
Malam ini Stevanus tidak bisa tidur akibat resah memikirkan kekasihnya. Dengan gelisah dia berjalan mondar – mandir di ruang tamu sampai membuat Fani yang melihatnya merasa pusing sendiri.
Kemudian dia mulai membaca email yang masuk dari anak buahnya. Cukup lama dia membaca data
pria yang telah membuatnya cemburu buta itu.
“ Aldebaran Ghurafa....”, guman Stevanus geram.
Seandainya tidak berada di rumah George, mungkin Stevanus sudah menghajar Aldebaran karena telah berani menyentuh gadisnya.
Berulang kali dia mencoba untuk menghubungi Caterine, tapi ponsel kekasihnya itu sampai sekarang masih belum juga aktif. Hal itu tentu saja membuat Stevanus semakin gelisah tak menentu.
“ Apa perlu aku datang dan menjelaskan kepadanya…”, ucap Fani memberi solusi karena tidak tahan melihat kakaknya mondar – mandir kaya setrikaan.
“ Tidak perlu....aku bisa mengatasinya sendiri…”, ucap Stevanus datar.
Dia kemudian segera beranjak masuk kedalam kamarnya dan merebahkan diri.Di dalam kamar dia hanya bisa membolak – balikkan badan tanpa bisa memejamkan mata.
Rekaman adegan mesra kekasihnya dengan pria tampan itu kembali hadir dalam ingatannya membuatnya sedikit merasa frustasi.
Diusap wajahnya dengan kasar berulang kali, dengan langkah gontai dia masuk kedalam kamar mandi
untuk mendinginkan kepalanya yang terasa mendidih.
Sedangkan di kediaman George, Caterine tengah melamun sambil melihat langit – langit kamar yang dia tempati.
Wajah Aldebaran tiba – tiba hadir dalam ingatannya. Meski jarang bertemu, tapi entah kenapa dia merasa sangat nyaman setiap bersama dengan pria tampan itu.
“ Jika dia bebas jalan dengan wanita lain, kenapa aku tidak bisa….”, guman Caterine kesal saat mengingat betapa mesranya Stevanus bersama wanita cantik yang dianggap Caterine sebagai selingkuhan kekasihnya itu.
Meski sedikit ragu dengan keputusannya, tapi dia berniat untuk membuat dirinya bahagia dengan menghibur dirinya sendiri dengan jalan bersama Aldebaran besok.
Caterine berharap dengan dia bersenang – senang akan sedikit melupakan kekesalan hatinya dengan sang kekasih.
Aldebaran yangn mendapatkan lampu hijau dari Caterine membuatnya sangat bersemangat. Dia sangat tidak sabar menanti hari esok agar bisa kencan bersama sang pujaan hati.
Hari yang ditunggupun tiba, pagi itu Aldebaran sedikit mengacak –acak almarinya,mencari baju yang cocok untuk dibuat jalan bersama Caterine.
Setelah cukup lama berdiri didepan almari, akhirnya pilihannya jatuh pada kaos putih dengan lengan pendek dan leher bentuk V yang dipadukan dengan jas biru yang tidak terlalu formal dan celana jins biru donker.
Sedangkan Caterine memakai dress selutut berwarna biru dengan kerah Sabrina yang agak lebar sehingga kedua bahu putihnya terekspos sempurna.
“ Lho….”, ucap Caterine dan Aldebaran berbarengan saat mengetahui bahwa baju yang mereka kenakan seragam
padahal tidak janjian.
“ Kita sepertinya sehati nih…”, ucap Aldebaran mengoda.
“ Bisa aja kamu…”, ucap Caterine tersipu malu.
“ Kak…kami pergi dulu ya…”, teriak Caterine saat mau berangkat.
“ Iya…hati – hati di jalan dan.... have fun ya…”, teriak kakak iparnya dari arah dapur.
Mereka berduapun segera menuju mobil dan melarikannya meninggalkan kediaman sang kakak dengan kecepatan sedang.
“ Kita mau kemana…”, tanya Aldebaran didalam mobil.
“ Bagaimana kalau kita kepantai saja. Kebetulan sudah lama aku tidak bermain kesana ”, usul Caterine dan diangguki oleh Aldebaran.
Setelah memutuskan hal itu, akhirnya merekapun segera meluncur menuju kearah pantai terdekat. Setelah
menempuh perjalanan kurang lebih hampir dua jam, akhirnya mereka tiba di tepi pantai yang tidak terlalu ramai pengunjung itu.
Aldebaran segera memarkirkan mobil yang tak jauh dari tempat yang mereka tuju. Caterine langsung berlari kearah pantai, dilepaskannya sandal yang dipakainya dan mulai berlarian diatas pasir putih yang halus itu.
Wajah Caterine yang riang gembira membuat hati Aldebaran menghangat. Beberapa kali dia mengambil gambar sang pujaan hati dan diuploadnya ke media sosialnya.
“ My Lovely…”, tulisnya dibawah gambar Caterine yang diunggahnya.
Tak butuh waktu lama postingan tersebut sudah banyak mendapatkan like dan komentar yang beragam.
“ Bukannya itu Caterine…cantiknya…”
“ Kakak cantik sekali dengan rambut digerai seperti itu…”
__ADS_1
“ Kapan ya aku punya kekasih seperti itu…”
“ Cantiknya…”
“ Bidadariku…”
" Jadilah kekasihku..."
" Istri masa depan..."
Dan masih banyak lagi komentar yang membanjiri halaman medsos Aldebaran. Fani yang kebetulan berteman dengan Aldebaran di medsos sontak terkejut saat melihat foto Caterine disana.
“ Ada hubungan apa Aldebaran dengan Caterine…”, batin Fani penasaran.
Stevanus yang sedang ingin mengambil buah diatas meja,tidak sengaja matanya melihat sosok gadis yang tidak asing baginya di ponsel sang adik.
Segera diambil ponsel yang berada ditangan adiknya, Fani yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri sedikit terkejut saat ponselnya sudah ber[pindah tangan.
Fani berusaha untuk mengambil ponsel yang berada ditangan kakaknya tapi gagal karena tubuh Stevanus yang lebih tinggi darinya.
Stevanus terlihat sangat geram saat melihat nama akun Aldebaran lah yang mengunggah foto Caterine di medsosnya.
Dia pun segera mengambil kunci mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi saat mengetahui lokasi pantai tempat kekasihnya itu berada.
Fani yang melihat amarah dari wajah sang kakak segera menyusulnya, tapi Stevanus sudah pergi dengan mobilnya.
Tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk, Fanipun segera mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi dan mengikuti kakaknya dengan cara melacak posisi sang kakak lewat gps ponselnya.
Caterine terlihat sangat menikmati keindahan pantai hari ini. Setelah lelah bermain, diapun beristirahat di salah satu rumah makan lesehan yang ada disana.
Sambil menunggu ikan bakarnya siap, Caterine menikmati es kelapa muda yang sudah ada didepannya. Air kelapa yang segar dipadu dengan daging kelapa muda yang lembut membuatnya sangat gembira.
Tidak berapa lama, ikan bakar yang dipesannya telah tersaji di meja. Saat sedang asyik menikmati hidangan yang ada didepannya sambil menikmati semilir angin yang berhembus tiba – tiba berdiri sesosok pria tampan yang tidak asing di depannya.
“ Stevanus….”, batin Caterine terkejut.
Namun sedetik kemudian dia langsung memalingkan mukanya karena masih kesal dengan sang kekasih.
“ Ikut denganku…”, ucap Stevanus tajam.
“ Kalau dia tidak mau jangan dipaksa…”, ucap Aldebaran tajam.
Aldebaran segera menghentakkan tangan Stevanus dengan kasar dari tangan Caterine dan segera mengajak Caterine pergi dari sana.
Buukkk….
Satu pukulan dilayangkan kearah Aldebaran hingga jatuh tersungkur. Stevanus memukul lagi wajah Aldebaran hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Tidak terima dengan perlakuan Stevanus, Aldebaran membalas pukulan laki – laki yang ada dihadapannya itu.
Baku hantampun tidak bisa dihindari. Perkelahian tersebut tentu saja menarik perhatian pengunjung yang ada disana.
Caterine yang melihat Aldebaran dan kekasihnya terluka parah berusaha untuk melerai pertengkaran mereka berdua tapi tidak berhasil.
Dari kejauhan, Fani melihat kakaknya terluka parah segera berlari kearah sang kakak dan memeluknya dengan erat.
Melihat pemandangan tersebut, Caterine merasa sangat sedih namun buru – buru pikirannya tersebut dialihkan ke Aldebaran yang terlihat terluka parah.
Dengan lembut dia mulai mengusap bibir Aldebaran yang berdarah dengan tisu. Melihat perlakuan lembut Caterine terhadap Aldebaran membuat darah Stevanus kembali mendidih.
Dihempaskannya tangan Fani yang berusaha untuk mengobatinya. Dia langsung mengangkat Caterine
dan membawanya dipundaknya, seperti sedang mengangkat sekarung beras.
Saat Aldebaran hendak menghentikan aksi kakaknya, Fani memegangi tangan Aldebaran dengan erat.
“ Biarkan mereka menyelesaikan permasalahan mereka….jangan ikut campur…”, ucap Fani tajam.
“ Aku tidak ingin Caterine terluka ”, ucap Aldebaran tidak kalah tajam sambil menghempaskan tangan Fani.
“ Kakakku tidak akan menyakitinya….dia sangat mencintai Caterine ”, ucap Fani sambil memeluk Aldebaran dari belakang agar dia tidak melangkah kedepan.
Setelah Stevanus membawa Caterine masuk kedalam mobilnya dan membawanya pergi dari pantai baru Fani melepaskan pelukannya.
“ Semoga mereka bisa segera menyelesaikan permasalahan yang ada ”, batin Fani cemas.
__ADS_1
Aldebaranpun langsung meninggalkan pantai begitu Fani melepaskan pelukannya. Dia mencoba mencari jejak Caterine lewat ponselnya.
Saat sudah mendapatkan titik dimana Caterine berada, dia segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“ Semoga aku tidak terlambat…”, batin Aldebaran cemas.
Sementara itu didalam mobil Caterine yang sangat marah dengan Stevanus hanya mendiamkannya sambil melipat tangannya di dada.
Stevanus yang melihat amarah diwajah sang kekasih memilih bungkam dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dia akan membawa kekasihnya itu pergi sebentar dari kota ini sampai semua permasalahannya terselesaikan.
“ Ayo turun…”, ucap Stevanus datar.
“ kenapa dia membawaku ke bandara ”, batin Caterine penasaran.
Karena Caterine tidak kunjung merespon ucapannya, Stevanus pun langsung mengangkat tubuh kekasihnya itu dan mengendongnya seperti tadi.
Dia biarkan Caterine berteriak dan meronta dalam gendongannya. Caterine baru diam saat tubuhnya dihempaskan dengan kasar ke atas sofa didalam jet pribadi milik Stevanus.
“ Kamu mau bawa kemana aku…”, tanya Caterine garang.
“ Aku tidak akan melepaskanmu sampai semua permasalahan kita selesai ”, ucap Stevanus datar.
“ Sekarang katakan…siapa laki – laki itu…”, ucap stevanus tajam.
“ Kamu pastinya sudah tahu semuanya, kenapa tanya…”, jawab Caterine acuh.
“ Ada hubungan apa antara kamu dengannya…”, tanyanya lagi.
“ Tidak ada hubungan apa – apa ”, jawab Caterine santai.
“ Benarkah…”, tanya Stevanus dengan tatapan tidak percaya.
“ Terserah…kamu percaya atau tidak…tidak penting juga buatku ”, ucap Caterine sinis.
“ Jadi apa hubungan kalian sebenarnya…”, tanyanya lagi masih dengan nada yang tajam.
“ Teman…”, jawab Caterine singkat.
“ Hanya teman…”, ucap Stevanus menekankan kata – katanya.
“ Yup…”, jawab Caterine singkat.
“ Mana ada teman semesrah itu…”, ucap Stevanus sinis.
“ Ada…kamu juga punya teman mesra seperti itu juga kan…”, ganti Caterine yang menyerang Stevanus.
“ Aku tidak memiliki teman seperti yang kau tuduhkan itu ”, ucap Stevanus datar.
“ Cih…masih mengelak…”, ucap Caterine geram.
“ Tatap mataku…”, ucap Stevanus tajam sambil memegang kedua pipi Caterine dan mengunci pandangannya.
“ Wanita mana yang kamu maksud…”, ucapnya dengan suara mulai melunak.
“ wa…wanita yang tadi datang memelukmu ”, ucap Caterine cepat dan langsung mengalihkan pandangannya.
“ Apa kamu cemburu…”, ucap Stevanus pelan sambil menahan senyum.
“ bu…buat apa aku cemburu ”, ucap Caterine kesal.
Stevanus yang mendengar ucapan kekasihnya hanya tersenyum.Baru kali ini dia melihat kekasihnya itu cemburu dan itu membuatnya bahagia.
“ Bilang saja kalau cemburu ”, ucap Stevanus lagi dengan gaya mengoda.
“ Cih…kepedean ”, ucap Caterine sinis.
“ Ya sudah kalau kamu tidak cemburu. Sekarang istirahatlah…perjalanan kita masih panjang ”, ucap Stevanus datar.
Kemudian dia berpindah ke sofa yang berada di ujung, rebahan dan mulai memejamkan mata.
Sedangkan Caterine hanya terdiam di sofanya sambil memandang kesal laki – laki tampan yang sudah mencuri hatinya itu.
“ Malah ditinggal tidur…dasar…”, guman Caterine lirih.
__ADS_1
Karena kesal dengan tingkah Stevanus, Caterine pun ikut merebahkan diri diatas sofa karena jujur saja dia juga lelah seharian bermain di pantai.