
Beberapa menit berlalu, akhir nya yang di tunggu pun datang menghampiri mereka.
Bu Rahma menatap Henny dengan wajah masam.
" Kamu dari mana aja sih? Udah di tunggu dari tadi." Ketus bu Rahma.
" Maaf bu." Hanya itu yang bisa Henny kata kan.
Akhir nya mereka makan malam dalam diam, hanya dentingan sendok yang terdengar di antara mereka.
Setelah selesai makan bu Rahma mengajak anak nya untuk bicara dan juga Henny.
Sekarang mereka bertiga sedang duduk di ruang tamu.
" Gio ibu akan kembali ke kampung besok, jadi ibu saran kan, ada baik nya kalian tidak tinggal dalam satu atap. Bukan kah kemarin kamu mengatakan kalau kamu sudah menjatuhkan talak kepada nya?, itu arti nya kalian bukan suami istri lagi. Dan kamu Henny sebaik nya kamu pulang ke rumah orang tua kamu, atau cari tempat tinggal lain saja dari pada nanti terjadi sesuatu yang tidak di inginkan." Ucap bu Rahma sambil menatap Gio dan Henny bergantian.
Henny yang tadi menundukkan kepalanya seketika menatap ke arah bu Rahma.
" Maksud ibu apa? Ibu mengusir saya, dan ibu menyuruh mas Gio untuk meninggalkan saya begitu.?" Ucap Henny sambil menatap nyalang ke arah bu Rahma.
" Kenapa memang nya? Kamu ngak terima, anak saya sudah menalak kamu. Itu arti nya kamu bukan siapa-siapa anak saya sekarang. Ngerti kamu, sebagai perempuan seharusnya kamu punya harga diri, ini di bilangin malah nyolot." Ucap bu Rahma.
Gio yang melihat ibu nya sudah mulai emosi, dia pun menengahi nya. Bukan karena dia membela Henny tapi karena sekarang hari sudah malam, takut mengganggu tetangga yang lain.
" Bu ini sudah malam, sebaik nya kita istirahat. Kita akan membicarakan masalah ini besok saja, malu sama tetangga kalau sampai mereka mendengar kita ribut di tengah malam." Ucap Gio.
Bu Rahma membuang pandangan nya ke arah lain.
Bu Rahma berdiri dari tempat duduk nya, dia memilih untuk segera masuk kekamar untuk istirahat. Namun sebelum itu dia menatap anak nya dengan tajam.
" Dan kamu Gio, kalau jadi laki-laki itu jangan plin plan. Kamu harus tegas, dan punya pendirian. Ngerti kamu." Ucap bu Rahma kemudian dia pergi dari sana.
Kini hanya tinggal Gio dan juga Henny di ruangan itu.
" Mas kamu liat sendiri, bagai mana sikap ibu kamu sama aku. Aku sedih mas, kenapa ibu kamu seolah-olah sangat membenci ku, ini semua pasti gara-gara mantan istri kamu yang sombong itu. Wanita licik itu pasti sudah menghasut ibu mu, agar ibu kamu membenci ku." Ucap Henny sambil mengepal kan tangan nya.
Gio mengangkat sebelah alis nya, sambil menatap Henny.
" Sudahlah Henny jangan selalu menyangkut paut kan Shinta di setiap masalah yang terjadi, ini tidak ada sangkut paut nya sama dia." Ucap Gio.
" Kamu masih membela wanita itu mas? Kamu lupa siapa yang membuat kita jadi seperti ini, siapa yang telah merampas semua yang kita miliki. Itu Shinta mas, ingat itu. Aku sendiri ngak rela ya mas kalau dia sampai bahagia di atas penderitaan ku.
Seharus nya kita bersatu untuk membalas semua penghinaan dan perbuatan nya waktu itu." Ucap Henny dengan wajah merah padam.
Dia menatap Gio dengan nyalang.
Gio hanya diam mendengar ucapan Henny, sebenar nya dia juga ingin membalas perbuatan Shinta waktu itu pada nya.
Namun tidak sekarang, dia akan melakukan nya setelah dia benar-benar memastikan tidak ada kesempatan buat dia mendapatkan Shinta kembali.
" Kenapa diam saja mas? Kamu masih bermimpi untuk kembali kepada nya? Jangan menghayal terus mas, terima kenyataan kalau kamu itu sudah di buang oleh perempuan itu layak nya sampah." Ucap Henny, kemudian wanita itu pergi meninggalkan Gio yang masih mematung di tempat nya semula.
Ke esokkan hari nya..
Pagi ini bu Rahma bangun seperti biasa, dia saat keluar dari kamar tempat dia tidur semalam, dia melihat Gio yang masih pulas tertidur dengan posisi telungkup di atas sofa yang berada di ruangan itu.
__ADS_1
Dia baru menyadari kalau di kontrakan kecil ini hanya tersedia dua kamar, ruang tengah dan ruang dapur yang langsung terhubung juga dengan ruang kamar mandi.
Dia semalam menempati satu kamar, dan Henny di kamar yang sebelah nya. Sedangkan Gio tidur di ruangan tamu atau ruang tengah. Dan dia juga baru ingat kalau Gio dan Henny bukan lagi suami-istri, jadi wajar saja kalau Gio tidak sekamar dengan mantan istri sirih nya itu.
Bu Rahma kembali masuk kedalam kamar nya, lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh Gio.
Laki-laki itu tidak terusik sama sekali, dia begitu pulas dengan tidur nya.
Setelah menutupi seluruh tubuh putra nya bu Rahma berlalu ke dapur untuk memasak, buat sarapan pagi mereka nanti.
Setelah beberapa saat berkutat di dapur akhir nya semua nya beres.
Sekarang sudah pukul 5:30 wanita itu menata semua masakan yang dia buat di meja makan. Kemudian wanita itu kembali kekamar nya, dia mengambil pakaian ganti, lalu kembali menuju ruang dapur karena di sana lah letak kamar mandi nya.
Dia pun segera membersihkan diri, tidak butuh waktu lama dia pun selesai dengan aktivitas nya.
Sedangkan Henny wanita itu belum ada tanda-tanda dia akan bangun, bahkan sekarang sudah hampir jam 6 tapi wanita belum muncul juga.
Bu Rahma kembali masuk kedalam kamar nya, dia akan bersiap-siap karena setelah sarapan dia akan pulang ke kampung.
Setelah selesai, bu Rahma keluar dari kamar, dia mendapati Gio yang sudah duduk di meja makan sambil meminum kopi nya.
Bu Rahma menghampiri nya.
" Kamu sudah bangun nak.?" Tanya bu Rahma. Wanita itu menarik sebuah kursi kosong untuk nya duduk.
" Sudah bu, ibu jadi pulang kampung. Kenapa ngak tinggal sama Gio aja, di kampung kan ibu hanya sendiri. Gio akan berusaha mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan kita di sini." Ucap Gio.
" Nanti ibu akan pikirkan, tapi kalau ibu tinggal sama kamu, terus siapa yang akan merawat rumah kita di kampung nak? Itu adalah satu-satu nya harta peninggalan almarhum bapak kamu." Ucap bu Rahma.
" Kamu ikut ibu pulang ke kampung yah, untuk beberapa hari saja. Mau yah ibu mohon." Ucap bu Rahma. Dia sengaja membawa Gio untuk pulang bersama nya untuk sementara waktu, agar Gio bisa terlepas dari Henny wanita ular itu.
" Wanita itu bukan tanggung jawab kamu lagi Gio, kamu jangan bodoh. Biarkan dia kembali ke rumah orang tua nya, atau biarkan dia mencari tempat tinggal nya sendiri. Jangan mau di manfaatin sama wanita seperti itu." Ujar bu Rahma.
" Tapi bu, bukan nya kemarin ibu tidak menyetujui aku membiarkan Henny begitu saja. Bahkan ibu menyuruhku untuk mengembalikan nya dengan cara baik-baik ke orang tua nya."
Gio bingung dengan sikap bu Rahma yang berubah-rubah.
Waktu itu ibu nya marah karena mendengar dia bilang kalau dia sudah menjatuhkan talak kepada Henny, tapi sekarang ibu nya begitu ngotok menyuruh nya membiarkan Henny untuk mencari tempat tinggal nya sendiri. Gio tau ibu nya pasti telah mengetahui sesuatu tapi apa? Apa yang telah ibu nya ketahui.
Apa Henny punya rencana yang tidak baik, sehingga membuat ibu nya begitu ingin dia menjauhi Henny.
" Bu, sebenar nya apa yang terjadi bu? Kemarin ibu sempat menyuruhku mengembalikan Henny kepada orang tua nya secara baik-baik, tapi kenapa sekarang ibu seolah-olah berusaha menjauhi aku dengan nya, Apa ibu mengetahui sesuatu? Kata kan pada ku bu." Ucap Gio dia begitu penasaran apa sebenar nya yang membuat ibu nya jadi seperti itu.
Bu Rahma menghela napas nya, lalu menatap mata anak nya itu.
" Apa kmu akan percaya sama ibu, kalau ibu menceritakan apa yang ibu ketahui .?" Tanya bu Rahma dengan masih menatap lekat mata Gio.
" Aku akan selalu percaya sama ibu, jadi ceritakan lah." Ucap nya.
" Jadi semalam ibu tidak sengaja mendengar Henny sedang bicara dengan seseorang lewat telpon, mereka berencana..."
" Selamat pagi semua nya." Ucap Henny tiba-tiba datang menghampiri mereka. Sebelum bu Rahma sempat menyelesaikan ucapan nya.
Kedua ibu dan anak itu menoleh ke arah Henny yang sedang menghampiri mereka. Henny bahkan dengan tidak tau malu nya langsung duduk di samping Gio.
__ADS_1
Bu Rahma menatap nya dengan wajah datar begitu juga dengan Gio.
" Jadi gi mana nak, apa kamu mau ikut ibu pulang." Ucap bu Rahma wanita itu tidak mempedulikan Henny.
" Iya bu, Gio ikut. Lagian Gio sudah lama juga tidak pulang kesana." Jawab Gio.
Henny memandang kedua orang yang ada di depan nya sambil mengepalkan tangan nya.
" Kamu mau ke mana mas?" Tanya Henny wanita menatap Gio dan juga bu Rahma.
" Gio akan ikut saya pulang kekampung." Bukan Gio yang menjawab tapi bu Rahma.
Henny menatap Gio.
" Benar begitu mas.? Tanya nya.
" Hemmm.." hanya itu yang keluar dari mulut Gio pria itu kembali memakan makanan nya. Begitu juga dengan bu Rahma.
Braakkk..
Henny bangun dari duduk nya sambil menggebrak meja makan itu.
Begitu kuat sehingga Gio dan juga bu Rahma terkejut.
" Kamu apa-apaan sih Henny.?" Bentak Gio.
" Kamu yang apa-apaan mas, kamu mau ikut ibu kamu pulang, terus aku gimana? Apa kamu tega meninggalkan aku sendirian di kota besar seperti ini mas, di mana tanggung jawab kamu hah?" Ucap Henny.
" Tanggung jawab apa maksud kamu Henny? Dulu aku selalu berusaha memenuhi semua ke inginan kamu, tapi apa yang ku dapatkan Henny, apa? Kamu malah hanya ingin memanfaatkan aku untuk kepentingan diri kamu sendiri." Ucap Gio yang sudah terpancing emosi.
********
Berbeda dengan Gio dan Henny, Shinta sekarang sudah bersiap untuk berangkat ke sebuah panti untuk memberikan barang-barang nya yang tidak dia pakai.
Semua barang pemberian Gio dia bawa.
Semua nya sudah siap, wanita cantik itu menghampiri bunda nya sedangkan ayah nya sudah lebih dulu berangkat ke kantor, karena ada pertemuan dengan klien nya.
" Bunda, aku berangkat dulu yah." Ucap Shinta sambil mencium tangan bunda Fahira.
" Iya hati-hati yah." Ucap bunda nya.
Shinta pun mulai melangkahkan kaki nya menuju mobil, hari ini dia memutuskan tidak kekantor, dia sudah menyuruh Dina sekretaris nya untuk menghandle semua nya hari ini.
" Tunggu dek, kakak ikut." Teriak seseorang dari dalam rumah.
Shinta membalikan badan nya lalu menoleh ke arah sumber auara tersebut. Di sana terlihat kakak nya Dewi berjalan terburu-buru sambil menenteng tas di tangan nya.
" Kakak mau ikut juga.?" Tanya bunda Fahira.
Saat melihat putri sulung nya itu keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang sudah rapi.
" Iya bun, aku lagi bosan di rumah. Jadi mendingan aku ikut sama Shinta saja." Ucap nya. Fahira hanya menganggukan kepala nya.
" Ya udah cepat lah kak, nanti keburu siang hari." Ucap Shinta.
__ADS_1
Dewi pun menyalami bunda nya sama seperti Shinta, kemudian kedua wanita itu pun pergi.
.....Bersambung..,