BALASAN UNTUK SUAMI PENGKHIANAT.

BALASAN UNTUK SUAMI PENGKHIANAT.
Part.39.Hampir keracunan


__ADS_3

Shinta sekarang sudah sampai di rumah nya, dia segera memasukan mobil nya didalam bagasi. Setelah itu dia keluar dari mobil dan dia melihat ternyata bunda Fahira dan juga Dewi, yang sudah menyambut nya di depan pintu.


Shinta memang sengaja menyuruh keluarga nya agar tidak perlu ikut hadir. Karena dia menyakinkan keluarga nya bahwa dia bisa mengatasi semua nya sendiri.


Dia hanya ingin di dampingi pengacara nya saja, Shinta menghampiri kedua wanita cantik itu.


Bunda Fahira berdiri dan memeluk Shinta begitu juga dengan Dewi.


" Jadi gimana dek sidangnya.?" Tanya Dewi yang seperti nya sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Shinta mengenai sidang nya siang tadi.


" Nanti aku ceritakan, kita masuk kedalam dulu yah." Ucap Shinta, dia tidak mungkin menceritakan nya sambil berdiri.


Akhir nya ketiga wanita itu masuk kedalam rumah, Shinta segera menghempaskan tubuh nya di sofa ruang tamu.


Hari ini cukup membuat dia lelah, namun juga membuat dia bisa bernapas lega karena dia sudah benar- benar resmi terlepas dari laki-laki seperti Gio.


Karena tubuhnya yang sudah terasa lengket oleh keringat,Shinta memutuskan untuk membersihkan tubuh nya terlebih dahulu.


" Bunda, kak Dewi. Aku kekamar dulu yah, mau mandi gerah." Ucap Shinta sambil beranjak dari tempat duduk nya.


" Ya udah, sana buruan." Jawab Dewi.


Bunda Fahira hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat tingkah putri sulungnya itu.


Shinta pun segera menaiki anak tangga untuk ke kamar nya.


Sesampai di kamar nya Shinta membuang tas nya asal ke atas ranjang.


Kemudian dia bergegas menuju kamar mandi, dia mengisi bak mandi nya dengan air hangat, setelah mengatur suhu air nya agar tidak terlalu panas dia segera masuk dan berendam di dalam nya.


Shinta menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk merilekskan otot-otot tubuh terasa kaku.


Setelah di rasa cukup dia pun keluar dan segera membersihkan sisa-sisa busa sabun yang menempel pada tubuh nya.


Selesai dengan semua aktivitas nya, Shinta memilih turun menemui bunda dan juga kakak perempuan nya.


Sesampai di lantai bawah, Shinta melihat Dewi yang sedang asyik dengan ponsel nya.


Shinta menghampiri wanita itu, Dewi hanya sendirian.


" Kak, bunda ke mana.?" Tanya Shinta, karena dia tidak melihat keberadaan bunda Fahira.


Mendengar suara Shinta, Dewi mengalihkan pandangan nya dari layar ponsel dam menatap Shinta.


" Biasa, bunda lagi ngurus bunga-bunga nya di taman belakang, ini kan sudah hampir jam lima.


" Oh kalau begitu aku kesana juga ah." Ujar Shinta dia segera membalikan tubuh nya ingin pergi menyusul Fahira.


" Eh mau kemana.?" Cegah Dewi, Shinta menoleh ke arah Dewi.


"Mau ke taman kak." Jawab Shinta kemudian melanjutkan langkah nya.


" Tunggu, kakak ikut."


Dewi segera beranjak dari duduk nya dan menyusul Shinta.


Saat Shinta melewati dapur dia melihat bi Ira sedang sibuk melakukan pekerjaan nya.


Shinta berhenti dan memanggil wanita itu.


" Bi, Ira." Shinta memanggil nama ART nya itu.


" Eh copot , non ngagetin bibi aja" ucap wanita itu.

__ADS_1


" Hehehe.. maaf bi." Ujar Shinta merasa bersalah.


" Udah ngak pa-pa, non butuh sesuatu.?"


" Iya bi, tolong bawakan minuman dan cemilan ketaman yah." Perintah Shinta.


" Baik non." Jawab bi Ira.


Setelah memberi tahukan keinginan nya ke bi Ira, Shinta melanjutkan langkah nya menuju taman.


*********


Drrrtttt..


Ponsel Gio kembali berdering, pria itu segera meraih benda pipih tersebut dia mengusap layar nya dan melihat siap yang menghubungi nya.


Dan ternyata Efan sahabat yang telah membantu membayar pengacara untuk Gio yang menelpon.


Gio pun segera mengangkat panggilan telpon tersebut.


(" Hallo Fan.")


(" Bagai mana hasil nya.?")


(" Hasil apaan.?") Tanya Gio tidak paham maksud sahabat nya itu.


(" Hasil sidang tadi.")


Gio menghela napas nya, sebelum menjawab pertanyaan Efan.


(" Gue kalah, dan gue juga tidak berhasil mendapat kan sepeser pun dari harta mantan istri gue." )


(" Hahaha...")


(" Brengs*k, malah ngetawai gue lo, gue lagi pusing tau.") Umpat Gio.


(" Hemm, gue punya ide biar lo ngak pusing mikirin mantan istri lo itu, gimana kalau kita ketempat biasa kita nongkrong dulu. Kan udah lama nih kita ngak main kesana." ) Ujar Efan.


Gio tidak langsung menjawab.


(" Kayak nya gue ngak bisa deh Fan, lo tau sendiri sekarang gue jadi pengangguran belum dapat pekerjaan, Gue mesti hemat." ) Ujar Gio menolak ajakan Efan.


(" Lo tenang aja Yo, gue yang traktir." ) Ucap Efan.


Gio akhir nya menyetujui ajakan Efan.


("Oke .")


Tuuut..


Sambungan telpon pun terputus, Gio segera bersiap untuk pergi bersama Efan kesebuah klub tempat mereka biasa menghabiskan waktu dulu. Dan kini Gio akan ke sana lagi setelah dua tahun, dia tidak menginjakkan kaki nya di tempat seperti itu.


Selama ini bukan nya dia ngak mau, tapi karena dia takut kelakuan nya di ketahui oleh Shinta dan keluarga nya.


*****


Saat ini Shinta beserta keluarga nya tengah berada di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah mereka.


Mereka akan merayakan keberhasilan Shinta yang telah resmi terlepas dari Gio.


Mereka mengobrol dan sesekali bercanda sambil menunggu pesanan mereka datang.


Sedangkan di pojokan ada seorang wanita yang tengah memperhatikan kebahagiaan mereka dengan tatapan penuh dendam.

__ADS_1


" Sial mereka benar-benar bahagia di atas penderitaan aku sama mas Gio." Ucap wanita itu, tiba-tiba dia menyeringai.


Wanita itu kemudian beranjak dari kursi nya dan pergi dari sana.


Wanita itu seperti tengah merencana kan sesuatu, tapi entah apa hanya dia yang tau.


Setelah menunggu beberapa menit, akhir nya pesanan mereka pun datang mereka segera ingin menyantap nya.


Tapi saat Shinta ingin menyeruput minuman milik nya, dia mencium ada aroma yang berbeda dalam minuman nya itu. Walau pun samar tapi dia tau kalau minuman itu sudah di campur dengan sesuatu.


Dia pun mencegah keluarga nya agar tidak memakan dulu makanan yang mereka pesan.


" Tunggu, jangan di makan." Cegah Shinta, Dewi yang hampir memasukan makanan nya kedalam mulut berhenti mendengar ucapan Shinta. Mereka melihat ke arah Shinta dengan tatapan bingung.


" Dan kamu, kembali ke sini." Ucap Shinta yang membuat seorang pelayan yang mengantar pesanan mereka tadi menghentikan langkah nya. Lalu perlahan berbalik dan menoleh ke arah Shinta.


"Sa-saya mbak.?" Tanya pelayan itu dengan gugup.


" Iya kamu, sini." Ucap Shinta dengan tatapan tajam.


Pelayan itu akhir nya perlahan berjalan mendekati meja Shinta denga wajah tegang dia mulai terlihat khawatir.


'mati aku kalau sampai ketahuan.' batin nya.


Pelayan itu berdiri tepat di depan Shinta dia berusaha untuk tenang.


" A-apa masih ada yang mau di pesen mbak.?" Tanya pelayan itu berusaha mengendalikan diri nya agar tidak terlihat gugup.


" Ada apa sayang, kenapa kamu melarang kami makan? Dan kenapa kau menyuruh pelayan itu kembali ke sini.?" Sederet pertanyaan di lontar kan oleh bunda Fahira.


" Iya dek, ada apa? Kakak sudah lapar nih." Dewi menimpali ucapan bunda nya. Sedangkan Brama dia hanya diam saja, karena dia percaya sama Shinta. Pria paruh baya itu tau kalau Shinta melakukan itu pasti ada alasan nya.


Shinta tidak menjawab pertanyaan bunda dan juga kakak nya, wanita itu masih menatap seorang pelayan tadi dengan tatapan mengintimidasi sehingga pelayan itu terlihat ketakutan dengan wajah yang sudah pucat pasi.


" Coba kamu minum minuman ini." Ucap Shinta dengan dingin, sambil menunjuk minuman yang tidak jadi dia minum tadi.


Pelayan itu mengangkat kepala nya lalu melihat ke arah Shinta.


" T-tapi mbak."


" Ayo di minum, tunggu apa lagi." Ujar Shinta sedikit meninggikan suara nya karena kesabaran nya hampir habis.


Pengunjung yang ada di sana mulai memperhatikan mereka karena penasaran dengan apa yang terjadi.


Shinta mengangkat gelas minuman nya lalu memberikan kepada pelayan tersebut.


Tapi pelayan itu menggelengkan ke pala nya.


Braak..


Shinta sedikit menghentak kan gelas minuman nya ke atas meja sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.


" Kata kan siapa yang menyuruh kamu.?" Tanya Shinta, masih berusaha sabar. Sedangkan mereka yang ada di meja itu hanya menatap nya bingung.


" Maksud mbak apa ya? Saya ngak ngerti." Pelayan itu masih berusaha mengelak.


" Kamu telah mencampurkan sesuatu ke minuman ini, siapa yang telah menyuruh kamu.?" Ucap Shinta.


" Maaf mbak, tapi saya benar-benar ngak tau apa-apa, saya permisi." Ucap pelayan itu. Dia hendak pergi dari sana tapi Shinta segera mencegah nya.


.....Bersambung....


"

__ADS_1


__ADS_2