
Tampaknya kebahagiaan pagi itu tak berlangsung lama waktu Aldebaran tiba di apartemen gadis itu untuk menjemputnya berangkat kerja.
Suasana di ruang tamu terlihat memanas dimana kedua orang laki - laki yang mencintai Caterine tersebut terdiam dengan pandangan saling membunuh antara yang satu dengan yang lainnya.
Ratna yang berada ditengah – tengah keduanya berharap Caterine segera keluar dari dalam kamar dan memecah kecanggungan yang ada.
Kriettt…
Begitu pintu kamar Ctaerine terbuka, ketiga orang yang berada diruang tamu segera mengalihkan atensi mereka.
“ Ayo kita per….”, Caterine menghentikan ucapannya waktu melihat Aldebaran dan Stevanus menatap tajam kearahnya.
Caterine meruntuki kebodohannya karena lupa jika hari ini Aldebaran akan menjemputnya untuk langsung meninjau proyek yang baru saja dikerjakan.
Karena terlalu bahagia dengan kedatangan Stevanus, Caterine melupakan semua hal penting yang akan menjadi boomerang dirinya dipagi ini.
Tak ingin menimbulkan pertengkaran dipagi hari, Caterine pun segera mengajak Aldebaran untuk pergi.
Dia juga memberi kode kepada Stevanus jika nanti dia akan menghubungi lelaki tersebut jika sudah sampai di kantor.
Meski berat, namun Stevanus berusaha memahami posisi Caterine saat ini dan dia juga berupaya seminimal mungkin untuk menghindari pertikaian dengan Aldebaran disini.
Begitu Caterine dan Aldebaran telah pergi, Stevanus pun langsung menatap Ratna menuntut penjelasan.
“ Apakah dia selalu mengantar jemput Caterine setiap hari ?....”, tanya Stevanus penuh selidik.
“ hmmm…tidak juga sih.... Biasanya jika dia menjemput Caterine seperti ini, berarti ada proyek yang harus mereka tinjau sebelum tiba di kantor….”, ucap Ratna menjelaskan.
Meski Stevanus berusaha menekan api kecemburuan dalam hatinya. Namun hal tersebut masih terasa sangat jelas dipermukaan.
Ratna yang merasa jika suasanya sedikit kikuk mulai beranjak dari tempat duduknya namun berhasil dicegah oleh Stevanus yang ingin mendengarkan semuanya dari sahabat Caterine tersebut.
“ Apa yang ingin kamu ketahui ?....”, tanya Ratna to the point.
“ Semuanya…terutama mengenai identitas Caterine disini karena menurutku ada sedikit ketidak wajaran….”, ucap Stevanus dengan tatapan penuh selidik.
Stevanus mengajukan pertanyaan tersebut bukanlah tanpa sebab. Karena selama tiga tahun ini dia sudah mencoba berbagai cara untuk bisa menemukan Caterine tapi hasilnya nihil.
Bahkan detektiv profesiaonal dalam dan luar negeri juga sudah dia kerahkan, namun hasilnya zonk.
Dan hanya satu yang menjadi pemikiran Stevanus, Caterine menggunakan identitas orang lain sehingga keberadaannya tak terlacak.
Meski tidak tahu secara detail apa yang sebenarnya terjadi, Ratna hanya tahu jika Caterine menggunakan nama Laura disini.
“ Laura ?...”, tanya Stevanus penasaran.
__ADS_1
“ Laura adalah nama adik Aldebaran yang sudah meninggal empat tahun yang lalu…”, ucap Ratna sambil menerawang.
Ratnapun lalu bercerita bagaimana sosok Laura seperti yang digambarkan oleh Caterine kepadanya.
Meski keduanya jarang bertemu, tapi hubungan Caterine dan Laura tidak pernah putus. Mereka setiap hari selalu berkomunikasi lewat chat ataupun vcall.
Dari cerita Caterine, Ratna mengetahui jika Laura sangat mengidolakan sahabatnya itu hingga dia selalu berpenampilan seperti Caterine dan mengikuti semua hal yang dipakai sahabatnya itu dalam kehidupan sehari - hari.
Bahkan jika disandingkan, mereka sudah seperti kakak beradik. Karena hal itu jugalah membuat Caterine tak kesulitan untuk bisa mengantikan posisi Laura diperusahaan keluarga Aldebaran di negeri paman Sam ini.
Stevanus terlihat tertegun sejenak mendengar semua cerita Ratna kepadanya pagi ini. Sekeras apapun dia berpikir, namun dia masih belum menemukan benang merah tentang kenapa Caterine harus menyamar menjadi Laura.
Jika hanya untuk menghindar darinya, rasanya tak perlu melakukan hal sampai sejauh itu. Dan ada satu hal lagi yang bagi Stevanus masih menganjal.
“ Lalu bagaimana kematian Laura ?...”, tanya Stevanus penuh selidik.
Melihat Ratna menautkan kedua alisnya hingga menukik kebawah, Stevanus pun langsung merubah pertanyaannya lebih sederhana.
“ Maksudku, kenapa kematian Laura disembunyikan?....Jika tidak, bagaimana Caterine bisa dengan mudah menjadi Laura selama tiga tahun ini ?… ”, Stevanus berusaha untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Ratna.
Namun hal tersebut tak terjadi, Ratna sama sekali tak mengetahui tentang hal tersebut membuat Stevanus semakin merasa curiga.
“ Caterine terlihat enggan berbicara jika sudah menyangkut topic tersebut….”, ucap Ratna mengadu.
Membuat Ratna akhirnya menyerah dan menganggap hal tersebut sebagai privasi dari sahabatnya itu.
Setelah dirasa cukup, Stevanus pun berpamitan kepada Ratna untuk keluar sejenak setelah dia berhasil menghubungi anak buahnya yang ada disini.
Selama disini, dia akan berupaya untuk mencari kebenaran semua hal yang ada dalam pikirannya saat ini.
Yang pertama harus dia lakukan adalah mencari tahu penyebab kematian Laura dan kenapa kematian gadis tersebut ditutupi dari semua orang.
“ Jika hal sebesar itu disembunyikan, pasti ada sesuatu yang tidak beres disini….”, batin Stevanus curiga.
Melihat jika Caterine tak mau menceritakan masalah tersebut kepada Ratna, maka dia bertanya pun pasti gadisnya tersebut juga akan tetap diam.
Sementara itu, selama perjalanan menuju lokasi proyek Aldebaran yang sudah sejak tadi penasaran dan ingin bertanya kembali mengurungkan niatnya waktu melihat Caterine sama sekali tak ingin menjelaskan apapun kepadanya.
“ Memang aku siapa hingga dia harus menjelaskan semua hal kepadaku…”, batin Aldebaran pesimis.
Diapun melangkah dengan gontai keluar dari dalam mobil dan menyusul Caterine yang sudah berada meninggalkannya sangat jauh.
Pagi ini Caterine ingin segera bertemu dengan pimpinan pekerja untuk memberikan desain yang baru agar para pekerja tidak kembali melakukan kesalahan yang sama.
“ Tarik dan lenyapkan semua desain yang lama, ganti dengan ini. Kali ini aku tidak ingin mendengar ada kesalahan sekecil apapun !!!....”, perintah Caterine tajam.
__ADS_1
Pimpinan proyek tersebut segera menyuruh anak buahnya untuk mengambil semua desain lama dan melenyapkannya.
Dia juga menginstruksikan jika hanya ada satu gambar yang dijadikan acuan hingga kesalahan yang sama tidak akan terulang lagi.
Selanjutnya, Caterine segera berjalan mengitari bangunan bersama pimpinan proyek. Sedangkan, Aldebaran mulai mengecek persediaan dan kualitas bahan yang digunakan dalam pembanggunan.
“ Usahakan semua pasokan tetap terjamin kualitasnya seperti ini…”, ucap Aldebaran setelah selesai mengecek semuanya.
Begitu dia keluar dari dalam gudang, sekelebat dia melihat seseorang yang tak asing berjalan masuk kedalam sebuah mobil mewah tak jauh dari tempatnya berdiri.
“ Siapa dia ?....”, tanya Aldebaran penasaran.
Pekerja tersebut segera menatap kemana arah mata Aldebaran mengarah. Setelah mengamati sesaat, barulah dia menjawab dengan sopan.
“ Dia adalah pimpinan Hubert Company yang baru, kalau tidak salah namanya Mr.Alando Hubert….”, ucap pekerja tersebut sambil berusaha mengingat.
“ Untuk apa dia datang ke proyek ?...”, Aldebaran terlihat terus mencerca pekerja tersebut dengan berbagai macam pertanyaan.
“ Kalau untuk masalah tersebut, saya kurang tahu pak. Mungkin anda bisa menanyakan langsung kepada Mr. Hunson karena tujuan tuan Aliando kesini pasti untuk bertemu dengan Mr. Hunson….”, ucap pekerja tersebut menjelaskan.
Merasa jika kehadiran Alando di proyek miliknya cukup mencurigakan, Aldebaranpun segera menghubungi salah satu temannya yang bekerja diperusahaan IT untuk mencari informasi mengenai Hunson.
Jujur saja untuk proyek kali ini, tidak semua pekerja Aldebaran kenal karena ada beberapa wajah baru yang merupakan orang dalam milik investor.
Salah satunya adalah supervisor proyek yang berada dibawah pimpinan proyeknya, Mr. Smith. Selain Hunson ada beberapa bagian administrasi yang juga merupakan orang dari investor yang ditempatkan dalam proyek.
Sementara itu, Alando tersenyum sinis didalam mobilnya sambil mengingat kembali gadis yang sangat mirip dengan Laura tersebut.
“ Aku tak menyangka jika Aldebaran akan bertindak sejauh ini. Tapi siapa dia, kenapa wajah dan semua gesture tubuhnya sangat mirip dengan Laura ?....”, batin Alando penuh tanda tanya.
Alando yang mendapatkan kabar jika hari ini Laura akan datang meninjau proyek langsung membatalkan meeting paginya demi bisa melihat gadis tersebut.
Awalnya Alando terlihat sangat bahagia dan ingin berlari dan memeluk gadis yang sangat dicintainya itu.
Tapi langkah kakinya terhenti waktu dia melihat senyum lebar Laura. Senyum ceria yang tak pernah dia lihat dari gadis tersebut.
Seketika Alando tersadar jika gadis tersebut bukanlah Laura. Gadis yang dia kenal sama sekali tak bisa menampilkan senyum lepas seperti itu.
Meskipun dia tersenyum lebar, tapi aura kesedihan yang sangat dalam masih terlihat jelas di kedua sorot matanya.
Jauh berbeda dengan gadis yang ada dihadapannya saat ini, dimana kedua matanya bersinar sangat terang waktu dia tersenyum lepas seperti itu.
Semakin diamati, Alando semakin yakin jika gadis tersebut bukanlah Laura. Aura yang terpancar dari wajah gadis tersebut sangatlah berbeda dengan gadis yang sangat dia cintai tersebut.
Tak ingin menebak – nebak, Alandopun segera menginstruksikan seseorang untuk mencari tahu sosok gadis tersebut dan apa alasan Aldebaran menempatkan gadis tersebut diperusahaannya untuk mengantikan Laura.
__ADS_1