BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
KESALAH PAHAMAN


__ADS_3

Hari ini Caterine berencana untuk menghabiskan waktu liburnya hanya dengan bermalas - malasan diatas tempat tidur.


Mengistirahatkan badan dan pikirannya yang sudah diforsir penuh untuk bekerja selama beberapa hari terakhir.


" Sudah lama aku tidak bersantai seperti ini ", gumannya sambil mulai menarik kembali selimut yang ada dikakinya hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya.


Tapi ketenangan yang dirasakan oleh Caterine tidak berlangsung lama setelah ponselnya tiba - tiba mulai bergetar.


Drt.....drt.....drt....


Awalnya Caterine ingin mengabaikan panggilan tersebut, tapi saat dia melihat di layar ponsel muncul nama Stevanus, dengan malas diapun mulai mengangkat panggilan tersebut.


" Pagi sayang...", sapa Stevanus ceria.


" Pagi...hoam....", ucap Caterine sambil menguap.


" Baru bangun...", tanya Stevanus lembut.


" Iya...", jawab Caterine lirih.


" Nanti, jam sebelas siang aku jemput ya, kakek kangen sama kamu katanya ", ucapnya lagi.


" Ok...", jawabnya singkat.


" Kalau kamu...kangen nggak sama aku ", ucap Caterine menggoda.


" Nggak....kan baru tadi malam ketemu " , ucap Stevanus ganti mengoda kekasihnya itu.


" Kok gitu sih....", ucapnya kesal.


"Jam sebelas kamu sudah harus siap, aku jemput diapartemen ", ucapnya datar dan langsung menutup telepon.


" Apaan sih....bikin mood buruk aja ", ucap Caterine sebal dan langsung melempar ponselnya kesembarang arah.


Karena kesal, ngantuk yang tadi datang tiba - tiba menghilang.


Caterine hanya bisa membolak - balikkan badan tanpa bisa tidur kembali.


"Arrrcccchhh.......", teriaknya kesal.


Dengan rambut acak - acakan, diapun mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah bersih dan wangi Caterine mulai melangkah menuju dapur karena perutnya sudah bernyanyi minta diisi.


Niat hati ingin menghabiskan waktu dengan bermalas - malasan di tempat tidur, namun apalah daya kekasih hatinya itu telah merusak hari libur yang sudah dinantikannya.


Untuk menghilangkan perasaan yang sudah terlanjur memburuk dipagi ini, Caterine akhirnya mulai memasak untuk menghilangkan rasa sebal yang ada.


Sementara itu di Wiratmadja Enterprice, diruang kerjanya Stevanus terlihat tersenyum - senyum sendiri membayangkan raut muka kesal Caterine waktu menjawab teleponnya tadi.


"Kenapa dia sangat mengemaskan seperti itu ...", gumannya lirih.


Wajah Stevanus sekarang terlihat merah merona membayangkan betapa imut dan mengemaskan kekasihnya itu saat sedang kesal terhadapnya.


Nicholas yang sudah berada diruang kerja Stevanus sejak dari tadi terlihat sangat khawatir dan cemas melihat raut muka sahabatnya itu yang sedikit berwarna merah.


" Kamu demam...", ucap Nicholas cemas sambil menyentuh kening Stevanus dengan punggung tangannya.


"Tidak panas....tapi kenapa mukamu merah " , ucapnya binggung sambil bolak - balik mengarahkan punggung tangannya ke kening Stevanus dan keningnya sendiri.


" Keluar kamu....menganggu saja " , ucap Stevanus ketus.


"Asal kamu tahu....aku masih belum memaafkan tindakan yang kamu lakukan bersama kekasihku selama aku tidak ada ", ucapnya datar.


Stevanus sengaja menekankan kata Kekasih agar sahabatnya tersebut mengingat dengan jelas bahwa Caterine adalah kekasihnya.


Melihat kejutekan Stevanus, Nicholas hanya mampu menghembuskan nafas dengan kasar tanpa bersuara.


Tidak ingin berlama - lama dengan sahabat yang membuatnya kesal beberapa hari ini, Stevanus segera meninggalkan ruang kerjanya untuk meeting bersama timnya mengenai proyek yang baru saja didapatkannya.


Nicholas yang ditinggalkan begitu saja oleh Stevanus hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya.


Dia sama sekali tidak menyangka kalau sahabatnya akan merajuk seperti itu kepadanya.


Setelah Stevanus pergi, Nicholas pun segera beranjak dari sofa untuk kembali keruangannya.


Saat hendak keluar tiba - tiba ada wanita cantik yang berlari dan memeluknya dengan sangat erat hingga Nicholas sedikit kesulitan bernafas.

__ADS_1


" le....lepaskan ", ucapnya tergagap.


"Maaf...aku memelukmu terlalu erat ya ", cicit Fani polos.


" Kamu dan kakakmu sama saja ", ucap Nicholas sedikit kesal dengan kelakuan Fani.


Nicholas kemudian segera berlalu begitu saja tanpa menghiraukan kehadiran Fani yang ada didepannya.


Beberapa kali kata maaf keluar dari mulut wanita itu tapi tidak dihiraukan olehnya.


Nicholas tetap berjalan menuju ruang kerjanya dan menutup pintunya begitu saja hingga Fani harus menghentikan langkah kakinya secara tiba - tiba agar tidak menabrak pintu.


" Kenapa sih dia selalu dingin padaku ", ucap Fani sambil menghentak - hentakkan kakinya karena kesal.


Mira, sekretaris Nicholas yang melihat Fani marah hanya bisa tersenyum tipis.


Memang begitulah bosnya terhadap wanita, cuek dan dingin.


" Nona yang sabar ya, pak bos memang seperti itu dari dulu ", ucap Mira mencoba menenangkan Fani.


" Aku tahu...tapi entah kenapa hati ini selalu sakit diperlakukan seperti itu " , curhatnya.


Dengan enggan diapun meninggalkan ruangan Nicholas dan segera menuju ruang kerja kakaknya.


Sambil menunggu sang kakak, Fani memainkan ponsel yang ada ditangannya.


Sudah banyak permainan yang dia mainkan dan di medsosnya tidak ada yang menarik membuat Fani mulai merebahkan tubuhnya di sofa karena bosan.


Saat matanya mulai terpejam, tiba - tiba Fani dikagetkan oleh suara Stevanus yang sudah berada di depannya.


" Ngapain kesini...", tanya Stevanus datar.


Fani yang masih belum sadar secara penuh hanya bisa mengerjapkan mata berulang kali sambil mengumpulkan nyawanya.


" Nggak kakak....nggak Nicholas...semua sama saja ", guman Fani sebal.


" Kenapa sih kalian keliatan nggak seneng banget aku kesini. Padahal secara hukum aku masih punya hak disini, karena aku salah satu pemegang saham diperusahaan ini, jadi wajar dong kalau aku kemari ", cerocos Fani meluapkan isi hatinya.


Stevanus yang melihat kekesalan dari adik kembarnya tersebut hanya bisa tersenyum geli.


" Kamu mau kakak cepat menikah tidak...", bisik Stevanus tiba - tiba.


Mendengar hal itu Fani langsung melotot karena terkejut dengan pertanyaan yang kakaknya ucapkan.


" Apa yang bisa aku bantu....", ucap Fani bersemangat


Meski dirinya sempat kesal dengan kakaknya itu, namun mendengar kata pernikahan membuat hatinya berbungga - bungga.


" Akhirnya, sebentar lagi aku bisa menikah dengan kekasihku ", batinnya gembira.


Selama ini Fani tidak bisa menikah dengan kekasihnya sebelum kakak kembarnya itu menikah.


Hal tersebut sudah menjadi tradisi didalam keluarganya bahwa adik dilarang untuk mendahului kakaknya.


Awalnya Fani sempat frustasi karena selama ini sang kakak tidak pernah menunjukkan tanda - tanda bahwa dirinya memiliki kekasih.


Hingga Fani sempat mau memutuskan hubungannya dengan sang kekasih, tapi niat tersebut diurungkannya saat beberapa bulan yang lalu sang kakek memberitahunya bahwa kakak kembarnya tersebut telah memiliki seorang kekasih.


Hati Fani terasa sangat berbungga - bungga mendengar kabar tersebut.


Makanya, waktu kakaknya tersebut ke New York dia bertekad untuk ikut dengan sang kakak saat kembali ke tanah air.


Fani segera membulatkan matanya saat sang kakak mengutarakan semua rencana yang telah disusunnya.


" Kakak serius mau melakukan itu...", ucapnya masih tak percaya dengan ide gila sang kakak.


" Kamu tahu kan kalau aku benci sesuatu yang mudah, apalagi ini kisah cintaku. Aku ingin lebih berwarna " , ucapnya serius.


" Tapi kalau hasilnya jauh dari harapan kakak, aku tidak mau menanggung resikonya ya...", ucapnya khawatir.


"Tenang saja...semua sudah kuatur, tidak akan jauh dari prediksiku ", ucapnya yakin.


" Semoga kali ini kakak tidak salah" , ucap Fani menasehati.


" Kapan kakakmu ini pernah gagal " , ucap Stevanus bangga.


" Ya sudahlah....kamu segera berangkat ke rumah kakek sekarang. Kakak mau menjemput calon kakak iparmu dulu " , ucapnya sambil berlalu.

__ADS_1


Fanipun segera beranjak mengikuti langkah kaki kakak kembarnya hingga sampai di bawah.


Mereka berpisah saat sudah sampai di parkiran mobil.


Fani segera melajukan mobilnya ke rumah sang kakek sedangkan Stevanus kearah apartemen Caterine.


Ting tong.....ting tong.....


" Iya...sebentar...", ucap Caterine sambil membukakan pintu apartemennya.


" Kok masih belum siap...", ucap Stevanus sambil menggerutkan dahinya saat melihat Caterine masih menggunakan celana pendek dan kaos oblong kebesarannya .


" Ini masih kurang seperempat jam lagi...", ucapnya sambil berlalu.


Caterinepun segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar untuk menganti pakainnya dengan dress selutut tanpa lengan.


"Sudah...ayo berangkat " , ucap Caterine sambil mengambil tas yang sudah disiapkannya di sofa ruang tamu.


Mereka berdua segera beranjak dari apartemen Caterine menuju rumah kakek Stevanus.


Selama perjalanan Stevanus terus melirik kekasihnya yang hari ini kelihatan sangat cantik sekali.


" Sudah foku lihat depan ", ucap Caterine yang sedikit risih ditatap terus oleh kekasihnya itu.


" Emang aku nggak boleh liat kekasihku sendiri " , ucap Stevanus sambil tersenyum semanis mungkin.


" Awas lepas itu mata " , ucap Caterine jutek.


Melihat kekasihnya mulai marah, Stevanus pun tertawa terbahak - bahak.


Hal tersebut tentu saja membuat Caterine semakin sebal.


" Kenapa sih ini orang ini mulai pagi sudah bikin aku bĂȘte terus " , batin Caterine sebal.


Caterine yang lagi sebal segera memalingkan mukanya untuk melihat pemandangan diluar mobil.


Stevanus yang melihat kekasihnya mulai diam dan tidak mau menatap dirinya akhirnya ikut terdiam dan tidak lagi mengodanya.


Susana hening terus bertahan hingga mobil memasuki halaman rumah keluarga Wiratmadjah.


" Sudah sampai...", ucap Stevanus sambil membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.


Fani yang melihat kedatangan mereka dari balik kaca jendela kamarnya yang ada di lantai dua hanya tersenyum simpul.


" Jadi pacarnya kakak itu Caterine artis pendatang baru itu ", guman Fani pelan.


" Kuharap dia cerdas dan tahu bahwa ini hanyalah permainan kakak....", gumannya lagi.


Kemudian Fani segera turun kebawah untuk menjalankan misinya.


Dengan gaya centilnya dia mulai mendekati kakak kembarnya yang baru saja masuk ke ruang tamu.


" Kok baru datang sih...aku sudah menunggu dari tadi ", ucap Fani dibuat semanja mungkin sambil bergelayut di lengan kanan sang kakak.


Caterine yang melihat ada wanita cantik menempel pada kekasihnya sedikit merasa cemburu.


Hatinya bertambah panas saat Stevanus yang biasanya cuek terhadap wanita malah menanggapi wanita centil tersebut.


" Caterine....tarik nafas....sabar...", batin Caterine berusaha menenangkan diri agar cemburu tidak menguasainya.


Meski sedikit dipaksa, dia berusaha untuk tersenyum dan bersikap sewajar mungkin.


Sebagai artis professional, tentunya bukan hal sulit bagi dirinya untuk ber acting didepan banyak orang.


Meski rasanya sakit, tapi dia berusaha untuk menahannya dan terlihat baik - baik saja.


Stevanus yang tidak melihat kemarahan diwajah sang kekasih atas tindakannya bermesraan dengan adik kembarnya, sedikit kecewa.


Justru sang kakek lah yang merasa tidak enak dan mengajak cucunya itu untuk berbicara di luar ruangan.


" Apa - apaan kamu....mau berulah lagi...", ucap sang kakek penuh amarah sambil memukul lengan Stevanus dengan keras.


" Aku hanya ingin melihat dia cemburu....itu saja, tidak ada maksud lain ", ucap Stevanus berusaha untuk menghindar dari pukulan sang kakek.


" Awas saja kalau kamu sampai buat cucu menantuku sedih...akan kubunuh kamu ", ancam sang kakek sambil berlalu pergi.


Stevanus yang melihat amarah sang kakek hanya bisa nyengir kuda dan mengaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

__ADS_1


__ADS_2