
Sekarang Shinta dan juga keluarga nya sudah di perjalanan. Shinta hanya diam sejak tadi dia tenggelam dengan pikiran nya sendiri.
" Sayang, malam ini kamu nginap di rumah yah." Ujar Fahira.
" Benar kata bunda, mending kamu nginap di rumah bunda dulu.
Apa lagi sekarang sudah malam, rumah kamu jarak nya lumayan jauh." Ujar Dewi ikut menimpali.
" Baik lah bun." Jawab Shinta. Lebih baik mengiyakan saja dari pada berdebat dengan bunda nya, karena percuma saja dia ngak akan pernah menang.
Akhir nya Malam ini dia memutuskan menginap di rumah orang tua nya, karena kalau dia langsung pulang ke rumah nya jarak nya lumayan jauh dari lokasi nya sekarang ini. Apa lagi sekarang hari sudah mulai malam. Dan dia juga ngak bawa mobil sendiri.
Bukan nya dia takut, tapi kalau dia pikir- pikir ngak ada salah nya untuk malam ini dia menuruti keinginan bunda nya.
Dia juga kangen pengen ngumpul bareng kedua orang tua nya.
Shinta memang selama menikah dengan Gio sudah jarang pulang ke rumah Ayah dan bunda nya. Di karena kan keluarga nya memang kurang menyukai Gio, terutama sang Ayah yang memang menentang kuat hubungan Shinta dengan Gio. Karena demi kebahagiaan putri bungsu nya itu pak Brama terpaksa merestui hubungan mereka.
Setelah satu jam lebih di perjalanan, akhir nya mereka sampai di rumah utama. Rumah yang menyimpan banyak kenangan indah bagi shinta. Setelah mobil berhenti mereka pun keluar dari dalam mobil tersebut, ketiga wanita beda usia itu melangkah berdampingan menuju pintu masuk.
Sedang kan Brama dia memasukan mobil nya di tempat biasa.
Kemudian dia juga menyusul ketiga wanita kesayangan nya itu untuk masuk kedalam rumah.
Sesampai di dalam ketiga wanita itu sudah di sambut oleh ART yang bekerja di rumah itu.
" Selamat malam nyonya, non Dewi, non Shinta." Sapa kedua ART itu dengan ramah.
" Malam bi Jum, bi Ira." Jawab mereka serentak.
Dulu ada tiga orang ART yang bunda fahira kerjakan di rumah nya untuk bantu-bantu. Setelah Shinta menikah dia menyuruh putri nya itu membawa serta bi Imah yang merupakan pengasuh Shinta dari kecil untuk membantu di rumah nya. Sehingga sekarang hanya tinggal bi jum dan juga bi Ira yang masih setia bekerja dengan bunda fahira.
" Kalian bersihkan diri sana gih, habis itu kita makan malam." Ujar bunda fahira kepada ke dua putri nya itu.karena sebentar lagi sudah waktu nya makan malam.
Shinta dan juga dewi segera beranjak menuju kamar nya masing-masing untuk membersihkan diri mereka.
Sesampai di kamar nya Shinta menghempaskan bokong nya ke ranjang empuk itu, dia memperhatikan keliling ruangan itu. Tidak ada yang berubah semua nya masih sama seperti dulu ketika dia masih tinggal di rumah ini.
Shinta merebahkan tubuh nya di kasur empuk itu, hari ini dia benar-benar lelah.
Setelah membaringkan tubuh nya sebentar, dia beranjak dan segera menuju kamar mandi.
Setelah selesai dengan kegiatan nya dia pun turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama dengan keluarga nya.
Dan terlihat di sana Ayah, bunda serta Dewi kakak nya sudah menunggu di meja makan.
Shinta pun segera bergabung dengan mereka, dia menarik kursi kosong untuk nya duduk. Mereka makan dalam keheningan, tidak ada yang bersuara itu memang sudah menjadi aturan dalam keluarga nya sejak dulu.
Bahwa tidak ada yang boleh mengobrol saat makan.
Selesai makan mereka berpindah keruang santai untuk sekedar mengobrol sebentar.
" Shin, mereka yang tadi siang itu siapa?" Tanya Dewi dengan wajah penasaran.
Sedangkan bunda nya hanya menjadi pendengar saja, sebenar nya,dia juga penasaran sama seperti Dewi. Shinta menoleh ke arah mereka, lalu menghela napas nya.
" Mereka yang mana.?" Tanya Shinta sambil melihat ke arah kakak nya.
"Itu lo Shin, yang bawa Gio sama Gund*k nya
Tadi siang." Ucap nya dengan mengerucut kan bibi nya. Gi mana ngak kesal di saat kita lagi penasaran setengah mati eh bukan nya jawaban yang di dapat, malah mendapatkan pertanyaan balik.
Sedangkan Shinta terkekeh melihat tingkah kakak nya.
" Ngak usah masang wajah cemberut kayak gitu, nanti cepat keriput ingat umur." Ucap Shinta masih dengan kekehan nya.
Sedangkan Dewi Wajah nya semakin cemberut bahkan bibir nya sudah monyong mendengar nya.
Bunda fahira hanya menggeleng kepala melihat tingkah kedua putri nya itu. Tingkah yang sudah lama tidak dia lihat dari kedua putri nya selama Shinta menikah, dan baru hari ini dia melihat nya kembali.
__ADS_1
" Itu Alex, teman aku kak" ujar Shinta. Sambil menyandarkan kepala nya ke sandaran sofa.
Shinta tidak mengatakan yang sebenar nya ke keluarga nya itu.
Dia tidak ingin keluarga nya khawatir, tunggu waktu yang tepat baru dia mengatakan nya.
" Owch." Dewi yang mendengar hanya ber oh ria saja,Pada hal tadi dia begitu penasaran Tapi itu jauh lebih baik menurut Shinta.
Karena jujur saat ini dia belum siap menceritakan semua nya.
Pikiran nya juga masih kacau karena pengkhianatan yang di lakukan oleh Gio Suami yang dulu pernah begitu dia percayai.
Ternyata menusuk nya dari belakang.
Karena terlalu asyik mengobrol tak terasa jam sudah menunjukan pukul 22:00 mereka pun memutuskan untuk istirahat.
Shinta menuju kamar nya begitu juga dengan yang lain.
Sesampai di kamar wanita itu langsung merebahkan tubuh nya di ranjang tak butuh waktu lama dia pun terlelap.
Pagi hari nya shinta bangun dan segera kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini dia ingin ke restoran, untuk memantau perkembangan restoran milik nya itu. Dia keluar dari kamar lalu turun kelantai bawah, di meja makan sudah ada bunda fahira yang lagi sibuk menata makanan bersama ART nya.
Shinta menghampiri wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu, dan menyapa nya.
" Pagi bund." Ucap nya.
" Pagi sayang, udah bangun.?" Jawab wanita itu sambil tangan nya masih sibuk menata makanan di atas meja.
" Ada yang bisa Shinta bantu bunda.?" Tanya shinta.
" Ngak usah nak, bunda sebentar lagi beres.kamu duduk aja dulu di situ." Ucap wanita itu dengan lembut.
" Ayah sama kak Dewi mana bund.?" Tanya shinta sambil celingukan melihat ke sana kemari.
" Mereka belum turun, mungkin sebentar lagi."ujar nya.
Salah satu ART menghampiri nya.
" Non, mau minum apa biar bibi buatkan.? Tanya art yang bernama Ira itu.
" Boleh bi, tolong buatkan saya coklat panas saja bi." Ucap shinta sambil ter senyum kearah bi Ira.
" Baik non, bibi kebelakang dulu." Ucap nya kemudian dia segera berlalu ke dapur.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki menuruni anak tangga.
Shinta melihat ke sumber suara itu, di sana terlihat Dewi kakak nya baru saja turun dari lantai atas. Dia kembali fokus ke layar ponsel nya.
Sedangkan Dewi dia langsung menghampiri Shinta di meja makan, dia menarik kursi kosong untuk nya duduk.
"Kamu mau kemana Shin?" Tanya nya sambil memperhatikan penampilan adik nya.
" Aku mau ke restoran." Jawab Shinta.
Dewi hanya mengangguk, shinta kembali fokus ke layar ponsel nya
Bunda fahira keluar dari dapur menghampiri kedua putri nya di ikuti sama bi Ira dari belakang.
" Non, ini coklat panas nya." Dia meletakan dua gelas coklat panas di depan Shinta dan Dewi, kemudian dia pamit kembali ke belakang untuk meneruskan pekerjaan nya.
Bunda Fahira juga duduk di depan kedua putri nya, sambil menunggu sang Ayah turun mereka mengobrol ringan sambil sesekali bercanda.
" Waah lagi ngomongin apa sih, seperti nya seru." Suara berat seseorang yang langsung mengalihkan atensi mereka.
Mereka pun menoleh ke arah sumber suara tersebut, terlihat seorang pria paruh baya yang terlihat masih gagah berjalan menghampiri mereka. Bunda fahira menarik kursi untuk suami nya duduk.sedangkan Dewi dan Shinta hanya tersenyum melihat keharmonisan kedua orang tua nya.
" Pagi Ayah" sapa Dewi dan Shinta serempak.
__ADS_1
" Pagi putri-putri ayah." Sahut Brama sambil duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh istri nya.
Karena tidak ada yang harus di tunggu lagi akhir nya mereka sarapan pagi bersama sebelum mereka keluar untuk melakukan kesibukan masing-masing.
Mereka makan dalam hening seperti biasa nya, tidak ada yang bersuara hingga acara makan selesai.
" Shin, apa ngak sebaik nya kamu tinggal di sini sampai sidang perceraian kamu dan Gio selesai." Ucap pria paruh baya itu sambil melihat putri bungsu nya. Sekarang mereka sudah berada di ruang keluarga.
" Apa yang Ayah katakan itu benar Shin, sebaik nya kamu untuk sementara tinggal di sini dulu, Gio pasti akan mencari kamu ke rumah itu, apa lagi dia sudah tau kalau Gundik nya itu hanya memanfaatkan dia selama ini. Kalau kamu di sini kan dia tidak akan begitu berani memasuki rumah ini, setidak nya sampai kalian resmi bercerai." Bunda nya juga ikut menimpali.
mereka takut kalau Shinta tinggal di rumah nya yang selama ini di tinggali bersama Gio, takut nya pria itu mendatangi Shinta dan membuat wanita itu berubah pikiran.
Biar bagai mana pun pria itu pernah menjadi pria yang sangat dicintai oleh putri bungsu mereka itu.
Sedangkan Dewi hanya diam saja tidak ikut berkomentar.
Shinta terlihat memikirkan apa yang Ayah dan bunda nya katakan.
" Nanti Shinta pikirkan dulu deh, sekarang Shinta mau ke restoran dulu." Ucap wanita itu.
" oh ya udah, bagai mana perkembangan restoran kamu.?"
Tanya pria paruh baya itu.
" Seperti biasa yah, semua nya lancar."
Jawab Shinta, Brama hanya menganggukkan kepala nya.
" Yah, bunda, kak Dewi aku berangkat dulu." Ucap nya, sambil beranjak dari tempat duduk nya, meraih tas Selempang nya kemudian menyalami kedua orang tua nya.
" Ngak berangkat bareng ayah saja, ayah juga mau kekantor." Ucap brama.
" Shinta bawa mobil sendiri saja Yah, kantor Ayah sama restoran aku kan ngak se arah." Ucap nya.
" Ya udah, kamu hati-hati." Ucap Brama.
Yang di angguki oleh Shinta.
" Hati-hati di jalan sayang." Ucap bunda fahira terlihat raut khawatir di wajah wanita cantik itu.
"Iya bund." Jawab shinta, kemudian segera keluar dari rumah menuju mobil nya yang terparkir di depan rumah.
" Ngak usah khawatir, dia akan baik-baik saja. Percaya lah putri kita bukan wanita lemah." Ucap Brama menenangkan istri nya.
Fahira hanya mengangguk kan kepala mendengar ucapan suami nya.
" Ayah berangkat juga ya bund, udah siang nih." Ucap nya.
Cup, dia mengecup kening istri nya kemudian berlalu menuju mobil nya yang sudah terparkir di depan.
Setelah kepergian anak dan suami nya, fahira masuk kedalam rumah kemudian menutup pintu nya kembali.
Shinta saat ini sudah sampai di restoran milik nya,
Dia memarkirkan mobilnya di tempat biasa dia parkir. Setelah itu dia keluar dari mobil nya lalu berjalan memasuki restoran.
Drrtttt...
Ponsel dalam tas nya bergetar tanda ada pesan masuk, Shinta segera membuka tas nya lalu mengeluarkan benda pipih tersebut dan melihat siapa yang mengirim pesan untuk nya.
Dia berjalan masuk kedalam restoran milik nya dengan mata masih fokus ke benda pintar di tangan nya.
Bruukk..
Dia tiba-tiba menabrak benda keras di depan nya, sehingga hampir membuat dia terjengkang kebelakang.tapi seseorang dengan sigap menarik tangan nya, sehingga wanita itu sekali lagi membentur kan kepala nya di dada bidang seseorang yang dia tabrak.
Seketika aroma mint tercium dari tubuh orang itu.
Shinta yang masih syok belum menyadari kalau ternyata dia sedang berada dalam pelukan seseorang.
__ADS_1
" Ekheemm.."
.......BERSAMBUNG......