
'Jadi setelah bercerai dari Shinta Gio kembali menjadi seorang pelayan, miris banget pada hal dulu hidup nya udah enak' batin Desi sambil masih memperhatikan punggung Gio yang pergi menjauh.
Desi hanya diam sambil memperhatikan kepergian Gio, sampai tepukan pelan di bahu nya menyadarkan nya.
Desi pun menoleh ke arah orang yang baru saja menepuk bahu nya.
" Eh." Ucap Desi
" Kamu kenal sama pelayan tadi.?" Tanya orang baru saja menepuk bahu Desi.
" Kita duduk di pojok sana dulu ya ma, nanti Desi ceritain." Ujar Desi sambil menunjuk meja kosong yang berada di ujung dekat dengan jendela.
Wanita paruh baya itu pun mengangguk dan mengikuti Desi dari belakang.
Sesampai di meja yang mereka tuju, kedua wanita beda generasi itu pun duduk dan segera memesan makanan dan juga minuman untuk mereka.
Setelah memesan, akhir nya Desi pun mulai menceritakan siapa pelayan itu.
" Yang tadi itu si Gio ma, ternyata dia bekerja di kafe ini." Ujar Desi.
" Gio? Seperti nya mama pernah dengar nama itu." Ucap Diana sambil berusaha menggali ingatan nya tentang Gio.
" Itu lo ma, mantan suami temen aku ." Ujar Desi.
Sedangkan Diana yang sudah berhasil mengingat nya pun menganggukkan kepala nya.
" Oh jadi itu mantan suami nya Shinta, yang kamu ceritain waktu itu , kenapa Shinta ngak jebloskan aja dia ke penjara. Malah masih di biar kan menghirup udara bebas.
Kalau mama yang menjadi Shinta, ngak akan mama biarkan dia hidup tenang." Geram Diana.
" Setau Desi, Shinta melakukan itu karena kasian sama mantan mertua nya." Ujar Desi.
Saat mereka asyik mengobrol pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
" Permisi mbak, ini pesanan nya." Ucap pelayan itu dengan ramah.
Sambil meletakan menu yang di pesan Desi dan juga Diana di atas meja.
" Makasih mbak."
"Sama-sama, selamat menikmati." Ucap pelayan itu lagi, setelah itu dia pun pergi meninggalkan meja tempat Desi.
Setelah kepergian pelayan itu, Desi dan Diana menyantap hidangan yang ada di depan mereka dan sesekali mengobrol.
***
__ADS_1
Sedangkan masih di tempat yang sama tapi di ruangan yang berbeda Gio sedang bersandar di tembok sambil memperhatikan Desi.
" Sial kenapa Sahabat nya Shinta harus datang ke sini sih, sebaik nya aku tunggu sampai mereka pulang." Gumam Gio.
Kemudian dia pergi dari sana lalu menuju ke toilet.
Lalu dia membasuh wajah nya dengan air.
Gio bukan nya takut bertemu Desi, tapi Gio tak mau Desi mengejek nya. Gio tau gimana pedes nya mulut Desi, saat dia masih menjadi suami Shinta Desi ngak pernah ramah pada nya.
Apa lagi sekarang, yang jelas-jelas dia sudah mengkhianati sahabat wanita itu.
Pasti wanita itu akan semakin tidak menyukai nya. Gio masih ingat Desi lah yang pertama kali mengetahui kebusukan nya lalu wanita itu memberi taukan nya kepada Shinta dan pada akhir nya semua rencana dan ambisi nya untuk menguasai harta milik Shinta menjadi gagal total.
Sampai dia tidak mendapatkan sepeser pun dari harta milik mantan istri nya itu. Oleh karena itu untuk saat dia tidak ingin bertemu dengan Desi atau orang yang juga mengetahui dengan jelas seluk beluk masalah yang terjadi antara dia dan Shinta.
***
Sedangkan Desi, wanita itu asyik dengan hidangan di depan nya, sesekali dia pun memperhatikan sekeliling.
Namun yang dia cari ngak nampak di sana.
Kelakuan nya itu tidak lepas dari mata sang mama, karena penasaran Diana pun bertanya ke pada anak nya itu.
" Sayang kamu cari apa sih.?" Ucap Diana.
Ngak mungkin aku salah orang, tapi dari tadi aku perhatikan kok ngak muncul-muncul lagi. Pada hal ini kafe pengunjungnya lumayan ramai, atau dia hanya kebetulan saja ada di sini." Ujar nya, Desi masih penasaran dengan nasib Gio setelah bercerai dari sahabat nya.
" Udahlah sayang, itu bukan urusan kita. Ngapain kamu repot." Ucap Diana.
" Iya juga sih ma." Sahut Desi.
Mama nya benar untuk apa dia kepo dengan urusan laki-laki itu, mau dia jadi pelayan, mau dia jadi pengemis itu bukan urusan nya.
Gio memang pantas mendapatkan itu, itu semua juga terjadi karena ulah nya sendiri, Jadi untuk apa dia merasa prihatin.
Akhir nya mereka pun sudah selesai makan, kedua wanita itu beranjak keluar dari kafe tersebut setelah membayar pesanan mereka.
Gio yang dari tadi memperhatikan kedua wanita itu pun bernapas lega, saat melihat sahabat mantan istri nya itu telah keluar dari kafe tersebut.
" Akhir nya mereka pergi juga." Gumam nya.
Tiba-tiba ada yang memegang bahu nya dari belakang, dan sontak saja membuat nya terkejut. Dia pun dengan segera menoleh ke arah orang itu.
" Dev." Ujar Gio sambil nyengir kuda, saat mendapati Devan sudah berdiri di belakang nya. Devan adalah teman Gio sekaligus bos nya di kafe tempat Gio bekerja.
__ADS_1
"Lo lagi liat apa sih, kayak maling aja.?" Ucap Devan sambil menaikkan alis nya sebelah.
" Enak aja lo bilang gue maling, udah ah gue mau kerja lagi" Ucap Gio.
" Ya udah sono, liat no yang lain pada sibuk lah elo malah hanya ngintip di mari, kasian tu mereka hampir kewalahan layani tamu." Ujar Devan sambil sedikit mendorong punggung Gio.
Mereka memang selalu seperti itu, karena mereka sudah terbiasa.
" Iya-iya, ini gue mau bantuin." Sahut Gio sambil berjalan meninggalkan Devan di sana.
Devan hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah temen nya itu.
Setelah kepergian Gio Devan pun pergi juga dari sana.
*******
Di tempat lain Shinta telah selesai makan siang, wanita itu segera kembali ke perusahaan nya.
Setelah sampai Shinta bergegas masuk kedalam dan langsung menuju ruangan nya.
Dia pun langsung di sambut dengan tumpukan-tumpukan kertas dokumen yang menumpuk di meja kerja nya.
Saat dia sedang sibuk dengan berkas di depan nya, seseorang mengetuk pintu ruangan nya dari luar..
Tok.. tok..
" Masuk" Ujar Shinta dengan suara yang sedikit keras, tak lama kemudian pintu ruangan nya pun terbuka.
Orang yang mengetuk pintu tadi masuk dan menghampiri Shinta yang masih sibuk dengan pekerjaan nya.
" Maaf bu, ini ada berkas yang harus ibu periksa dan tanda tangani." Ujar nya.
" Hem, taruh aja di situ." Jawab Shinta tanpa menoleh sama sekali ke arah orang itu.
" Baik bu, kalau begitu saya permisi." Ucap nya.
" Hem." Jawab Shinta singkat.
Setelah itu karyawan itu pun bergegas keluar dari ruangan atasan nya, untuk kembali bekerja.
Namun sebelum dia benar-benar menutup pintu ruangan Shinta dia pun melirik ke arah Shinta yang masih sibuk dengan pekerjaan nya.
Dengan seringaian tipis yang terbit di bibir nya..
Sedangkan Shinta tidak menyadari ekspresi gadis yang baru saja keluar dari ruangan nya itu. Karena dia masih sibuk dengan aktivitas nya.
__ADS_1
.....Bersambung....