BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
BIMBANG


__ADS_3

           George memberi waktu dua hari kepada keluarga Wiratmadjah untuk mengembalikan sang adik dan meminta agar Stevanus memberikan penjelasan kepada keluarga besarnya mengenai semua yang telah terjadi.


            Langkah tersebut diambil oleh George karena sampai detik ini ponsel Caterine masih belum bisa dihubungi.


            Meski tidak percaya sepenuhnya terhadap perkataan yang diucapkan oleh adik Stevanus, Fani yang mengatakan bahwa Caterine dalam kondisi baik – baik saja dan sekarang berada di benua Eropa bersama sang kakak.


                Untuk menunjukkan itikad baiknya, George memberikan mereka waktu untuk mengembalikan sang adik dalam kondisi baik dan tidak kurang suatu apapun.


“ Fani…apa kamu benar - benar sudah menghubungi kakakmu…”, tanya Wiratmadjah berulang kali kepada Fani.


“ Kakek tenang dulu…mereka saat ini sudah dalam perjalanan pulang ”, ucap Fani berusaha menenangkan sang


kakek yang terlihat emosi setelah kakak Caterine pulang.


“ Aku tidak menyangka kalau kakakmu akan membuat masalah seperti ini ”, ucap Wiratmadjah lemas.


            Dirinya sama sekali masih belum bisa menerima jika cucu kesayangannya akan berbuat hal semacam ini.


“ Papi harus tenang…ingat jantung papi ”, ucap Bianca berusaha menenangkan mertuanya.


“ Kurasa aku harus istirahat sekarang. Panggil aku jika Stevanus sudah datang ”, pesan sang kakek sebelum meninggalkan ruang keluarga.


            Sementara itu didalam pesawat Caterine merasa sangat aneh melihat Stevanus yang diam sepanjang perjalanan pulang.


“ Apa masalah di rumah sangat serius…? ”, tanya Caterine cemas.


“ Tidak apa – apa…kamu istrirahat saja. Perjalanan kita masih lama ”, ucap Stevanus sambil membelai kepala Caterine dengan lembut.


“ Kalau ada sesuatu kamu bisa cerita sama aku…setidaknya itu bisa membuatmu sedikit lega ”, ucapnya lagi saat melihat raut kesedihan dari sorot mata Stevanus.


            Tanpa banyak bicara, stevanus yang sedikit galau langsung memeluk Caterine dengan erat.


             Otaknya terus berpikir mengenai alasan dirinya membawa kabur Caterine saat ini dan penjelasan mengenai hubungan mereka yang diawali dengan drama kepura – puraan.


“ Biarkanlah seperti ini sejenak…”, bisik Stevanus pelan saat Caterine berusaha melepaskan diri dari pelukannya.


            Melihat Stevanus yang sedang bersedih, Caterine yang awalnya masih kesal dengan kekasihnya itu akhirnya luluh dan membiarkan Stevanus memeluknya untuk melepaskan kesedihannya meski sejenak.


“ Baru kali ini aku melihat dia seperti ini…apakah masalah yang dihadapinya begitu serius…”, batin Caterine sedikit cemas melihat kondisi Stevanus yang tidak biasa ini.


            Tanpa sadar Caterine menepuk – nepuk pelan punggung kekasihnya itu berulang kali untuk menenangkannya.


            Perlakuan lembut Caterine membuat hati Stevanus terasa hangat. Tanpa sadar dia mulai memejamkan mata untuk menikmati perhatian yang diberikan oleh kekasihnya itu.


            Caterine yang melihat Stevanus mulai tertidur akhirnya melepas pelukannya dan membaringkan tubuh kekasihnya itu disofa dan menyelimutinya.


            Saat hendak pergi tiba- tiba tangannya ditarik oleh Stevanus dan menyuruhnya untuk kembali duduk.


            Diapun kemudian bangun dan berganti posisi dengan menjadikan paha Caterine sebagai bantalnya.


            Caterine yang sempat terkejut akhirnya terdiam setelah  mendengar dengkuran halus yang menandakan


bahwa kekasihnya itu sudah kembali kealam mimpi.


“ Maafkan aku yang masih ragu padamu…aku masih ingin melihat perjuanganmu dan merasakan kesungguhanmu

__ADS_1


kepadaku…”, batin Caterine sambil mengelus kepala Stevanus dengan lembut.


            Jika hanya sekedar sebagai kekasih Caterine tidak perlu waktu lama untuk menjawab. Meski itu hanya pura – pura, namun sudah cukup bisa membuatnya bahagia.


            Namun untuk sebuah pernikahan, dia masih harus memikirkannya secara mendalam. Karena baginya, pernikahan adalah ikatan yang sakral dan sekali seumur hidup.


            Oleh karena itu dia tidak ingin terburu – buru untuk memutuskannya. Dia perlu memikirkan beberapa  aspek yang melandasinya bukan hanya semata – mata karena rasa cinta.


            Stevanus tersenyum saat bangun dan mendapati salah satu tangan kekasihnya itu memeluknya erat. Sedangkan tangan yang satunya lagi masih setia berada diatas kepalanya.


            Caterine terbangun oleh gerakan Stevanus yang mengecup punggung tangan kanannya berulang – ulang.


“ Apa sudah sampai…”, tanya Caterine dalam kondisi setengah sadar setelah bangun dari tidurnya.


“ Lima menit lagi kita mendarat ”, ucap Stevanus lembut.


            Stevanus mulai duduk dan merapikan rambut Caterine yang sedikit berantakan. Jarak wajah mereka yang cukup dekat membuat jantung Caterine berdetak dengan cepat.


“ Jantung…diamlah….jangan buat malu aku…”, batin Caterine resah saat jantungnya tidak bisa diajak kompromi.


            Raut wajah Caterine yang mulai memerah membuat Stevanus gemas. Dikecupnya pipi Caterine dengan lembut sambil berkata


“ Ayo turun…”, ucapnya berbisik.


Blush….


            Wajah Caterine semakin merona saat nafas hangat mengelitik telinganya. Untuk menghilangkan rasa malunya dia cepat – cepat beranjak dan keluar dari dalam pesawat saat pramugara membuka pintu dan meninggalkan Stevanus yang terlihat tersenyum bahagia.


            Sepanjang perjalanan Nicholas yang bertugas untuk menjemput Stevanus dan Caterine di bandara terus mengomel tiada henti.


            Alhasil dirinya dan Fani lah yang mendapat amukan dari sang kakek saat George selesai berkunjung ke rumah keluarga Wiratmadjah kemarin.


            Caterine yang mendengar bahwa kakaknya datang ke rumah keluarga Wiratmadjah bersama Ratna dan marah – marah disana terlihat sedikit takut.


            Melihat perubahat raut wajah kekasihnya Stevanus berusaha untuk menenangkannya.


“ Kamu tenang saja…biar aku yang menyelesaikan semuanya ”, ucap Stevanus sambil mengenggam kedua tangan


Caterine dengan erat.


“ Sudah sepantasnya itu kamu lakukan…jangan buat Caterine kembali dalam masalah ”, ucap Nicholas mengingatkan.


            Stevanus terus mengenggam erat tangan kekasihnya itu hingga mobil masuk kedalam area kediaman Wiratmadjah.


            Meski ini bukan pertamakalinya Caterine menginjakkan kaki disini, namun entah kenapa dirinya merasa sangat gugup.


“ Tenang saja…kakek tidak akan memakanmu ”, ucap Stevanus sambil tersenyum.


            Kaki Caterine terasa sangat berat untuk melangkah. Ingin rasanya dia berbalik arah dan pulang kerumah.


“ Apa kamu mau aku gendong…”, Ancam Stevanus saat melihat Caterine masih terpaku di tempatnya.


“ Aku masih bisa jalan…”, ucap Caterine sambil menghembuskan nafas dalam – dalam.


            Wiratmadjah dan Bianca yang sudah mendapat kabar bahwa cucunya telah mendarat menunggu kedatangan Stevanus dan Caterine di ruang tamu.

__ADS_1


“ Bagaimana kondisi kakek hari ini…sehatkan…”, ucap Stevanus berbasa – basi saat melihat kakeknya sudah duduk manis di sofa ruang tamu.


“ sehat g******u…kamu ingin kakekmu ini cepat mati ya…”\, ucapnya marah.


            Stevanus hanya diam saja menanggapi amarah sang kakek. Melihat tatapan tajam kakek dan wanita yang diyakini Caterine sebagai maminya Stevanus membuat nyali Caterine menciut.


            Saat ini ingin rasanya Caterine menghilang dari sini. Hawa dingin dari tatapan keduanya seakan menembus sampai kedalam tulang – tulangnya.


“ Sekarang jelaskan semuanya…”, perintah Wiratmadjah tegas.


            Stevanuspun mulai menceritakan bahwa sejak dari awal tidak ada yang namanya kebohongan.


            Dia benar – benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Caterine. Semua drama yang dilakoninya hanya agar percintaannya sedikit berwarna.


            Caterine langsung melotot seakan tak percaya mendengar pengakuan dari kekasihnya itu.


            Bukan hanya Caterine yang terkejut, semua orang yang berada disana seakan bola mata mereka mau lepas mendengar semua penuturan Stevanus.


“ Dasar bodoh…”, ucap Wiratmadjah sambil geleng – geleng kepala.


“ Bagaimana dengamu…apa kamu memiliki rasa yang sama dengan cucuku…”, tanya Wiratmadjah sambil menatap Caterine penuh selidik.


“ Entahlah…saya belum bisa menjawabnya sekarang ”, ucap Caterine kembali ragu saat mendengar semua


penjelasan Stevanus.


            Caterine akui bahwa dirinya sangat bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


            Tapi dia juga marah dan kecewa dengan cara yang digunakan oleh Stevanus untuk menyampaikan perasaan yang dimilikinya.


“ Baiklah…kami tidak akan memaksa. Karena bagaimanapun semua adalah kesalahan laki – laki bodoh ini ”,


ucap Wiratmadjah sedikit gemas dengan kelakuan sang cucu.


“ Bagiamana kalau kalian makan dulu lalu beristirahat sebentar sebelum Stevanus mengantarmu pulang ”, ucap Bianca sambil membawa calon menantunya itu kearah meja makan.


            Wajah Caterine yang telah ceria kembali muram saat Fani memasuki ruang makan dan bergelayut manja di lengan sang kakak.


“ Kenalkan…ini adik kembarku…mami dan kakek bisa memastikan hal itu ”, ucap Stevanus menjelaskan sebelum Caterine kembali salah paham terhadap dirinya.


“ Maaf ya kalau aku telah membuat perasaanmu buruk. Tapi kamu jangan marah…kakak benar – benar tulus


mencintaimu ”, cicit Fani merasa bersalah karena ikut dalam drama yang dibuat sang kakak.


“ Tulus….Apakah mempermainkan perasaan orang begitu menyenangkan bagi mereka ”, batin Caterine sinis.


            Tidak ingin membuang waktu terlalu lama di rumah ini maka Caterine berusaha untuk menghabiskan makanannya dengan cepat.


            Semua anggota keluarga Wiratmadjah hanya bisa menarik nafas dalam tanpa bisa berkomentar apapun atas apa yang dilakukan Caterine yang terlihat sudah tidak merasa nyaman.


            Setelah semua selesai, Caterine segera berpamitan pulang. Saat ini dia ingin sendiri untuk mencerna semuanya.


            Dan kembali menata hatinya yang sedikit terombang – ambing oleh keadaan yang dibuat oleh Stevanus.


            Tidak ingin memperparah keadaan Stevanus mengikuti keinginan kekasihnya itu tanpa bertanya.

__ADS_1


            Dia juga menyiapkan mental untuk menghadapi keluarga besar Caterine  yang tentunya sudah menunggu penjelasan darinya.


__ADS_2