BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
KENANGAN


__ADS_3

tringg…..tringg….tringgg….


Jam alarm terus berbunyi untuk membangunkan Caterine. Namun, sekeras apapun bunyi jam weker tersebut nyatanya tak mampu membuat gadis cantik tersebut untuk bangun.


Bukan hanya tidak bangun, tubuh Caterine bahkan tidak bergeser sedikitpun. Dia masih setia dengan posisinya didalam selimut sambil memeluk guling yang ada dalam dekapannya.


Tak berapa lama, tiba – tiba saja air matanya menetes dan membasahi sarung bantal yang dijadikan alas tidurnya.


Bukan hanya menangis, Caterine juga meracau tak karuan di alam bawah sadarnya. Seakan mimpi yang dialaminya begitu menyedihkan.


Membuat gadis tersebut terus menerus berguman sambil terisak. Tiba – tiba tubuhnya menegang, sedetik kemudian dia bangun dan langsung duduk dengan cepat.


Caterine bangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Dengan wajah linglung dia memegangi jantungnya yang tiba – tiba saja berdetak dengan kencang.


“ Mimpi itu lagi….”, guman Caterine sedih.


Dua bulan terakhir ini, entah kenapa Caterine terus saja bermimpi tentang Stevanus. Bukan mimpi indah melainkan mimpi buruk terus menderanya.


Membuat perasaannya menjadi kacau balau dan pikirannya tak tenang. Seolah ada ketakutan terdalam jika apa yang ada dalam mimpinya benar – benar terjadi.


Dia takut sesuatu yang buruk menimpah lelaki yang sampai saat ini masih menduduki tempat tersendiri didalam hatinya.


Cukup lama Caterine terdiam merenungi semuanya. Jika hanya sebagai bunga tidur, kenapa hal ini terus terjadi berulang kalia selama dua bulan ini.


Ataukah  ini adalah satu bentuk kerinduan yang selama tiga tahun ini berusaha dia tekan dalam – dalam.


Sambil memegangi dadanya yang tiba - tiba terasa sakit, Caterine beberapa kali terlihat menggelag - gelengkan kepalanya.


Menolak pikiran yang masuk kedalam benaknya. Meski dalam kurun waktu tiga tahun ini Caterine sudah tak pernah lagi berkomunikasi atau mendengar kabar apapun tentang Stevanus.


Nyatanya, dalam sudut hati Caterine yang paling dalam nama lelaki tersebut masih tersimpan rapi disana.


Dan tak ada siapapun yang bisa menggesernya, termasuk Aldebaran yang dengan setia mendampinginya disini.


Bagi Caterine tidak pernah ada sosok lelaki yang bisa menggantikan posisi Stevanus dalam hatinya.


Hanya saja Caterine masih belum bisa dan berani untuk jujur kepada dirinya sendiri mengenai perasaannya itu.


Semakin diingat mimpi buruk tersebut semakin membuat Caterine frustasi. Jarak dan waktu ternyata tak bisa menghapus semuanya.


Jika begini, ingin rasanya dia mengalami amnesia hingga masa lalunya yang kelam bisa terkubur dalam – dalam.


“ Ahhh !!!….bikin badmood aja !!!….”, runtuk Caterine dengan wajah ditekuk.


Perpisahan dengan lelaki yang dicintainya karena keraguan dalam hatinya telah membuatnya menyesal hingga sekarang.


Suatu keputusan implusif yang sempat diambilnya dan membuatnya terpuruk seperti ini. Meski diluar Caterine terlihat kuat dan baik – baik saja.


Tapi, tak ada satupun yang tahu jika hatinya masih terluka dan belum ada yang bisa mengobatinya.

__ADS_1


Sekali lagi jam weker yang ada diatas nakas kembali berbunyi dengan nyaring. Membuat wajah Caterine semakin gelap.


Prangggg……


Hanya dalam satu kali hentakan tangan, jam tersebut hancur berkeping – keping dilantai dan langsung ditinggalkan begitu saja.


Dengan santai, Caterine berjalan ke meja riasnya dan mengambil ikat rambut lalu mulai melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat akibat mimpi buruk yang dialaminya tadi.


Dinginnya air shower yang membasahi kepala dan tubuhnya membuat badan dan pikirannya yang tegang menjadi jernih seketika.


Aroma vanilla milk yang menguar dari busa mandi yang dipakainya ditubuhnya menjadi aroma terapi terbaik pagi ini.


“ Semua hal yang telah terjadi, mengikuti alur yang telah diciptakan….”


“ Takdir mulai terlihat, namun belum ada yang menyadarinya….”


“ Hanya menunggu waktu dan semua akan usai….”


“ Penderitaan akan berakhir dan berganti dengan kebahagiaan….”


Kata – kata seorang nenek tua yang tak sengaja Caterine tolong beberapa hari yang lalu kembali terngiang dengan jelas ditelinganya.


“ Apa maksud ucapan nenek itu ? Apakah ini tentang diriku ?....”, guman Caterine sambil menatap kosong ke depan.


Dia terus berpikir dan membiarkan air dingin terus membasahi tubuhnya mulai dari kepala hingga ujung kaki.


Cukup lama Caterine berdiri dibawah guyuran air shower hingga bibirnya mulai membiru karena kedinginan.


Caterine yang tersadar bergegas mematikan shower dan mengambil handuk untuk membungkus tubuhnya yang mulai menggigil.


Dia sama sekali tak terkejut waktu melihat Ratna sudah berdiri didepan pintu kamar mandi dengan wajah cemas.


Sudah hampir dua bulan ini Ratna tinggal diapartemen bersama dengannya setelah sang mami meminta bantuan kepada sahabatnya itu agar mau tinggal di Amerika untuk menemaninya.


Satu minggu setelah mengalami mimpi buruk tersebut, Caterine sudah seperti orang linglung. Kadang tanpa sebab dia akan menangis sendiri ataupun uring – uringan tak jelas.


Aldebaran yang melihat hal tersebut berusaha untuk membawanya berobat ke psikiater, tapi Caterine menolak dan menganggap jika dirinya baik - baik saja.


Dan kondisi ini terus berlanjut hingga satu minggu lamanya, membuat Aldebaran semakin cemas.


Karena takut terjadi hal yang buruk kepada gadis yang dicintainya itu, dengan terpaksa Aldebaranpun mulai menceritakan masalah Caterine kepada keluarganya.


Sarah, sang mami yang mendengar kabar tersebut mulai mendiskusikan mengenai masalah Caterine ini dengan anggota keluarga yang lain.


Hingga akhirnya diputuskan untuk meminta bantuan Ratna agar bisa menemani Caterine sementara waktu hingga kondisi psikis gadis tersebut pulih kembali.


Dan disinilah Ratna sekarang, sebagai sahabat dan mantan manager Caterine tentunya dia sangat hafal diluar kepala mengenai semua hal tentang gadis tersebut.


Setelah berganti pakaian, Caterine yang hendak menuju kearah balkon sempat melirik samping tempat tidurnya melalui sudut matanya.

__ADS_1


“ Pantas dia khawatir seperti itu ….”, Caterine berkata dalam hati sambil mengambil nafas panjang pada saat melihat sudah tidak ada lagi pecahan jam weker di bawah nakas.


Di balkon kamar, Caterine menyantap sup krim hangat dengan sepotong roti bakar yang sudah disiapkan Ratna disana.


“ Apa kau mimpi buruk lagi ?....”, tanya Ratna dengan tatapan cemas.


Caterine hanya mengangguk sebagai respon pertanyaan yang dilontarkan Ratna tanpa berniat untuk bersuara.


“ Bagaimana jika kamu kembali ke tanah air. Aku rasa, dengan menghadapinya secara langsung mungkin itu bisa menyelesaikan masalah yang ada dan membuat jiwamu kembali tenang….”, Ratna berucap dengan sangat hati – hati.


Sebenarnya, sudah cukup lama kalimat tersebut ingin dia ucapkan kepada Caterine. Tapi mulutnya selalu tertutup waktu melihat kepedihan yang sangat dalam dari kedua mata sahabatnya itu.


Seperti biasa, Caterine akan terdiam jika sudah membahas hal yang berkaitan dengan Stevanus. Meski apa yang Ratna katakan benar adanya, tapi ada ketakutan yang cukup besar dalam dirinya saat ini.


Takut pada saat mendapatkan  fakta jika Stevanus sangat membencinya karena memutuskan hubungan secara sepihak.


Meski lelaki tersebut menyetujuinya karena tekanan dari keluarganya, tapi Caterine sangat yakin jika Stevanus saat itu tak menginginkan opsi tersebut.


Kenangan sewaktu Stevanus berlutut dan mengenggem kedua tangannya dengan sangat erat sambil memohon agar Caterine tidak memutuskan hubungan dengannya membuat hati Caterine selalu merasa sakit jika mengingatnya.


Ratna yang melihat Caterine hanya terdiam dengan wajah sedih akhirnya mengalihkan topik pembicaraan.


“ Aku takut….aku takut Stevanus membenciku….,”, ucap Caterine dengan suara bergetar.


Ratna segera memeluk sahabatnya itu dengan erat begitu tangis Caterine mulai pecah. Dalam dekapan sahabatnya, Caterine mencurahkan semua kesedihan yang ada dalam hatinya.


Pada saat tangis Caterine sudah reda, dengan suara pelan Ratna mulai bertanya “ Apakah kamu masih mencintai Stevanus ?...”.


Tak disangka Caterine mengangguk beberapa kali. Meski tak berkata apapun, tapi Ratna terlihat sangat lega karena akhirnya sahabatnya itu mau jujur akan perasaannya sendiri.


“ Bagaimana kalau akhir pekan kita pulang ?...”, tanya Ratna sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Caterine.


“ Tidak…tidak…aku masih belum siap untuk kembali….”, ucap Caterine sedikit ketakutan.


Melihat reaksi panik Caterine, Ratnapun tak bisa memaksa. Sambil menarik nafas panjang diapun mulai berkata “ Tidak apa – apa….kita akan kembali pada saat kamu sudah siap…”.


Sementara itu di Wiratmadjah Enterprise, Stevanus terlihat masih fokus pada berkas yang ada dihadapannya.


Ternyata, laki – laki tampan itu bukan fokus menyelesaikan pekerjaannya, dia justru sedang melamun sekarang.


Meski berkas dihadapannya terbuka lebar , tapi saat ini pikirannya entah melayang kemana. Yang ada hanya kekosongan disana.


Sambil menghela nafas berat, Stevanus melirik sekilas tumpukan dokumen yang ada disampingnya itu dengan enggan tanpa sedikitpun keingginan untuk menyentuhnya.


Dia kembali menatap dokumen yang terbuka dihadapannya sambil memainkan bolpoint yang ada ditangannya sehingga menimbulkan suara ketukan diatas meja.


Nicholas yang sudah dari tadi berada di dalam ruangan Stevanus hanya bisa menatap sahabatnya tersebut dengan wajah sedih.


Hingga suara pesan yang masuk kedalam ponselnya membuat raut wajah Nicholas berbinar seketika.

__ADS_1


“ Akhirnya, keajaiban ini datang juga….”, batin Nicholas senang.


__ADS_2