
Shinta keluar dari kamar nya, dia turun kelantai bawah untuk menemui bunda fahira. Dia mencari keberadaan bunda nya di ruang keluarga tempat mereka biasa mengumpul, tapi dia tidak melihat wanita paruh baya itu.
Biasa nya jam segini bunda nya itu akan asyik dengan siaran televisi . Tapi ternyata wanita itu tidak ada di sana.
' bunda di mana ya, apa di kamar nya.? ' Gumam nya.
Dia pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu, sambil memainkan ponsel nya.
" Non, ingin sesuatu biar bibi ambilkan." Ucap salah satu art yang ada di situ ntah sejak kapan yang pasti ruangan itu tadi nya sepi tidak ada siapa-siapa.
Sehingga membuat Shinta terkejut.
Shinta menoleh ke sumber suara tersebut.
Terlihat di sana bibi Ira berdiri sambil tersenyum ke arah anak majikan nya itu.
" Eh, bi Ira. Bibi liat bunda ngak.?" Tanya shinta.
"Oh nyonya, tadi bibi liat dia lagi di taman belakang non." Sahut Bi Ira. Shinta menganggukkan kepala nya, lalu beranjak dari duduk nya untuk ke taman menemui bunda fahira.
" Bi, tolong buatkan saya coklat panas, bawakan ke taman yah." Pinta shinta.
" Baik non."
Setelah itu Shinta berlalu dari hadapan Bi ira menuju taman di mana bunda nya berada sekarang.
Sesampai di taman dia melihat bunda nya yang terlihat sibuk memindahkan bunga-bunga nya ke dalam pot.
Shinta segera menghampiri wanita itu.
"Bunda, kenapa ngak suruh bi ira atau bi jum yang menata bunga-bunga itu kedalam pot nya.?" Tanya shinta.
Sambil berjalan mendekati bunda nya yang masih sibuk dengan aktifitas nya.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menoleh ke arah shinta sambil tersenyum.
" Ngak apa-apa sayang, bunda suka mengerjakan nya. Dari pada bosan mendingan bunda cari kesibukan, hitung-hitung olahraga ya kan.?" Jawab nya.
" Bunda butuh bantuan?" Tanya shinta.
" Ngak sayang, ini udah mau selesai." Jawab wanita itu.
"Terserah bunda deh, oh ya bund, kak Dewi kemana dari aku datang tadi ngak ada liat batang hidung nya.?" Tanya shinta sambil berjalan menuju meja yang ada di taman itu, lalu duduk di bangku yang tersedia di situ.
Sedangkan bunda fahira sudah selesai dengan pekerjaan nya, dia langsung menghampiri Shinta yang lagi duduk sambil memainkan ponsel di tangan nya.
Wanita itu pun ikut duduk di samping putri nya, tak.lama kemudian bi Ira datang menghampiri kedua wanita beda generasi itu.
" Non ini pesanan nya tadi." Ucap wanita itu sambil meletakan segelas coklat panas dan satu gelas jus di depan ibu dan anak tersebut.
" Makasih bi." Ucap shinta
" Sama -sama non, nyonya kalau begitu sama masuk kedalam dulu." Ucap bi ira.
__ADS_1
Setelah kepergian art itu Shinta dan bunda fahira menghabis kan sore bersama, karena terlalu asyik dengan dunia mereka sampai-sampai kedua nya tidak sadar kalau hari sudah hampir malam. Bahkan sudah hampir menjelang magrib.
Akhir nya mereka memilih masuk kedalam rumah.
*************************
Setelah kepergian dokter itu Gio turun dari ranjang rumah sakit, dia bersiap untuk pulang ke rumah yang dia tempati selama ini bersama shinta.
Dia ingin membujuk wanita itu untuk mencabut gugatan cerai nya di pengadilan, bahkan dari tadi dia tidak peduli dengan keberadaan henny, yang ada di otak nya hanya bagai mana pun cara nya dia harus bisa membuat Shinta luluh lagi ke pada nya.
Dia tidak bisa membayangkan bagai mana hidup nya nanti kalau benar-benar berpisah dengan Shinta. Gio teringat masa lalu nya sebelum bertemu dengan Shinta, dia harus ke sana kemari mencari pekerjaan untuk membantu ekonomi keluarga nya di kampung.
Namun mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan gaji yang lumayan begitu sulit.
Hingga pada akhir nya dia melamar pekerjaan di sebuah restoran, dan di terima bekerja sebagai pelayan di restoran tersebut.
Dari sana lah dia mengenal Shinta dan akhir nya mereka menikah.
" Mas, maas Gio." Ucap Henny sambil menepuk pelan bahu Gio yang lagi asyik melamun.
Dan berhasil membuyarkan lamunan pria itu, Gio pun menoleh ke arah wanita yang telah mengisi hati nya beberapa bulan terakhir.
Wanita yang dia hadirkan di tengah-tengah bahtera rumah tangga nya bersama Shinta, dan pada akhir nya membuat hubungan rumah tangga mereka berada di ujung tanduk seperti sekarang ini.
Menyesal ? ya tentu saja Gio sangat menyesal, apa lagi setelah dia tau kalau ternyata Henny hanya memanfaatkan diri nya untuk kepentingan wanita itu sendiri.
Gio berharap Shinta mau memberi kan kesempatan sekali saja untuk dia memperbaiki hubungan mereka.
Yang pasti dia akan berusaha untuk membujuk wanita itu agar mau kembali pada nya. Tidak tau diri memangš¤
Pria itu masuk kedalam kamar mandi tersebut.
Untuk sekedar mencuci wajahnya, beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar.
Gio berjalan melewati Henny yang masih duduk di sisi ranjang tempat nya di rawat, wanita itu sejak tadi memperhatikan tingkah pria itu. Hati nya sakit melihat Gio mengabaikan keberadaan nya, pria yang selama ini selalu memanjakan nya pria yang selalu menuruti apa pun keinginan nya sekarang bahkan sekedar menatap wajah nya pria itu seakan tidak sudi.
Henny mengepalkan tangan nya
' ini semua gara-gara wanita sombong itu, mas Gio mengabaikan aku. Tidak, aku tidak akan membiarkan mas Gio kembali ke wanita pitu.' batin nya Geram.
" Mas, mas Gio tunggu. Mas mau kemana." Tanya Henny dengan suara sedikit berteriak sambil menahan pergelangan tangan Gio.
Gio menghentikan langkah nya sebentar lalu berbalik menatap Henny dengan tajam.
" Bukan urusan kamu, lepas." Bentak pria itu sambil menghempas kan lengan nya yang di pegang oleh Henny dengan kasar, sehingga genggaman tangan wanita itu terlepas.
Dia pun melanjutkan langkah nya untuk keluar dari ruangan rumah sakit itu.
" Mas tunggu, aku ikut." Teriak Henny sambil berlari kecil mengikuti Gio dari belakang.
Sedangkan Gio tidak mempedulikan nya sama sekali, pria itu terus berjalan melewati lorong rumah sakit hingga keluar dari rumah sakit tersebut. Di buntuti oleh henny dari belakang, sudah seperti anak ayam yang mengekori induk nya begitulah Gio dan Henny sekarang ini. Sekarang hari sudah mulai malam dia melihat kesana kemari untuk mencari taksi yang lewat dan keberuntungan berpihak ke pada nya. Setelah mendapatkan kendaraan yang bisa dia tumpangi Gio memasuki taksi itu. Di susul Henny yang juga tidak mau ketinggalan wanita itu bahkan tidak peduli kalau Gio melarang nya ikut bersama dengan pria itu.
" Pak tolong antar saya kealamat ini yah." Ucap Gio sambil memperlihatkan layar ponsel nya ke si supir.
__ADS_1
" Baik pak." Jawab sang supir taksi tersebut.
Perlahan mobil itu meninggalkan area rumah sakit dan membelah jalanan yang padat.
Setelah sekitar setengah jam perjalanan akhir nya mobil yang di tumpangi oleh Gio berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis berlantai dua itu, sesuai dengan alamat yang Gio berikan tadi.
Gio segera membayar ongkos taksi tersebut, lalu keluar dari mobil itu. Tanpa mempedulikan Henny.
Wanita itu juga turun mengikuti Gio, jadi mau tak mau Gio yang harus membayar untuk ongkos henny.
Gio memperhatikan rumah yang selama ini mereka tempati, pria itu merasa heran melihat di depan rumah nya ada dua orang pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam, berdiri di depan rumah tersebut.
Gio melangkah mendekati pintu rumah tersebut, tapi langsung di halangi oleh kedua orang itu.
"Maaf pak, anda ingin bertemu dengan siapa.?" Tanya salah satu dari kedua pria itu.
" Heh, saya pemilik rumah ini, kalian yang siapa.? Kenapa kalian ada di rumah saya.?" Ucap Gio.
Hahahaahaaa... Kedua pria berbaju hitam itu malah tertawa mendengar ucapan Gio. Sebenar nya mereka sudah tau siapa Gio karena sebelum mereka di tugaskan oleh Alex untuk berjaga di rumah itu, Alex sudah menceritakan semua nya kepada mereka.
" Kenapa kalian malah tertawa, awas saya mau masuk." Ucap Gio.
Sambil ingin melangkah mendekati pintu pagar rumah itu.
Sedangkan Henny dia hanya diam tidak ingin ikut campur, dia takut Gio akan semakin marah pada nya.
" Sebaik nya anda pergi dari sini, sebelum kami menggunakan kekerasan." Ucapnya.
" Minggir kalian, saya ingin bertemu dengan istri saya." Ucap Gio.
" Heh, pemilik rumah ini sedang tidak ada. Jadi sebaik nya anda pergi dari sini, sebelum kami bertindak kasar."
" Brengs*k, sudah saya katakan saya lah pemilik rumah ini, kalian tidak ada hak melarang saya masuk ke rumah saya sendiri, Shinta, Shinta buka pagar nya, aku tau kamu ada di dalam mas ingin bicara." Teriak Gio sambil menerobos ingin masuk tapi tidak ada tanda-tanda seseorang akan keluar dari rumah itu.
" Sudah kami katakan dari tadi, pemilik rumah ini tidak ada. Sebaik nya anda pergi sebelum kesabaran kita habis." Ucap pria berbaju hitam itu dengan tatapan tajam ke arah Gio membuat Henny ketakutan.
" Kalian siapa hah, berani mengusir saya dari sini.?" Tanya Gio dengan wajah yang sudah memerah menahan emosi.
Gio menarik kerah baju salah satu dari kedua pria itu.
" Kami di tugaskan untuk menjaga rumah ini, selagi pemilik nya tidak berada di rumah." Ucap nya sambil melepaskan tangan Gio yang memegang kerah baju nya dengan santai.
Akhir nya Gio memilih untuk pergi dari rumah itu, mengingat kondisi nya yang baru keluar dari rumah sakit karena habis di hajar oleh Brama ayah mertua nya.
Dia memilih mengalah dan pergi dari sana.
Dia ingin melawan pun, tenaga nya tidak akan bisa mengalahkan kedua pria itu. Karena terlihat mereka bukan lah orang sembarangan.
Gio melangkah dengan gontai ke arah henny yang berdiri tidak jauh dari tempat nya tadi.
" Mas malam ini kita tidur di mana.?" Tanya Henny.
Sekarang jam sudah menunjukan pukul sembilan malam.
__ADS_1
Tujuan mereka saat ini satu-satu nya adalah rumah yang dulu Gio belikan untuk Henny.
..... Bersambung...