
Pagi ini mentari seakan enggan untuk menampakkan wajahnya dan lebih memilih bersembunyi dibalik awan mendung yang melewatinya.
Suasana syahdu hari ini begitu mengena dihati dua insan manusia yang sudah memutuskan untuk berpisah dan menjalani hidup masing – masing seperti sedia kala sebelum pertemuan diantara keduanya terjadi.
Meski hatinya sedih, namun Stevanus tetap melakukan aktivitas rutinnya setiap pagi. Membuat kopi dan memakan sandwich tuna yang baru saja dibuatnya sendiri.
Dia memakan semuanya dengan cepat dan bergegas pergi ke Wiratmadjah Enterprise untuk bertemu dengan beberapa klien penting pagi ini.
Bersama pengacara yang ditunjuk oleh keluarga Caterine, Ratna sebagai managernya Caterine benar – benar melakukan seperti apa yang diucapkannya semalam.
Selain, memutuskan kontrak untuk menjadi kekasih palsu Stevanus gadis tersebut juga memutuskan semua kontrak kerjasamanya dengan Wiratmadjah Enterprise.
Setelah melakukan semua hal tersebut Caterine pun untuk sementara waktu menghilang dari media sosialnya dan dunia keartisannya.
Untung saja belum ada film baru yang dilakoninya sehingga gadis ini memutuskan untuk fokus pada sidang skripsi yang sebentar lagi akan dijalaninya.
Semua anggota keluarganya mensupport dan selalu menghiburnya agar gadis itu tidak terlalu lama larut dalam kesedihan hatinya.
Setidaknya ini adalah hal baik yang bisa putri mereka lakukan saat ini. Dalam kondisi seperti ini Aldebaranlah yang selalu mendampingin Caterine.
Aldebaran yang mengetahui jika kondisi gadis tersebut sedang tidak baik – baik saja berupaya untuk menjadi sahabat terbaik bagi Caterine.
Sikap Aldebaran yang tidak buru – buru dan memaksakan perasaannya ternyata membuat Caterine cukup nyaman bersama lelaki tersebut.
Stevanus yang melihat jika Caterine sengaja menghilang dari dunia entertainment dan segala macam aktivitasnya semakin merasa frustasi.
Kini dia tidak bisa lagi menstalking akun media social gadis itu karena sama sekali tidak ada unggahan atau story apapun semenjak keduanya putus.
Meski hal itu hanya sepihak karena sampai saat ini Stevanus masih menganggap jika Caterine adalah kekasihnya.
Stevanus yang selama ini selalu berwajah datar dan bersikap dingin sekarang lebih tak tersentuh lagi setelah tak ada Caterine dalam hidupnya.
Nicholas dan Fani yang beberapa kali mencoba untuk mencairkan suasana dibuat tak berkutik dengan kata – kata pedas dan tajam yang Stevanus berikan kepada keduanya.
Sejak malam itu, Stevanus sama sekali tidak pulang ke rumah. Dia lebih nyaman berdiam diri di rumah pantai yang dibangunnya untuk Caterine untuk mendinginkan hati serta kepalanya.
Ditemani segelas anggur, Stevanus memandang deburan ombak dilaut dari atas balkon kamarnya yang berada dilantai dua.
“ Tidak…aku tak boleh menyerah. Secepat mungkin aku harus mendapatkan hatinya kembali…”, guman Stevanus tajam.
__ADS_1
Dia merasa saat ini hatinya terasa kosong, seperti rumah ini yang sepi tanpa ada penghuni yang seharusnya mengisi kekosongan tersebut.
Hembusan angin pantai yang dingin membuat Stevanus beranjak masuk kedalam kamar. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh area dimana banyak kenangan indah dia lewati bersama Caterine.
Diatas ranjang, dia mengingat bagaimana keduanya membaca buku sambil mencengkrama hangat berdua. Menceritakan hal – hal ringan tentang kegiatan apa saja yang mereka lakukan hari itu.
Bahkan disana mereka kadang mentertawakan hal – hal sepele yang terjadi dalam keseharian mereka dengan hati bahagia.
Saat matanya menatap meja rias didalam kamar, disana masih tertata rapi semua make up dan cream perawatan wajah sang kekasih yang memang ditinggalkan dirumah ini.
Jadi kapanpun Caterine ingin datang berkunjung ke rumah pantai, dia tidak perlu membawa perlengkapannya.
Bahkan baju – bajunya juga masih tergantung rapi didalam almari. Begitu juga dengan tas, sepatu dan jam tangan yang biasa dia gunakan.
Semuanya masih tertata rapi dan tersimpan didalam walk in closet dalam kamarnya. Begitu juga dengan semua perlengkapan mandi yang ada disana.
Stevanus mencium aroma sabun mandi yang menguar dari dalam kamar mandi begitu dia menggosok giginya sebelum tidur.
Aroma yang begitu menenangkan dan membuat hatinya menghangat. Namun semua itu tiba – tiba saja hilang tak berbekas hanya menyisakan kekosogan jiwa dan kehampaan.
Didalam kamarnya, Caterine juga merasakan hal yang sama. Rasa rindu ini begitu menyiksa dirinya. Beberapa kali dia melihat layar ponselnya, berharap ada pesan masuk dari Stevanus.
Caterinepun berusaha untuk mengatasi kegalauan hatinya demi menjaga perasaan orang tuanya agar tidak khawatir terhadap dirinya.
Tak terasa sudah satu minggu Caterine berpisah dengan Stevanus dan hari ini dia sudah bersiap dengan pakaian hitam putih dengan jas almamater yang mengantung ditanganya menunggu giliran masuk.
Tiga sahabat baiknya beserta Aldebaran dengan setia menemani Caterine menunggu giliran masuk ke dalam ruang sidang.
“ Aku yakin kamu bisa…semangat ya…”, ucap Aldebaran sambil memegang kedua tangan Caterine yang dingin karena gugup.
Stevanus yang berdiri tak jauh dari tempat tersebut mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras melihat keakraban Caterine dengan Aldebaran.
Fani yang menemani kakaknya datang kekampus Caterine terlihat mengusap bahu Stevanus pelan agar kakaknya tersebut bisa meredam emosinya untuk sesaat.
“ Sabar…sekarang bukan saatnya emosi seperti ini….”, hanya itu yang bisa Fani ucapkan untuk mendinginkan hati kakaknya saat ini.
Dengan hati berdebar – debar, Caterine masuk kedalam ruang sidang waktu namanya dipanggi. Diluar semua orang terlihat berwajah tegang menunggu pintu ruangan tersebut terbuka.
Dua puluh menit telah berlalu, namun tanda – tanda Caterine akan keluar sama sekali tak terlihat. Hal tersebut membuat Stevanus menatap cemas pintu berwarna coklat tersebut.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, smeua orang langsung berdiri untuk menyambut Caterine yang keluar ruangan dengan wajah lesu.
Semua orang terlihat menyamangati Caterine, apapun hasil yang didapatkan dalam sidang kali ini mereka akan selalu memberi support untuknya.
“ Ak….aku…aku LULUS !!!.....”, teriak Caterine senang.
Semua orang terlihat bersorak bahagia dan langsung memberinya ucapan selamat. Begitu juga Stevanus yang terlihat sangat lega mendengar gadisnya itu lulus dengan nilai sempurna.
Dengan gagah Stevanus berjalan menghampiri Caterine yang dikerumuni oleh teman – teman seangkatan dengannya yang kebetulan ada di situ.
“ Siapa itu ?...”
“ Wah…tampan sekali….”
“ Dia menuju kearah Caterine….”
“ Apa dia actor ?...”
“ Lihat !!!...dia membawa bunga….”
“ Apa dia kekasihnya ?...”
Masih banyak lagi bisik – bisik waktu Stevanus melangkah menuju kearah Caterine bersama Fani sang adik.
Saat tiba di dekat Caterine, Stevanus yang sedikit ragu untuk melangkah segera didorong oleh adiknya hingga tubuhnya langsung menubruk Caterine.
“ Selamat ya….”, ucap Stevanus gugup.
Diapun segera memberikan bungga dan kado yang dibawanya. Caterine terlihat sangat terkejut sekaligus senang melihat mantan kekasih pura – puranya itu datang untuk memberikan ucapan selamat kepadanya.
“ Terimakasih….”, ucap Ctaerine sambil tersenyum lebar.
“ Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin mentraktirmu makan siang sebagai hadiah karena lulus dengan nilai sempurna…”, ucap Stevanus penuh harap.
“ Maaf, Caterine sudah di tunggu keluarganya di restoran X sekarang….”, ucap Aldebaran menimpali.
Belum juga Caterine manjawab, Aldebaran sudah mengandeng tangan gadis itu agar segera menjauh dari hadapan Stevanus.
Ketiga sahabat Caterine pun mengikuti dari arah belakang berusaha untuk membuat sahabatnya itu tetap melihat kedepan agar tidak terpengaruhi oleh kedatangan Stevanus yang nantinya akan membuat keluarganya kembali khawatir.
__ADS_1
Stevanus yang melihat gadisnya pergi merasa sangat kecewa. Dengan langkah gontai, diapun segera meninggalkan area kampus diikuti Fani yang menatap sedih sang kakak dari arah belakang.