
Setelah kondisi Caterine sudah cukup stabil diapun segera dibawa pulang untuk menghindari lebih banyak hal buruk yang mungkin akan terjadi kembali.
Setelah dua kali mengalami percobaan pembunuhan, Stevanus leboh protektiv lagi terhadap calon istri dan anaknya tersebut.
Stevanus telah menyiapkan sebuah rumah baru untuk dihuni keluarga kecil mereka nantinya setelah menikah.
Tapi karena kondisi mendesak, maka rumah tersebut telah disiapkan secepat mungkin agar setelah Caterine keluar dari rumah sakit rumah tersebut bisa langsung dihuni.
Mobil melaju dengan cepat memasuki sebuah perumahan elit. Caterine terlihat menautkan kedua alisnya heran waktu tiba – tiba mobil berhenti disebuah rumah mewah tiga lantai yang terlihat baru saja selesai dibangun.
Sambil tersenyum lebar, Stevanus segera membantu calon istrinya itu turun. Sedangkan para pelayan yang menyambut kedatangan keduanya segera memasukkan barang bawaan Caterine masuk kedalam rumah.
“ Rumah siapa ini ?....”, tanya Caterine penasaran.
“ Ini rumah kita sayang….”, ucap Stevanus sambil mengenggam tangan istrinya dengan erat dan menuntunnya masuk kedalam rumah.
Didalam rumah ini Stevanus sudah menyiapkan penjagaan berlapis untuk calon istri dan anaknya.
Dia memang tidak membawa Caterine pulang kerumahnya ataupun ke rumah keluarga besar Wiratmadjah agar calon istrinya itu bisa beristirahat dan tidak terlalu stress menjelang hari pernikahan mereka.
Caterine mulai menyapu setiap sisi bagian rumah sambil berdecak kagum karena rumah tersebut sesuai dengan apa yang selama ini dia impikan.
“ Apa kamu suka ?...”, tanya Stevanus lembut.
“ Sangat…..”, ucap Caterine dengan kedua mata berbinar.
“ Bagaimana kamu bisa tahu mengenai rumah impianku….”, ucap Caterine dengan tatapan menyelidik.
“ Sewaktu di Amerika, aku tak sengaja menemukan secarik kertas dengan tulisan rumah idaman…jadi, aku berusaha untuk mewujudkan impian mu itu…. ”, ucap Stevanus menjelaskan.
“ Bagaimana bisa….itu hanya gambaran kasar saja….”, ucap Caterine tak percaya.
Dia sama sekali tak menyangka jika Stevanus bisa membaca gambaran kasar desain yang telah dia buat dan merealisasikannya seperti apa yang dia bayangkan.
“ Hey…apa kamu menghinaku. Aku seorang arsitek…tentu saja aku bisa memahami apa yang kamu gambar disana meski itu hanya rancangan kasarnya saja….”, ucap Stevanus tak terima diremehkan seperti itu.
Caterine hanya terkekeh menanggapi protes yang dilayangkan oleh kekasihnya itu. Stevanus yang melihat calon istrinya sudah kembali ceria merasa sangat bahagia.
__ADS_1
“ Ternyata pilihanku tepat dengan membawanya kemari….”, ucap Stevanus senang.
Melihat senyum Caterine membuat hatinya terasa hangat. Sebuah senyuman yang beberapa waktu terakhir telah hilang dari wajah cantik kekasihnya itu.
Dia berharap rumah baru ini bisa membuat Caterine bahagia sehingga bisa membantunya melewati masa – masa sulit trimester pertama kehamilan.
Setelah puas melihat – lihat isi bagian rumah, Stevanuspun segera mengajak Caterine untuk beristirahat didalam kamar.
Sesampainya didalam kamar, kedua pasangan tersebut terlihat mendiskusikan sesuatu hal penting yang berkaitan dengan masa depan keduanya.
Karena kondisi Caterine kurang begitu baik, kedua keluarga sepakat melakukan pernikahan secara sederhana saja dirumah dan baru akan mengadakan resepsi setelah kondisi Caterine benar – benar pulih.
“ Kenapa harus cepat – cepat, bukankah kita masih memiliki banyak waktu….”, ucap Caterine pelan.
“ Kita harus mempercepat pernikahan ini sebelum papi kamu berubah pikiran kembali…”, ucap Stevanus berusaha meyakinkan calon istrinya itu.
Jika diingat kembali, Chandra memberikan restu juga karena terpaksa sebab Caterine sudah hamil dan putrinya itu memerlukan suami untuk mendukungnya diawal – awal kehamilan yang sulit ini.
“ Baiklah…aku ikut semua yang kamu rencanakan…”, ucap Caterine sambil tersenyum lembut.
Dengan penuh cinta di segera mengecup kening sang kekasih dan membantunya untuk merebahkan diri diatas ranjang.
“ Istirahatlah…barang bawaanmu biar aku saja yang menata….”, ucap Stevanus yang langsung membongkar tas Caterine dan menyusun semuanya didalam almari.
Sambil rebahan, Caterine melihat Stevanus mulai menyusun pakaian miliknya kedalam almari dengan rapi dan mulai menata beberap skincare miliknya di meja rias.
Selanjutnya, Stevanus segera mengeluarkan obat – obatan dan beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk memantau kondisi Caterine selama berada di rumah.
“ Benar – benar suami siaga….”, batin Caterine bangga.
Dia sama sekali tak mengira jika Stevanus akan seperhatian itu kepadanya. Bahkan sampai hal – hal terkecil dia sudah mempersiapkan semuanya.
Karena pengaruh obat dan kondisinya yang masih belum pulih benar, Caterine mulai memejamkan kedua matanya waktu menunggu Stevanus selesai berbenah.
Stevanus yang melihat calon istrinya sudah tertidur segera membenarkan posisi Caterine dan menarik selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya.
Selanjutnya, dengan langkah pelan diapun mulai berjalan keluarg dari dalam kamar karena masih ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan hari ini.
__ADS_1
“ Bik…jaga nyonya dengan baik. Kabari aku segera jika ada hal yang mendesak….”, ucap Stevanus tajam.
“ Baik tuan….”, ucap sang pembantu patuh.
Di Wiratmadjah Entertainment Stevanus bersama Ratna segera menyelesaikan beberapa kontrak Caterine yang belum selesai dikarenakan sang artis dalam waktu kedepan tidak bisa lagi terlalu banyak beraktivitas diluar.
Meski harus menanggung pinalti cukup besar karena sang artis memutus kontrak ditengah jalan, Stevanus sama sekali tak keberatan.
Karena sekarang kesehatan calon istri dan anaknya lebih utama daripada sejumlah uang yang tak banyak tersebut.
Karena Stevanus yang turun tangan sendiri para rumah produksi dan brand ambassador yang telah mengikat kontrak dengan Caterine tak bisa berbuat apa – apa dan hanya bisa menerima keputusan tersebut.
Stevanus berusaha untuk menyelesaikan semuanya secepat mungkin agar bisa kembali ke kediaman sebelum Caterine terbangun.
“ Bagaimana persiapan pernikahanmu ?...apa sudah beres ?....”, tanya Ratna cemas.
“ Semua sudah diurus oleh mami.….”, ucap Stevanus sambil menandatangani beberapa berkas yang ada dihadapannya.
“ Jika membutuhkan bantuan, kamu bisa menghubungiku….”, ucap Ratna tersenyum lebar.
“ Ok...”, jawab Stevanus singkat.
Ratna pun segera meninggalkan ruangan Stevanus dan melangkah pergi untuk menyelesaikan beberapa urusan mengenai artisnya setelah beberapa berkas disetujui oleh calon suami sahabatnya itu.
Disela – sela kesibukannya, Stevanus terlihat beberapa kali memantau kondisi rumahnya melalui cctv yang bisa dia akses melalui ponsel.
Beberapa kali dikhianati oleh anak buahnya membuat Stevanus terus meningkatkan kewaspadaannya.
Dia tak mau lenggah dan kecolongan lagi seperti pada saat berada di rumah sakit sehingga menyebabkan nyawa calon istri dan anaknya dalam bahaya.
“ Kurasa sudah cukup hari ini….”, guman Stevanus sambil menutup berkas terakhir yang dia periksa hari ini.
Sebelum pergi, Stevanus menyempatkan diri untuk berbincang sebentar dengan Nicholas karena dia untuk beberapa hari ke depan akan merepotkan sahabatanya itu lagi.
“ Tenang saja bro…serahkan semuanya padaku….”, ucap Nicholas sambil menepuk pundak sahabatnya dengan akrab.
“ Ok…aku cabut dulu kalau begitu….”, ucap Stevanus sebelum melangkah pergi meninggalkan Nicholas yang kembali berkutat dengan beberapa berkas yang menumpuk diatras meja kerjanya.
__ADS_1