BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
BALASAN SETIMPAL


__ADS_3

Dini hari, pada saat semua orang sedang bergelung dengan selimut hangat untuk mengusir udara dingin yang mulai masuk melalui sela – selam ruangan, Stevanus malah berkeringat setelah berhasil meluapkan amarah yang berkobar dalam dirinya.


Kondisi Susan saat ini lebih memprihatinkan dari pada kondisi sang kekasih. Jika lelaki mudah yang masih belum sadarkan diri tersebut dihajar oleh anak buah Stevanus dengan membabi – buta.


Lain halnya dengan Susan, Stevanus sendiri lah yang menyiksa gadis tersebut dengan kedua tangannya.


Suara jeritan dan rintihan kesakitan sama sekali tak didengar oleh Stevanus. Dia seakan menulikan indera pendengarannya dan terus menyiksa wanita tersebut dengan berbagai macam alat yang dibawanya dengan keji.


“ Biarkan aku mati !!!...biarkan aku mati saja daripada begini !!!....”, teriak Susan berurai air mata.


Dia lebih baik mati sekarang juga daripada terus menerus dianiaya seperti ini. Tubuh dan wajahnya kini penuh dengan darah akibat goresan benda tajam dan panas yang dilayangkan Stevanus kepadanya.


“ Tuang air garam keseluruh tubuhnya….”, perintah Stevanus tajam.


“ Achhhh…perih !!!!.....”, teriak Susan sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri karena tak kuat menahan rasa perih dan sakit yang ada.


Setelah Susan pingsan, barulah Stevanus menyudahi aksinya. Dengan perasaan puas, diapun segera pergi meninggalkan ruang penyiksaan itu dan segera membersihkan diri diruangan lain serta berganti pakaian sebelum dia kembali kerumah sakit untuk menjaga Caterine.


Stevanus cukup senang orang yang berusaha untuk menyakiti calon istri dan anaknya sudah berhasil ditangkap.


Meski begitu, Stevanus sama sekali tak mengurangi penjagaan ketat yang ada. Justru dia semakin menambah jumlah para bodyguard yang bertugas untuk menjaga Caterine dan calon bayi dalam kandungannya.


Stevanus sangat yakin, masih banyak musuh – musuhnya diluar sana yang sedang mentargetkan Caterine, terutama anak yang sedang dikandungnya itu.


Untuk itu, dia tak mau lenggah meski hanya sesaat. Stevanus yang sudah rapi dan wangi mulai berjalan menuju mobilnya, melajukannya dengan cepat kearah rumah sakit.


Stevanus yang melihat ada penjual buibur ayam, segera menepikan mobilnya dan membelikannya untuk sang kekasih.


“ Caterine pasti senang mendapatkan ini….”, batin Stevanus bahagia.


Dia kembali teringat tadi sebelum dirinya pergi, Caterine sempat minta dibawakan bubur ayam yang dijual abang – bang gerobak pinggir jalan.


Dan dia menemukannya tadi, tentu saja hal tersebut membuat Stevanus bahagia. Dia akan berupaya untuk memenuhi apapun yang Caterine inginkan selam kehamilannya ini.


Stevanus ingin merasakan masa – masa istrinya menginginkan sesuatu selama kehamilannya ini yang kata orang “ ngidam ".


Seaneh dan sesulit apapun permintaannya, Stevanus akan berupaya untuk memberikannya hanya sekedar bisa melihat senyum lebar diwajah calon istri yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


Stevanus tersenyum lebar saat melangkah masuk dan menyusuri koridor rumah sakit, membuat para perawat yang berpapasan dengannya terpesona dan tersipu malu.


“ Tampannya….”, begitulah benak setiap wanita yang berpapasan dengannya.


Namun sayang, senyum tersebut langsung pudar begitu dia mendapati maminya keluar kamar ruang rawat Caterine sambil terisak


“ Ada apa mi ?....bagaimana kondisi Caterine ?....”, tanya Stevanus panik waktu melihat ranjang Caterine kosong.


“ Caterine tadi kejang – kejang dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Dokter sedang menanganinya sekarang…..”, Bianca menjelaskan seluruh kejadian yang ada sambil terisak.


Ibu dan anak tersebut segera berlari menuju ruang tindakan dimana Caterine mendapat pertolongan.


Mereka berdua harus menunggu diluar ruangan dengan hati cemas karena dokter sedang melakukan pertolongan terhadap Caterine.


Sejenak, Stevanus berjalan sedikit menjauh dari maminya dan mulai menghubungi anak buahnya agar kembali menyiksa Susan dan kekasihnya begitu kedua sadar.


Stevanus menginstruksikan agar melakukan hal tersebut terus menerus kepada keduanya begitu mereka pingsan lagi.


“ Aku tak akan memberi kalian kematian yang mudah….”, batin Stevanus penuh amarah.


Sarah dan Chandra yang baru saja mendengar kabar jika Caterine kembali mengalami masa kritis segera bergegas menuju rumah sakit.


Chandra menampar Stevanus dengan keras hingga pipinya kemerahan. Meski begitu, dia sama sekali tak melawan dan membiarkan calon mertuanya itu meluapkan emosinya.


“ Mana tanggung jawabmu !!!...katanya mau menjaganya !!!....”, teriak Chandra penuh amarah.


Sarah langsung mengelus dada suaminya, berusaha untuk menghilangkan amarah lelaki tersebut agar tak sampai menghajar Stevanus.


“ Pa….sabar. Caterine akan sedih jika melihat papa begini….”, ucap Sarah lembut.


Melihat sudah banyak orang yang menyaksikkan keributan yang dibuatnya, dengan berat hati Chandra pun duduk bersama sang istri sambil menatap tajam kearah Stevanus.


Sedangkan Bianca terlihat membawa anaknya sedikit menjauh agar tak terjadi perkelahian disituasi yang tak kondiusif ini.


Keempat orang tersebut hanya diam menunggu pintu ruangan terbuka dengan hati penuh kecemasan.


Begitu pintu terbuka, keempat orang tersebut langsung berjalan mendekat untuk mengetahui kondisi Caterine saat ini.

__ADS_1


“ Untungnya Caterine ditemukan tepat waktu sehingga racunnya belum sampai menyebar keseluruh tubuh….”,


“ Dan sebentar lagi pasien akan dibawa kembali keruang rawat karena kondisi kritisnya telah berakhir….”, ucap dokter tersebut menjelaskan.


“ Racun ?....”, tanya Stevanus penuh selidik.


“ Benar tuan, tampaknya ada seseorang yang memasukkan racun kedalam minuman nona Caterine…”, ucap dokter tersebut menjelaskan.


Stevanus terlihat mengepalkan tangannya dengan penuh amarah. Bagaimana bisa dia kembali kecolongan dengan penjagaan yang sangat ketat tersebut.


Tanpa banyak kata, diapun segera berjalan untuk melihat cctv yang dipasang didalam ruang rawat Caterine dari ponselnya dan menyuruh orang kepercayaannya untuk menginterogasi para bodyguardnya.


Dia sangat yakin ada seseorang yang mengkhianatinya mengingat penjagaan diruang rawat Caterine cukup ketat.


“ Bruno….”, guman Stevanus geram.


Meski dalam rekaman tersebut Bruno sudah sangat berhati – hati tapi ternyata gerak geriknya masih terlihat dengan jelas.


Untuk memastikan, Stevanupun kembali keruang rawat Caterine sebelum gadis tersebut dipindahkan.


Stevanus mengambil kamera kecil yang dia sembunyikan didalam vas bunga yang ada dalam ruangan tersebut.


Sejak fencana pembunuhan menimpah Caterine, Stevanus memang menaruh beberapa kamera kecil didalam ruang rawat calon istrinya tersebut agar bisa dia pantau setiap saat.


Stevanus mengeram marah waktu melihat semua hal yang dilakukan Bruno terhadap air minum kekasihnya itu.


Diapun segera menyuruh orang kepercayaannya untuk menangkap Bruno sebelum lelaki tersebut berhasil melarikan diri.


Bruno yang berhasil ditangkap dan dihajar di tempat eksekusi milik Stevanus hanya tersenyum sinis.


Dia meludah waktu melihat Stevanus datang mendekatinya sambil memberikan tatapan merendahkan dan pandangan jijik.


Bughhh…bughhh….bughhh….


Stevanus menghajar anak buah yang berani mengkhianatinya itu dengan membabi buta hingga wajahnya hancur dan tulang – tulangnya patah.


Stevanus terlihat sangat marah waktu dia sama sekali tak mendapati penjelasan apapun dari Bruno hingga tiba – tiba saja lelaki tersebut merenggang nyawa setelah berhasil mengigit racun disela – sela lidahnya.

__ADS_1


“ Sial !!!..aku belum mendapatkan apapun darinya !!!….”, Stevanus langsung menghempaskan kasar tubuh yang sudah tak bernyawa tersebut dengan geram.


__ADS_2