BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
UJIAN


__ADS_3

Sambil menunggu proses syuting serial drama berseri dengan judul sama dengan yang sudah tayang dilayar lebar Bahagia Bersamamu dimulai, Caterine yang sudah tidak ada kegiatan selama dua bulan kedepan berusaha untuk segera menyelesaikan tesisnya yang tinggal tiga bab lagi.


Untuk itu dia memutuskan pulang kerumah selama menyelesaikan tesisnya atas permintaan sang mami.


Sarah cukup tahu jika putri bungsunya ini akan lupa makan dan segala hal jika sudah asyik didepan laptop.


Tidak ingin lambung putrinya bermasalah kembali, Sarah meminta dukungan suami dan ketiga putranya untuk membujuk Caterine agar mau pulang kerumah sampai tesisnya selesai dikerjakan.


Awalnya Caterine tetap teguh dengan pendiriannya untuk tetap tinggal di apartemen karena tidak ingin diganggu selama proses penyelesaian tesisnya.


Namun maminya terus mendesaknya untuk pulang, ditambah lagi ketiga kakaknya turut andil untuk memaksanya pulang.


Jika sudah melibatkan ketiga kakaknya, Caterine tidak akan bisa menolak dan akhirnya menuruti keinginan sang mami.


Hal tersebut tentunya membuat semua orang bahagia, termasuk Stevanus yang sedari awal memang menginginkan agar kekasihnya tersebut berada di rumah bersama keluarganya selama penyelesaian tesisnya.


Sejak datang kerumah Caterine tempo hari, hubungan Stevanus dan Sarah telah terjalin sangat baik.


Bahkan Stevanus jugalah yang sebenarnya pada awalnya memberikan ide kepada Sarah agar membujuk kekasihnya itu untuk pulang kerumah.


Stevanus tahu jika Caterine sedikit menjaga jarak dengannya, untuk itu dia ingin agar kekasihnya itu tinggal di rumah untuk mempermudah dirinya bertemu dengan kekasihnya itu setiap saat.


Kedekatan Stevanus dengan Sarah membuat laki - laki tampan itu akhirnya mendapatkan nomor Caterine yang baru.


" Mi...kenapa mami memberikan nomor pribadiku ke Stevanus ", rengek Caterine kepada Sarah.


" Dia kan kekasihmu...jadi apa salahnya mami berikan nomormu ", ucap Sarah cuek dengan aksi protes putrinya.


"Tapi mi...aku itu lagi malas bicara sama dia ", rengeknya lagi sambil menarik - narik baju Sarah dari belakang.


" Kalau sudah malas mending putus aja ", ucap Sebastian enteng sambil mencomot ayam goreng yang ada diatas meja.


" Cuci tangan dulu...kebiasaan buruk ", ucap sang mami sambil memukul tangan Sebastian.


" Tanganku ini bersih dan steril mi...", ucap Sebastian membela diri.


" Dasar jorok....", cibir Caterine sambil sembunyi dibalik tubuh sang mami.


Dikeroyok oleh dua wanita yang cukup bawel di rumahnya, akhirnya Sebastian menuju wastafel dan mulai mencuci tangannya dengan sabun.


Kemudian dia segera mengambil piring dan mulai menyantap hidangan yang ada dimeja makan.


" Habis nguli ya bang...", ucap Caterine jahil melihat nasi yang menggunung di atas piring kakaknya.


" Berisik....urus saja cowok lu tuh ", ucap Sebastian sedikit sebal dengan tingkah usil sang adik.


" Emang ada apa dengan cowokku ", ucap Caterine cuek sambil menyantap habis ayam goreng yang ada didepannya dengan dicocol saos cabai yang super pedas.


" Kalau sudah jenuh, mending putusin saja daripada menganggu konsentrasimu " , ucap Sebastian sambil menatap adiknya itu dengan tajam.


" Tidak semudah itu kak...", ucap Caterine lesu.


Apanya yang susah, tinggal bilang putus...terus tinggalin...beres sudah ", ucap Sebastian sambil mengangkat kedua tangannya seolah apa yang dia ucapkan itu mudah dilakukan.


" Sudahlah...percuma ngomong sama jomblo abadi ", ucap Caterine sambil bergegas pergi kekamarnya meninggalkan kakaknya yang terlihat melotot tak terima atas ucapannya tadi.


Sarah yang melihat kelakuan kedua anaknya hanya bisa menarik nafas dalam dan menggeleng - gelengkan kepalanya.


Didalam kamarnya Caterine segera mengambil laptopnya dan membawanya ke teras balkon.

__ADS_1


"Disini tampaknya cocok buat ngerjain tesis ", gumannya sambil mulai membuka laptop yang sudah berada diatas pangkuannya.


Tak lama kemudian jari - jemarinya sudah menari diatas keyboard.


Mumpung otaknya lagi encer, Caterinepun segera mengetik semua hal yang ada dalam pikirannya dengan mengacu pada data - data yang berhasil dikumpulkannya.


Caterine yang fokus pada layar didepannya sama sekali tidak menghiraukan keadaan sekitarnya.


Bahkan kehadiran Stevanus yang duduk manis di depannya juga sama sekali tidak menganggu konsentrasinya.


Pandangan matanya terus fokus pada layar, serta jemarinya semakin lincah menari diatas keyboarnya mengikuti jalan pikiran pemiliknya.


Stevanus yang melihat kekasihnya sangat serius hanya bisa tersenyum geli.


Dipandanginya wajah cantik yang beberapa hari ini sangat dirindukannya itu.


"Ternyata benar apa kata tante Sarah, jika sudah fokus didepan laptop dia tidak memperdulikan sekitarnya " , batin Stevanus sedih karena kehadirannya sama sekali tidak disadari oleh Caterine.


Bahkan beberapa kali dia mengeluarkan suara batuk juga tidak membuat konsentrasi gadis cantik didepannya tersebut teralihkan.


Tidak ingin menganggu lagi, Stevanus pun segera memainkan ponsel yang ada ditangannya.


Mengecek beberapa laporan pekerjaan yang masuk kedalam emailnya sambil sesekali melirik Caterine yang masih tetap sama, fokus pada laptopnya.


" Akhirnya kurang satu bab lagi...", ucap Caterine sambil meregangkan kedua tangannya keatas karena capek mengetik.


Dia sangat terkejut saat melihat kekasihnya sudah berada didepannya sambil tersenyum manis.


" Apa aku sedang berhalusinasi....", batin Caterine sambil mengedipkan matanya berulang kali untuk menghilangkan bayangan Stevanus yang ada didepannya.


Namun hal tersebut tidak berhasil, dia coba memejamkan mata cukup lama berharap saat membuka mata sosok kekasihnya tersebut hilang. Namun hal tersebut tidak terjadi.


Stevanus yang melihat tingkah pola lucu kekasihnya itu akhirnya tertawa terbahak - bahak.


" Awww....sakit...", ucapnya megaduh kesakitan.


" Sudah sadar kan sekarang " , ucap Stevanus yang langsung mengecup sekilas bibir merah yang sudah menjadi candunya itu.


Melihat Caterine yang masih benggong membuat Stevanus semakin gemas.


Diapun segera m*****t bibir merah itu dengan ganas.


Meski masih menyimpan rasa kesal dalam hatinya, namun Caterine juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ada rasa rindu yang cukup dalam disana.


Mendapat balasan dari sang kekasih membuat Stevanus semakin memperdalam c*******a hingga suara Sebastian yang tiba - tiba terdengar membuat keduanya segera duduk berjauhan dan menghentikan aktivitas yang mereka lakukan.


" Dek...dipanggil mami sama papi di bawah ", ucap Sebastian sambil beranjak pergi.


" Lain kali jangan lupa kunci pintunya biar tidak ada yang lihat " , nasehat Sebastian sebelum meninggalkan kamar adiknya.


Mendapat teguran dari sang kakak, muka Caterine langsung bersemu merah.


Diapun segera membereskan laptopnya dan mengajak kekasihnya itu turun ke ruang keluarga.


Stevanus yang melihat rona di kedua pipi kekasihnya tersebut terlihat sangat gemas.


Jika saat ini berada di apartemen, bisa dipastikan Caterine akan habis d*****n oleh Stevanus.


" Bagaimana tesismu...", tanya Chandra, papinya Caterine sambil menyeruput kopi yang ada didepannya.

__ADS_1


" Beres pi... Besok rencana mau kekampus setor tiga bab terakhir. Doain lancar ya pi...biar Catty bisa ikut wisuda bulan depan ", ucapnya sambil tersenyum.


" Ya sudah, cepat selesaikan. Sepertinya kekasihmu ini sudah tidak bisa menahan diri untuk segera menikahimu " , ucap papinya sambil melirik Stevanus yang mulau sakah tingkah.


Stevanus yang mendengar sindiran halus dari calon mertuanya hanya bisa tersipu malu.


Jujur saja, tanpa sepengetahuan Caterine Stevanus sudah melamar kekasihnya itu kepada orang tuanya.


Orang tua Caterine setuju dengan lamaran itu dengan syarat putrinya tersebut harus menyelesaikan studinya dulu.


" Siap pi...", ucap Caterine patuh.


Mendengar ucapan kekasihnya itu Stevanus tersenyum bahagia.


Akhirnya tinggal menunggu hitungan bulan saja gadis cantik yang ada disampingnya itu akan segera menjadi miliknya seutuhnya.


" Masa aku sama kak Dave dilangkahi sih pi...", ucap Sebastian tidak terima.


" Kalau nunggu kamu dan Dave menikah kelamaan...kasihan Stevanus " , ucap maminya menjawab aksi protes putranya.


" Kok mami lebih membela Stevanus sih..kan aku anak kandung mami, bukan dia " , protes Sebastian dengan muka kesal.


" Usia Stevanus sudah tidak mudah lagi Tian, kasihan nanti anak - anaknya kalau harus menunggu kalian menikah dulu " , ucap Sarah tetap membela Stevanus.


Sebastian terlihat semakin kesal saat maminya kembali membela calon adik iparnya itu.


Dengan muka ditekuk diapun segera meninggalkan ruang keluarga begitu saja.


Semuanya kembali ngobrol dengan gembira tanpa menghiraukan kepergian Sebastian yang terlihat kesal terhadap keputusan kedua orang tuanya.


Malam itu Stevanus pulang dengan hati gembira karena keluarga Caterine telah membuka pintu lebar - lebar baginya.


Demi mewujudkan keinginannya, Stevanus pun selama dua minggu terakhir tidak berani menganggu Caterine agar tesis kekasihnya itu segera terselesaikan.


Dengan bekerja cukup keras, akhirnya bab terakhirnya telah disetujui oleh dosen pembimbingnya sehingga minggu depan dia sudah bisa melaksanakan sidang kelulusan.


Semua anggota keluarga cukup bahagia mendengar kabar baik tersebut dan mendoakan yang terbaik agar Caterine bisa menjalankan ujian dengan lancar.


Niat hati ingin memberikan kabar gembira tersebut kepada kekasihnya, Caterine yang baru saja hendak kekantor Stevanus tiba - tiba melihat kekasihnya itu berjalan keluar dari sebuah restoran Jepang sambil mengandeng tangan seorang wanita itu dengan sangat mesra.


Wanita cantik yang sama dengan wanita yang dia temui sewaktu menghadiri undangan makan siang di rumah kakeknya Stevanus tempo hari.


Sebelum kekasihnya tersebut menyadari keberadaannya, Caterine segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


" Itu seperti mobilnya Caterine ", guman Fani sambil memandang Cevrolet merah yang sudah pergi meninggalkan parkiran restoran tersebut.


" Kamu salah lihat kali....Caterine saat ini sedang dikampus mengurusi tesisnya, jadi tidak mungkin berada disini " , ucap Stevanus santai.


" Masa iya aku salah lihat " , guman Fani lirih.


" Ayo cepat masuk jika tidak mau aku tinggal " ,ucap Stevanus mengancam.


Fanipun segera masuk kedalam mobil setelah mendengar ancaman dari kakaknya.


Mobilpun meninggalkan halaman restoran dan mengarah kekediaman Wiratmadja.


Caterine yang sakit hati dan kecewa terhadap Stevanus hanya bisa menangis sepanjang perjalanan.


Dia memilih untuk beristirahat dipartemennya sejenak hari ini.

__ADS_1


Saat ini dirinya ngin menenangkan hatinya yang terasa sangat sakit melihat pengkhianatan kekasihnya itu.


Dimatikannya ponsel yang ada ditangannya agar tidak ada siapapun yang menghubunginya.


__ADS_2