
Disebuah rumah pantai terlihat seorang lelaki tampan sedang menatap deburan ombak sambil memasukkan kedua tangannya didalam saku celana dengan wajah datar.
Kedua matanya menatap kosong jauh ke depan. Seperti, sudah tak ada lagi harapan hidup disana.
Dinginnya angin malam yang menerpa kulit tak membuat Stevanus beranjak. Bahkan lelaki tampan tersebut terlihat sangat menikmatinya.
Saat ini, Stevanus sudah tampak seperti robot jika dibandingkan dengan manusia yang memiliki perasaan.
Semua rutinitas yang dilakukannya setiap hari selam tiga tahun ini seperti sudah terprogram dalam tubuhnya.
Setiap hari, sepulang kerja setelah membersihkan diri dan makan malam. Dia akan berdiri di balkon kamar Caterine selama satu jam.
Baru setelah itu, dia akan merenung didalam kamar Caterine hingga tertidur. Dan besok paginya, dia akan beraktivitas rutin kembali seperti biasanya.
Tanpa ada acara berkumpul dengan teman, saudara dan menjalankan hobi apapun. Semua rutinitas tersebut dia lakukan secara monoton dan terus menerus selama tiga tahun ini, tanpa ada perubahan sedikitpun.
Meski keluarganya masih khawatir, namun sebagian orang sudah mulai terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu.
Nicholas terlihat sudah mulai tak sabar dan keluar dari dalam rumahnya. Menyambar kunci mobil yang tergantung diatas rak sepatu dan bergegas menuju rumah pantai yang menjadi tempat tinggal sahabatnya itu sekarang.
Dalam perjalanan, Nicholas masih berharap sahabatnya itu mau mengangkat sambungan telepon darinya. Tapi, harapannya sia –sia belaka.
Panggilan telepon Nicholas sama sekali tak direspon oleh Stevanus yang terlihat masih setia di balkon kamar dengan ponselnya yang berada di lantai satu dalam posisi mengisi batrai.
Begitu tiba, Nicholas hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu berdiri mematung di balkon kamar lantai dua.
Untungnya Stevanus tak mengganti password rumahnya sehingga Nicholas bisa langsung masuk tanpa menekan bel atau berteriak memanggil nama sahabatnya itu yang dia yakini pasti akan membutuhkan waktu yang lama.
Stevanus masih berdiri di posisinya awal tanpa berubah posisi, masih dengan tatapan kosong kedepan. Dia mengabaikan semua hal yang terjadi disekitarnya.
Bahkan suara Nicholas yang memanggilnya dari belakang sama sekali tak membuyarkan lamunannya.
Tatapan matanya masih lurus kedepan. Manic hitam kelam miliknya menyiratkan kepedihan yang sangat dalam.
Lagi – lagi Nicholas hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat kondisi memprihatinkan sahabatnya itu.
“ Aku sudah menemukannya….”, ucap Nicholas lantang.
Tapi ucapan Nicholas hanya dianggap angin lalu oleh Stevanus yang masih terdiam terpaku ditempatnya.
__ADS_1
“ Aku sudah mengetahui keberadaan Caterine saat ini….”, ucap Nicholas sekali lagi.
Nyawa Stevanus baru kembali sepenuhnya waktu Nicholas menyebutkan nama Caterine. Gadis yang sangat dirindukannya hingga membuatnya hampir gila seperti ini.
“ Dimana dia ?...”, tanya Stevanus sambil mencengkeram kedua bahu Nicholas dengan kuat.
“ *Woy....*Santai bro….”, ucap Nicholas sambil berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan Stevanus dari bahunya.
Melihat raut wajah serius Stevanus, Nicholas pun berdecak kesal karena sahabatnya itu selalu bersikap berlebihan jika sudah menyangkut semua hal tentang Caterine.
Nicholas pun mengirimkan alamat lengkap Caterine beserta video yang diambil Ratna tanpa sepengetahuan sahabatnya itu untuk dikirimkan kepada Stevanus.
“ Alamatnya sudah kukirim keponselmu. Dia juga sama menderita sepertimu. Jika kamu mencintainya, pergi dan kejarlah dia…”, ucap Nicholas memberi semangat.
Tanpa berkata apapun Stevanus bergegas turun mengambil ponselnya dan menuju garasi untuk mengendarai mobilnya dan langsung melajukan dengan kencang. Bandara adalah tujuannya saat ini.
“ Semoga berhasil sobat….”, ucap Nicholas bahagia.
Nicholas pun segera menghubungi Ratna untuk menginformasikan jika Stevanus sudah dalam perjalanan ke Amerika sekarang.
Dalam perjalanan menuju bandara, Stevanus menghubungi anak buah kakeknya untuk menyiapkan jet pribadi sekarang juga.
“ Kali ini, aku benar – benar tak akan melepaskanmu…”, ucap Stevanus berapi – api.
Ratna menunggu kedatangan Stevanus dengan perasaan was – was. Berusaha tetap tenang agar sahabatnya itu tidak curiga.
Malam ini dia berupaya keras untuk mengosongkan jadwal Caterine dan menahan gadis itu agar tetap tinggal didalam apartemennya.
“ Kamu kenapa dari tadi kelihatan aneh begitu ?....”, tanya Caterine dengan tatapan menyelidik.
Ratna hanya bisa menyengir kuda mendengar teguran dari sahabatnya itu dan kembali membantu Caterine memotong sawi dan wortel yang akan mereka gunakan untuk makan malam hari ini.
Sejak menetap di negeri paman Sam ini, untuk membunuh waktunya Caterine mulai belajar memasak.
Dan hal itu berlanjut hingga sekarang. Jika ada waktu senggang seperti saat ini dia memilih untuk memasak apa yang akan dimakannya daripada membeli makanan siap saji.
Sambil membantu Caterine, diam – diam Ratna terus saja mengecek ponselnya untuk memantau kedatangan Stevanus.
“ Apa dia sedang menunggu seseorang ?....”, batin Caterine curiga waktu mendapati sahabatnya itu berkali – kali melirik kearah ponselnya.
__ADS_1
Tringgg….
Begitu pesan masuk, Ratna terlihat gelisah dan buru – buru berjalan keluar sambil berteriak “ Aku akan ke minimarket dibawah, jika ada yang ingin kau beli hubungi saja aku….”.
Caterine hanya bisa menaikkan satu alisnya heran dengan tingkah laku Ratna yang tak biasa itu. Meski ada perasaan cemas, tapi dia berusaha untuk mengabaikannya.
“ Mungkin dia memang ada urusan diluar ?...”, Caterinne pun berusaha untuk berpikiran positif terhadap tingkah laku aneh Ratna.
Sesampainya dibaseman, Ratna langsung menghampiri Stevanus yang masih berada didalam mobilnya.
“ Masuklah dan selesaikan masalahmu…hubungi aku jika sudah selesai…”, ucap Ratna sambil menuliskan password apartemen Caterine ditangan Stevanus.
Ratna pun pergi dengan sopir Stevanus dan membiarkan lelaki tersebut menyelesaikan semua masalah yang sempat tertunda selama tiga tahun tersebut dengan sahabatnya itu.
Ceklekk….
Begitu mendengar pintu terbuka, Caterine pun langsung berteriak “ Cepat makan keburu masakannya dingin….”.
Selesai mengucapkan hal tersebut, Caterinepun menutup kembali pintu kamarnya dan berniat untuk mandi karena tadi tanpa sengaja tadi menyenggol minyak goreng setelah mencuci piring.
Untung saja minyak bekas menggoreng ikan tersebut sudah dingin, jika tidak mungkin tangan Caterine sudah melepuh sekarang.
Begitu melihat Caterine masuk kedalam kamar dan tak lama kemudian bunyi suara gemericik air terdengar, Stevanus pun melangkah menuju meja makan.
Diatas meja sudah tersedia ikan goreng dengan sambal terasi kesukaan Caterine beserta aneka lalapan dan tumis sawi wortel.
Krucukkk….
Perut Stevanus pun berbunyi melihat makanan yang sangat lezat tersebut. Tak banyak bicara, diapun segera mengambil piring serta nasi dan langsung menyantap makanan yang tersedia diatas meja dengan lahap.
“ Aku tak menyangka jika masakan Caterine seenak ini…”, batin Stevanus puas.
Selama berpacaran dengan Caterine, Stevanus tak pernah mengetahui jika gadis itu bisa memasak dan hasil makanannya se lezat ini.
Karena sepengetahuannya dulu, di apartemennya Caterine hanya ada mie instan dan telur tanpa ada yang lainnya.
Jikapun sedang bersama, kebanyakan mereka akan makan diluar ataupun memesan makanan secara online.
Mengetahui fakta ini tentu saja membuat Stevanus terkejut. Diapun semakin mantap untuk segera mengajak Caterine menikah begitu gadis tersebut bersedia menerimanya kembali.
__ADS_1
Caterine yang sudah kenyang dan lelah bekerja akhirnya membaringkan diri diatas ranjang begitu tubuhnya telah bersih.
Tak lama kemudian, diapun sudah terlelap menuju alam mimpi tanpa tahu jika Stevanus ada diluar menunggunya.