BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
PENJELASAN


__ADS_3

            Caterine yang dibawa pergi secara paksa oleh Stevanus terlihat sangat marah. Dia sama sekali tidak mau duduk didekat laki – laki yang menjadi kekasih pura – puranya itu.


            Bahkan hidangan makan malam yang sudah disiapkan sama sekali tidak disentuhnya. Hal tersebut membuat Stevanus hanya bisa mengelus dada.


“ Makanlah…”, ucap Stevanus lembut.


“ Aku tidak lapar…”, ucap Caterine ketus.


“ Aku tahu kamu tadi hanya makan sedikit, pasti sekarang lapar kan…”, ucap Stevanus dengan senyum mengoda.


“ Aku kehilangan selera makan saat tiba – tiba ada orang tak bertanggung jawab merusak acara makanku ”, ucap Caterine sinis.


            Mendengar hal itu Stevanus hanya tersenyum, melihat kekasihnya itu merajuk diapun segera mengeluarkan jurus rayuannya.


            Bukannya membaik, justru Caterine semakin marah dengan rayuan yang dilontarkan oleh Stevanus kepadanya.


“ Sudahlah…aku mau tidur aja lagi…”, ucapnya sambil berjalan ke arah sofa dan menarik selimutnya.


            Diapun segera memejamkan mata untuk menghindari berbicara dengan Stevanus. Melihat hal itu, Stevanus hanya bisa menghembuskan nafas secara berlahan dan membiarkan kekasihnya itu beristirahat.


“ Sudahlah…jika kupaksa lagi dia pasti akan bertambah marah…”, batin Stevanus sedih.


            Sementara itu, Caterine sedikit cemas memikirkan keadaan Aldebaran yang menderita beberapa luka akibat pukulan Stevanus diwajah dan perutnya.


“ Bagaimana keadaannya sekarang ya…”, batin Caterine cemas.


“ Kuharap kak George tidak akan marah dengan kejadian ini ”, batinnya lagi.


                Setelah menempuh perjalanan hampir tiga belas jam akhirnya Caterine dan Stevanus tiba di sebuah pulau kecil tak berpenghuni.


“ Bangun sayang…kita sudah sampai…”, ucap Stevanus sambil mengusap pipi Caterine dengan lembut untuk


membangunkannya.


“ Hmmm….”, guman Caterine sambil mengerjapkan kedua matanya berkali – kali.


            Melihat kekasihnya tersebut masih belum ada niatan untuk beranjak dari sofa, Stevanuspun mulai berbuat jail.


            Dikecupnya bibir lembut kekasihnya itu berulangkali hingga membuat Caterine terkejut dan langsung bangun serta mendorong tubuh Stevanus agar menjauh darinya.


“ Dasar mesum…”, ucap Caterine kesal.


            Diapun mulai melihat kearah luar, saat ini dirinya berada diatas pulau berbentuk hati dan pesawat secara perlahan – lahan mulai mendekati pulau itu.


“ Ini namanya pulau cinta…aku khusus membelinya untukmu ”, bisik Stevanus pelan.


            Hembusan nafas hangat Stevanus ditelinganya membuat bulu kudu Caterine meremang seketika. Entah kenapa rasanya dia seperti tersengat arus listrik tekanan rendah saat ini.


            Agar tidak terjadi hal – hal yang diinginkan, Caterine mulai menjauh dari Stevanus karena saat ini dirinya masih dalam mode ngambek.


            Untuk itu dia tidak akan dengan mudah membiarkan laki – laki tampan itu mendekatinya sebelum ada penjelasan yang keluar dari mulutnya.


            Stevanus yang melihat kekasihnya tersebut menghindar hanya tersenyum kecil. Diapun dengan jail mulai mendekati Caterine, tapi terus saja dihindari oleh gadis cantik itu.


“ Baiklah….sekarang puas – puasin ngehindar. Sesampainya dipulau, aku pastikan kamu tidak bisa lari lagi ”, batin Stevanus tersenyum licik.


            Setelah pesawat mendarat dipangkalan, Caterine segera melangkah keluar disusul oleh Stevanus. Ada sebuah mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka.


            Setelah masuk kedalam mobil, supir segera melajukan mobil menuju vila yang cukup meawah yang tidak terlalu jauh letaknya dari pangkalan.


“ Apa maksudmu membawaku kemari…”, tanya Caterine tidak senang.


“ Kita bicara didalam ”, ucap Stevanus yang langsung mengenggam tangan Caterine masuk kedalam vila dua lantai itu.


            Sedangkan sang sopir yang sudah mendapatkan istruksi dari majikannya segera meninggalkan vila, membiarkan dua sejoli tersebut berduaan didalam vila.

__ADS_1


“ Duduklah…”, perintah Stevanus.


            Caterinepun menuruti semua permintaan laki – laki tampan itu. Cukup lama mereka duduk tanpa ada seorang pun yang memulai pembicaraan. Meski malas, akhirnya Caterine mulai buka suara karena dirinya sudah tidak ingin berlama – lama ditempat ini.


“ Cepat katakan, apa tujuanmu…”, ucap Caterine tajam.


“ Kenapa kamu menghindariku…”, tanya Stevanus langsung.


“ Menurutmu…”, Caterine balik bertanya.


            Stevanus hanya bisa menghembuskan nafas dalam – dalam saat pertanyaannya tidak dijawab malah balik ditodong pertanyaan.


“ Apa yang ingin kamu ketahui ”, ucap stevanus pasrah.


“ Semuanya…”, jawab Caterine santai.


“ Bagian yang mana…”, tanya Stevanus lagi.


“ Terserah…kamu mau menjelaskan bagian yang mana dulu ”, ucap Caterine sambil mengangkat kedua bahunya dengan malas.


“ Baiklah…aku akan ceritakan semuanya…”, ucapnya pasrah.


            Stevanus pun segera menjelaskan semuanya kepada Caterine dengan harapan gadis tersebut tidak akan ragu lagi kepadanya.


            Dia tidak akan menutupi apapun terhadap gadis itu, dan mengungkapkan semua perasaan yang terpendam dalam hatinya secara jujur.


            Semula, Caterine cukup terkejut dan tidak percaya dengan semua perkataan laki – laki tampan yang sempat mencuri hatinya itu.


            Tapi setelah dipikir – pikir lagi dia mulai merasakan ketulusan dari sikap Stevanus selama ini kepadanya.


            Saat ini juga Stevanus juga menjelaskan sosok Fani yang merupakana saudara kembar tapi tidak identik dengannya.


            Mendengar hal ini, Caterine sedikit memicingkan matanya sebagai tanda bahwa dirinya masih ragu dengan semua perkataan Stevanus.


“ Sepulang dari sini aku akan membawamu bertemu keluargaku, kebetulan besok mami mau datang kesini, biar beliau yang menjelaskan ”, ucap Stevanus datar.


“ Ok…kuterima. Lalu, kapan kita pulang ”, ucap Caterine sambil beranjak dari tempat duiduknya.


“ Kita pulang besok siang…”, ucap Stevanus berjalan menghampiri Caterine yang berada didekat jendela


menikmati pemandangan di tepi pantai.


“ Baiklah…dimana kamarku, aku mau istirahat ”, ucapnya dengan tatapan masih kearah luar.


            Stevanus pun segera mengajak Caterine naik keatas untuk menunjukkan posisi kamarnya. Saat


dia hendak mengandeng tangan gadis itu, tiba – tiba saja tangannya dihempaskan begitu saja. Caterine berhenti dan membiarkan Stevanus berjalan didepannya.


“ Apa kamu masih marah…”, tanya Stevanus sambil membalikkan badannya.


“ Tidak…”, ucap Caterine acuh.


“ Lalu kenapa genggaman tanganku kamu lepas ”, ucapnya tak terima dengan perlakuan Caterine.


“ Sebaiknya kita seperti ini dulu hingga hatiku yakin terhadapmu ”, ucapnya lagi.


“ Bukankah kamu mencintaiku…”, todong Stevanus langsung.


“ Itu dulu…kalau sekarang…aku tidak bisa memastikannya…”, ucap Caterine acuh dan langsung berjalan naik mendahului Stevanus yang masih terdiam diatas tangga.


“ Kamarku yang sebelah mana…”, ucapnya saat sudah tiba diatas.


“ Sebelah kiri ”, jawab Stevanus singkat.


                Caterinepun langsung masuk kedalam kamar yang ditunjuk oleh Stevanus dan mulai masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan agar bisa segera beristirahat.

__ADS_1


            Karena tidak membawa baju ganti, Caterine tidur dengan memakai kimono mandinya tanpa memakai apapun didalamnya.


“ Pintunya sudah aku kunci…seharusnya tidak akan terjadi apa – apa kan…”, gumannya pelan.


            Karena tubuhnya terlalu lelah, tidak membutuhkan waktu lama Caterinepun sudah terbang kealam mimpi.


            Jika Caterine sudah tertidur nyenyak, lain halnya dengan stevanus yang masih mondar – mandir didalam kamarnya.


            Ingin rasanya dia masuk kekamar yang ada di sampingnya, namun dia urungkan niat itu mengingat kekasihnya itu masih mengabaikannya.


“ Aku tidak menyangka jika hasilnya akan seperti ini ”, guman Stevanus dengan wajah sedikit frustasi.


            Meski sempat terkejut, namun wajah datar Caterine yang tidak menunjukkan emosi apapun saat Stevanus memberikan penjelasan tadi membuatnya sedikit kalang kabut.


            Padahal dia memprediksi bahwa kekasihnya itu akan marah sekaligus sedih sehingga dia bisa menenangkannya dan pada akhirnya mereka bisa berbaikan seperti sedia kala.


            Tapi ternyata prediksinya meleset, justru wajah Caterine yang datar dan tidak adanya kata yang terucap selama dia menjelaskan membuat Stevanus semakin binggung.


“ Aku harus bagaimana supaya dia bisa memaafkanku dan membuatnya yakin lagi terhadapku ”, batin Stevanus cemas.


            Sementara itu George yang mendengar adiknya dibawa kabur oleh Stevanus dari Aldebaran terlihat sangat marah.


            Dia sama sekali tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh kekasih adiknya itu. Untuk itulah hari ini dia berniat mendatangi keluarga Wiratmadjah secara langsung.


            Namun sebelum itu, dia ingin menemui Ratna manajer adiknya itu. dai ingin mengorek semua keterangan mengenai hubungan antara adiknya dengan Stevanus yang menurutnya ada sedikit kejanggalan.


            Ratna yang hampir dua minggu ini tidak berhubungan dengan artisnya itu atas permintaan Caterine yang ingin fokus menyelesaikan tesisinya sebelum kembali syuting sedikit terkejut dengan kedatangan George di


apartemennya.


“ Masuk kak….”, ucap Ratna mempersilahkan.


“ Ada masalah apa lagi ini, kenapa muka kak George serem gitu…”, batin Ratna ngeri.


            Tanpa basa – basi Georgepun langsung memberondong Ratna dengan berbagai macam pertanyaan seputar hubungan adiknya dengan Stevanus.


            Ratna awalnya masih bisa mengelak atas semua pertanyaan George, namun tekanan yang diberikan oleh kakak sulung Caterine tersebut seakan mengintimidasinya maka Ratnapun akhirnya mulai  menceritakan semuanya.


            Tentang hubungan palsu antara dirinya dan Stevanus serta beberapa kali pertengkaran yang terjadi diantara mereka karena kepossesifan kekasih pura – pura artisnya itu hingga masalah wanita yang hadir ditengah –


tengah hubungan palsu tersebut.


            Dengan wajah bersalah, Ratna juga mengatakan bahwa pada awalnya dialah yang mendorong Caterine dengan Stevanus agar peran yang dilakoninya penuh penjiwaan.


            Tapi tidak disangka ternyata caterine secara perlahan memiliki rasa terhadap Stevanus yang berujung hubungan palsu tersebut.


“ Jadi keinginan dia untuk menikahi Caterine juga adalah skenarionya…”, ucap George geram.


“ Ka….kalau hal itu saya kurang tahu ”, ucap Ratna sedikit terkejut mendenagr bahwa Stevanus akan menikahi Caterine setelah lulus.


“ Tidak akan kubiarkan dia main – main dalam hubungan sakral seperti itu ”, ucap George dengan wajah merah akibat menahan amarah.


           baginya pernikahan bukalah sesuatu yang bisa dibuat mainan karena hubungan langsung dengan Tuhan dan akan dilakukan sekali seumur hidup. Ingin rasanya dia menghajar habis – habisan Stevanus karena sudah mempermainkan keluarganya.


“ Ikut aku sekarang…”, ajak George dengan suara datar.


“ Kemana kak…”, tanya Ratna cemas.


“ Sudah…jangan banyak tanya. Semua ini juga kesalahanmu kan…”, ucap George tajam membuat Ratna tidak


bisa membantah.


            Setelah berganti pakaian Ratna pun mengikuti George dari belakang. Dengan langkah cepat George segera menyuruh manajer adiknya itu untuk segera masuk kedalam mobil.


“ Kenapa perasaanku nggak enak ya…semoga saja ini bukan pertanda buruk ”, batin Ratna cemas.

__ADS_1


__ADS_2