
" bun kita ke ruang kerja ku sebentar yah, bunda bisa istirahat di sana. Sekalian aku ingin memeriksa, apakah masih ada pekerjaan yang belum selesai ku kerjakan." Ucap Shinta.
" Oh Ya udah ayo, bunda juga capek banget nih." Ucap Fahira.
Shinta mengangguk, kemudian mereka berjalan menuju ruang kerja Shinta.
Begitu sampai di ruangan kerja nya, Shinta menghempaskan tubuh nya di sebuah sofa yang ada di ruangan itu begitu juga dengan bunda Fahira yang juga melakukan hal yang sama.
" Huuupss, capek nya." Ucap bunda Fahira sambil menaikkan kedua kaki nya di atas sofa panjang yang dia duduki.
" Kalau bunda mau rebahan, tu bunda masuk kedalam situ saja."
Shinta mengarahkan jari telunjuk nya ke arah sebuah pintu yang ada di ruangan nya itu.
Bunda Fahira melihat ke arah yang di tunjuk oleh Shinta, di sana ternyata ada sebuah pintu masuk menuju ruangan lain. Dia baru tau itu, wajar sih dia ngak tau karena baru kali ini dia masuk ke ruang kerja Shinta, biasa kalau dia berkunjung ke restoran ini dia hanya datang makan lalu pulang. Baru hari ini dia sampai masuk di ruang kerja putri bungsu nya itu, ternyata putri nya memiliki ruangan lain di dalam ruang kerja nya.
Bunda Fahira menatap Shinta, lalu beralih menatap pintu ruangan itu, lalu kembali menatap putri nya lagi begitu terus hingga berulang kali. Shinta yang melihat tingkah bunda nya mengernyit sambil menaikkan sebelah alis nya.
" Sayang kamu ngak lagi menyembunyikan sesuatu kan di dalam sana? Atau jangan-jangan selama ini kamu menyembunyikan buaya buntung di sana, hayo ngaku." Ucap bunda Fahira sambil menarik-narik ujung lengan baju Shinta.
" Apaan sih bunda, bunda ngak lagi ketempelan makhluk tak kasat mata kan.?"
Shinta mengguncang tubuh Fahira sehingga membuat wanita itu pusing karena ulah nya.
"STOOOP.! Kau membuat kepala bunda jadi pusing." Fahira memegang kepala nya yang terasa berputar karena Shinta mengguncang tubuh nya sedikit kuat. Shinta yang mendengar nya segera berhenti dan melepaskan tangan nya dari tubuh bunda Fahira.
" Eh, maaf bund. Habis bunda sih, tiba-tiba bertingkah aneh." Ucap Shinta sambil nyengir kuda.
" Udah ah, bunda lagi serius tau. Itu ruangan apa.?" Tanya bunda Fahira. Shinta menghela napas nya, lalu kembali duduk di tempat nya semula.
" Itu kamar aku bunda, untuk aku istirahat saat sedang capek. Bunda ada-ada aja, mana ada orang sembunyikan buaya buntung di dalam kamar."
Shinta mengerucutkan bibir nya, kalau bukan bunda nya sendiri yang mengatakan itu sudah dia lempar orang itu lewat jendela.
"Oh, kirain."
Shinta kembali menaikkan sebelah alis nya, mendengar jawaban bunda Fahira.
" Yeeeee, memang bunda pikir aku ini perempuan apaan bund, Enak aja. Sana bunda istirahat gih buruan." Ucap Shinta sambil menarik tangan bunda Fahira menuju pintu kamar nya.
Kemudian Shinta membuka pintu itu lalu membawa bunda Fahira masuk kedalam kamar tersebut.
" Tu bunda lihat sendiri, ngak ada apa-apa kan.?" Ucap Shinta.
Fahira memperhatikan sekeliling ruangan itu. Terlihat nyaman untuk tempat istirahat.
Di sana tersedia sebuah ranjang yang muat untuk dua orang.
Ada meja rias, yang di atas nya tersedia foto Shinta seorang diri, tidak terlihat ada foto nya yang bersama Gio.
" Bunda istirahat lah, aku keluar dulu. Kalau bunda butuh apa-apa bilang sama aku aja." Ucap Shinta.
Bunda Fahira mengangguk, Shinta pun keluar dari dalam kamar itu lalu menutup pintu nya kembali.
Dia melangkah menuju meja kerja nya, dan mulai memeriksa berkas-berkas yang tersusun rapi di atas meja itu.
Shinta merogoh sesuatu dalam tas nya dan mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas nya.
Lalu mengotak-atik layar benda pinter tersebut, dan meletakkan di sisi telinga nya.
Truuut.... Nada tersambung...
(" Hallo, Reva tolong bawa kan saya coklat panas ke ruangan saya sekarang yah." )
("Baik bu.") Jawab nya dari seberang sana.
("Makasih Rev, saya tunggu.")
Tuuutt... Shinta memutuskan sambungan telpon nya, dan kembali fokus ke pekerjaan nya.ar
__ADS_1
Beberapa saat kemudian...
Tok..tok...tok..
Pintu ruangan nya di ketuk oleh seseorang dari luar, Shinta menoleh ke arah pintu itu sebentar lalu mengalihkan pandangan nya ke kertas-kertas di depan nya.
" Masuk." Ucap nya sambil masih sibuk dengan kerjaan nya.
Pintu ruangan nya pun terbuka, lalu masuklah seorang gadis cantik menghampiri Shinta dengan membawa permintaan Shinta tadi.
" Bu, ini pesanan ibu." Ucap Gadis itu.
"Letakkan di sini saja." Jawab Shinta tanpa mengalihkan pandangan nya sedikit pun dari layar komputer nya.
' Waah ternyata bu Shinta cantik sekali, baru ini aku bisa bertemu langsung dengan nya." batin gadis itu, karena berjalan sambil melamun tanpa sengaja dia tersandung kaki nya sendiri lalu hampir terjatuh dan membuat coklat panas yang dia bawa tumpah dan hampir mengenai Shinta, untungnya hanya mengenai ujung meja nya saja. Seketika Shinta menoleh ke arah Gadis itu.
Gadis itu yang sadar telah membuat kesalahan segera meminta maaf sama atasan nya.
" Maaf kan saya bu, saya benar-benar ngak sengaja." Ucap Gadis itu dengan wajah pucat pasi, takut bos nya akan memecat nya.
'Duuh, bu Shinta pasti marah besar sama gue,gi mana kalau gue di pecat? Gue ngak tau harus cari kerjaan di mana lagi, sedangkan gue udah ngerasa nyaman kerja di sini.'batin nya.
Sedangkan Shinta memperhatikan gadis itu, yang terlihat menunduk tidak berani menatap nya.
" Kamu karyawan baru ya.?" Tanya Shinta.
" I-iya bu, saya baru dua minggu lebih kerja di sini. Saya mohon jangan pecat saya bu." Ucap Gadis itu sambil terus menundukkan kepala nya.
Shinta mengernyit, dia tidak merasa mengatakan akan memecat karyawan baru nya itu, tapi kenapa gadis itu merasa kalau dia akan memecat nya.
" Kamu sedang berbicara sama saya, atau sama lantai itu.?" Tanya Shinta, yang seketika membuat gadis itu mendongakkan kepala nya lalu menatap ke arah Shinta.
" Maaf bu, ibu boleh memotong gaji saya bulan ini. Tapi tolong jangan pecat saya bu, saya sudah nyaman bekerja di aini." Ucap Gadis itu tulus dengan mata yang sudah berkaca-kaca mungkin sekali kedip cairan bening di mata nya akan jatuh.
Shinta tersenyum tipis melihat itu, dia bisa melihat dari mata gadis itu bahwa gadis itu memang benar-benar membutuhkan pekerjaan nya.
Shinta bisa membedakan mana orang yang sungguh-sungguh dan mana orang yang hanya sekedar untuk mencoba.
"Iya bu, saya minta maaf, Saya janji akan lebih berhati-hati. Terima kasih bu." Ucap Gadis itu.
Shinta mengangguk.
" Nama kamu siapa.?" Tanya Shinta,dia baru sadar belum menanyakan nama gadis itu.
" Nama saya kirana bu." Ucap Gadis itu.
Sambil membersihkan bekas tumpahan coklat panas tadi.
"Reva ke mana? Kenapa kamu yang mengantar pesanan saya.?" Tanya Shinta.
" Kak Reva lagi sibuk tadi bu, jadi kak Reva menyuruh saya untuk
mengantarkan minuman untuk ibu." Jawab nya
" Oh, ya udah kamu boleh pergi." Ucap Shinta.
" Tapi bu, gimana dengan minuman ibu? Apa perlu saya buatkan yang baru.?" Tanya gadis bernama kirana itu.
" Ngak perlu, sekali lagi saya ingatkan kalau waktu kerja kamu harus fokus ke pekerjaan kamu, jangan bekerja sambil melamun. Saya ngak mau kejadian seperti ini sampai terjadi saat kau melayani pengunjung. Kamu mengerti kan.?" Ucap Shinta dengan tegas kepada gadis itu, sebagai atasan dia harus bersikap tegas ke pada setiap bawahan nya
" Baik bu, saya mengerti, sekali lagi saya minta maaf bu." Ucap Kirana dengan menundukkan kepala nya.
" Oke. Kamu untuk kali ini saya maaf kan, sana kamu boleh kembali bekerja." Ujar Shinta.
"Terima kasih bu, kalau begitu saya permisi."
Kirana pun keluar dari ruangan Shinta dengan membawa kembali gelas bekas coklat yang dia bawa untuk Shinta tadi. Setelah berada di luar ruangan Shinta, Kirana menutup pintu ruangan itu kembali lalu gadis itu bergegas pergi dari sana untuk kembali melanjutkan pekerjaan nya yang lain.
Dia berjalan dengan membawa segelas coklat yang masih tinggal setengah isi nya itu.
__ADS_1
" Bodoh, bodoh kamu kirana, kenapa bisa ceroboh gitu sih? Untung bu Shinta orangnya baik, kalau bos nya tidak sebaik bu Shinta mungkin kamu sudah langsung di tendang keluar dari restoran ini." Gumam nya sambil tangan nya yang sebelah sesekali memukul jidat nya sendiri. Dan kebetulan Reva melihat tingkah gadis itu, Reva pun menghampiri nya.
" Kamu kenapa.?" Tanya Reva, yang membuat Gadis itu terkejut.
" Eeeh, kutu nya loncat, eh kutu loncat." Ucap Gadis itu, dia menghentikan langkah kaki nya secara mendadak hingga barang yang ada di tangan nya hampir terjatuh semua.
" Hahahahaaa.., kamu kenapa? Ngomong sendiri kek orgil alias orang gila, mana bicara sambil mukul-mukul tu jidat. Emang ngak takut jidat kamu itu jadi gepeng.?" Ucap Reva.
Kirana mengerucut kan bibir nya mendengar Reva meledek nya.
" Iih kak Reva, ngagetin aja. Untung jantung aku ngak pindah ke otak." Ucap Kirana.
" Eh, mana ada jantung bisa pindah ke otak markonah. Loh itu kenapa minuman bu Shinta masih sisa setengah.?" Ucap Reva sambil menunjukkan gelas yang isi nya masih setengah di tangan Kirana.setelah dia sadar kalau minuman Shinta yang di pesan tadi masih bersisa. Biasa nya bos nya itu ngak pernah menyisakan minuman atau makanan sebanyak itu. Apa lagi ini coklat panas merupakan minuman kesukaan nya.
" Oh ini tadi belum sempat bu Shinta minum nya, soal nya saat aku masuk keruangan bu Shinta, tanpa sengaja kaki aku tersandung dan minuman nya tumpah. Maaf kan aku kak." Ucap Kirana dengan jujur.
" Ya ampun, kamu kok bisa se ceroboh begitu sih? Lain kali hati-hati jangan sampai terulang lagi oke." Ucap Reva.
" Baik kak." Ucap Gadis itu.
" Eh, tapi bu Shinta ngak marah sama kamu.?" Tanya Reva.
" Ngak kak, bu Shinta hanya menegur dan memperingati aku saja, bu Shinta itu orang nya baik ya kak, udah baik cantik lagi." Jawab kirana, dengan mata berbinar.
Mereka mengobrol sambil berjalan.
" Iya bu Shinta memang orang nya baik, jadi aku harap kamu bekerja di sini dengan benar, jangan pernah mengecewakan beliau apa lagi berpikir untuk berkhianat. Karena bu Shinta paling membenci yang nama nya pengkhianatan." Ucap Reva kembali memperingati Kirana. Karena dia melihat Kirana adalah gadis yang bisa di sebut sedikit polos, bisa jadi kemungkinan nanti akan mudah di manfaatkan oleh seseorang yang menginginkan kehancuran bos nya itu. Reva tidak ingin itu terjadi, dia memperingati hal itu ke pada Kirana.
" Aku mengerti kak." Ucap Kirana.
"Ya udah, kamu kembali bekerja." Ujar Reva. Kemudian dia juga kembali ke pekerjaan nya.
*************
Shinta sudah selesai mengerjakan semua, pekerjaan nya yang sempat tertunda karena drama coklat panas pesanan nya yang tumpah karena kecerobohan karyawan baru nya tadi.
Dia beranjak dari kursi kebesaran nya, lalu berjalan menuju kamar tempat bunda Fahira yang sedang istirahat. Wanita itu membuka pintu kamar itu, lalu masuk kedalam kamar dan menutup pintu nya kembali. Dia melihat bunda Fahira yang begitu pulas di atas ranjang milik nya.
Dia mendekati wanita paruh baya yang sudah melahirkan nya itu.
Shinta ingin membangunkan bunda nya, tapi dia merasa tidak tega.
Akhir nya Shinta memilih duduk di sisi ranjang menunggu bunda Fahira terbangun dengan sendiri nya, sambil menunggu dia memainkan ponsel nya.
beberapa menit kemudian..
" Uuugghh," terdengar lenguhan yang keluar dari bibir Fahira.
perlahan wanita itu membuka kelopak mata nya dan menyesuaikan penglihatan nya dengan cahaya di ruangan itu.
dia melihat sekeliling, dan mendapat Shinta yang tengah duduk di sisi ranjang tempat dia berbaring.
sedangkan Shinta menoleh ke arah bunda nya, dengan ponsel yang masih di genggaman nya.
" Eh, bunda sudah bangun? gi mana bund, nyenyak tidur nya.?" tanya Shinta.
" Iya nyenyak banget, tapi tunggu sudah berapa lama bunda tertidur, ini sudah jam berapa.?" tanya Fahira.
" Sekarang sudah jam empat sore bun." Ucap Shinta.
Fahira seketika membulatkan mata nya, lalu menoleh ke arah Shinta.
" APAAA.?...., dasar anak gendeng, kenapa kamu ngak bangunin bunda sih dari tadi hah.?" Ucap bunda Fahira sambil melempar Shinta dengan bantal yang ada di pangkuan nya. dan tepat mengenai wajah Shinta, karena wanita itu belum sempat mengelak.
" Aduuh.! bun kenapa kau melempar wajah ku pake bantal kalau cantik nya hilang gimana." tanya Shinta dengan wajah yang di buat so imut.
" Kau tu yah, orang lagi panik kok malah di bawa bercanda, gimana sih." kesal bunda Fahira sambil meraih bantal yang ada di dekat nya untuk di lemparkan ke arah Shinta, namaun Shinta segera menghindar.
" Ampun bund, iya ngak lagi deh janji."
__ADS_1
.......Bersambung...