
" Apa anda salah minum obat? Kenapa senyum-senyum begitu seperti orang gila.?" Cetus Shinta dengan sinis.
Bara tidak mempermasalahkan ucapan Shinta barusan, dia malah masih setia memandang wajah Shinta dengan senyuman yang menurut Shinta aneh.
Hingga tiba-tiba bi Summi datang menghampiri mereka, tepat nya dia tengah mencari keberadaan Shinta, karena dia melihat makanan di atas piring Shinta seperti baru di makan beberapa suap saja.
Takut nona nya kenapa-kenapa jadi dia mencari wanita itu, siapa tau Shinta membutuhkan bantuan nya.
Tapi saat dia melewati ruang tamu, ternyata orang yang dia cari sedang kedatangan tamu rupa nya.
Tadi dia sedang di kamar mandi, jadi bi Summi tidak mendengar bel rumah berbunyi. Setelah selesai membereskan pekerjaan nya bi Summi langsung memasuki kamar nya sendiri untuk membersihkan diri. Setelah dia keluar, wanita paruh baya itu tidak menemukan keberadaan Shinta, dan dia melihat di atas meja makan, terlihat makanan yang terlihat baru di makan beberapa suap saja, dia jadi khawatir dengan ke adaan majikan nya itu.
Takut menu yang dia sajikan tidak di sukai oleh Shinta, jadi dia bermaksud mencari Shinta untuk menanyakan menu apa yang di inginkan oleh nona nya itu.
" Eh ada tamu ya, maaf non bibi ngak tau." Kata bi Summi.
Kemudian wanita itu hendak melangkah pergi dari sana, tapi Shinta memanggil nya.
" Bi Summi tunggu." Panggil Shinta, bi Summi menghentikan langkah nya, dan berbalik kearah Shinta.
" Iya, non butuh sesuatu.?" Tanya nya.
Shinta baru mengingat kalau dia belum menawarkan minuman untuk Bara, dia baru ingat sekarang Shinta jadi tidak enak."
" Tolong buatkan minum dan bawa ke sini ya bi." Kata Shinta, wanita itu beralih menatap Bara.
" Anda mau minum apa.?
Bara bukan nya menjawab malah menekuk wajah nya dengan cemberut.
Shinta yang melihat itu menaikan sebelah alis nya. 'ada apa dengan nya.' batin Shinta, dia tidak menyadari cara berbicara nya tadi membuat Bara langsung mengubah ekspresi wajah nya. Pada hal sudah sering Bara ingatkan agar Shinta tidak berbicara formal dengan nya.
Tapi wanita itu seperti tidak mengingat nya sama sekali, mungkin karena sudah terbiasa karena mereka memang rekan bisnis.
" Kau berbicara formal lagi." Kata Bara, dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.
Shinta menarik panjang napas nya kemudian membuang dengan perlahan.
" Kamu mau minum apa.?" Tanya nya, seketika Bara pun tersenyum mendengar itu.
" Apa aja deh." Jawab nya.
Shinta menganggukkan kepala nya, mengerti.
" Buatkan cappucino aja kasi nya bi." Kata Shinta sambil melihat bi Summi.
" Baik non, kalau gitu bibi tinggal kebelakang dulu."
Setelah ijin ke Shinta, bi Summi bergegas pergi ke arah dapur untuk menyiapkan permintaan Shinta.
Kini hanya tinggal Shinta dan Bara di ruang tamu.
Ke adaan menjadi hening, tidak ada di antara mereka yang memulai obrolan setelah kepergian bi Summi.
Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing- masing.
Hingga bi Summi kembali menghampiri mereka, untuk mengantarkan pesanan Shinta tadi.
" Ini non, minum nya." Ucap bi Summi.
" Taruh aja di meja sini bi." Jawab Shinta.
Bi Summi pun meletakan segelas minuman itu kedepan mereka berdua.
" Silakan di minum tuan." Ucap bi Summi sambil melihat ke arah Bara.
" Makasih bi." Ucap Bara, sambil sedikit menganggukkan kepala nya.
Setelah itu bi Summi kembali lagi ke dapur, meninggalkan Shinta dan juga Bara di sana.
Bara menyesap kan minuman nya sambil
__ADS_1
Sesekali melirik ke arah Shinta yang tengah memainkan ponsel nya, wanita itu tetap fokus ke layar hp nya. Dia bukan nya tidak tau kalau dari tadi Bara terus melirik nya secara diam-diam.
Shinta tau kalau Bara diam- diam menaruh perasaan kepada nya, tapi Shinta sendiri masih takut membuka hati nya kembali, apa lagi setelah pengkhianatan yang di lakukan oleh mantan suami nya.
Walau pun sudah beberapa bulan telah berlalu, tapi hati wanita itu seakan tertutup, untuk saat ini dia ingin menikmati ke sendirian nya dan fokus dengan perusahaan milik nya. Dia masih menutup rapat hati nya, untuk pria mana pun.
" Ran, kita keluar jalan-jalan yuk, kemana gitu. Inikan hari libur, dari pada di rumah ngak ngapa-ngapain juga." Ujar Bara sambil menoleh ke arah Shinta.
Shinta yang tengah asyik dengan ponsel nya, mengalihkan pandangan nya ke arah Bara.
Sebenar nya dia juga bosan, jadi dia terlihat tengah memikirkan saran Bara. Tiba-tiba dia teringat kalau dia belum mengunjungi panti asuhan yang dulu pernah dia datangi bersama Dewi kakak nya.
Dia jadi ingin pergi ke sana, siapa tau dia bertemu lagi dengan kayla, gadis kecil yang memberikan nya gelang waktu itu.
Di saat dia sedang memikirkan, akan kemana untuk menghabiskan waktu hari ini, tanpa Shinta sadari pandangan Bara tidak lepas dari wajah cantik nya.
'Mulai sekarang aku akan menjaga mu Ran, aku memang tak bisa berjanji untuk tidak membuat kamu terluka, tapi aku akan berusaha semampuku. Untuk menjaga mu agar kamu tidak terluka untuk yang kedua kali nya.
Aku akan berjuang untuk membuat kau bisa mencintai ku dan melupakan luka yang di torehkan oleh mantan suami mu itu. Walau pun saat ini, kamu belum bisa membalas perasaan ku.' batin nya.
" Benar juga sih kata mu, akan sangat membosankan kalau menghabiskan waktu sepanjang hari ini di rumah saja. Aku jadi ingin pergi ke suatu tempat." Ucap Shinta, tapi tidak mendapatkan respon dari Bara. Shinta yang merasa Bara tidak merespon ucapan nya, karena pria itu hanya diam saja. Dia pun menoleh ke arah pria itu, dia pun mengernyitkan alis nya saat mendapati Bara sedang melamun sambil menatap nya lekat.
'kenapa lagi nih orang.?' Gumam Shinta, wanita itu melambai-lambaikan tangan nya di depan wajah Bara, tapi pria itu masih tak berkedip sama sekali.
" Woi!. Bar, Baraa." Panggil Shinta, pria itu masih memasang wajah bodoh nya seperti semula, tidak merespon sama sekali.
Shinta memikirkan cara untuk menyadarkan pria itu.
" Ada apa lagi dengan nya.?" Gumam Shinta.
Plaakk..
Shinta menampar pipi kiri Bara, sehingga membuat pria itu kaget.
" Aduuh" ucap nya, sambil memegang pipi nya yang tiba-tiba terasa panas.
Dia baru sadar, dan melihat Shinta tengah menatap nya.
"Hehee, maaf Bar, habis nya kamu di panggil dari tadi. tapi malah diem aja, kenapa sih malah melamun?." Ucap Shinta dengan wajah tanpa dosa.
Dia senang akhir nya Shinta bisa berbicara pada nya dengan bahasa santai tidak formal lagi.
" Ke panti Asuhan, aku baru ingat sudah lama aku ngak berkunjung ke sana karena sibuk, mau ikut.?" Tanya Shinta sambil menatap Bara, Bara terlihat sedang berpikir.
" Kalau kamu ngak mau ikut, ya ngak pa-pa. Kamu boleh pulang sekarang, aku mau siap-siap dulu." Ujar Shinta, dia pun berdiri dari sofa tempat duduk nya. Wanita itu berniat pergi kekamar nya, untuk bersiap-siap.
Sedangkan Bara yang melihat Shinta hendak pergi meninggalkan menjadi gelagapan.
Dia pun segera menghentikan Shinta.
" Eeh tunggu Ran, aku ikut." Ucap nya.
Shinta berbalik menatap ke arah Bara, pria itu juga tengah menatap nya.
" Ya sudah, tunggu di sini. Aku siap-siap dulu." Kata Shinta, Bara menganggukan kepala nya, kemudian kembali menikmati minuman nya yang sudah mulai dingin.
Shinta pergi dari ruangan itu, dan tinggal lah Bara sendirian.
Dia memilih memaihkan ponsel nya, sambil menunggu Shinta selesai bersiap-siap.
Beberapa menit berlalu Shinta sudah selesai, dia keluar dari kamar kemudian menuju dapur untuk mencari keberadaan bi Summi.
Walau pun bi Summi hanya seorang art, tapi Shinta sangat menghargai wanita paruh baya itu.
Karena bagi Shinta bi Summi sudah seperti ibu kedua bagi nya, kemana pun Shinta ingin pergi, maka Shinta akan berpamitan kepada bi Summi.
Saat dia menemukan bi Summi, dia pun memanggil wanita itu.
" Bi, aku keluar sebentar ya." Ucap nya.
Bi Summi yang tengah sibuk mencuci piring kotor menoleh ke arah Shinta.
__ADS_1
" Iya non, hati-hati." Jawab nya.
Shinta pun pergi dari sana, setelah kepergian Shinta dia pun kembali melanjutkan pekerjaan nya.
Sedangkan Shinta dia keluar menghampiri Bara yang masuk setia duduk di tempat semula, sambil memainkan ponsel nya.
" Ayo kita berangkat." Ujar Shinta setelah berada di dekat pria itu.
Bara yang mendengar suara Shinta seketika mengalihkan pandangan dari layar hp nya dan melihat ke arah Shinta.
Dia menatap Shinta dengan mulut terbuka saking terpesona nya.
" Cantik." Gumam nya yang masih terdengar jelas di telinga Shinta, wanita itu mengernyitkan alis nya.
Bara mengucapkan itu tanpa dia sendiri sadari, karena dia sedang mengagumi kecantikan wajah Shinta.
" Woi malah bengong, ayo kita berangkat sekarang." Ucap Shinta kemudian dia berjalan mendahului Bara menuju pintu keluar.
Bara baru sadar setelah Shinta pergi dari sana.
Dia pun bergegas menyusul wanita itu.
Akhir nya mereka pun berangkat, saat di perjalanan hanya hening tidak ada obrolan di antara mereka.
Bara yang hanya fokus mengemudi dan sesekali melirik Shinta lewat kaca spion.
Sedangkan Shinta dia sibuk dengan ponsel di tangan nya, dia pura- pura tidak tau kalau Bara sesekali melirik nya kemudian pria itu kembali fokus mengemudi.
Keadaan menjadi cangung, untuk beberapa saat. Bara yang mulai tidak tahan dengan ke adaan pun berinisiatif untuk memulai obrolan di antar mereka untuk mencairkan suasana.
". Ran...."
"Kitaa... Eh."
Ucapan mereka terhenti karena mereka mengatakan nya secara bersamaan. mereka menatap satu sama lain, untuk beberapa detik pandangan mereka bertemu.
Tiba-tiba Shinta merasakan hal aneh di saat matanya menatap dalam mata Bara, walau pun hanya beberapa detik saja.
Dia merasa jantung nya berdetak kencang.
' ada apa dengan jantungku? Seperti nya aku harus kedokter, takut nya aku punya riwayat penyakit jantung.' batin nya. Kemudian dia dengan cepat memutuskan kontak mata mereka dan mengalihkan pandangan nya ke arah jendela mobil.
Keadaan di dalam mobil itu semakin cangung, Bara kembali fokus melihat kedepan, sambil menggarukkan kepala nya yang tidak gatal.
" Ekheem, kita singgah di pusat perbelanjaan dulu, aku ingin membeli oleh- oleh untuk anak-anak." Ucap Shinta dengan menoleh ke arah Bara sebentar, setelah itu dia kembali menatap lurus kedepan.
" Siap nyonya." Ucap Bara sambil tersenyum, tapi Shinta hanya menatap nya dengan tatapan datar. Sedangkan Bara, dia jadi salah tingkah saat mendapatkan tatapan datar dari Shinta. Niat hati ingin sedikit bercanda untuk mencairkan suasana eh malah mendapatkan tatapan datar dari wanita di samping nya. Nasib-nasib.
Beberapa saat berlalu, akhir nya mereka sampai di pusat perbelanjaan, Shinta dan juga Bara turun dari mobil mereka setelah memarkirkan kendaraan nya.
Kedua sejoli itu masuk kedalam, dan Shinta mulai berkeliling untuk mencari barang apa saja yang ingin dia beli.
Sedangkan Bara hanya mengikuti nya dari belakang sambil mendorong troli tempat belanjaan Shinta.
Sekilas mereka berdua terlihat seperti sepasang suami istri yang tengah belanja bulanan.
Banyak pengunjung lain yang menatap ke arah mereka, terutama kau hawa. Berbagai ekspresi mereka tunjukan.
Ada yang menatap mereka dengan tatapan kagum, ada yang menatap dengan sinis dan lain nya.
Tapi Shinta mau pun Bara tidak memperdulikan itu, mereka dengan santai berkeliling.
Setelah di rasa sudah tidak ada lagi yang ingin di beli, akhir nya mereka menuju kasir.
Disaat sedang mengantri tiba-tiba ada seseorang memanggil Bara.
" Bara." Suara seorang wanita memanggil nya.
Bara yang mendengar ada yang menyebut nama nya pun menoleh kebelakang sebentar, di sana terlihat seorang wanita berjalan menghampiri nya dengan senyum mengembang di bibir wanita itu.
Saat sampai di samping Bara wanita itu langsung ingin memeluk Bara di depan banyak orang di sana, tapi Bara segera menghentikan niat wanita itu dengan menepis tangan nya kasar.
__ADS_1
Membuat wanita itu cemberut, saat wanita itu melihat kesamping Bara dia baru sadar ternyata di samping Bara berdiri juga seorang wanita cantik, walau pun dengan penampilan sederhana tapi terlihat elegan.
...Bersambung...