BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
KENANGAN YANG TAK TERLUPAKAN


__ADS_3

Meski sudah berhasil melewati masa kritis, namun kondisi Caterine tak kunjung membaik karena terlalu sedih memikirkan kondisi Aldebaran yang tak kunjung mengalami peningkatan.


Caterine terus menyalahkan diri sendiri untuk musibah yang menimpah Aldebaran. Rasa bersalah yang cukup besar membuat kondisi kesehatannya terus memburuk.


Hal itu tentu membuat Stevanus dan keluarganya merasa sangat khawatir berdampak pada kesehatan bayi yang ada dalam kandungannya.


“ Aku tahu kamu sedih….”


“ Tapi ingat, ada bayi yang harus kamu perhatikan disini….”, ucap ratna sambil mengelus perut Caterine yang sudah mulai membuncit.


Melihat sahabatnya itu sama sekali tak merespon ucapannya, sejenak Ratna mengambil nafas dalam – dalam sebelum akhirnya kembali berucap.


“ Caterine…came on….”


“ Jika kamu seperti ini terus…..”


“ Aldebaran pasti akan sedih….”


“ Dia pasti akan merasa bersalah padamu dan membuat usahanya sia – sia….”, ucap Ratna berusaha menyadarkan sahabatnya itu.


Mendengar ucapan sahabatnya itu, perlahan Caterine mendongak dan langsung menangis keras, meluapkan emosi dan kesedihan yang ada dalam hatinya.


“ Menangislah sepuasmu jika itu  bisa membuatmu tenang….”, ucap Ratna sambil memeluk Caterine erat.


Semua anggota keluarga merasa sedikit lega waktu melihat Caterine merespon ucapan Ratna karena sebelumnya wanita tersebut sudah seperti mayat hidup yang sama sekali tak berekspresi dan bergairah.


Yang dilakukannya hanya menangis dan melamun sepanjang waktu, tanpa mau berbicara dengan siapapun.


Jika diajak berbicara dia hanya diam tak menanggapi maupun berekspresi. Seolah jiwanya tak ada didalam raganya.


Setelah Caterine puas menangis, Ratna pun menyuapai sahabatnya itu dengan bubur hangat yang baru saja selesai dimasak oleh mami Bianca.


“ Sudah….”, ucap Caterine pada suapan kelima.


Meski hanya sedikit, Ratna sudah merasa senang karena pada akhirnya Caterine mau makan sehingga asupan gizi yang masuk ketubuhnya bisa bertambah selain cairan infuse yang masuk melalui pergelangan tangannya.


Selama Aldebaran masih belum sadarkan diri, Caterine juga masih berada dirumah sakit karena kondisi tubuhnya yang lemah dan menolak untuk makan.


Karena hanya Ratna yang bisa membuat Caterine untuk sementara melupakan kesedihannya dan mau makan, jadinya dia setiap hari meluangkan waktu untuk bersama sahabatnya itu.


“ Terimakasih ya….maaf sudah menganggu waktumu….”, ucap Stevanus tulus.

__ADS_1


“ Santai saja…Caterine sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Jadi wajar jika aku ikut merawatnya dan berada disampingnya pada saat kondisinya seperti ini….”, ucap Ratna sambil tersenyum lembut.


Pada saat keduanya sedang asyik berbincang tiba – tiba ada seoarng perawat yang datang mendekat dan mengatakan jika Aldebaran sudah sadar dan saat ini lelaki itu ingin bertemu dengan Caterine.


Karena kondisinya belum pulih benar, Stevanus menggunakan kursi dorong untuk mengantar istrinya melihat Aldebaran.


Aldebaran terlihat tersenyum lembut melihat kedatangan wanita yang sangat dicintainya itu datang mengunjunginya.


“ Sttt…jangan banyak bicara dulu. Kamu baru saja sadar….”, ucap Caterine sambil mengelus pipi Aldebaran.


Meski Stevanus merasa cemburu atas perlakukan lembut Caterine terhadap Aldebaran, namun sebisa mungkin dai menahannya karena lelaki itu telah menyelamatkan istrinya.


“ Terimakasih untuk semuanya….”, ucap Stevanus menginterupsi kemesraan yang terjadi didepan matanya.


“ Sudah kewajibanku untuk melindungi orang yang aku sayangi….”, ucap Aldebaran tersenyum lebar.


Melihat Aldebaran terlihat sedikit sinis waktu mengatakan hal tersebut membuat Stevanus ingin sekali menonjok wajah tampan lelakia tersebut.


“ Sabar…sabar….”, batin Stevanus dalam hati.


Tak ingin lepas kontrol, Stevanus pun memberi ruang istrinya untuk berbicara dengan Aldebaran sementara dirinya keluar dari ruang rawat untuk mengambil udara segar.


“ Caty…jaga diri baik – baik ya….”


“ Maaf, aku tak bisa menjagamu lagi mulai sekarang…”, ucap Aldebaran sambil mengelus pipi Caterine dengan senyum lembut.


“ Tidak !!!...”


“ Tidak !!!....”


“ Kamu tak boleh berkata seperti itu….”


“ Kamu pasti sembuh…..”, ucap Caterine berderai air mata.


“ Jangan menangis....”


“ Aku paling tak suka melihatmu menangis seperti ini…”, ucap Aldebaran sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Caterine.


“ Tersenyumlah matahariku….”


“ Selalu ceria dan bersemangat ya…”

__ADS_1


“ Jangan sedih lagi….”, ucap Aldebaran dengan tatapan lembut penuh cinta.


Uhukkkk….uhukkk….uhukkkk…..


Caterine terlihat sangat panik melihat Aldebaran batuk berkali – kali dan ingin memanggil dokter jaga tapi dilarang oleh Aldebaran.


“ Waktuku sudah tak lama lagi….”


“ Berjanjilah….”


“ Kamu tak boleh menyalahkan diri sendiri….”


“ Dan ingatlah untuk selalu bahagia….”, ucap Aldebaran masih mempertahankan senyuman lembut diwajahnya sebelum akhirnya menutup mata.


Tut tut tutttttt……….


“ TIDAK !!!!.....”


“ AL….BANGUN !!!!....”


“ JANGAN TINGGALKAN AKU !!!...”


Caterine berteriak histeris sambil menguncang – guncang tubuh Aldebaran beberapa kali sampai akhirnya seorang perawat membawanya keluar ruangan.


Stevanus langsung berlari masuk kedalam ruangan begitu mendengar teriakan Caterine langsung memeluknya dengan sangat erat.


Membiarkan istrinya tersebut menangis sepuasnya untuk meluapkan kesedihan yang ada dalam hatinya.


Jenazah Aldebaran dibawa kembali ke Amerika untuk dimakamkan disana. Caterine dan Stevanus pada akhirnya membatalkan acara resepsi pernikahan mereka dan hanya memberi kabar kepada media mengenai pernikahan mereka yang sempat berlangsung tertutup tersebut.


Sesuai janjinya kepada Aldebaran, Caterine berusaha untuk hidup bahagia bersama suami dan anaknya.


Jika ada waktu senggang, Caterine mneyempatkan diri untuk terbang dan mengunjungi makam sahabatnya itu bersama sang buah hati.


“ Al…lihatlah, aku sudah bahagia sekarang seperti keingginanmu…”


“ Aku juga sudah tak cenggeng lagi sekarang karena setiap aku ingin menangis, aku akan selalu ingat pesanmu…”


“ Terimakasih untuk bersama denganku melewati masa – masa tersulit dalam hidupku…”


“ Dan terimakasih sudah menjadi sahabat terbaikku selama ini….”

__ADS_1


Setelah meletakkan bucket bunga diatas makam Aldebaran, Caterine dan anaknya segera meninggalkan makan dengan senyum terkembang diwajah keduanya.


…………………………………………..................................END………..........................……………………………….


__ADS_2