
Keesokan hari nya, seperti biasa Shinta keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Sebelum kekantor dia ingin mengunjungi restoran milik nya.
Shinta keluar dari kamar nya, dia turun kebawah untuk sarapan sebelum berangkat bekerja.
Dia menuruni satu persatu anak tangga, sesampai di bawah dia segera menuju meja makan, di sana ternyata sudah ada ayah Brama yang sudah duduk sambil menikmati kopi nya, hanya kakak nya Dewi yang belum terlihat batang hidung nya, Dewi juga sudah beberapa hari yang lalu mulai membantu ayah di kantor.
selama ini wanita itu selalu menolak dengan alasan dia tidak tertarik dengan pekerjaan kantoran, karena menurut nya semua itu ribet, jadi dia hanya fokus ke toko nya.
ternyata selama ini dia diam-diam membuka toko bunga, toko bunga D'plower itu lah nama toko milik Dewi yang selama ini dia kelola. Dewi adalah wanita yang saat suka koleksi bunga, dan dari hobi nya itu akhirnya dia memutuskan untuk membuka toko bunga.
Kedua orang tua nya tidak mengetahui semua itu.
Lebih tepat nya Fahira yang tidak mengetahui kalau putri sulung nya itu memiliki sebuah toko bunga bahkan toko nya sudah lumayan terkenal di kota itu, namun banyak orang yang belum mengetahui siapa pemilik nya.
Berbeda dengan Fahira, Brama dan juga Shinta sudah mengetahui apa saja yang Dewi lakukan selama ini, Dewi selalu menolak kalau Brama menyuruh nya ikut membantu nya di perusahaan, tapi mereka membiarkan nya saja.
****
Shinta menghampiri sang ayah yang sudah lebih dulu ada di sana, lalu menyapa pria itu.
" Pagi yah."
" Pagi sayang, kamu sudah mau berangkat.?" Tanya Brama.
" Iya yah, sebelum kekantor rencana aku mampir dulu di restoran." Jawab Shinta sambil menarik kursi kosong untuk nya duduk.
Seperti biasa coklat kesukaan nya sudah tersedia di atas meja.
Shinta langsung duduk dan mengambil selembar roti lalu mengolesi nya dengan selai kemudian dia memakan nya.
Setelah selesai dia melihat bunda Fahira yang masih sibuk seperti biasa Fahira selalu ikut turun tangan membantu para art nya, untuk menyiapkan sarapan. Kebetulan bi Summi juga berada di sana.
" Bi, hari ini aku akan pindah ke apartemen, apa bibi mau ikut atau tinggal di sini juga ngak pa-pa." Ujar Shinta, sambil melihat ke arah wanita paruh baya yang biasa mengikuti nya itu.
" Bibi ikut non saja, kalau bibi tinggal di sini, terus non Shinta gimana.?" Sahut nya sambil menatap Shinta.
" Kalau begitu nanti bibi siap-siap yah, aku akan menyuruh seseorang untuk menjemput bibi nanti" ujar Shinta.
"Baik non."
Setelah mengatakan itu kepada bi Summi, Shinta beranjak dari duduk nya dia akan segera berangkat.
" Bunda, yah aku berangkat dulu ya." Ucap Shinta, sambil menyalami kedua orang tua nya.
" Iya sayang, hati-hati." Ucap bunda Fahira.
__ADS_1
Shinta mengangguk kemudian wanita itu melangkah keluar menuju mobil nya yang di parkir di bagasi.
Dia memasuki mobil nya dan perlahan mengendarai mobil itu keluar dari pekarangan rumah.
Setelah Shinta berangkat, Brama pun bangun dari duduk nya ptia paruh baya itu juga akan berangkat kerja.
Dia juga berpamitan kepada istri nya.
" Sayang ayah berangkat dulu ya." Ucap nya, Fahira langsung menghampiri suami nya itu lalu mengantar nya sampai di depan pintu rumah.
Setelah mobil yang di kendarai oleh Brama sudah menghilang dari hadapan nya, Fahira un kembali masuk kedalam dan menutup pintu rumah nya.
****
Hari ini Gio akan pergi keperusahaan yang di maksud oleh Efan kemarin, dia akan coba melamar pekerjaan di perusahaan itu.
" Moga aja aku bisa di teriam di perusahaan itu." Ucap nya kemudian dia pun berangkat menggunakan ojol yang dia pesan.
Setelah menepuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit dia pun tiba di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi, dia pun melangkahkan kaki nya, dia masuk keperusahaan itu setelah di ijinkan oleh penjaga.
Hingga beberapa menit kemudian Gio pun keluar lagi dari perusahaan itu, dengan wajah yang lesu.
Kemudian dia pergi dari sana dengan wajah kecewa, entah apa yang telah terjadi di dalam sana.
Truuutt....
Panggilan telpon tersambung.
(" Hallo Yo, ada apa.?" ) terdengar suara seseorang dari seberang sana.
(" Lo di mana sekarang.?" )
(" Gue lagi di rumah, jadi gimana lo jadi pergi ke perusahaan DIRGANTARA GROUP.?" )
(" Jadi ini gue udah mau pulang." ) Ucap Gio dengan lesu.
(" Terus gimana, Di terima ngak.?")
(" Gue ngak jadi ngelamar.")
(" Lah kenapa? Bukan nya lo lagi butuh banget kerjaan itu.")
(" Iya gue emang butuh kerjaan, tapi ngak harus jadi OB juga kali. Masak keren begini jadi OB, ogah gue." )
' masax aku yang pernah menjadi pemimpin perusahaan, sekarang harus bekerja sebagai OB. Kalau Shinta tau pasti dia akan mengejek aku, wanita itu gara-gara dia aku jadi kesusahan seperti ini.' batin Gio dia mengepalkan tangan nya bayangan Shinta yang menertawakan nya tiba-tiba muncul di kepala nya.
__ADS_1
Membuat pikiran nya makin tak karuan.
" Tidak, aku tidak akan membiarkan wanita itu menertawakan dan menghina ku lagi, lihat saja Shinta aku akan membalas semua yang telah kau lakukan pada ku." Ucap nya.
Ternyata Gio masih belum sadar, kalau apa yang menimpa nya adalah kesalahan nya sendiri, dia menyalahi Shinta atas apa yang di alami nya saat ini. Padahal kalau dia tidak mengkhianati Shinta dia tidak akan berakhir seperti sekarang.
***
Berbeda dengan Gio, Shinta sekarang sudah sampai di restoran nya.
Dia masuk kedalam restoran di sana dia sudah di sambut oleh beberapa pegawai nya termasuk Reva orang kepercayaan Shinta selama ini.
" Pagi bu." Sapa mereka.
" Pagi." Jawab Shinta dengan singkat, dia berjalan di ikuti Reva dari belakang.
" Rev, bagai mana perkembangan restoran kita.?"
" Seperti biasa bu, semua nya lancar tidak ada masalah." Jawab Reva.
"Oh baguslah kalau begitu, oh ya Rev, saya ngak lama yah saya hanya mampir sebentar, karena saya harus kekantor." Ujar Shinta.
" Baik bu."
" Kalau begitu kamu tolong awasi mereka semua ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya. Saya pergi dulu." Ujar Shinta.
"Baik bu."
Setelah menanyakan perkembangan restoran nya dia segera pergi lagi dari sana.
Setelah menepuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit Shinta pun sampai di perusahaan nya, penjaga yang melihat mobil milik atasan nya memasuki area kantor pun menyapa Shinta dengan ramah.
" Pagi bu"
Shinta hanya mengangguk kan kepala nya, menanggapi sapaan dari kedua penjaga itu.
Shinta bergegas memarkirkan mobil nya ketempat biasa, kemudian dia segera turun dari mobil, di lobi dia melihat Dina yang tengah berdiri menunggu nya, Shinta pun menghampiri sekretaris nya itu.
" Selamat pagi bu." Sapa Dina.
" Pagi juga Din."
Setelah itu kedua wanita itu masuk kedalam, di sana banyak karyawan yang menyapa Shinta dengan ramah sambil sedikit menundukkan kepala mereka saat melihat Shinta melewati mereka.
....Bersambung....
__ADS_1