BAHAGIA BERSAMAMU

BAHAGIA BERSAMAMU
MURKA


__ADS_3

Acting Caterine yang semakin hari semakin bagus membuat sutradara memberikan apreasi tersendiri.


Wajah Caterinepun mulai berseliweran dilayar kaca televisi lewat beberapa iklan yang telah dibintanginya.


Hal tersebut tentunya membuat hati Isabella semakin panas.


Gadis cantik yang sangat iri hati terhadap kesuksesan Caterine tersebut melakukan berbagai cara untuk membuat gadis itu kesusahan dan celaka.


Tapi beberapa kali usahanya untuk mencelakai Caterine selalau gagal. Dan hal tersebut membuatnya semakin geram.


" Kali ini aku tidak boleh gagal, harus berhasil " , ucap Isabella dengan tangan mengepal menahan amarah.


Untungnya kali ini dia tidak memiliki adegan yang mengharuskannya bersama Caterine, sehingga dia bebas melaksanakan rencananya.


Pandangannya terus menatap tajam kearah Caterine dengan wajah tidak senang.


Satu....dua...tiga..... adegan telah dilalui gadis itu dengan baik. Dan seperti biasa, semua adegan hanya dilalui dalam satu kali take, tidak ada pengulangan.


" Sebentar lagi kamu akan lenyap ", ucap Isabella tersenyum lebar.


Saat Caterine sedang beradegan romantis dengan Adit diruang tamu, tiba - tiba lampu gantung yang tepat berada diatasnya jatuh. Dan hal tersebut tentu saja membuat semua kru tampak panik.


Tapi untungnya kondisi Caterine tidak terlalu serius karena pada saat kejadian Stevanus yang kebetulan berada disana melihat lampu yang hampir jatuh segera berlari dan mendorong Caterine agar terhindar dari musibah.


Caterine dan Stevanus segera dilarikan kerumah sakit karena terkena beberapa sepihan pecahan kaca yang menancap ditangan dan kakinya.


Nicholas yang berada ditempat kejadian terlihat sangat marah kepada semua kru dan menyuruh anak buahnya untuk segera menyelidiki kejadian yang ada.


Melihat rencananya telah gagal, Isabella segera meninggalkan lokasi syuting dengan ketakutan.


" Bagaimana ini....bagaimana jika aku ketahuan ", ucap Isabella ketakutan.


"Tidak....kamu harus tenang Isabel. Tenang... Sekarang kamu pulang dan pura - pura tidak tahu apa - apa ", batinnya cemas.


Dengan cepat, gadis itu meninggalkan lokasi syuting menuju mobilnya dan segera melarikannya meninggalkan gedung.


Isabella tidak mengetahui kalau semua gerak - geriknya tadi dilihat oleh seseorang yang mulai tersenyum licik.


" Akhirnya aku bisa menghancurkanmu Isabella...", ucap sosok misterius itu tertawa lebar.


" Aku akan membuatmu merasakan apa yang dulu aku rasakan " , ucapnya sambil tertawa dengan keras.


Sosok misterius itupun langsung meninggalkan gedung untuk mencetak beberapa gambar yang sudah diambilnya tadi.


"Kali ini kamu akan benar - benar berakhir " , ucapnya bahagia dan langsung meninggalkan gedung dengan motor sport merahnya.


Sementara itu di rumah sakit terlihat Caterine beberapakali meringis menahan sakit setiap kali perawat mengambil kaca yang menancap di lengannya.


" Untungnya wajahmu tidak apa - apa " , ucap Ratna cemas.


" Ini sepertinya bukan kecelakaan biasa, melihat banyaknya kecelakaan kecil yang kamu alami akhir - akhir ini ", ucapnya lagi dengan dahi yang dikerutkan.


" Apa maksud ucapanmu...?", tanya Stevanus penuh selidik.

__ADS_1


" Akhir - akhir ini Caterine sering saja sial tanpa sebab. Tiba - tiba dilantai ada sabun sehingga Caterine terpeleset. Tertusuk jarum yang ada di baju yang hendak dipakainya. Terkunci ditoilet, tersiram air panas, dan kecelakaan kecil lainnya " , ucap Ratna menjelaskan.


"Jangan berpikir terlalu jauh. Itu terjadi mungkin karena aku kurang berhati - hati saja " , ucap Caterine berusaha berpikiran positif.


" Tapi itu sama sekali tidak wajar ", ucap Ratna kesal karena Caterine yang masih saja terlihat santai menanggapi peristiwa yang baru saja hampir menghilangkan nyawanya.


Saat kedua orang sahabat itu sedang bertengkar, Stevanus terdiam berpikir tentang semua peristiwa yang diceritakan oleh Ratna.


Dalam pikirannya, Stevanus membenarkan semua yang diucapkan oleh Ratna. Kejadian ini bukanlah suatu hal yang biasa.


Istingnya mengatakan ada hal yang aneh disini, seperti ada sesuatu yang menganjal.


Bruakkk....


Pintu ruang unit gawat darurat (UGD) di buka dengan kasar.


Terlihat Dave berjalan dengan wajah tegang menuju adiknya berada.


" Tenang saja, ini tidak akan membekas nantinya. Aku sudah konsultasi dengan dokter kulit terbaik di rumah sakit ini ", ucap Dave lembut sambil melihat luka adiknya.


" Mana lagi yang sakit ...", ucap Dave sambil meniup luka yang ada dilengan adiknya.


" Kakak tidak mengatakan apapun kepada kak George dan mami kan...", tanya Caterine panik.


"Jika mereka sudah tahu, apa rumah sakit ini bisa setenang sekarang" , ucap Dave lembut.


" Benar juga, jika ada mereka tentunya tidaka akan setenang sekarang ", batin Caterine membenarkan ucapan sang kakak.


" Aku ada operasi sebentar lagi. Ratna jaga adikku dengan benar " , ucap Dave menatap tajam kearah manajer Caterine.


" Baik kak..." , ucap Ratna sambil menunduk.


"Aku tidak ingin mendengar kabar buruk seperti ini lagi ", bisik Dave pelan ditelingga Ratna sehingga membuatnya bergidik ngeri.


Setelah Dave meninggalkan ruangan, semua orang bisa bernafas dengan lega, terutama perawat yang lagi mengobati Caterine.


Karena mereka tahu bagaimana protektifnya seorang Dave terhadap adik bungsunya itu.


Melihat bagaimana Dave memperlakukan Caterine membuat Stevanus tidak senang.


Meski dia adalah kakak kandungnya, tapi dirinya tidak rela gadisnya disentuh oleh laki - laki manapun selain dirinya. Karena gadis itu adalah miliknya.


" Kurasa, aku harus segera meresmikan hubungan ini. Aku ingin semua orang mengetahui bahwa dia adalah MILIKKU...", batin Stevanus mantap.


Setelah selesai diobati, Ratna pulang dengan mobilnya, sedangkan Caterine diantar oleh Stevanus.


Selama perjalanan mereka berdua hanya diam membisu hingga tidak terasa mobil sudah sampai di basemant.


" Apa aku boleh mampir sebentar " , tanya Stevanus lembut.


" Tentu saja..." , ucap Caterine gembira.


Sesampainya didalam Stevanus mengamati apartemen yang tidak terlalu besar itu.

__ADS_1


Hanya terdapat dua kamar tidur dengan dapur minimalis disamping ruang tamu yang disekat dengan ruang santai yang menghadap kearah balkon.


Ruangan dengan warna dominan coklat yang menenangkan. Setelah mengambilkan minum, Caterinepun duduk di sofa bersama Stevanus.


" Kenapa kamu tidak pernah cerita kepadaku ", ucap Stevanus memecah kesunyian dengan raut muka tidak senang.


" Cerita soal apa...?" , tanya Caterine binggung.


" Soal beberapa kejadian yang kamu alami " , ucap Stevanus sambil menatap Caterine tajam.


" Ohh...itu bukan hal yang perlu dibahas ", ucap Caterine datar.


" Lagipula hal tersebut dulu juga sering terjadi , bahka lebih parah ", ucapnya lagi dengan wajah sedih.


" Maksudmu dulu kamu pernah mengalami kejadian seperti ini ", tanya Stevanus dengan wajah cemas dan penasaran.


" Ya....diawal karirku. Selain mereka menfitnaku mereka juga mencoba membunuhku berkali - kali. Tapi karena tidak ada bukti kuat, jadi pelaku tidak bisa ditangkap ", ucap Caterine sedih.


"Tapi semuanya sudah diatasi oleh kakak - kakakku. Dan setelah itu, Ratna lebih selektif dalam memilih peran yang akan aku mainkan. Sehingga meminimalisir musuh yang nantinya akan mencelakaiku. Itu syarat yang diberikan oleh kakak ku agar aku tetap berada didunia ini ", ucap Caterine menjelaskan.


" Mulai sekarang, ada masalah sekecil apapun kamu harus mengatakannya padaku. Aku nanti yang akan membereskannya, jadi kamu bisa fokus pada karir dan kuliahmu ", bisik lembut Stevanus sambil memeluk erat Caterine.


Caterine yang diperlakukan secara tiba - tiba seperti itu cukup terkejut, tapi dirinya juga sangat bahagia mendapat perhatian seperti itu dari Stevanus.


" Apakah kamu benar - benar mau menjadi pacarku yang sebenarnya...", tanya stevanus sambil mengenggam kedua tangan Caterine dengan tatapan penuh harap.


" Tentu saja aku mau...", ucap Caterine dengan mata berbinar - binar.


" JIka kamu sudah menerimanya, kamu tidak akan kuijinkan untuk mundur ", ucap Stevanus mulai berdiri sambil menatap gadis didepannya dengan tatapan tajam.


" Kurasa kamu sudah pernah dengar rumor tentang diriku, bahwa aku dominan dalam segala hal. Begitu juga terhadap pasanganku. Jika kamu bersedia menjadi kekasihku, maka seluruh kehidupanmu akan aku atur. Jika kamu tidak bersedia, aku memberimu kesempatan sekarang untuk mundur " , ucap Stevanus sambil berjalan menuju kearah balkon.


"Tidak.....aku tidak akan mundur apapun konsekuensinya ", ucap Caterine sambil memeluk Stevanus dari belakang.


Stevanus yang mendengar perkataan Caterine hatinya terasa hangat. Perlahan dilepaskannya pelukan kekasihnya itu dan dia mulai berbalik.


" Apa kamu yakin...", tanya Stevanus sambil memegang lembut pipi Caterine lagi dan dijawab anggukan oleh gadis itu.


" Kamu tidak menyesal...", tanyanya dengan tatapan tajam dan lagi - lagi dijawab anggukan oleh Caterine.


" Terimakasih...", ucapnya sambil memeluk Caterine dengan erat.


" Aku janji akan mencari tahu semuanya dan tidak akan membiarkanmu terluka" , bisiknya dengan lembut.


" Sekarang aku pulang dulu. Kamu segera istirahat....Besok kamu tidak usah syuting sampai kondisimu benar - benar pulih " , ucap Stevanus membelai lembut kepala Caterine.


" Iya, kamu juga hati - hati dijalan" , ucap Caterine lembut sambil mengantar Stevanus ke pintu depan.


Setelah meninggalkan apartemen kekasihnya, Stevanus segera menghubungi Nicholas untuk mengetahui perkembangan tentang kejadian yang baru dialami Caterine dan semua kejadian kecil yang menimpanya akhir - akhir ini.


Dia berjanji tidak akan pernah melepaskan orang yang telah menyebabkan gadis yang dicintainya tersebut terluka.


" Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani menyentuh milikku ", batin Stevanus penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2