
Saat ini Shinta sudah berada di ruangan nya, setelah makan siang mereka langsung kembali ke kantor.
Shinta tengah sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja nya.
Hingga beberapa saat kemudian, akhir nya semua beres.
Dia pun bersiap untuk pulang, karena pekerjaan nya telah selesai.
Shinta merapikan meja kerja nya, kemudian dia beranjak dari kursi tempat nya duduk, dan meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku karena kelamaan duduk. Bahkan bokong nya saja sampai terasa kebas duduk di atas kursi itu.
Shinta mengambil tas nya dan berjalan keluar dari ruangan nya, dia ingin segera pulang dan rebahan di ranjang empuk milik nya.
Sesampai di luar ruangan nya kebetulan dia nelihat Dina yang juga baru keluar dari ruangan nya.
Seperti nya wanita itu juga ingin pulang, Dina yang melihat Shinta juga mau pulang dia pun menghampiri bos nya itu.
" Ibu baru mau pulang juga.?" Dina menyapa Shinta dengan senyum manis tersunging di bibir tipis nya.
" Iya Din." Jawab Shinta singkat.
Kemudian kedua wanita itu pun turun kelantai dasar menggunakan lift.
Sesampai mereka di bawah banyak karyawan yang juga sudah bersiap untuk pulang, karena memang saat ini sudah jam nya untuk pulang.
Shinta menuju mobil nya, sedangkan Dina wanita itu akan pulang dengan mengendarai motor kesayangan nya.
Perlahan mobil Shinta bergerak keluar dari area kantor menuju jalan raya. Shinta memang selalu mengemudi sendiri, dia tidak pernah ingin menggunakan jasa supir, sudah sering ayah nya menyuruh untuk memakai supir agar tidak perlu capek mengemudi sendiri, tapi Shinta selalu menolak dengan alasan dia sudah terbiasa mengemudi mobil nya sendiri tanpa bantuan supir atau apalah itu, menurut Shinta semua itu ribet.
Akhir nya ayah nya menyerah, karena putri nya itu benar-benar keras kepala.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam lebih, Shinta pun sampai di rumah nya. Dia segera masuk kedalam rumah setelah memasukan mobil nya di bagasi, di ruang tamu bunda Fahira dan juga Dewi sedang asyik mengobrol sambil sesekali terdengar kekehan dari dari kedua wanita beda generasi itu.
Bahkan mereka sampai tidak sadar kalau Shinta sudah berada di ruangan yang sama dengan mereka.
" Ekhemm." Shinta membuyarkan ke asyikan mereka yang lagi fokus nonton tv sambil mengobrol, kedua wanita itu kompak menoleh ke arah sumber suara itu.
Dan mereka pun kaget melihat Shinta yang sudah berdiri tepat di belakang bunda Fahira, tanpa mereka sadari dari tadi.
Untung yang masuk kedalam rumah adalah Shinta, coba kalau orang jahat, Shinta tidak bisa pikirkan apa yang akan terjadi.
" Eh copot, sayang sudah sejak kapan kamu berdiri di sini?" Tanya bunda Fahira, karena dia sama sekali tidak mendengar suara mobil Shinta memasuki pekarangan rumah, tau-tau nya Shinta sudah berdiri di belakang nya
" Sudah beberapa menit yang lalu bun, kalian lagi apa sih? Sampai-sampai tidak menyadari aku datang. Untung yang masuk dalam rumah aku, kalau orang jahat gimana.?" Ucap Shinta
" Maaf sayang, tadi bunda sama kakak kamu terlalu asyik nonton jadi sampai ngak dengar kamu masuk." Ucap bunda Fahira yang.
__ADS_1
" Ya udah lain kali hati-hati." Ucap Shinta
" Iya sayang." Sahut bunda Fahira dan di angguki oleh Dewi yang hanya diam dari tadi.
" Kalau begitu aku kekamar dudu ya bun, kak Dewi." Ucap Shinta.
Kedua wanita itu pun mengiyakan keinginan Shinta.
Shinta menaiki anak tangga untuk pergi kekamar nya, sesampai di kamar dia membuang tas nya asal. Kemudian dia merebahkan tubuh nya di atas kasur.
Dia meraih ponsel nya, lalu memeriksa siapa tau ada pesan yang masuk dari seseorang, tapi ternyata tidak ada.
Dia pun turun dari ranjang nya lalu masuk kekamar mandi, dia ingin segera membersihkan diri.
Seperti biasa dia akan berendam unyuk merileks kan tubuh nya.
Beberapa menit telah berlalu, Shinta menyudahi aktivitas nya, dia pun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang di gulung keatas memperlihatkan leher jenjang nya, dengan tubuh yang hanya di tutupi oleh handuk.
Dia segera mencari pakaian yang akan dia kena kan.
Setelah selesai dia duduk di sisi ranjang, tiba-tiba dia memikirkan pertemuan nya dengan Bara, Shinta masih tidak menyangka kalau Bara sekarang ternyata tinggal di kota yang sama dengan nya.
Dan pria itu ternyata pemimpin dari perusahaan Dirgantara.
Saat sedang asyik melamun pintu kamar nya di ketuk dari luar.
Membuyarkan lamunan Shinta, Shinta pun turun dari ranjang nya untuk membuka pintu tersebut.
Ternyata bi Summi yang mengetuk pintu.
" Ada apa bi.?" Tanya Shinta.
"Maaf non, nyonya menyuruh saya untuk memanggil non Shinta untuk turun makan malam, tuan sama nyonya sudah menunggu." Ujar bi Sumi.
Mendengar apa yang baru saja bi Summi kata kan, Shinta melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
Dan ternyata waktu sudah menunjukan angka delapan.
" Baik bi, aku akan segera ke sana." Ujar Shinta.
Dia pun segera turun, untuk makan malam bersama keluarga nya.
Mungkin setelah ini dia akan jarang makan bareng mereka, karena besok dia akan pindah ke apartemen nya.
Jadi dia akan membicarakan hal ini kepada orang tua nya.
__ADS_1
Shinta segera turun kelantai bawah untuk menemui keluarga nya, sesampai nya di meja makan di sana mereka sudah pada menunggu nya. Shinta pun segera menghampiri mereka dan menarik kursi kosong untuk nya duduk.
Malam ini mereka makan seperti biasa, tidak ada yang bersuara hingga selesai.
Setelah selesai mereka berkumpul di ruang tamu, Shinta pun mulai mengatakan keinginan nya.
"Ayah, bunda, besok rencana nya aku akan pindah ke apartemen." Ucap Shinta sambil menatap satu persatu yang ada di ruangan itu.
" Kenapa sayang.? Kok mau pindah, kamu ngak mau tinggal di sini." Tanya vunda Fahira dengan raut wajah sedih.
" Bukan begitu bun, di sana lebih dekat jarak nya dengan kantor hanya lima belas menit saja, sedangkan di sini hampir memakan waktu dua jam di perjalanan." Ucap Shinta.
Dia berharap bunda nya bisa mengerti, selain jarak rumah orang tua nya yang lumayan jauh dari perusahaan nya, Shinta juga tidak mau terus merepotkan kedua orang tua nya Dia ingin mandiri.
Sedangkan ayah sama kakak nya hanya menjadi pendengar dari tadi.
" Apa yang Shinta katakan benar bun, dari sini memang jauh habis banyak waktu di perjalanan, apa lagi kalau macet." Brama yang hanya diam sambil membaca koran dari tadi ikut menimpali perkataan Shinta. Dia tau Shinta bukan wanita manja yang selalu ingin bermanja-manja dengan orang tua nya.
Shinta adalah wanita tangguh dan mandiri dia pasti merasa tidak enak kalau terus berada di rumah nya.
Akhir nya bunda fahira mengalah dan mengijinkan Shinta untuk tinggal di apartemen nya.
Setelah mengobrol mereka pun memilih untuk segera beristirahat karena sudah larut malam, apa lagi tubuh mereka yang sudah lelah seharian beraktivitas.
****
Di tempat yang berbeda, seorang pria tengah berdiri menatap kelangit dia melihat banyak nya bintang.
Dia terkadang tersenyum sendiri entah apa yang sedang dia pikirkan.
Kalau ada orang lain di sana pasti mereka akan mengira pria itu sudah tidak waras.
" Rani, apa dia sudah tidur sekarang belum yah." Gumam nya.
Dia melihat ke layar ponsel nya.
Dia bingung ingin kirimkan Shinta pesan, tapi dia takut mengganggu wanita itu apa lagi ini sudah malam, pasti wanita itu sudah tidur.
(" Malam Ran, apa kamu sudah tidur.?") Kira-kira seperti itulah isi pesan nya.
Pesan terkirim tapi dia menunggu beberapa saat namun tidak ada balasan yang masuk ke ponsel nya..
Dia pun masuk kedalam kamar nya, lalu menutup pintu balkon.
Mungkin wanita itu sudah tidur pikir nya.
__ADS_1
Setelah melihat tidak ada balasan dari pesan yang dia kirim tadi.
....bersambung...