BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
TEMU KANGEN


__ADS_3

Pagi ini Caterine terbangun oleh aroma yang cukup menggoda dari arah dapur. Membuat kedua matanya terbuka seketika.


“ Tumben Ratna pagi – pagi begini masak ?....”, batin Caterine penasaran.


Sambil mengusap kedua matanya dan menguap lebar, dia berjalan perlahan menuju kearah dapur.


“ Apa ada tamu yang akan datang ?....kenapa dia masak sebanyak ini?....”, Caterine merasa sangat heran melihat banyaknya masakan yang ada diatas meja makan.


Dia mengamati satu persatu masakan yang sudah tertata apik diatas meja. Tapi entah kenapa Caterine merasa semua makanan tersebut tak asing baginya.


“ Ini seperti….”, Caterine belum sempat menyelesaikan kata yang ada dalam hatinya tiba – tiba sosok tinggi tampan berdiri dihadapannya.


Begitu dia mengangkat wajahnya, kedua bola matanya langsung membulat sempurna waktu melihat sosok lelaki yang berusaha untuk dilupakan selama tiga tahun ini ada dihadapannya.


“ Stevanus !!!....Apa ini mimpi ?....”, batin Caterine syok.


Dia terlihat beberapa kali mengusap kedua matanya dengan cepat, berharap lelaki tampan yang ada dihadapannya itu hanya ilusi.


Melihat Caterine masih terdiam dengan wajah linglung, Stevanus pun tak dapat lagi untuk menahan tawanya.


“ Ini bukan mimpi. Dan, aku sangat merindukanmu sayang….”, ucap Stevanus langsung dan langsung memeluk tubuh Caterine dengan erat.


Mencium aroma tubuh gadis yang sangat dirindukannya itu dengan rakus. Caterine yang masih syok hanya bisa terdiam mematung.


Dia masih belum bisa percaya jika yang memeluk erat tubuhnya adalah Stevanus, lelaki yang sangat dirindukannya selama ini.


Melihat gadisnya masih terdiam tak bereaksi, Stevanus pun melepaskan pelukannya sambil tersenyum manis.


“ Apa aku sudah gila, barusan aku merasa dia memelukku dengan erat dan sekarang dia tersenyum sangat manis…”, Caterine masih terdiam dengan kedua mata melotot dan mulut terbuka lebar.


“ Sayang…ini aku. Apa kamu tidak tidak merindukanku….”, ucap Stevanus sambil mengusap pipi Caterine dengan lembut.


Sentuhan Stevanus mampu mengembalikan kesadaran Caterine. Dengan kedua mata berkaca – kaca Caterinepun berguman “ Apa ini benar – benar kamu atau hanya mimpi?....”.


“ Ini aku sayang…Dan ini nyata, bukan mimpi….”, ucap Stevanus tersenyum lembut.


Hikkks…hikks….hikkks…


Caterinepun menangis sesenggukan sambil mengecup telapak tangan Stevanus yang tadi menyentuh pipinya berulang kali.


“ Jangan menangis, aku tak bisa melihatmu seperti ini….”, ucap Stevanus sedih.


Diapun segera mengusap pipi Caterine dengan kedua tangannya dan langsung memeluk tubuh gadisnya itu dengan erat.


Dalam pelukan Stevanus, Caterine menangis sesenggukan. Seolah semua beban  yang selama ini menganjal didalam hatinya perlahan mulai terlepas.

__ADS_1


Setelah Caterine sedikit tenang, Stevanus segera menuntunnya menuju meja makan dan memberinya segelas susu coklat hangat yang sudah disiapkannya tadi.


“ Kapan kamu datang ?....”, tanya Caterine begitu sudah bisa menguasai diri.


“ Semalam. Waktu kamu berteriak menyuruhku makan. Dan habis itu kamu sepertinya mandi karena aku mendengar suara air gemericik dari dalam kamarmu. Selanjutnya, setelah aku tunggu cukup lama kamu tidak kunjung keluar dari dalam kamar. Aku memberanikan diri masuk, ternyata kamu sudah tertidur pulas….”, ucap Stevanus menjelaskan dengan nada sedih.


Caterine merasa sedikit bersalah dan terkejut. Dia sama sekali tak menyangka jika semalam orang yang datang adalah Stevanus.


Padahal dia pikir orang itu adalah Ratna yang sebelumnya berpamitan kepadanya untuk keluar sebentar ke supermarket yang ada di bawah.


“ Maaf, aku tak tahu jika itu kamu ?....”, ucap Caterine merasa bersalah.


“ Tidak apa…yang jelas sekarang aku sudah bisa bertemu denganmu…”, ucap Stevanus bahagia.


Diapun segera mengambilkan aneka macam lauk yang sudah dimasaknya dan meletakkannya diatas piring yang ada dihadapan Caterine.


“ Cobalah…aku mempelajarinya langsung dari kokinya lho…”, ucap Stevanus menyombongkan diri.


“ Aku coba ya….”, ucap Caterine sambil memasukkan satu potong udang keadalam mulutnya.


Kedua mata Caterine langsung berbinar waktu dia merasakan rasa manis udang berpadu dengan bumbu rempah yang sang pekat namun terasa segar.


Diapun segera mengunyah cepat dan mulai mencoba hidangan yang lainnya. Lagi – lagi senyum merekah diwajah cantiknya dan kedua matanya kembali bersinar.


Hal itu terus terjadi hingga semua makanan yang ada didalam piring Caterine habis.


Hati Stevanus merasa hangat waktu melihat mentari pagi yang selama tiga tahun ini menghilang dalam hidupnya telah kembali menyinari hatinya.


Bunga – bunga yang sebelumnya sudah layu bahkan ada yang gugur berjatuhan mulai tumbuh dan bermekaran disana.


Membuat suasana hampa yang ada dalam hati Stevanus perlahan – lahan mulai terisi penuh oleh kebahagiaan.


Ingin rasanya dia menghentikan waktu saat ini juga agar bisa lebih lama lagi dengan gadis yang sangat dicintainya itu.


Dia berharap pemandangan yang ada dihadapannya saat ini bisa dia lihat setiap hari sehingga kebahagiaan selalu menyertainya sepanjang waktu.


“ Kenapa kamu hanya menontonku dan tidak makan ?...”, tanya Caterine protes waktu melihat Stevanus hanya terdiam menatapnya makan.


“ Aku sudah makan tadi….”, ucap Stevanus berbohong.


“ Benarkah ?....”, tanya Caterine penuh selidik.


“ Lanjutkan makanmu. Semua ini aku masak khusus untukmu….”, ucap Stevanus sambil mengusap kepala Caterine dengan lembut.


Caterinepun mengangguk senang dan langsung kembali fokus pada makanan yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Ratna yang sedari tadi bangun hanya bisa mendengarkan dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka.


Dia sangat senang melihat kebahagiaan terpancar jelas diwajah sahabatnya itu. Tapi begitu mengingat tentang keluarga Caterine.


Senyum di bibir Ratnapun mulai memudar. Dia sangat berharap Stevanus mampu meluluhkan hati seluruh anggota keluarga Caterine, meski itu tak mudah.


Terutama ketiga kakak Caterine yang sangat possesif. Selain itu masih ada Aldebaran yang selama ini dengan setia berada di sisi sahabatnya itu selama masa – masa sulit yang dilalui sahabatnya itu.


Hal itu jugalah yang nantinya akan menjadi batu sandungan bagi Stevanus untuk bisa mendapatkan restu dari seluruh anggota keluarga Caterine.


“ Apapun itu, aku sangat berharap Caterine bisa  bahagia selamanya….”, doa Ratna dalam hati.


Ratna kemudian segera menutup pintunya dan mencoba menghubungi Nicholas. Mungkin lelaki playboy tersebut memiliki jalan keluar atas permasalahan ini.


Nicholas terlihat tersenyum lebar waktu mendapatkan foto kemesraan Stevanus dan Caterine dari Ratna.


Fani yang melihat hal tersebut tentu saja curiga dan merebut ponsel Stevanus dari tangannya hingga keduanya perang adu mulut.


“ Apa – apaan kalian ini !!!.... Apa kalian tidak malu bertengkar dan dilihat anak sekecil ini !!!….”, hardik Bianca waktu melihat Fani bertengkar dengan Nicholas hanya karena masalah ponsel.


Ya…saat ini Nicholas sedang berkunjung kerumah keluarga Wiratmadjah untuk bertemu dengan Fani yang tadi pagi baru datang ketanah air bersama anak dan suaminya.


“ Kak Nicholas ini lho ma pelita amat sih jadi orang. Padahal aku juga cuma ingin lihat sebentar….”, ucap Fani tak mau kalah.


Jika sudah begitu, Nicholas hanya bisa tersenyum masam dengan saudara kembar Stevanus yang baginya sama menyebalkan dengan sahabatnya itu.


“ Apa ini !!!....”, teriak Fani dengan mata melotot.


Bianca yang ada disebelahnya spontan menepuk paha anak perempuannya itu waktu dia berteriak hingga mengagetkan si kembar.


“ Fani !!!....”, Bianca langsung melotot tak senang.


“ Mami jangan marah dulu. Lihat ini….”, ucap Fani sambil menunjukkan ponsel Nicholas pada Bianca.


Reaksi Bianca sama dengan Fani tadi. Dengan kedua mata melotot dan mulut terbuka lebar dia melihat beberapa foto yang ada dihadapannya itu dengan seksama.


“ It….itu benar kakakmu ?....”, tanya Bianca masih syok.


“ Benar mi…ini kak Stevanus….”, ucap Fani berusaha meyakinkan maminya.


Keduanya segera menatap Nicholas yang langsung menganggukkan kepalanya, mengerti apa yang tersirat dari kedua mata wanita yang ada didepannya itu.


“ Jadi…mereka sudah bersama lagi….”, ucap Bianca dengan kedua mata berkaca – kaca karena bahagia.


“ Belum bisa dibilang seperti itu juga sih tante. Bagaimanapun, Stevanus masih harus mendapatkan restu dari kedua orang tua Caterine…”, ucap Nicholas menjelaskan secara gamblang.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut Bianca pun langsung terdiam sejenak. Tapi dalam hati dia akan berupaya untuk meluluhkan hati kedua orang tua Caterine demi kebahagiaan sang putra.


__ADS_2