
Dalam kesunyian malam, Aldebaran memejamkan kedua matanya duduk diatas kursi malasnya sambil mendengarkan suara alunan music yang lembut untuk menenangkan jiwa.
Dia kembali mengingat setiap detail laporan yang diberikan oleh anak buahnya siang tadi. Meski hatinya merasa senang, namun jejak kekhawatiran tak lepas dari wajahnya.
Aldebaran senang melihat Alando mulai jatuh dalam jebakan yang telah dibuatnya bersama Caterine.
Tapi dilain sisi, dia khawatir jika Alando nantinya akan jatuh cinta dengan Caterine karena kemiripannya dengan sang adik.
“ Stevanus….hanya dia solusiku saat ini…”, guman Aldebaran perlahan membuka kedua bola matanya.
Diapun segera mengambil ponsel diatas meja dan mengirimkan sebuah pesan kepada Ratna yang bisa membuat sahabat Caterine tersebut mengkerutkan kening sangat dalam untuk sesaat.
Ratna terlihat menimbang – nimbang sejenak permintaan Aldebaran tersebut. Pikiran negative mulai singgah di kepalanya, membuatnya sedikit khawatir.
Hingga satu pesan yang kembali masuk kedalam ponselnya membuat ratna akhirnya memutuskan untuk mengabulkan permintaan Aldebaran.
“ Sudahlah….biarkan mereka menyelesaikan permasalahan mereka sendiri….”, ucap Ratna acuh.
Tringgg…..
Aldebaran menyunggingkan senyuman waktu melihat Ratna memenuhi permintaannya setelah sempat sedikit mengancamnya tadi.
Jika bukan karena rencana balas dendam yang sudah sangat lama di susunnya tersebut, Aldebaran tidak akan mungkin mau merendahkan diri dengan mengajak Stevanus berbicara empat mata dengannya.
Stevanus sedikit terkejut waktu mendapatkan pesan dari Aldebaran. Dia sangat tahu, cepat atau lambat keduanya harus memperjelas semuanya agar tidak kembali menimbulakn kesalah pahaman.
Bukankah tujuan utamanya ke negeri paman Sam ini selain untuk kembali mendapatkan hati gadis yang sangat dicintainya dia juga ingin memperjelas hubungan yang ada.
Agar kejadian dimasa lampau tidak kembali terulang dan menyebabkan penyesalan yang cukup dalam dibelakang.
Caterine yang baru saja datang dari toilet tanpa sengaja membaca pesan yang sedang dibalas oleh Stevanus dan langsung menegur kekasihnya itu.
“ Kamu tidak mengiyakan ajakan Aldebaran untuk bertemu kan ?....”, tanya Caterine cemas.
“ Kenapa tidak….”, ucap Stevanus santai.
“ Tidak….kalian tidak boleh bertemu hanya berdua saja….”, ucap Caterine dengan nada sedikit tinggi.
Dia khawatir kejadian buruk terakhir kali pertemuan antara keduanya kembali terjadi. Dia tidak mau dua lelaki yang cukup berharga dalam hidupnya tersebut terluka.
Stevanus yang mengerti akan kekhawatiran sang kekasih langsung mengenggam kedua tangan Caterine sambil berkata “ Kamu jangan khawatir….semua akan baik – baik saja….”.
Meski Stevanus sudah mengatakan hal tersebut dengan penuh keyakinan, namun hati Caterine masih belum merasa tenang.
“ Cepat atau lambat, aku dan Aldebaran pasti akan bertemu. Ini semua demi kelancaran hubungan kita…”, ucap Stevanus berusaha meyakinkan kekasih hatinya itu.
“ Baiklah…tapi aku harus ikut…”, ucap Caterine keras kepala.
“ Tidak…ini masalah lelaki. Aku tidak ingin melibatkanmu dalam permasalahan kali ini…”, ucap Stevanus tegas.
__ADS_1
Meski Caterine sangat keras kepala, tapi Stevanus lebih keras kepala lagi. Tidak ingin ada pertengkaran pada hubungan yang kembali dimulai tersebut, Caterinepun akhirnya mengalah.
“ Terimakasih...kali ini aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu….”, ucap Stevanus sambil mengecup pelipis Caterine dengan penuh kasih sayang.
Keduanya pun kembali menikmati makan malam outdorr mereka dengan hati bahagia. Saling bertukar cerita dan mulai membahas sedikit tentang masa depan.
Sementara itu ditanah air, Bianca mulai berusaha untuk mendekati Sarah dengan ikut aktiv kedalam beberapa organisasi amal dan komunitas yang mami Caterine tersebut ikuti.
Pada awalnya mama Stevanus tersebut sedikit kesulitan untuk mendekati Sarah yang terlihat selalu menghindar setelah mengetahui jika Bianca adalah menantu Wiratmadjah, mama dari lelaki yang telah membuat hati putri bungsunya sakit dan terluka.
Namun Bianca tak mau menyerah, demi kebahagiaan sang putra diapun memasang wajah tembok untuk bisa mendekati Sarah.
Nyatanya usaha Bianca tersebut tak sia – sia. Sarah akhirnya mau bertegur sapa dengannya meski hanya beberapa kata tiap kali keduanya bertemu.
Hal tersebut Bianca anggap sebagai kemajuan yang cukup pesat mengingat jika wanita anggun tersebut pasti masih sakit hati akibat perbuatan sang putra terhadap Caterine.
Keesokan harinya Stevanus menemui Aldebaran di sebuah café tak jauh dari apartemen Caterine berada.
Meski pada awalnya dia enggan untuk membantu rencana Aldebaran tapi ketika hal tersebut sudah menyangkut tentang Caterine, tanpa ragu Stevanus langsung menyetujui.
Sedikit banyak dia tahu mengenai Hubert Company dan siapa saja sosok berpengaruh dibelakangnya.
Menurutnya, Aldebaran terlalu berani memprovokasi keluarga Hubert meski dia sangat tahu resiko yang dihadapinya sangatlah besar.
" Menghadapi orang – orang berkuasa dan licik seperti Hubert sekeluarga tidak bisa hanya menggunakan strategi biasa seperti itu.Kita harus bisa lebih licik dari mereka jika ingin menghancurkannya, meski hal tersebut tidaklah mudah mengingat Hubert memiliki sandaran cukup kuat dinegara paman Sam ini....", ucap Stevanus menjelaskan.
“ Rencanamu terlalu polos, ini tak cukup untuk mengancurkan perusahaan raksasa itu….”, ucap Stevanus pedas.
“ Aku hanya ingin semua orang yang ikut andil meninggalnya Laura mendapatkan balasan yang setimpal….”, ucap Aldebaran penuh api kebencian.
“ Jika itu tujuanmu, fokus disitu….”, Stevanuspun langsung meminta nama – nama yang dicurigai oleh Aldebaran memiliki andil dalam kematian Laura.
Stevanus tersenyum sinis waktu melihat nama istri dari Alando Hubert, mantan kekasih adiknya tersebut ternyata adalah gadis yang selama ini sedang dia cari.
“ Pantas saja tidak ketemu, ternyata dia bersembunyi dibalik Hubert….”, batin Stevanus miris.
Perlahan darah di tubuh Stevanus kembali mendidih waktu mengingat apa yang telah wanita tersebut perbuat kepada keluarganya hingga menyebabkan papanya menghilang hingga sekarang.
“ Kamu fokus pada Alando dan perkembangan rencanamu. Untuk Jesslyn Clow dan yang lainnya biar aku yang tangani…”, ucap Stevanus pelan namun penuh dengan penekanan.
Aura yang dikeluarkan oleh Stevanus membuat tubuh Aldebaran menggigil seketika. Dia tak menyangka jika kekasih Caterine ternyata menyeramkan seperti itu.
Untung saja sekarang lelaki tersebut sudah menjadi sekutunya, jika menjadi musuh entah apa yang akan terjadi pada dirinya di masa depan.
Didalam apartemen, Caterine terlihat sangat cemas menunggu kabar dari Stevanus. Sebenarnya tadi dia sudah berupaya menyelesaikan cepat pekerjaannya secepat mungkin dan menyusul Aldebaran.
Tapi sayangnya, langkahnya sedikit terlambat dan mobil yang dikendarai Aldebaran sudah menghilang dibalik padatnya lalu lintas yang ada.
Ceklekkk….
__ADS_1
Caterine langsung berlari waktu melihat kekasihnya muncul dari balik pintu. Diapun segera mengecek seluruh bagian tubuh Stevanus, untuk memastikan tidak ada luka disana.
“ Sudah kubilang, semua akan baik – baik saja dan teratasi dengan damai…”, ucap Stevanus tersenyum lebar.
“ Syukurlah….”, ucap Caterine lega.
Diapun segera membawa kekasihnya itu keruang tengah bergabung bersama Ratna disana.
Ketiganya segera bercengkrama dengan hangat dan sama sekali tak membahas mengenai pertemuan kekasihnya itu dengan Aldebaran.
“ Mungkin aku saja yang terlalu banyak berpikir….”, batin Caterine mulai tenang.
Stevanus cukup menghargai keputusan Caterine untuk tak bertanya apapun kepadanya.
Diamnya sang kekasih ini adalah wujud kepercayaan gadis tersebut terhadap setiap tindakan dan keputusan yang telah diambilnya.
Inilah salah hal yang membuat Stevanus semakin sayang kepada Caterine. Gadis tersebut selalu bisa bersikap dewasa dan bijak terhadap setiap permasalahan yang datang.
Sikap tenang dan kepercayaan yang diberikan oleh Caterine kepadanya menurut Stevanus adalah dasar bagi setiap hubungan agar bisa berjalan harmonis.
Kesalahannya dulu hanyalah satu, dia sama sekali tak mempertimbangkan keberadaan dua keluarga yang akan menyatu jika mereka menikah.
Bagi Stevanus, keluarga adalah pelengkap dan kedua pasangan yang menjalin hubungan tersebut adalah yang utama.
Tapi ternyata hal tersebut salah. Meski kedua insan yang menjalin hubungan adalah yang utama, tapi peran serta keluarga juga sangat berpengaruh akan kelancaran dan keharmoniasn suatu hubungan.
Dan kali ini, dia tidak akan melakukan kesalahan tersebut untuk kedua kalinya.
Dia akan membuktikan kepada seluruh anggota keluarga Caterine jika dirinya layak dan pantas untuk bersanding dengan sang kekasih.
Jika semua orang merasa sedikit tenang malam ini, lain halnya yang dirasakan Alando saat ini. Sejak kemunculan sosok Laura palsu kehidupannya pun perlahan mulai ada perubahan.
Bahkan Alando sekarang terlihat enggan untuk menyentuh sang istri karena bayangan wajah Laura akan selalu muncul dibenaknya.
Membuat moodnya seketika turun secara drastis. Jesselyn tentu saja merasa binggung dengan perubahan sikap suaminya yang tak biasa tersebut.
Namun setelah mendengar jika ada beberapa proyek sedang mengalami permasalahan serius, akhirnya dia berusaha untuk memahaminya.
Baginya, dengan diangkatnya sang suami dikursi pimpinan menggantikan sang ayah adalah hal yang paling dia tunggu selama ini.
Dan untuk mempertahankan hal tersebut, dia sama sekali tak boleh membuat kesalahan sekecil apapun karena posisi tersebut masih baru didapatkan oleh suaminya.
Tentunya banyak pasang mata yang sedang mengawasi mereka saat ini dan menunggu lengah agar bisa menjatuhkannya.
Jesslyn pun segera membuang jauh – jauh rasa kecewa dalam hatinya akan perubahan sikap sang suami dan bertekad untuk terus mendukungnya sehingga posisi tinggi tersebut tidak tergeser hingga diwariskan kepada sang putra, Mattew Hubert.
“ Tenanglah Jesslyn…jangan sia – siakan semua kerja kerasmu selama ini….”, batin Jesslyn bermonolog.
Diapun segera bangkit dari tempat tidurnya dan mulai mengambil obat tidur didalam laci yang akhir – akhir ini kembali dikonsumsinya agar bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Jesslyn harus mempertahankan penampilan sempurnanya dipagi hari agar suaminya tidak sampai berpaling kepada yang lain.