
Sudah satu minggu sejak Caterine mengantar calon mertuanya pulang, sejak hari itu dia terus menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuat Bianca sedih dan tertekan seperti ini.
“ Kamu tenang saja, Bianca tak apa – apa….dia hanya sedikit syok dan perlu waktu sendiri untuk saat ini…”, ucap Wiratmadjah sambil tersenyum manis.
Meski Wiratmadjah dan Stevani mengatakan jika Bianca dalam kondisi baik – baik saja dan hanya memerlukan waktu sendiri untuk saat ini, tapi perasaan cemas dalam hati Caterine tak juga hilang sebelum wanita muda itu bertemu langsung dengan calon mertuanya tersebut.
Bukan hanya Caterine yang Bianca tolak untuk bertemu, tapi semua orang termasuk anak dan cucunya.
Bianca masih syok waktu mengetahui mantan suaminya tersebut berhasil ditemukan oleh sang putra.
Rasa sakit yang dulu berhasil dia singkirkan perlahan kembali hadir tanpa diminta, membuat hatinya sangat nyeri.
Sebenarnya Bianca sudah melarang kedua anaknya untuk mencari sang suami dan meminta mereka untuk menganggap jika papi mereka sudah meninggal agar luka yang ditorehkan oleh Indra tidak kembali terbuka.
Tapi putra sulungnya tersebut masih kekeh mencari keberadaan lelaki yang telah menorehkan luka yang sangat dalam baginya itu.
Meski Bianca tak tahu alasan yang jelas kenapa sang suami tega mengkhianatinya dan lebih memilih selingkuhannya daripada dirinya dan kedua anaknya, tapi tak bisa dipungkiri jika rasa sakit dan kecewa begitu dalam dia rasakan.
Bukan hanya meninggalkan keluarganya, Indra juga memutuskan hubungannya dengan keluarga besarnya hingga membuat Wiratmadjah marah dan kecewa yang membuat lelaki tu itu mengambil keputusan untuk mencabut semua asset yang dimiliki Indra jika lelaki tersebut nekat untuk bercerai dan pergi dari rumah.
Bianca yang pada awalnya masih memiliki harapan bahwa lelaki tersebut tak akan membuang kedua buah hatinya seperti Indra membuangnya dengan ancaman yang diberikan oleh ayah mertuanya tersebut.
Tapi lagi – lagi Bianca dibuat kecewa dan terluka waktu Indra memilih pergi begitu saja meski tanpa membawa sepeserpun uang dari keluarga Wiratmadjah.
Tentu saja hal tersebut membuat kekecewaan dan kesedihan yang ada dalam hati Bianca semakin dalam.
Menghilangnya lelaki tersebut seperti tenggelam didasar bumi, membuat Bianca mulai bisa berjalan kedepan lagi sambil berusaha untuk mengobati luka yang ada dalam hatinya.
Tapi sekarang, lelaki tersebut berhasil ditemukan oleh putra sulungnya. Cepat atau lambat Bianca yakin dia pasti akan bertemu dan berhadapan lagi dengan seseorang yang telah menorehkan luka sangat dalam baginya.
“ Apakah aku mampu untuk bertemu dengannya lagi ?....”,
“ Setelah semua luka yang dia berikan untukku…”
“ Dan kenapa luka ini kembali terbuka lebar hanya dengan mendengar dia telah ditemukan ?....”
__ADS_1
“ Luka yang cukup susah payah aku sembuhkan perlahan kembali terbuka….”
“ Padahal, aku hanya mendengar kabar jika dia ditemukan….”
“ Bukan melihat langsung sosoknya….”
Bianca terus menggerutu dengan wajah cemas sambil memegang dadanya yang terasa sangat nyeri.
Sementara itu di tempat lain, Stevanus akhirnya menemui sang papi agar dia bisa memastikan semua hal yang selama ini menganjal dihatinya sebelum pulang ketanah air.
Indra yang melihat kedatangan sang putra hanya menampilkan wajah datar dan dingin. Meski keduanya sudah sangat lama tak bertemu, tapi lelaki itu masih bisa mengenal jelas siapa yang saat ini berdiri dihadapannya itu.
“ Untuk apa kamu kemari ?....”, tanya Indra dingin.
Stevanus yang mendapatkan sambutan dingin dari sang papi berusaha untuk menekan gejolak amarah yang tiba – tiba meledak dihatinya.
“ Tenang Stevanus….ingat tujuanmu….”, batin Stevanus mengingatkan.
Stevanus yang memang memiliki sikap dan pembawaan seperti sang papi juga menampilkan wajah datar khas keluarga Wiradmadjah.
“ Bagaimana kabar papi ?...”, tanyanya basa – basi.
Selanjutnya kedua lelaki itupun terdiam cukup lama, hanya menyisakan keheningan dan kecanggungan yang menghiasi pertemuan tersebut.
Ingat dengan tujuannya, Stevanus pun mulai bertanya kepada Indra tentang alasan yang membuat lelaki tersebut meninggalkan keluarganya dan menghilang setelah dia pergi.
Jawaban yang diberikan oleh Indra sama sekali tak memuaskan Stevanus. Tentu saja bukan ini yang diinginkannya selama ini.
“ Apa cuma karena dia !!!....”, ucap Stevanus mengeram marah.
“ Tentu saja…apa lagi alasannya….”, ucap Indra sambil menatap sinis sang putra yang terlihat mulai tersulut emosinya.
“ Lalu, apa anda masih berniat untuk kembali ?....”, Stevanus masih menaruh sedikit harapan kepada sang papi dengan melontarkan pertanyaan yang dia sendiri sudah bisa menerka apa jawabannya.
“ Tidak….”, ucap Indra singkat.
__ADS_1
“ Dan tak akan pernah….”, Indra kembali mengucapkan kata – kata penuh penekanan pada sang putra.
Indra berharap, Stevanus segera pergi dan tak pernah menemuinya lagi setelah mendengar semua yang telah dia katakan hari ini.
Meski dalam hati kecilnya ada sedikit rasa penyesalan dan rindu terhadap sang putra, namun Indra berusaha menekan kuat – kuat perasaan tersebut didalam hatinya terdalam.
Egonya yang tinggi tak bersedia mengakui hal tersebut, meski sebenarnya dia sangat merindukan kehangatan dan cinta keluarga kecilnya dulu.
“ Mungkin ini adalah jalan terbaik. Aku sudah cukup mengecewakan mereka semua….”, batin Indra sedih.
Menganggap jika usaha yang dia lakukan selama ini sia – sia, Stevanus yang sudah terbakar emosi segera keluar dari kediaman sang papi dengan penuh amarah sebelum dia lepas kontrol dan melakukan sesuatu yang buruk yang nantiny akan di sesali seumur hidup.
Brakkkk….
Stevanus membanting pintu mobilnya dengan keras, melampiaskan segala emosi yang ada dihatinya sambil mengumpat pelan.
Tanpa meoleh lagi, diapun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil sesekali memukul stir mobil yang dikendarainya dengan keras beberapakali dan mengeluarkan berbagai macam sumpah serapah untuk sang papi.
Jika tahu hasilnya akan begini, Stevanus mungkin akan mendengarkan nasehat maminya agar tak lagi mencari keberadaan lelaki tersebut serta menganggap lelaki itu telah mati.
Stevanus melajukan mobilnya menuju ke bandara. Dia akan langsung pulang detik ini untuk menemui sang mami dan meminta maaf.
Mendengar dari Caterine jika maminya mengurung diri didalam kamar setelah dia mendengar jika sang anak telah menemukan keberadaan sang papi membuat Stevanus merasa sangat bersalah.
Detik ini juga dia sudah mengubur dalam – dalam rasa rindunya kepada sang papi dan menganggap laki – laki tersebut sudah tak ada didunia ini sehingga dia tak perlu memikirkannya lagi.
Fokusnya sekarang adalah kepada sang mami dan orang – orang yang disayanginya disana. Baginya, mereka semua lebih berarti dari pada seseorang yang hanya menyumbangkan benih untuk kehadirannya didunia ini.
Sementara itu, setelah kepergian Stevanus, Indra terlihat terduduk lemas diatas kursinya sambil menatap kosong keluar jendela.
Saat ini dia benar – benar merasa sendiri di dunia ini. Semua orang telah pergi meninggalkannya karena keputusan yang telah dibuatnya.
Dulu Indra masih kuat karena ada Jesslyn, wanita yang sangat dicintainya dengan segenap jiwa dan raga yang dimilikinya.
Meski wanita tersebut tak dapat dimilikinya sepenuhnya, namun keberadaannya yang masih menganggapnya ada membuat hati Indra menghangat.
__ADS_1
Dan sekarang, setelah wanita tersebut meninggal hatinya terasa kosong dan hampa. Tak ada lagi warna yang bisa membuatnya untuk tersenyum dan menatap dunia dengan penuh warna lagi.
“ Mungkin ini adalah karma hasil perbuatanku….”, batinnya pasrah.