
"Uughh.. " lenguhan seorang pria yang tengah terbaring di atas ranjang, dengan sebotol infus terpasang di pergelangan tangan nya.
Perlahan kelopak mata nya terbuka. Dia memperhatikan sekeliling ruangan itu, lalu dia melihat pergelangan tangan nya sendiri.
' aku di rumah sakit.?' batin nya.
Dia kembali melihat setiap sudut ruangan itu, seketika mata nya mendapati di ranjang sebelah nya ternyata ada satu orang pasien juga. Pria itu memperhatikan orang yang berada satu ruangan dengan nya, secara seksama seperti nya dia tidak asing dengan orang itu. Dia pun memperhatikan nya sekali lagi, mata nya membulat setelah tau siapa yang ada bersama nya di ruangan itu.
" H-henny.? Gumam pria itu.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan masuk lah dua orang yang mengenakan baju putih. Mereka adalah dokter dan juga perawat di rumah sakit itu
" Anda sudah sadar tuan?" Ucap dokter itu.
Kemudian memeriksa ke adaan pria tersebut.
"Kondisi anda sudah baik-baik saja, karena tidak ada luka serius. Hanya butuh istirahat anda akan sembuh." Ucap dokter itu.
" Terima kasih dok, apa saya boleh bertanya sesuatu.?"
" Iya, apa yang ingin anda tanyakan.?" Ujar dokter tersebut.
" Kalau saya boleh tau, siapa yang membawa saya ke rumah sakit ini.?" Tanya nya.
" Kami juga tidak tau pak, orang itu mengatakan kalau anda beserta istri anda di temukan tergeletak di pinggir jalan, dalam kondisi tidak sadarkan diri." Jawab dokter itu.
" Mas Gio." Lirih Henny. Gio yang mendengar ada yang memanggil nama nya menoleh ke arah sumber suara itu.
Terlihat Henny juga sudah sadar, wanita itu menatap Gio yang juga sedang melihat ke arah nya. Tatapan mereka bertemu beberapalp detik setelah itu Gio dengan cepat mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Dia masih kecewa sama Henny, ternyata selama ini henny hanya memanfaatkan diri nya.sedangkan dia tulus mencintai wanita itu.
Dokter yang tadi memeriksa ke adaan Gio ber alih untuk memeriksa ke adaan Henny.
" Biar saya cek kondisi ibu yah." Ucap dokter itu. Henny hanya menganggukkan kepala nya. dokter itu pun melakukan tugas nya.
Setelah selesai dia merapikan peralatan nya, lalu menatap satu persatu kedua pasien nya tersebut.
"Kondisi Anda sudah baik-baik saja bu, tidak ada yang perlu di khawatir kan. Bapak sama ibu hari ini juga sudah boleh pulang." Ucap dokter itu dengan ramah.
" Terima kasih dok." Ucap Gio dan juga Henny.
"Kalau begitu saya permisi " ucap nya kemudian keluar dari ruangan itu. Kini tinggallah kedua sejoli itu.
Tidak ada yang memulai obrolan mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Seketika Henny teringat dengan rambut nya yang di gunting oleh dua wanita saat itu, wanita yang dia ketahui adalah ibu dan juga kakak dari Shinta.
Keluarga itu benar- benar kejam, mereka bahkan menggunduli rambut nya tanpa belas kasih.
Wanita itu mengepalkan tangan nya, dia bertekad akan membalas perbuatan mereka itu.
*************************
__ADS_1
Shinta saat ini sudah di perjalanan pulang, dia mampir kesebuah minimarket untuk sekedar membeli cemilan untuk nya.
Setelah selesai memilih barang yang dia inginkan, setelah di rasa cukup shinta segera menuju kasir.
Setelah selesai membayar dia segera menuju mobil nya yang dia parkir di depan minimarket tersebut.
Kemudian dia mengemudi mobil nya perlahan keluar dari area minimarket itu.
Tak butuh waktu lama dia sudah berada didepan rumah orang tua nya.kedua penjaga yang menjaga gerbang rumah tersebut segera membukakan pintu agar anak majikan mereka bisa segera masuk.
Shinta masuk dan memarkirkan mobil nya di tempat biasa dia parkir .
Kemudian wanita itu segera keluar dari dalam mobil, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Sesampai nya di dalam dia melihat bunda fahira yang sedang asyik duduk di sofa dengan mata yang terlihat fokus ke layar televisi di depan nya. Shinta pun menghampiri wanita yang sudah melahirkan nya itu sambil tersenyum.
" Bunda sedang apa.?" Tanya wanita cantik itu.
Bunda fahira yang mendengar suara putri nya, menoleh ke arah sumber suara itu, seketika senyum manis terbit di bibir tipis nya.
" Eh, sayang. Kamu baru pulang.?" Tanya nya.
Shinta segera meraih tangan bunda nya, lalu mencium tangan wanita itu dengan takzim.
Setelah itu shinta menghempaskan bokong nya di sofa samping bunda fahira.
" Iya bund, tadi habis dari restoran aku ketemu sama Desi di kafe. Eh karena ke asyikan mengobrol jadi ngak terasa hari sudah sore aja." Jawab shinta apa ada nya.
" Kamu pasti capek? Bagai mana dengan restoran kamu, semua nya baik-baik saja kan.?" Ucap wanita paruh baya itu.
" Semua nya lancar bund." Jawab Shinta.
Shinta menghela napas nya, lalu menyadarkan kepala nya di sandaran sofa tempat dia duduk.
Semua itu tidak luput dari perhatian bunda nya.
Fahira tau saat ini putri nya sedang banyak pikiran, apa lagi dengan kandas nya bahtera rumah tangga putri nya itu di sebabkan oleh sebuah pengkhianatan.
Fahira berharap semoga putri nya kelak akan mendapatkan pria yang benar-benar tulus mencintai nya.
Dia sebagai seorang wanita sekaligus seorang ibu tentu ikut merasakan apa yang shinta rasakan saat ini.
Walaupun dia tau kalau putri nya wanita yang kuat, tapi sekuat-kuat nya wanita pasti ada sisi rapuh nya juga.
Hanya saja shinta tidak menunjukkan sisi itu di depan orang lain termasuk di depan kedua orang tua nya.
Bahkan mereka hampir tidak pernah melihat Shinta menangis di depan mereka. Putri bungsu nya itu selalu bisa menutupi kelemahan nya.
Bunda fahira menarik tubuh shinta kedalam dekapan nya.
Lalu mencium pucuk kepala putri nya itu.
__ADS_1
" Kamu ngak apa-apa sayang?" Tanya wanita cantik.
Shinta mendongakkan kepala nya sehingga mata nya bertatapan dengan mata bunda nya lalu dia tersenyum.
" Aku ngak apa-apa bund, bunda jangan khawatir." Ucap Shinta.
" Oh ya bund, aku mau kekamar dulu, mau mandi gerah sudah lengket nih kena keringat." Ucap nya lagi.
Bunda fahira melepaskan tangan nya dari tubuh putri nya itu.
" Ya sudah sana, pantesan dari tadi bau asem." Ucap bunda fahira sambil terkekeh.
" Iih bunda, orang Masih wangi kok"ucap shinta sambil mengendus- ngendus tubuh nya sendiri
Setelah itu Shinta segera beranjak menuju kamar nya.
Sesampai di kamar dia meletakan tas nya di atas ranjang dia bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian dia sudah selesai dengan aktifitas nya.
Shinta keluar dari kamar mandi, lalu menuju ke meja rias.
Dia memandang bayangan diri nya di dalam cermin, tidak ada yang kurang dari wajah dan tubuh nya.
Tapi kenapa Gio bisa berpaling dan memilih mengkhianati janji pernikahan mereka? Dengan berselingkuh di belakang nya.
Seketika dia mengingat kejadian kemarin saat dia memberikan Gio dan Henny pelajaran.
Kedua pengkhianat itu pasti tidak akan tinggal diam, terutama Gio pria itu pasti akan kembali ke rumah tempat mereka tinggal selama ini. Shinta takut Gio datang ke sana lalu melukai Bi sumi.
Dia meraih ponsel nya lalu menghubungi seseorang.
Truuuttt..., Nada panggilan tersambung.
(" Hallo Queen" ) terdengar suara seseorang di seberang sana.
("Hallo Lex, kirim dua anak buah kamu untuk menjaga di rumah ku, aku takut mas Gio akan datang kesana lalu membuat keributan. Aku tidak mau pria itu memasuki rumah ku lagi." ) Ucap shinta.
("Oke Queen, apa ada lagi." )Tanya nya.
(" Ada, jangan panggil aku Queen Lex, aku sudah menganggap kamu seperti kakak aku. Jadi bisakah kamu memanggil aku dengan nama saja.") Ucap Shinta. Shinta memang tidak ingin Alex beserta yang lain nya memanggil dia dengan sebutan itu.
Dia sudah beberapa kali menegur mereka, tapi mereka tetap saja memanggil nya dengan sebutan Queen.
Terdengar helaan napas dari seberang sana.
"(Baik lah terserah kamu saja, nanti aku akan suruh Reza dan indra untuk ber jaga di sana.") Ucap nya.
(" Oke, makasih Lex.") Tuuutt... Shinta memutuskan sambungan telepon nya.
Lalu meletakan ponsel nya di atas meja rias, tangan nya meraih sebuah foto yang berada di atas meja rias tersebut lalu membuang nya ke tempat sampah yang ada di kamar nya.
__ADS_1
......BERSAMBUNG....