BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
KESAL


__ADS_3

Sejak pulang dari rumah kakeknya Stevanus, Caterine berusaha untuk menghindar dari kekasihnya itu.


Sebisa mungkin dia tidak ingin bertemu atau berbicara dengan kekasihnya itu.


Ratna yang melihat tingkah laku artisnya itu hanya bisa geleng - geleng kepala.


Meski sempat khawatir, tapi melihat Caterine yang mengisyaratkan tidak ingin diganggu membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya dan mengorek informasi lebih lanjut.


" Perasaan...baru juga baikan, sekarang sudah perang dingin lagi " , batin Ratna sedih.


Sedangkan Stevanus yang sudah dua hari ini tidak bertemu dan mendengar suara kekasihnya sedikit galau.


" Apa dia masih sibuk....", tanya Stevanus setelah kesekian kali mencoba menghubungi Caterine tapi selalu dijawab oleh Ratna.


" Iya...saat ini lagi ada acara tanda tangan dan sesi foto dengan pengemar, jadi tidak bisa diganggu ", ucap Ratna beralibi.


" Saat istirahat, jangan lupa suruh Caterine segera menghubungiku....jangan seperti kemarin ", ucap Stevanus mengingatkan.


" Siap bos....", ucap Ratna patuh.


" Aku harus cari alasan apa lagi sekarang ", batin Ratna binggung.


Suksesnya film layar lebar dengan judul Bahagia Bersamamu membuat sang sutradara akhirnya menjadikan film tersebut serial drama di televisi yang akan ditayangkan pertengahan tahun ini.


Caterine dan Radit sebagai bintang utama serial tersebut tentunya saat ini tengah disibukkan dengan berbagai macam kegiatan mulai dari sesi pemotretan, tanda tangan, hingga hadir sebagai bintang tamu diberbagai acara variaety show yang ada.


Karena masih kesal dengan ulah Stevanus, untuk saat ini ponsel miliknya dia berikan kepada asistennya tersebut agar siapapun yang menghubunginya bisa langsung berurusan dengan sang manajer.


Dia hanya membawa ponsel dengan nomor pribadinya, dimana hanya keluarga dan sahabat terdekat yang tahu.


Stevanus yang seharian ini menunggu kabar dari kekasihnya terlihat sangat cemas.


Berkas yang ada di mejanya hanya dia bolak - balik tanpa dibaca.


Dengan kesal diapun menutup berkas yang ada didepannya dan mendorong kursinya kebelakang dengan kedua tangan memegang kepalanya.


" Apa aku coba telepon lagi ya ", gumannya sambil mengambil ponsel dari sakunya.


Saat ponsel sudah ditangannya, dipandanginya ponsel tersebut dengan galau.


Beberapa kali dia coba menghubungi kekasihnya itu, namun belum sempat ponselnya terangkat dengan cepat panggilan dia matikan.


Hal tersebut terus berulangkali dia lakukan sambil berjalan mondar - mandir disamping meja kerjanya.


Fani adik kembarnya yang melihat tingkah laku kakaknya itu hanya bisa melonggo dengan wajah heran.


" Seumur - umur baru kali ini aku lihat kakak segelisah itu " , pikir Fani dengan wajah keheranan.


" Aku tidak menyangka kalau Caterine bisa merubah balok es jadi cacing kepanasan kaya gini ", batinnya masih tidak percaya bahwa yang ada didepannya itu benar - benar kakaknya.


Stevanus Indra Wiratmadjah, seorang bertangan dingin yang mampu menyelesaikan semua permasalahan yang ada.


Bahkan dulu perusahaannya hampir bangkrut aja sang kakak tidak terlihat gelisah dan sepanik seperti sekarang.


Melihat tingkah yang tak biasa dari sang kakak, Fani dengan isengnya merekam semua yang kakaknya lakukan dan mengirimnya ke ponsel mamanya.


Indira yang mendapatkan kiriman dari putrinya spontan membulatkan matanya karena terkejut.


" Apakah ini benar anakku...", gumannya heran.


Karena rasa penasaran yang cukup tinggi kenapa anak laki - lakinya bisa bertingkah seperti itu, Indira langsung menghubungi Fani.

__ADS_1


Dering ponsel Fani yang cukup berisik membuat Stevanus mulai menyadari kehadiran adik kembarnya itu di dalam ruang kerjanya.


" Sejak kapan kamu disitu...", ucap Stevanus tajam.


Fani yang sedang mengangkat sambungan telepon sari sang mama hanya memberikan isyarat kepada kakaknya bahwa dirinya lagi tidak bisa diganggu dan segera keluar ruangan agar dia bebas bergosip dengan sang mama.


Stevanus yang tidak mendapat jawaban dari sang adik yang seakan mencuekinnya terlihat bertambah kesal.


" Kurasa aku harus segera menyusulnya kelokasi acara sekarang ", guman Stevanus yakin.


Kemudian dia segera mengambil jas kerjanya dan meninggalkan kantor.


Didalam perjalanan Stevanus mencoba menghubungi Ratna untuk memastikan sekali lagi lokasi tempat kekasihnya itu melakukan acara.


Sesampainya dilokasi, dia segera mengedarkan pandangannya untuk mencari sang kekasih.


" Caterine mana....?" , tanya Stevanus to the point.


Ratna yang lagi asyik ngobrol dengan panitia penyelenggara acara terlihat sangat terkejut dengan kehadiran Stevanus disampingnya.


" Ta....tadi katanya mau ketoilet. Kamu tunggu saja, sebentar lagi juga balik ", ucap Ratna gugup


" Kok mukanya seram begitu sih....", batin Ratna ngeri melihat wajah Stevanus yang datar tanpa seyuman.


Caterine yang baru saja selesai dari toilet segera menghentikan langkahnya saat melihat Stevanus bersama Ratna.


Dengan langkah cepat dia mulai berbalik arah agar kekasih dan manajernya tidak melihatnya.


" Untung kunci mobil dan dompet aku bawa " , guman Caterine sambil berjalan cepat menuju parkiran mobil.


Sesampainya di basemant, dia segera memacu kendaraannya dengan cepat agar bisa segera mungkin meninggalkan lokasi tersebut.


Sementara itu, Ratna dan Stevanus yang tidak kunjung melihat Caterine mulai merasa khawatir.


"Mbak....lihat Caterine nggak ?", tanya Ratna pada salah satu panitia yang masih ada disana.


" Caterine....", ucapnya binggung.


" Caterine sudah pulang dari tadi mbak. Tadi aku sempat berpapasan di basemant" , ucap salah satu panitia yang tidak jauh dari tempat Ratna berdiri.


" Apa sudah lama ya mas pulangnya ?", tanya Ratna lagi.


" Sekitar sepuluh menit yang lalu mungkin " , ucapnya sambil berlalu setelah mengambil satu tas besar peralatan yang tersisa.


" Sepuluh menit yang lalu berarti saat aku baru datang. Kenapa tadi kamu bilang dia ke toilet ...", tanya Stevanus curiga.


" Tadi dia pamitnya ke toilet....aku juga nggak tahu kalau dia langsung pulang " , cicit Ratna membela diri.


" Ini bukan akal - akalan kalian untuk membohongiku kan ", ucap Stevanus menyelidik.


" Apa gunanya aku membohongimu....kalau tidak percaya kamu hubungi saja Caterine ", ucap Ratna sewot.


Dengan wajah datar Stevanus mengambil ponsel dari dalam sakunya dan mulai menekan panggilan ke ponsel sang kekasih


" Oh baby dont you know I suffer "


"Oh baby cant you hear me moan"


"You caught me under false pretences "


"How long before you let me go "

__ADS_1


Stevanus segera melirik tas yang dibawa oleh Ratna saat mendengar dering ponsel kekasihnya keluar dari dalam tas Ratna.


Ratna yang mengerti arti lirikan maut yang diberikan Stevanus kepadanya segera memberikan penjelasan kenapa ponsel artisnya tersebut berada didalam tasnya.


Melihat raut muka Stevanus yang masih curiga terhadapnya, Ratnapun secara perlahan kembali mencoba untuk memberikan penjelasan.


Setelah memutar otaknya dengan keras untuk mencari alasan yang mampu diterima oleh seorang Stevanus, akhirnya laki - laki yang berada dihadapannya tersebut mulai mengerti dan langsung meninggalkan Ratna begitu saja.


" Hufff ...untung saja dia percaya " , ucap Ratna lega sambil mengelus - elus dadanya.


Setekah dilihat Stevanus sudah tidak tampak disekitar gedung, dengan sangat berhati - hati Ratna mulai menghubungi artisnya.


" Hey...dimana kamu....kenapa pergi nggak bilang - bilang...", omel Ratna karena kesal.


Sedangkan disana Caterine terlihat tersenyum sendiri membayangkan wajah kesal manajernya itu.


" Sudahlah, jangan cerewet...aku mau makan masakannya mami dulu" , ucap Caterine tanpa rasa bersalah.


" Aku disini pusing, kamu malah enak - enakan santai di rumah. Ka....", belum sempat ucapan Ratna selsai tiba - tiba dirinya dikejutkan oleh suara maminya Caterine.


" Ratna ya....Kapan mau ke rumah...jangan kerja terus sekali - kali minta Caterine cuti gitu biar bisa ke rumah ketemu mami ", cerocos maminya Caterine penuh semangat.


" Iya tante, nanti kalau Ratna ada waktu senggang.....Ratna pasti main kesana" , ucap Ratna sopan.


Setelah itu tiba - tiba telepon ditutup oleh Caterine secara sepihak.


Tanpa Ratna sadari ternyata Stevanus yang tadi sudah pamit balik ternyata kembali lagi dan mendengar semua percakapan antara dirinya dengan Caterine.


"Jadi dia pulang kerumah....baiklah aku akan menyusul kesana sekalian berkenalan dengan orang tuanya ", batin Stevanus senang karena akhirnya dia punya kesempatan untuk bertemu dengan keluarga kekasihnya itu.


Sedangkan Caterine yang tidak tahu bahwa kekasihnya itu akan datang kerumahnya masih terlihat santai sambil menikmati setiap masakan maminya yang sudah tertata dengan rapi di atas meja makan dengan perasaan bahagia.


Stevanus yang sudah berada didepan rumah Caterine dengan langkah pasti mulai melangkahkan kakinya menuju rumah kuno yang cukup besar berwarna putih.


Jika dilihat sekilas, rumah keluarga Caterine tersebut seperti rumah peninggalan jaman colonial, dilihat dari bentuk dan nuansa yang terasa kental disana.


" Non Caterinne, ada tamu...", ucap salah satu pembantu rumahnya dengan sopan.


" Siapa bik ?" , tanya Caterine merasa heran karena selama ini jarang ada yang tahu tempat tinggalnya ini.


" Katanya kekasih nona..." , ucapnya polos.


Uhukk.....uhukk.....Caterine langsung tersedak saat mendengar kata kekasih keluar dari mulut si bibi.


" Sejak kapan kamu punya pacar...", ucap maminya Caterine dengan pandangan curiga.


" Aku kedepan dulu mi...", ucap Caterine berusaha menghindari tatapan tajam sang mami.


Stevanus yang melihat kekasihnya datang segera menyambutnya dengan senyuman termanis yang dia miliki.


" Darimana kamu tahu alamatku ", ucap Caterine datar.


" Apapun yang ada pada dirimu aku tahu ", ucap Stevanus masih dengan seyum termanisnya.


" Punya pacar tampan begini kenapa tidak pernah dikenalkan ke mami...", ucap Sarah yang tiba - tiba sudah duduk disamping Caterine.


" Apaan sih mi....", ucap Caterine tamba sebal saat melihat maminya datang.


Kedatangan kekasihnya saja sudah bikin moodnya buruk, sekarang ditambah dengan maminya membuat Caterine semakin kesal.


Caterine sama sekali tidak menyangka jika Stevanus bisa rama dan hangat seperti ini.

__ADS_1


Sehingga dengan cepat kekasihnya tersebut sudah mulai akrab dengan sang mami.


Melihat hal tersebut Caterine hanya bisa tersenyum garing melihat mereka berdua ngobrol dengan akrab dan santai tanpa memikirkan perasaan Caterine yang sangat kesal terhadap mereka.


__ADS_2