
Setelah beberapa hari beristirahat, kondisi Caterine mulai pulih. Bahkan morning sick yang awalnya sangat parah dialami kini sudah tak terlalu,meski sedikit, makanan sudah bisa masuk kedalam tubuhnya.
Karena kondisinya belum sepenuhnya pulih, Caterine pun masih tidak dibolehkan untuk beraktivitas terlalu banyak apalagi aktivitas di luar ruangan.
Bukan hanya Stevanus dan keluarganya yang over protektiv. Bahkan Wiratmadjah juga lebih protektiv terhadap Caterine, terutama soal makanan dan kesehatannya.
Meski awalnya sangat risih, namun seiring berjalannya waktu diapun mulai menerima semua perlakuan istimewa tersebut dan menikmatinya.
Tak terasa sudah hampir satu bulan Caterine berada dirumah barunya dan tiga hari lagi pernikahannya dengan sang kekasih akan digelar.
Meski secara sederhana, namun pernikahan yang hanya akan dihadiri oleh kerabat dan sahabat dekat saja itu juga membutuhkan persiapan yang tidak sedikit karena kedua maminya ingin pernikahan tersebut berkesan meski nanti juga ada acara resepsi yang digelar secara besar – besaran.
Caterine pun ikut apa kemauan dua wanita yang sangat menyayanginya itu karena dirinya tak bisa ikut mengurus semuanya sebab kondisinya masih belum baik benar.
Jadi dia hanya memberikan pendapat kecil saja pada saat kedua maminya bertanya sesuatu yang berhubungan dengan gaun dan cincin pernikahan mereka.
Akhirnya, hari yang membahagiakan itu datang juga. Semua orang sejak malam hari sudah sibuk untuk menatap rumah Caterine yang akan digunakan dalam acara.
Rumah baru Caterine yang semula polos kini sudah penuh dengan berbagai macam bunga aneka warna dan hiasan pita – pita membuatnya semakin terlihat cantik, mewah dan elegan.
Untuk pemberkatan yang rencananya akan diadakan di taman samping rumah yang sekarang mulai dihias beraneka macam bunga hidup dengan sebuah panggung kecil ditengah – tengah taman.
Nuansa putih dan emas mendominasi seluruh tempat membuat taman tersebut terlihat seperti suasana yang ada dalam negeri donggeng.
Caterine terlihat duduk didepan meja rias dengan beberapa MUA yang masih mendandaninya sambil beberapa kali meremas kedua tangannya.
Entah kenapa sejak tadi perasaannya terus gelisah, padahal ini adalah hari yang selama ii dia tunggu – tunggu.
“ Kamu kenapa ?...nervous ?.....”, tanya Ratna dengan senyum menggoda.
“ Nggak tau…sedari tadi perasaanku nggak enak tapi nggak tau kenapa ?....”, ucap Caterine dengan wajah sedikit cemas.
“ Tenang saja, Stevanus tak mungkin meninggalkanmu di altar kan…..”, Ratna berusaha untuk mengeluarkan candaan agar sahabatnya itu bisa kembali tersenyum.
Pada akhirnya, Caterine pun tersenyum singkat sambil menjawab “ Nggak mungkin lah…kan dia yang ngebet banget pengen nikahin aku….”
Ratna sedikit lega waktu senyuman mulai terlihat diwajah cantik sahabatnya itu. Sesekali dirinya melontarkan candaan ringan agar Caterine tak memikirkan hal buruk yang bisa mempengaruhi perasaannya hari ini.
__ADS_1
Dia ingin sahabatnya itu bisa ceria dan bahagia di hari yang special ini. Setelah diyakini jika Caterine sudah baik – baik saja, Ratna pun mulai meninggalkan kamar karena di bawah sudah banyak tamu yang berdatangan untuk dia sambut.
Pada saat waktunya tiba, Chandra mulai berjalan naik menuju kamar sang putri untuk membawanya pergi menemui suaminya yang sedang menunggu didepan altar.
“ Apa kamu sudah siap sayang ?....”, tanya Chandra menjemput Caterine didalam kamar.
“ Tentu papi….”, ucap Caterine sambil tersenyum lebar.
Chandra terlihat membantu Caterine turun dari kamar sedangkan sang kakak Dave, membantu memegangi gaun adiknya yang panjang kebelakang agar tak terinjak dan membuatnya jatuh waktu turun dari tangga.
Didepan altar sudah terlihat sang suami, Stevanus menggenakan jas putih dengan aksen bunga disaku atas bajunya, membuat penampilannya sangat menawan.
Caterine terlihat beberapa kali mengambil nafas dalam – dalam sebelum akhirnya tersenyum lebar sambil menggandeng lengan papinya dan berjalan keraha altar.
Pemberkatan berlangsung dengan hikmat, semua orang terlihat meneteskan air mata karena merasa sangat terharu selama prosesi pengucapan janji suci berlangsung.
Kegembiraan yang dirasakan oleh seluruh keluarga, kerabat dan teman dekat kedua mempelai tak bertahan lama setelah ada seorang lelaki tiba – tiba berlari menuju kearah altar dan langsung menarik tangan Caterine.
“ Beri jalan jika tidak ingin gadis ini mati….”, ucap Alando sambil mengacungkan pistol ke kepala Caterine.
Semua orang terbelalak dan panik menyaksikkan peristiwa tersebut bahkan Stevanus yang baru saja terbangun setelah jatuh tersungkur akibat dorongan Alando waktu menarik paksa tangan Caterine juga terlihat sangat cemas.
“ Kamu milikku…selamanya akan menjadi milikku….”, guman Alando menggeram marah.
Caterine terlihat berusaha untuk membuat Alando tenang dan melepaskannya. Tapi sayangnya usaha tersebut gagal.
Semua orang akhirnya membiarkan Alando membawa Caterine karena takut terjadi sesuatu hal buruk pada gadis itu.
Stevanus diam – diam berkoordinasi dengan anak buahnya untuk mencari celah menyelamatkan Caterine.
Aldebaran yang baru saja datang sangat terkejut waktu melihat Alando menyandera Caterine dan membawanya menuju mobil yang ada di halaman.
Stevanus yang melihat Aldebaran berada tak jauh dari tempat istrinya diam – diam mulai mengatur strategi.
Alando yang tak mengetahui jika ada seseorang yang berjalan mendekatinya tetap berusaha menarik tubuh Caterine agar mendekat kepadanya sambil menodongkan pistol kekepala gadis itu.
Happp….
__ADS_1
Aldebaran langsung menerjang tubuh Alando hingga terhempas ketanah dan cengkeraman tangannya ketubuh Caterine terlepas.
Keduanya terlihat berguling – guling ditanah untuk beebrapa saat sambil saling pukul membuat suasana semakin gaduh.
Perkelahian tersebut tak berlangsung lama setelah suara tembakan mengema di udara. Alando yang tertembak dengan pistolnya sendiri langsung mengarahkannya benda hitam tersebut kearah perut Aldebaran.
Dorrr…
Tembakan kedua membuat tubuh dua lelaki yang berkelahi tersebut terkapar diatas tanah dengan bersimbah darah.
“ Tidak !!!....”, teriak Caterine sebelum kesadarannya hilang.
Stevanus sangat panik waktu melihat istrinya pingsan dengan darah mengalir dari kedua kakinya, mengotori gaun putih yang dipakainya.
Diapun bergegas melarikan Caterine kerumah sakit beserta Aldebaran dan Alando. Selama perjalanan tak henti – hentinya Stevanus menepuk – nepuk pipi istrinya itu berusaha untuk menyadarkannya.
Tapi sayangnya, hingga tiba dirumah sakit Caterine masih belum sadarkan diri. Ketiga orang tersebut langsung dilarikan kedalam ruang operasi karena kondisi mereka yang cukup kritis.
“ Sabar ya sayang.....Caterine pasti baik – baik saja….”, ucap Bianca sambil memeluk tubuh putranya dengan erat berusaha untuk menguatkannya.
Sudah satu jam lamanya, tapi ruang operasi masih belum juga terbuka membuat semua orang sangat cemas.
Mereka semua berdoa agar Caterine dan janinnya serta Aldebaran baik – baik saja. Sedangkan untuk Alando, Stevanus sudah menghubungi pihak kepolisian, jadi biar mereka yang nantinya akan menangani lelaki tersebut.
Begitu pintu terbuka, semua orang langsung berdiri dan melangkah berjalan mendekati dokter dan perawat yang baru saja keluar dari ruang operasi.
“ Satu pasien meninggal dan dua orang lainnya sekarang kondisinya kritis….”, ucap dokter dengan wajah turut berduka.
Deg….
Jantung semua orang berhenti untuk sesaat waktu mendengar jika ada yang meninggal dari ketiga orang yang masuk kedalam ruang operasi tersebut.
“ Siapa yang meninggal dok ?....”, tanya Wiratmadjah cemas.
“ Tuan Alando…sedangkan untuk tuan Aldebaran dan nyonya Caterine kondisinya kritis sekarang….”, ucap dokter menjelaskan.
Mendengar jika putrinya dalam kondisi kritis, Sarah langsung pingsan dan membuat semua orang bertambah panik dibuatnya.
__ADS_1
Tapi sebagian lagi merasa lega karena setidaknya yang meninggal bukanlah kerabat ataupun teman mereka.