
Sudah tiga hari berlalu Gio berada di kampung halaman nya, hari ini dia akan kembali ke kota, untuk kembali mencari pekerjaan.
Dia juga berencana membawa serta ibu nya kelak kalau dia sudah menemukan pekerjaan yang layak. Gio keluar dari dalam kamar nya, pria itu hendak mencari keberadaan ibu nya.
Dia pergi ke dapur, tapi bu Rahma tidak terlihat di sana.
Gio melihat di meja makan semua nya sudah tersedia, ibu nya sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.
" Ibu ke mana ya.?" Tanya nya, dia berbicara sendiri.
Dia pun keluar dari dapur untuk mencari ibu nya di halaman rumah, biasa nya kalau ibu nya saat masih pagi begini akan menyapu dedaunan kering yang berjatuhan di halaman rumah mereka, setelah sampai di teras rumah dia tidak melihat bu Rahma di sana, pria itu melihat sekeliling halaman rumah nya yang di tanami banyak pepohonan, seperti mangga jambu dan pohon buah-buahan lain nya. Gio memilih masuk ke dalam rumah untuk membuat kopi, dia jadi terbayang di saat masih bersama Shinta, wanita itu tidak pernah lupa untuk menyiapkan semua kebutuhan nya. Tapi terkadang dia tidak terlalu menghiraukan apa yang Shinta lakukan untuk nya.
Malah sering kali Shinta menyuruh nya untuk sarapan atau sekedar minum kopi yang sudah dia siap kan sebelum dia berangkat kerja.
Namun Gio selalu beralasan dia buru-buru karena ada kerjaan mendadak, pada hal itu semua hanya sebuah alasan karena dia ingin bertemu dengan Henny. Pada hal Shinta juga sibuk dan di rumah mereka juga mempekerjakan seorang art, tapi wanita itu masih sempat menyiapkan keperluan diri nya, sekarang dia baru benar-benar merasa kehilangan.
" Auww." Ucap nya, karena keasyikan melamun dia sampai tidak menyadari air panas yang dia tuangkan ke cangkir kopi nya tertumpah kelantai, dan percikan dari air panas itu sedikit mengenai kaki nya. Setelah selesai membuat kopi, Gio kembali ke teras rumah. Dia ingin menikmati udara segar di pagi hari sambil meminum kopi kesukaan nya. Tak lama kemudian bu Rahma datang entah habis dari mana, dia tersenyum melihat putra nya yang sedang duduk di temani secangkir kopi di depan nya.
" Kamu sudah bangun nak.?" Tanya wanita itu.
" Sudah bu, ibu habis dari mana.?" Tanya Gio sambil mata nya tertuju ke kantong kresek putih yang ada di tangan bu Rahma.
Bu Rahma tersenyum.
" Ibu habis dari rumah bu RT ngantar buah mangga pesanan nya, sekalian ibu mampir ke warung mbak Lastri beli gorengan tadi. Kamu mau.?" Ucap bu Rahma sambil meletakan kresek yang berisi gorengan ke hadapan Gio.
" Tunggu sebentar, ibu ambil piring dulu." Ucap bu Rahma, wanita itu segera masuk kedalam rumah, tak lama kemudian dia kembali dengan piring kosong di tangan nya. Dia segera mengeluarkan gorengan yang baru saja dia beli kedalam piring tersebut.
Mereka pun duduk menikmati nya di teras rumah.
Gio pun mengutarakan niat nya yang akan kembali ke kota hari ini kepada bu Rahma.
" Bu, rencana nya aku akan kembali ke kota hari ini, apa ibu mau ikut.?" Tanya nya. Bu Rahma menatap Gio sambil mengernyitkan alis nya.
" Kenapa mendadak nak? Kamu kan baru tiga hari di sini." Ucap bu Rahma. Wanita itu heran, kenapa anak nya ingin kembali ke kota secara mendadak, dia memicingkan mata nya ke arah Gio.
" Ibu kenapa menatap ku seperti itu.?" Tanya Gio yang melihat bu Rahma menatap nya dengan lekat.
"Apa kamu ingin cepat-cepat balik ke kota untuk menemui wanita ular itu lagi.?" Tanya bu Rahma, ternyata dia mencurigai Gio. Kalau Gio ingin kembali ke kota untuk menemui Henny.
Tebakan bu Rahma tidak semua nya salah, Gio memang ingin kembali ke kota, tapi bukan untuk bertemu dengan Henny. Melain kan dia ingin bertemu dengan Shinta, Gio masih berharap Shinta akan berubah pikiran, sehingga wanita itu mau memberikan kesempatan sekali lagi untuk nya.
Apa lagi minggu depan adalah sidang pertama mereka, terkait gugatan cerai dari Shinta untuk nya.
Dia harus menemui wanita itu, untuk meyakinkan Shinta bahwa dia sudah berubah. Kalau pun nanti hasil nya akan sama, setidak nya dia sudah berusaha.
" Kenapa ibu bisa berpikir seperti itu? Ibu ngak percaya sama aku." Ucap Gio, sambil membalas tatapan bu Rahma.
" Bukan nya ibu ngak percaya sama kamu nak, tapi ibu hanya tidak ingin kamu kembali menemui wanita itu. Dia itu bukan wanita baik-baik, kamu ingatkan waktu itu ibu mengatakan mendengar obrolan wanita itu dengan seseorang lewat telepon, dia mengatakan akan memperalat kamu untuk menghancurkan Shinta. Ibu ngak mau hal itu terjadi." Jelas bu Rahma.
Gio menghela napas nya, pantesan waktu itu ibu nya kekeh ingin dia ikut pulang ke kampung ternyata ini alasan nya. Gio meraih tangan ibu nya dan menggenggam nya.
" Aku tidak mungkin melakukan itu bu, ibu percaya sama aku, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengendalikan aku."ucap Gio meyakinkan bu Rahma.
" Baiklah kalau begitu, ibu percaya sama kamu. Hari sudah semakin siang, ayo masuk kita sarapan." Ucap bu Rahma. Akhir nya dia menyetujui keinginan Gio.
Mereka pun masuk kedalam rumah, dan langsung menuju meja makan. Bu Rahma mengambil nasi beserta lauk dan sayuran di dalam piring dan memberikan nya kepada Gio.
Kembali lagi Gio mengingat Shinta juga selalu melakukan hal yang sama dengan apa yang baru saja ibu nya lakukan, yaitu mengambilkan makanan untuk nya terlebih dahulu setelah itu barulah wanita itu mengambilkan untuk diri nya sendiri.
Mengingat semua itu, membuat nya semakin merasakan penyesalan yang begitu dalam.
Andai waktu bisa dia ulang kembali, dia tidak akan melakukan hal sebodoh itu, menyia-nyiakan istri sebaik Shinta demi wanita seperti Henny.
Seperti kata pepatah, membuang berlian demi memungut batu kerikil. Itulah yang telah Gio lakukan.
__ADS_1
Setelah selesai mereka makan, Gio bersiap- siap untuk berangkat ke kota untuk menemui Shinta.
*******
Saat ini Shinta sedang berkutat dengan pekerjaan nya, bahkan sekarang sudah hampir menjelang waktu makan siang. Namun wanita itu masih terlihat sibuk memeriksa setiap dokumen yang ada di meja nya.
Tok..tok..
Pintu ruangan nya di ketuk, Shinta tidak mengalihkan pandangan nya dari setumpuk berkas-berkas di depan nya.
Dia masih fokus dengan pekerjaan nya.
Tok..tok..tok...
Suara pintu ruangan nya di ketuk kembali terdengar.
" Masuk." Ucap nya.
Pintu ruangan pun terbuka, Dina sekretaris nya masuk dan menghampiri Shinta.
" Bu, ini dokumen yang ibu minta kemarin." Ucap Dina sambil meletakan dokumen itu di meja Shinta.
" Apa ada lagi.?" Tanya Shinta
" Maaf bu, saya hanya ingin mengingatkan, bahwa setelah waktu makan siang nanti, kita ada pertemuan dengan klien dari kota B, untuk membahas mengenai kerja sama perusahaan." Ucap Dina.
" Iya Din, kamu siap kan semua nya ya." Ucap Shinta.
" Baik bu, kalau begitu saya permisi." Jawab Dina.
Gadis itu pun keluar dari ruangan Shinta lalu menuju ruangan nya sendiri.
*********
Dia kembali menaiki bus, karena mobil yang biasa dia pakai kemana pun selama ini sudah Shinta ambil kembali, jadi dia terpaksa harus menggunakan angkutan umum, kalau ingin bepergian.
Setelah sampai di halte bus, Gio turun dari bus itu kemudian dia memesan taksi online, saat ini dia ingin langsung pergi untuk menemui Shinta.
Gio yakin sekarang Shinta pasti sedang berada di kantor, atau di restoran nya. Jadi dia memutuskan untuk mencari wanita itu di kantor nya terlebih dahulu, kalau wanita itu tidak datang kekantor berarti dia ada di restoran milik nya.
Tak lama kemudian taksi yang di pesan oleh Gio sampai, sang supir turun menghampiri Gio.
" Dengan pak Giovandra.?" Tanya supir taksi itu.
" Benar pak." Jawab Gio.
Setelah itu Gio pun masuk kedalam taksi.
Setelah menempuh perjalan selama hampir tiga puluh menit dari halte bus akhir nya dia sampai di kantor Shinta, Gio segera turun dari taksi dan berjalan menuju pintu masuk.
Tapi baru saja dia ingin masuk, dia di cegah oleh dua orang satpam yang di tugaskan untuk menjaga di situ.
"Mohon maaf, bapak tidak di perbolehkan masuk." Ucap salah satu penjaga yang ada di sana.
" Kenapa saya tidak boleh masuk, apa kalian lupa siapa saya? Biar saya ingatkan kalau bapak lupa, saya adalah suami dari pemilik perusahaan ini." Ucap Gio, mulai terpancing emosi.
" Kami tidak melupakan siapa pak Gio, tapi maaf pak, bapak sudah tidak di perbolehkan lagi untuk masuk di perusahaan ini."
" Heh, kalian dengar yah, saya ke sini ingin bertemu istri saya. Jadi kalian tidak berhak untuk menghalangi saya mengerti? Awas minggir saya mau masuk." Kekeh Gio.
" Mohon maaf pak, kami tetap tidak bisa membiarkan bapak masuk. Sebaik nya bapak pergi dari sini sebelum kami mengguna kan kekerasan."
" Saya tidak akan pergi sebelum saya bertemu dengan istri saya, sebaik nya kalian biarkan saya masuk, atau saya akan lapor ke pada istri saya agar nanti kalian di pecat." Ancam Gio, namun kedua penjaga itu tidak terlihat takut akan ancaman itu.
" Silakan pak, kalau bapak ingin melaporkan kami ke bu Shinta. Tapi kami tetap tidak akan membiarkan bapak masuk ke kantor ini."
__ADS_1
Gio merogoh saku nya, kemudian dia menghubungi nomor Shinta.
Tapi sampai dengan panggilan ketiga Shinta tidak mengangkat ponsel nya.
" Siapa yang menyuruh kalian untuk menghalangi saya datang kekantor ini.?" Tanya Gio.
" Mohon maaf pak, ini adalah perintah langsung dari bu Shinta. Jadi kami mohon kerja sama nya pak, tolong jangan membuat keributan di sini." Penjaga Berusaha sabar untuk menghadapi Gio.
" A-apa?."
" Benar pak, kami hanya menjalan kan tugas kami, silakan bapak pergi dari sini sekarang." Ucap penjaga itu berusaha menahan agar tidak sampai menghajar Gio.
Salah satu dari penjaga itu adalah anak buah Alex, yang sengaja Shinta pekerjakan untuk menjaga keamanan di kantor nya. Karena
Shinta sudah menduga, Gio pasti akan kembali membuat ulah lagi.
" Aarrghh, sialan berani-berani nya dia melarang aku masuk ke kantor nya." Gio berdecak kesal.
Gio mengusap wajah nya kasar, hati Gio yang sebelum nya merasakan penyesalan sekarang berganti menjadi amarah dan dendam. Bahkan dia tidak lagi memikirkan pesan dari ibu nya, untuk tidak mengusik Shinta lagi.
Shinta yang memang melihat Gio dari kaca ruangan nya menyeringai puas, saat melihat Gio frustasi karena tidak bisa lagi memasuki kantor nya, dan berhasil membuat Gio emosi.
*******
Satu minggu telah berlalu, sejak kejadian di kantor kemarin Gio tidak pernah lagi untuk mencoba datang kekantor atau pun menghubungi Shinta.
Hari ini adalah hari persidangan pertama, Shinta memilih tidak ikut hadir dia mempercayakan semua nya ke pada pengacara nya.
Berbeda dengan Shinta, Gio hadir di sidang pertama nya di dampingi oleh seorang pengacara dari teman nya.
Beberapa hari yang lalu, Gio tidak sengaja bertemu dengan sahabat lama nya, sewaktu SMA. Gio pun menceritakan masalah yang tengah dia hadapi, untung sahabat nya itu bersedia membantu nya dan menyuruh pengacara nya untuk membantu kasus perceraian Gio. Gio akan menuntut harta gono gini atas harta yang di miliki oleh Shinta istri nya. Dia merasa bahwa dia masih punya hak atas semua itu.
Pada hal harta Shinta memang sudah ada sebelum menikah dengan Gio termasuk rumah yang selama ini mereka tempati.Gio yang sudah di kuasai oleh keserakahan tidak lagi sadar diri kalau dulu nya dia hanyalah seorang pelayan restoran sebelum menikah dengan Shinta.
Setelah kurang lebih lima jam akhir nya sidang pertama pun selesai, Gio segera kembali ke kontrakan nya.
*******
Saat ini Shinta sedang berada di kantor nya, tiba-tiba ponsel nya berdering, dia segera melihat siapa yang menghubungi nya di saat dia lagi sibuk dengan pekerjaan nya.
Dan ternyata sang pengacara nya yang menghubungi nya.
Shinta segera mengangkat penggilan telpon tersebut.
(" Hallo, bagai mana sidang hari ini pak.?" )Tanya Shinta kepada sang pengacara.
("Sidang berjalan dengan lancar bu, akan tetapi pihak dari pak Gio meminta harta gono-gini atas semua harta yang di miliki ibu." )
" Apa? Bagai mana bisa pak, itu semua murni milik saya sebelum saya menikah dengan pak Gio. Pak Gio itu dulu nya adalah pelayan di restoran saya, dari mana dia berani sekali
Mengaku berhak atas harta yang saya miliki." )Ucap Shinta.
" Kami paham bu, akan tetapi pihak pak Gio bersikeras bahwa mereka masih memiliki hak atas semua itu, oleh sebab itu tetang harta gono-gini akan di bahas saat sidang kedua, dua minggu lagi."
" Baiklah kalau itu mau mereka, saya akan hadir di sidang kedua. Saya akan memastikan mereka tidak akan mendapatkan keinginan mereka, sepeser pun."
" Baik bu, saya akan pastikan semua itu."
" Terima kasih pak."
" Sama-sama bu, semua itu sudah menjadi tugas saya."
Shinta pun memutuskan sambungan telpon nya.
......Bersambung
__ADS_1