BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
SALING MENGERTI


__ADS_3

Udara dingin menyentuh lengan Caterine, membuat gadis cantik tersebut membuka kedua matanya sambil menggeliat pelan.


“ Uhhh…tubuhku seakan remuk semua….”, guman Caterine pelan.


Berlahan dia mulai mengumpulkan jiwanya yang masih belum sepenuhnya terkumpul setelah bangun.


Sambil meringgis, Caterine berusaha untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil menatap sekitar kamar yang terlihat redup, hanya disinari lampu tidur diatas nakas.


“ Astaga !!!...jam berapa ini ?!!!....”, ucapnya panik waktu menyadari jika hari sudah malam.


Caterine yang ingin bangkit dari tempat tidur seketika mengurungkan niatnya dan kembali duduk waktu merasakan daerah intinya terasa sangat nyeri sekali.


“ Awww….”, pekiknya kesakitan.


Kaki Caterine terlihat bergetar hebat waktu dipaksa untuk berdiri. Dan rasa ngilu yang teramat sangat terasa waktu dia memaksakan diri untuk berjalan.


Stevanus yang baru saja masuk untuk membangunkan  sang kekasih  karena hari sudah malam terlihat sangat terkejut waktu melihat kekasihnya itu berjalan sambil mengernyitkan dahi seoalh menahan rasa sakit yang teramat sangat.


“ Apa aku terlalu kasar tadi ?....”, batin Stevanus penuh rasa penyesalan yang dalam.


Tanpa menunggu lama diapun segera melangkah untuk membantu sang kekasih kembali berbaring diatas ranjang hingga kondisinya benar – benar pulih kembali.


Caterine terlihat sangat terkejut waktu Stevanus tiba – tiba mengangkat tubuhnya dan kembali membaringkannya diatas ranjang.


“ Apa yang kamu lakukan ?...aku ingin mandi…badanku lengket semua rasanya….”, ucap Caterine sambil meringis menahan rasa ngilu yang ada.


Mendengar permintaan sang kekasih, Stevanus kembali mengangkat tubuh Caterine dan membawanya menuju kedalam kamar mandi.


Stevanus segera mengisi bath up dengan air hangat dan memberikan sabun cair beserta minyak aroma terapi yang biasa Caterine gunakan.


“ Jika sudah selesai panggil aku ya….”, ucap Stevanus sambil mengecup kening Caterine setelah mendudukkannya disamping bath up.


Setelah semuanya selesai, diapun segera keluar dari dalam kamar mandi, meninggalkan sang kekasih agar menikmati membersihkan badannya malam ini.


Melihat air didalam bath up telah penuh, Caterine perlahan masuk dan merebahkan tubuhnya dalam air hangat penuh busa tersebut.


“ Uhhh….Nyamannya…..”, guman Caterine sambil memejamkan kedua matanya, menikmati kehangatan yang mulai menyelimuti tubuhnya.


Berendam air hangat bisa membuat badannya yang tadi terasa pegal menjadi lebih rileks. Begitu juga dengan inti tubuhnya yang tadi terasa ngilu sekarang sudah tak terasa begitu sakit.


Caterine terlihat menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil bersemu merah waktu kembali mengingat pergulatan panas yang tadi terjadi.


“ Oh tidak…aku sudah tak murni lagi sekarang….”, ucap Caterine sambil menggelengkan kepala beberapa kali.


Caterine trus sibuk dengan pikirannya sendiri hingga suara ketukan di pintu membubarkan lamunannya.


“ Sayang…apa kamu tidak apa – apa ?....”, tanya Stevanus cemas.


Stevanus akhirnya memutuskan untuk menyusul Caterine ke kamar mandi waktu melihat jika kekasihnya itu tak kunjung keluar setelah berada didalam cukup lama.


“ I…iya…aku tidak apa – apa….”, ucap Caterien sedikit gugup.

__ADS_1


Diapun segera bangkit dan membersihkan tubuhnya yang penuh dengan busa tersebut sebelum memakai kimono dan membuka pintu.


Ceklek….


Begitu pintu terbuka, Stevanus segera mengangkat tubuh polos caterine yang berbalut kimono dan membawanya menuju walk in closet untuk berganti pakaian.


“ Jam berapa sekarang ?....”, tanya Caterine sambil memakai pakaian.


“ Jam 9 malam….”, ucap Stevanus sambil tersenyum manis.


“ oh tidak !!!...aku harus cepat bergegas….”, ucapnya sambil mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


“ Sini biar aku bantu….”, ucap Stevanus mengambil alih hair dryer yang ada dalam genggaman tangan sang kekasih.


Stevanus sudah mendapatkan kabar dari Ratna jika malam ini Caterine sudah harus berada di rumah sebelum jam sepuluh malam agar tak menghindari kecurigaan.


“ Makanlah dulu sebentar….”, ucap Stevanus menahan lengan sang kaki yang sudah ingin beranjak pergi.


“ Tak ada waktu lagi Stev….”, ucap Caterine lemah.


“ Bagaimana kondisimu ?...apa masih sakit ?....”, ucap Stevanus sambil melirik inti tubuh sang kekasih.


Caterine yang ditanya seperti itu segera menjawab “ sudah agak mendingan….”, dan bergegas pergi dengan wajah yang memerah menahan malu.


“ Bagaimana dia bisa bertanya sambil menatap kearah inti tubuhku dengan penuh nafsu seperti itu…”, guman Caterine menggerutu.


Jujur saja nafsu Stevanus kembali tinggi waktu dia melirik kearah inti sang kekasih, membayangkan apa yang tadi dia lakukan disana.


Cepat – cepat dia menyusul langkah Caterine yang sudah berada di depan pintu dan menahan tubuh kekasihnya agar tak keluar dulu.


“ Kapan kita bisa bertemu lagi ?...”, bisik Stevanus dengan suara parau.


Sinyal alarm mulai berbunyi didalam tubuh Caterine mendengar suara serak dan berat penuh nafsu tersebut.


Caterinepun berusaha untuk membujuk Stevanus agar melepaskannya, jika tidak maka keluarganya akan curiga kenapa dia tidak pulang ke rumah malam ini.


“ Besok pagi aku akan mampir kesini sebelum berangkat meeting….”, ucap Caterine sedikit gugup waktu merasakan nafas hangat Stevanus menyentuh daun telinganya.


“ Aku harus cepat – cepat keluar dari sini sebelum dia kembali memangsaku….”, batin Caterine mulai gelisah.


Cup cup cup….


Caterine mengecup kedua pipi dan bibir Stevanus sebelum berjalan untuk membuka pintu apartemennya.


“ Kamu istirahat saja disini…aku akan memberi kabar begitu sampai dirumah….”, ucap Caterine sambil melambaikan tangan dan berjalan cepat menuju lift.


Begitu berada didalam lift, Caterine terlihat memengangi dadanya yang berdegub sangat kencang sambil menghembuskan nafas beberapa kali.


“ Fyuhhh…akhirnya lolos juga….”, gumannya lega.


Begitu tiba di baseman, dia segera menuju mobilnya dan melajukannya meninggalkan area parkir apartemen menuju rumah.

__ADS_1


Sementara itu didalam apartemen terlihat Stevanus sedang merendam tubuhnya kedalam air dingin.


Berusaha untuk menurunkan gairahnya yang kembali tinggi setelah dia mencium aroma tubuh sang kekasih.


Tringgg….


Satu pesan masuk dari adik kembarnya yang mengabarkan kondisi terkini sang mami. Stevanus mendesah sambil menyunggar rambutnya yang basah dengan kasar.


“ Kurasa aku harus pulang dulu malam ini untuk bertemu dengan mami….”, batin Stevanus bermonolog.


Setelah rapi, Stevanus segera keluar dari apartemen sang kekasih dengan mobil online yang tadi dipesannya.


Begitu sampai, Stevanuspun bergegas masuk kedalam rumah. Tujuan utamanya adalah kamar sang mami sekarang.


“ Duduk dulu…..”, perintah Wiratmadjah tajam.


Stevanus segera menghentikan langkahnya waktu melihat kakeknya duduk disofa yang ada diruang keluarga sambil menatapnya tajam.


“ Kakek….”, ucap Stevanus gelisah.


Diapun segera menghampiri lelaki tua yang telah mendidiknya hingga bisa sesukses sekarang dan duduk di kursi samping Wiratmadjah.


“ Bagaimana ?....”, tanyanya dengan tatapan menyelidik.


Stevanus hanya menggeleng lemah sambil menunduk atas pertanyaan yang kakeknya utarakan kepadanya.


“ Sudah kuduga….dia masih tetap memilih j****g itu meski sudah diperlakukan buruk seperti itu….”, ucap Wiratmadjah sambil menghembuskan nafas secara kasar.


Merasa sangat bersalah kepada sang kakek terutama sang mami, Stevanus pun segera menceritakan pertemuannya dengan sang papi.


“ Jadi….j****g itu telah mati ?….”, tanya Wiratmadjah penuh kelegaan.


Lagi – lagi Stevanus hanya bisa mengangguk pelan atas ucapan sang kakek. Melihat Wiratmadjah tak lagi menanyainya, diapun bergegas naik untuk melihat kondisi sang mami.


Sementara itu, wanita yang telah melahirkan Stevanus itu tanpa sengaja telah mendengar semua ucapan sang putra kepada mertuanya.


Meski hatinya merasa sangat lega jika lelaki itu tak kembali ke kediaman ini, tapi tak bisa dipungkiri jika dia juga merasa sangat sakit sekarang.


“ Ternyata, meski wanita itu telah mati kamu masih tak mau kembali kepada keluargamu….”, gumannya sambil terisak.


Stevanus yang baru saja membuka pintu terdiam di tempat waktu melihat mamainya sedang menangis.


Hati Stevanus terasa seperti teriris – iris melihat kondisi menyedihkan wanita yang telah melahirkannya itu.


Stevanus pun langsung bersimpuh sambil menyentuh kaki sang mami sambil menangis sesenggukan.


“ Maafkan aku mi….aku telah membuka luka lama yang sudah berusaha mami sembuhkan selama ini….”, ucap Stevanus berlinangan air mata.


“ Tidak….mami yang salah karena masih menaruh rasa terhadap lelaki yang telah menyakiti kita….”, ucap Bianca sambil memeluk tubuh putra sulungnya dengan erat.


Keduanya saling menangis sambil berpelukan. Dalam hati yang terdalam Bianca akan mencoba untuk ikhlas hati menerima semua ini agar dia tak kembali merasakan rasa sakit yang sama.

__ADS_1


__ADS_2