
“ Apa kamu akan melepaskanku jika aku memberitahumu dimana lokasi Susan ?....”, ucap lelaki muda tersebut bernegoisasi.
“ Tergantung situasinya nanti. Yang jelas, untuk saat ini aku masih akan membiarkanmu hidup….”, ucap Stevanus tajam.
Diapun segera duduk diahadapan kekasih Susan tersebut untuk mendengar informasi apa yang bisa lelaki itu berikan kepadanya.
Kekasih Susan tersebut terlihat sedang berpikir mengenai keuntungan dan kerugian apa yang akan didapatkannya mengingat kondisinya yang cukup terpojok saat ini.
Melihat musuhnya terdiam tak bersuara, Stevanus yang sudah tak sabaran kembali bersuara dengan nada dingin dan tajam.
“ Aku tak punya banyak waktu untuk menunggumu. Silahkan pilih, mati sekarang atau memberitahukan dimana keberadaan kekasihmu saat ini….”, ucap Stevanus dengan nada dingin dan datar.
“ Kondisimu tak memungkinkan bagimu untuk bernegoisasi denganku…”
“ Dan, aku tak akan mengirimmu ke penjara karena itu sangat mudah bagimu….”
“ Aku akan membuat kematian seseorang yang berani menyentuh istri dan anakku sangat menyakitkan….”
Stevanus terus memberi ancaman, membuat kekasih Susan tersebut kembali kesulitan untuk menelan ludah dan bernafas.
“ Benar apa yang dikatakannya, mengaku atau tidak aku akan tetap mati ditangannya….”, gumannya pasrah.
Merasa tak ada pilihan lain lagi, lelaki tersebut segera memberitahukan dimana lokasi Susan berada.
“ Tapi aku tak tahu dia masih disana apa tidak sekarang….”, ucapnya lemah.
Stevanus segera menghubungi anak buahnya yang sudah bergerak menuju pinggir kota dimana lelaki tua pedagang sayur tadi memberi tumpangan kepada kekasih Susan untuk segera menuju rumah dimana Susan bersembunyi.
Tak butuh waktu lama, Susan yang hendak melarikan diri berhasil ditangkap dan langsung dibawa menggunakan van hitam yang sudah parkir tak jauh dari rumah yang dia tinggali sekarang.
“ Lepaskan aku b*****t !!!....”, maki Susan penuh amarah.
Dia terlihat merontah – rontah, berusaha melepaskan ikatan yang membelenggu kedua tangannya sambil terseok – seok karena ditarik paksa oleh kedua lelaki kekar yang ada disamping kanan dan kirinya.
Karena masih dini hari dan posisi rumah yang ditempati Susan jauh dari pemukiman penduduk, sekeras apapun dia berteriak minta tolong tak akan ada yang mendengarnya.
__ADS_1
Susan hanya bisa pasrah waktu tubuhnya didorong paksa masuk kedalam van hitam yang ada di depannya itu.
Didalam mobil, mulut Susan di lakban agar tak berisik dan kedua kakinya diikat dengan tali agar tak bisa bergerak.
Dengan kasar, tubuh Susan dilempar ke jok belakang tanpa kursi sehingga dia hanya bisa meringkuk dengan wajah pucat pasi.
“ Siapa mereka ?....kenapa mereka menculikku ?....”, batin Susan cemas.
Karena dia tak bisa duduk, maka dia hanya bisa pasrah mau dibawa kemana oleh empat lelaki bertubuh gempal dengan wajah menyeramkan yang tadi membawanya paksa masuk kedalam van.
“ Apakah aku akan dijual ?...atau mereka akan mengambil organ tubuhku dan diperdagangkan dipasar gelap….”, Susan terlihat meracau ketakutan dalam hati.
Karena terlalu larut dalam pemikirannya, Susan tak menyadari jika mobil sudah berhenti dan tak lama kemudian pintu van terbuka.
Satu lelaki mencengkeram lengannya dan menyeretnya turun dengan paksa. Karena kedua kakinya diikat, Susan yang tak bisa bergerak segera diangkat seperti karung berasa menuju sebuah rumah yang tak terlalu besar itu.
Brukkk….
Susan dilemparkannya dengan kasar begitu tiba disebuah ruangan lembab dan kosong seperti sebuah gudang.
“ Awww….”, rintih Susan dalam diam karena mulutnya dilakban.
Setelah melempar Susan, lelaki bertubuh gempal tersebut segera keluar dan mengunci pintu ruangan, membiarkan wanita muda itu tergeletak kesakitan.
Belum juga Susan menguasai dirinya, dia kembali dibuat terkejut mendapati seorang lelaki mudah tergeletak dengan darah kering hampir disekujur tubuhnya tak jauh dari tempatnya tergeletak sekarang.
“ Kelihatannya lelaki itu habis disiksa dengan kejam….”, batin Susan merasa ngeri waktu melihat wajah bonyok dan banyaknya darah yang sudah mengering ditubuh lelaki itu.
“ Tunggu….”, Susan terlihat mulai merangkak mendekat waktu menyadari jika lelaki tersebut tak asing baginya.
“ Tidak mungkin !!!....”, batin Susan berteriak.
Susan sama sekali tak menyangka jika lelaki dengan wajah hancur dan mengenaskan tersebut adalah kekasih yang kabur meninggalkannya.
“ Kenapa dia bisa ada disini ?...bukankah dia kabur dariku ?....”, batin Susan binggung.
__ADS_1
“ Atau…dia diculik sama denganku….”, batin Susan berspekulasi.
Cukup banyak pertanyaan yang ada dalam benaknya saat ini. Tapi mengingat jika lelaki itu pergi tanpa meninggalkan sehelai pakaianpun dirumah membuat hati Susan yang awalnya sedih menjadi muak.
“ Jadi dia kemungkinan tertangkap saat berusaha kabur…”, batin Susan sinis.
“ Kurasa, dia juga lah yang memberitahu keberadaanku dirumah itu….”, Susan terlihat mulai geram waktu menyadari jika kemungkinan besar yang memberitahukan tempat persembunyiannya adalah kekasihnya sendiri yang saat ini terbaring mengenaskan dilantai.
Menyadari fakta yang ada, seketika Susan kembali panik. Jika benar hanya dia dan kekasihnya yang ada dalam ruangan ini dan ditangkap maka kemungkinan besar ini ada hubungannya dengan Caterine.
“ Oh tidak !!!...aku tidak mau mati sekarang !!!....”, batin Susan kembali berteriak.
Kedua mata Susan bergerak cepat kesana kemari, berusaha mencari celah dalam ruangan agar dia bisa melarikan diri dari tempat ini.
Jika semua pikirannya benar, maka yang menculiknya dan sang kekasih kemungkinan besar adalah Stevanus, calon suami Caterine.
“ lebih baik berada dipenjara daripada harus ditangkap lelaki kejam itu….”, Susan terlihat meracau dalam hati sambil ketakutan.
Diapun bergerak ngesot menuju sebuah paku yang tertancap di tembok ujung ruangan. Rencananya dia akan menggunakan paku tersebut untuk menyayat tali yang mengikat tangannya.
Belum juga usahanya berhasil, pergerakan Susan terhenti waktu pintu ruangan mulai terbuka. Diapun langsung terbelalak waktu melihat siapa yang masuk kedalam ruangan dengan wajah ketakutan.
“ Benar dugaanku…iblis itu yang membawaku kesini….”, batinnya ketakutan.
Stevanus yang melihat musuhnya bergerak mundur dengan wajah ketakutan tersenyum senang. Bukan wajah tampan yang terlihat waktu lelaki itu tersenyum, tapi lebih seperi malaikat pencabut nyawa.
Itulah yang ada dalam benak Susan saat ini. Siapapun sangat tahu jika Stevanus sangatlah kejam dan sama sekali tak berperasaan jika berhadapan dengan musuh – musuhnya.
Meski tahu resiko ini akan dia hadapi, namun Susan sama sekali tak menyangka jika Stevanus akan turun tangan sendiri menghadapinya.
Stevanus menatap Susan dengan rasa sakit dan penuh kebencian. Sakit waktu melihat air mata menetes diwajah cantik calon istrinya waktu dia kesakitan karena obat yang disuntikkan wanita tersebut kedalam infusnya.
Dan dia berjanji dalam hati akan membalas rasa sakit yang diterima oleh istrinya berkali – kali lipat kepada wanita keji yang ada dihadapannya itu.
Glekkk…
__ADS_1
Susan terlihat menelan ludahnya beberapa kali waktu melihat tatapan tajam dan membunuh yang dilayangkan Stevanus kepadanya.
“ Kurasa hidupku akan berakhir disini….”, batin Susan pasrah.