut dan memilih untuk memainkan ponselnya diatas tempat tidur.


__ADS_2