BALASAN UNTUK SUAMI PENGKHIANAT.

BALASAN UNTUK SUAMI PENGKHIANAT.
Part. 38.


__ADS_3

" Kami paham bu, akan tetapi pihak pak Gio bersikeras bahwa mereka masih memiliki hak atas semua itu, oleh sebab itu tentang harta gono-gini akan di bahas saat sidang kedua, dua minggu lagi."


" Baiklah kalau itu mau mereka, saya akan hadir di sidang kedua. Saya akan memastikan mereka tidak akan mendapatkan keinginan mereka, sepeser pun."


" Baik bu, saya akan pastikan semua itu."


" Terima kasih pak."


" Sama-sama bu, semua itu sudah menjadi tugas saya."


Shinta pun memutuskan sambungan telpon nya.


*************


Wanita itu memijit pelipis nya, kepala nya tiba-tiba merasa pusing memikirkan semua masalah yang dia hadapi.


Gio memang benar-benar tidak tau diri, enak saja dia meminta harta gono-gini. Emang dia pikir dia siapa? Dasar laki-laki tak tau malu." Dengus Shinta dengan kesal.


Setelah berbicara dengan sang pengacara, Shinta kembali fokus dengan pekerjaan nya hingga waktu makan siang pun tiba.


Shinta segera keluar dari ruangan nya, dan kebetulan Dina sekretaris nya yang juga baru keluar dari ruangan nya, hendak menuju ke kantin.


Shinta segera memanggil sekretaris nya itu.


" Din, temenin saya makan siang yuk." Ucap Shinta.


" Tapi bu." Ucap Dina yang merasa tak enak karena di ajak Shinta untuk menemani nya makan siang.


Dia jadi serba salah, ingin menolak tapi ngak enak juga.


" Udah tidak ada tapi-tapian." Tegas Shinta tanpa bisa di bantah.


Akhir nya kedua wanita itu keluar dari perusahaan, tujuan Shinta adalah sebuah mall yang tidak jauh dari kantor nya. Di sana ada sebuah restoran yang menyajikan berbagai macam menu.


Sesampai mereka di tempat tujuan Shinta dan Dina segera duduk dan memesan menu makanan sesuai keinginan mereka.


"Din, kamu mau pesan apa? Kamu tenang aja aku yang akan traktir." Ucap Shinta sambil melihat-lihat menu yang ada di depan nya.


" Terima kasih bu, saya jadi ngak enak." Ucap Dina.


" Santai aja, anggap ini sebagai bonus atas kerja keras kamu selama ini."


" Baik bu, kalau begitu sama kan saja dengan pesanan ibu." Jawab Dina.


" Baiklah kalau begitu."


Sambil menunggu pesanan datang, Shinta ijin ke toilet sebentar.


"Din saya ke toilet sebentar yah." Ucap nya.


" Baik bu." Jawab Dina.


Shinta pun segera beranjak menuju toilet, tapi saat ingin masuk ke toilet dia tidak sengaja melihat seorang wanita yang seperti tidak asing bagi nya. Shinta pun memperhatikan gerak-gerik wanita itu, dan ternyata wanita tersebut adalah Henny, tapi dia lagi bersama seorang pria. Shinta yang tidak mau tau lagi urusan Henny,


Memutuskan untuk kembali ke meja di mana Dina sang sekretaris sedang menunggu.


Saat sampai ternyata pesanan mereka sudah datang, Shinta dan Dina segera menyantap hidangan yang terlihat menggugah selera itu hingga tidak bersisa. Setelah selesai dengan acara makan siang nya Shinta menoleh ke arah Dina.


"Setelah ini, apa saja jadwal saya Din.?" Tanya Shinta.


" Tidak ada bu." Jawab Dina setelah melihat rincian jadwal bos nya itu di tablet yang selalu dia bawa.


" Owh, kalau begitu ayo kita shoping dulu." Ujar Shinta dengan antusias. Karena terlalu sibuk dengan urusan perusahaan juga masalah yang sedang dia hadapi, sampai-sampai dia tidak ada waktu untuk bersenang-senang.


" Baik bu." Ucap Dina pasrah, walau pun banyak pekerjaan yang sudah menunggu nya. Tapi dia tidak enak menolak keinginan bos nya itu.


Kemudian kedua wanita itu berjalan dan memasuki toko-toko baju dan juga aksesoris lain nya.


" Din, kamu carilah apa saja yang kamu ingin kan, nanti saya yang bayar." Ujar Shinta saat melihat Dina hanya mengikuti nya dari tadi tanpa ada niat untuk membeli apa pun.


" T-tapi bu." Kata Dina ragu, karena tadi sudah di traktir makan oleh Shinta, sekarang bos nya ini malah menyuruh nya belanja dan di bayarin pula.


" Anggap aja ini bonus buat kamu, atas kesetiaan kamu bekerja di perusahaan ku." Lagi-lagi Shinta mengatakan itu tanpa beban.


" Hemm, baiklah bu, kalau ibu memaksa." Ujar Dina.


Kurang lebih setengah jam waktu yang di habiskan Shinta dan Dina untuk berkeliling mall. Kini di tangan mereka sudah di penuhi oleh banyak barang belanjaan mereka.


" Din, setelah ini kamu balik ke kantor sendiri ngak pa-pa yah, nanti kalau sudah waktu pulang kamu boleh pulang." Kata Shinta.


" Baik bu, terima kasih bu sebelum nya karena sudah traktir." Ujar Dina dengan tulus.


" Ngak pa-pa, kalau begitu saya pulang dulu yah." Ucap Shinta.

__ADS_1


" Iya bu, hati-hati." Kata Dina sambil memandang punggung Shinta yang sudah menjauh.


**********


Di tempat lain seorang pria sedang duduk di kursi kebesaran nya.


" Bagai mana kontrak kerja sama kita dengan perusahaan ADI JAYA GROUP.? Tanya pria itu kepada sekretaris nya.


" Kontrak kerja sama kita sudah di sepakati tuan, mereka juga setuju dengan beberapa poin yang kita ajukan." Jawab sang sekretaris.


" Bagus." Pria itu tersenyum puas.


" Apa ada lagi tuan.?" Tanya sekretaris nya.


Bukan nya menjawab pertanyaan sang sekretaris pria itu malah senyum- senyum tidak jelas. Sang sekretaris yang melihat tingkah tuan nya, tiba- tiba khawatir dan merasa heran. Jangan- jangan tuan nya kesurupan pikir nya.


" Tuan, apa anda baik-baik saja.?" Tanya nya.


Pria itu segera menoleh ke arah sekretaris nya, dia baru sadar ternyata masih ada orang di ruangan itu.


" Ekhemm, ada apa? Kenapa kau masih berada di sini.?" Tanya nya.


" Ngak ada apa-apa tuan, saya hanya khawatir." Ujar nya.


" Khawatir apa.?"


" Tadi tuan senyum-senyum sendiri, seperti orang yang tidak waras. Saya kira tuan sedang kesurupan." Ucap sang sekretaris tanpa sadar bahwa dia sudah mengatakan hal yang akan membuat singa itu mengamuk.


" APAA? Kau bilang saya tidak waras, kesurupan." Suara bariton pria itu menggema di ruangan tersebut. Saat itu juga sekretaris nya baru menyadari kalau diri nya sedang dalam bahaya.


"E-eeh, ngak kok tuan, saya tidak berbicara seperti itu." Ucap nya dengan terbata.


" Pendengaran saya masih berfungsi dengan baik Hans, gaji kamu bulan ini saya potong." Ancam Bara, ya pria itu adalah Bara Dirgantara. Ceo dari perusahaan Dirgantara group.


" Ampun tuan, jangan dong. Kalau gaji saya anda potong terus saya mau makan pakai apa.?" Keluh Hans sang sekretaris sekaligus asisten nya itu.


" Maka nya diem." Sentak Bara.


" Iya-iya saya diem tuan." Ucap nya sambil membekap mulut nya sendiri pakai tangan.


" Tapi beneran kan tuan ngak pa-pa, atau jangan-jangan tuan lagi kasmaran.?" Tanya nya.


"Hans, kamu bulan ini tidak saya gaji." Ucap Bara sambil menatap sekretaris nya dengan tajam.


" Ampun tuan, baiklah saya diem." Ucapnya kemudian segera keluar dari ruangan bos galak nya itu.


******


Shinta yang tidak mendapati orag di rumah memilih langsung menuju kamar nya.


Sesampai di kamar dia segera membersihkan diri, kemudian merebahkan tubuh nya di ranjang. Mungkin karena kelelahan wanita itu langsung terlelap. Hingga pukul tujuh malam Shinta baru terbangun, Karena merasa cacing- cacing di perut nya sudah berdemo minta di kasi makan. Shinta bangun lalu kekamar mandi untuk sekedar mencuci wajah nya.


Setelah merasa lebih baik dia pun berniat turun kebawah untuk makan. Namun sebelum dia sempat melangkah kan kaki nya ponsel nya bergetar tanda ada pesan yang masuk, dia pun segera membuka pesan tersebut. Ternyata pesan itu dari Dina sekretaris nya.


(" Bu, besok kita ada pertemuan dengan perusahaan DIRGANTARA GROUP jam sepuluh .") Begitu lah isi pesan tersebut.


(" Oke Din, kamu siap kan semua nya yah.")


Setelah membalas pesan dari Dina, Shinta turun ke lantai bawah untuk mencari makanan ke dapur.


Saat akan menuju dapur dia berpapasan dengan bi Ira, wanita itu segera menyapa Shinta.


" Eh non, mau kemana.?" Tanya nya.


" Aku mau bikin coklat panas bi, sama mau ngambil cemilan di kulkas." Jawab Shinta.


" Oh, non tunggu aja di sana biar bibi yang buat kan." Ucap bi Ira.


" Baiklah bi." Ucap Shinta setelah itu dia pun pergi dari sana menuju ruang tamu.


Ternyata di sana sudah ada Dewi dan kedua orang tua nya


" Kamu sudah bangun sayang." Ucap Bunda Fahira yang melihat Shinta datang menghampiri mereka.


" Iya bun, tadi kalian ke mana? Saat aku datang rumah sepi." Ucap Shinta sambil duduk di samping Dewi.


" Bunda tadi lagi keluar, ketemu sama teman lama."ucap bunda Fahira.


" Oh" Shinta hanya ber oh ria saja.


Tak lama kemudian bi Ira datang menghampiri mereka, dengan membawa coklat pesanan Shinta dan juga beberapa bungkus cemilan di tangan nya.


" Non, ini minuman dan cemilan nya." Ujar bi Ira sambil meletakan coklat serta cemilan yang Shinta minta di atas meja.

__ADS_1


" Makasih ya bi." Ucap Shinta.


" Sama-sama non."


Beberapa saat kemudian, akhir nya waktu makan malam pun tiba mereka pun makan malam bersama.


Setelah selesai Shinta minta ijin untuk kembali kekamar nya terlebih dahulu. Karena dia benar-benar lelah, sehingga dia tidak melakukan aktivitas apa pun, hanya rebahan dan bermain ponsel.


Triing..


Pesan masuk ke ponsel nya, Shinta segera membuka pesan tersebut.


Ternyata dari sahabat nya Desi.


("Malam Shin, apa kabar.?")


(" Malam juga Des, kabar baik.")


("Oh syukurlah, bagai mana sidang pertama kamu kemarin.?")


(" Semua berjalan lancar Des, aku sendiri tidak hadir. Aku mempercayai semua kepada pengacara ku.")


(" Oh, ya udah kamu istirahat lah, sudah malam ni.")


Setelah bertukar pesan dengan Desi Shinta memilih untuk tidur karena mata nya sudah mengantuk.


Satu minggu berlalu, hari ini adalah sidang kedua Shinta dan Gio kembali di gelar.


Kali ini Shinta hadir untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi milik nya. Sebenar nya tanpa Shinta hadir pun sudah di pastikan kalau Gio tidak akan mendapatkan apa-pun. Tapi Shinta ingin melihat bagai mana wajah suami nya setelah dia tau kalau rencana nya tidak berhasil. Suami yang sebentar lagi akan resmi menjadi mantan.


Di temani sang pengacara Shinta berjalan dengan anggun memasuki kantor pengadilan agama.


Di depan pintu, Shinta bertemu dengan Gio yang di dampingi juga oleh pengacara nya. Bu Rahma tidak terlihat ikut hadir, mungkin wanita itu mempercayakan semua nya ke pada Gio.


" Apa kamu benar-benar yakin ingin bercerai dari ku Shinta.?"


" Sangat sangat yakin mas." Jawab Shinta tanpa ada keraguan sedikit pun.


Kemudian Shinta melanjutkan langkah nya, di susul pak Narendra sang pengacara.


Gio yang melihat sikap angkuh dan percaya diri Shinta menjadi kesal, Shinta tidak memperdulikan nya. Dia segera masuk karena sebentar lagi sidang akan di mulai.


Sidang berjalan selama kurang lebih tiga jam, akhir nya hakim memutus bahwa mereka kini sudah resmi bercerai, dan pihak Gio tidak mendapat kan sepeser pun harta milik Shinta.


" Shinta ternyata kamu wanita yang sangat serakah, sehingga aku tidak mendapat kan apa pun." Ucap Gio.


" Apa kamu tidak salah berkata seperti itu mas? Bukan kah seharus nya aku yang mengatakan hal itu.?" Jawab Shinta dengan tenang.


"Apa maksud kamu Shinta.?"


" Apa kamu lupa mas? Semua itu sudah ada sebelum kamu datang di kehidupan aku. Dan apa perlu aku mengingatkan siapa kamu sebelum menikah dengan ku." Ucap Shinta dengan sinis.


Ternyata Gio tidak berubah, kalau bukan karena Shinta menghargai bu Rahma sudah pasti Shinta telah membuat Gio mendekam di penjara karena kasus korupsi yang di lakukan pria itu di perusahaan nya.


" Tapi setidak nya ada hak aku, karena selama dua tahun aku membantu kamu mengurus perusahaan." Ujar Gio.


" Bukankah aku sudah memberikan hak mu, aku membiarkan kamu menikmati harta ku selama dua tahun, sampai-sampai kau lupa diri dan mengkhianati aku dan janji suci pernikahan. Ku rasa itu sudah cukup membayar semua itu." Ucap Shinta dia mulai geram dengan tingkah mantan suami nya itu, yang menurut nya Benar- benar tidak tau diri sekali.


I


Setelah mengatakan itu Shinta pergi meninggalkan Gio di sana, pria itu mengepalkan tangan nya dengan wajah yang sudah memerah.


Setelah kepergian Shinta Gio pun memutuskan untuk pulang dengan rasa kecewa karena tidak bisa memenangkan sidang, dan dia tidak mendapatkan sedikit pun dari harta Shinta.


Sesampai di kontrakan nya Gio segera membersihkan diri,Setelah selesai dengan ritual mandi nya dia merebahkan tubuh nya di ranjang.


Drrrtt.. terdengar ponsel nya berdering, Gio segera bangun lalu meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menghubungi nya.


Dan ternyata bu Rahma yang menelpon, Gio segera mengangkat panggilan telpon tersebut.


("Hallo bu, ada apa .?" )Tanya Gio


("Bagai mana sidang nya nak?" )


("Lancar bu, Gio dan Shinta sekarang sudah resmi berpisah.")


(" Kamu yang sabar ya, mungkin ini jalan terbaik untuk kalian. Kalau kalian memang berjodoh pasti kalian akan di pertemukan kembali." )


(Iya bu.")


(" Ya sudah kamu istirahat, ibu tutup telpon nya dulu." )


Tuuutt..

__ADS_1


Sambungan telpon terputus, Gio pun menyimpan ponsel ketempat semula.


......Bersambung..


__ADS_2