
Aldevaro menghela napas panjang ketika cowok itu tengah merebahkan tubuhnya di atas blankar UKS. Ia pergi ke tempat tersebut dikarenakan kepalanya yang entah mengapa terasa begitu pening. Dirinya bahkan sampai tidak bisa fokus dengan pembelajaran di kelasnya. Perkataan Zeva hari sabtu kemarin benar-benar mengusik pikirannya.
“Kalau lo sadar lo udah nyakitin perasaan gue, kenapa lo gak langsung jelasin? Sesulit itu lo jelasin semuanya sama gue, Va? Gue pengin tahu, kenapa waktu itu lo tiba-tiba pindah dan putusin gue lewat surat. Gue masih belum terima hal itu, asal lo tahu,” Aldevaro mengeratkan kepalan tangannya sampai mengeluarkan bunyi. Salah satu lengannya yang lain sengaja ia taruh tepat di atas matanya yang terpejam.
“Jangan tinggalin gue lagi, Va…” lirih cowok itu, tanpa sadar ia mengeluarkan isakannya. Perdana seorang Aldevaro dibuat menangis karena perempuan. Padahal, saat dua tahun yang lalu di mana Zeva memutuskannya lewat sepucuk surat, ia tak menangis sedikitpun. Aldevaro hanya mengubah kepribadiannya dari dingin, menjadi semakin dingin. Cowok itu bahkan mulai membenci perempuan yang mencoba untuk berdekatan dengannya. Kecuali Diandra yang memang sedari kecil sudah dekat dengannya.
Tanpa Aldevaro sadari, seorang gadis yang baru saja memasuki UKS karena khawatir padanya, dibuat memaku di tempat mendengar jerit pilu yang terucap lewat mulutnya.
Ia yang tadinya hendak membuka gorden yang menutupi Aldevaro pun diurungkan. Sesuatu yang tak terlihat namun terasa nyata itu seakan menghantam sampai ke dalam ulu hati gadis itu. Dan dia adalah, Diandra.
Tanpa mau berbasa-basi lagi, Diandra lantas melenggang dari UKS. Tentunya dengan berhati-hati, agar Aldevaro tak menyadari kedatangannya.
Saat dirinya telah benar-benar berada di luar UKS, barulah gadis itu berlari sekuat tenaga seraya menahan tangisnya.
Sayangnya, isakan demi isakan itu keluar diiringi kedua bola matanya yang mulai memburam akibat air matanya yang menggenang.
Sakit. Rasanya begitu menyakitkan saat kalimat demi kalimat yang diucapkan Aldevaro terdengar sangat jelas oleh pendengarannya.
Aldevaro masih belum bisa melupakan mantannya, padahal dulu ketika cowok itu tengah berkabung akibat hubungannya yang telah kandas, Diandra selalu ada untuk Aldevaro. Gadis itu bahkan mencoba menjadi pendengar yang baik, disaat hatinya perlahan-lahan terluka akibat cerita demi cerita tentang gadis bernama Zeva yang selalu ia ceritakan di depannya.
Lelah berlari, Diandra pun berhenti saat dirinya berada di belakang gedung sekolah yang tampak sepi dan terlihat agak angker.
Diandra sebenarnya takut berada di sini, namun, ia tidak punya pilihan lain. Rasa sakit hatinya lebih besar ketimbang rasa takut akan tempat yang jarang dikunjungi siapa pun itu.
“Jadi selama ini kehadiran gue di hidup lo itu apa, Al, APA!” Diandra memekik keras seraya terduduk lemas di atas rerumputan. Tangannya memukuli dadanya berkali-kali, mencoba menghilangkan rasa sakit yang entah sejak kapan mulai terasa begitu menyakitkan dari sebelumnya.
“Jadi selama ini gue sia-sia, gitu? Gue cinta sama lo Al, kenapa lo gak paham! Kenapa lo masih mikirin cewek brengsek itu yang udah sedemikian rupa nyakitin lo! Otak lo di taruh di mana, hah? Kenapa lo gak pernah lihat gue? Lihat gue Al, lihat gue!” Lirihnya, air matanya bahkan sudah mengalir deras, namun ia tak peduli. Diandra ingin mengeluarkan segala rasa sakitnya yang sudah lama ia pendam seorang diri.
Tak berapa lama kemudian, gadis itu mulai menghapus jejak air matanya dengan cukup kasar. Tubuhnya yang semula teronggok di atas rerumputan, kini ia ubah menjadi berdiri tegak dengan sesekali akan membersihkan rok belakangnya dari debu maupun kotoran yang menempel akibat dirinya yang cukup lama terduduk di sana.
Tatapan memelasnya pun sudah tidak ada lagi, dan berganti dengan tatapan dingin yang menyiratkan suatu kebencian.
“Zeva.” Diandra terkekeh sarkas ketika mengucapkan nama itu.
“Iya, sekarang gue inget. Cewek yang kemarin diajak pulang sama Al itu elo, Zeva. Cewek brengsek yang udah nyakitin Al, dan sekarang dengan gak tahu malunya lo pengin kembali ke sisi dia.” Diandra mengepal kuat kedua tangannya seraya menarik napas dalam-dalam.
“Gue gak akan buat lo punya kesempatan buat deketin Al lagi! Lo cuma mantannya, masa lalunya! Gue akan buat lo paham kalau nyakitin cowok yang gue incer, gak bisa semudah itu.”
****
“Akh! Kenapa kuping gue berdengung, ya?” Zeva refleks menutup telinga kirinya yang tiba-tiba terasa berdengung tanpa sebab. Tak berapa lama kemudian, rasa berdengung itu berubah menjadi rasa panas yang menyeruak. Gadis itu sampai mengipasi daun telinganya agar rasa panas itu mereda.
“Lo kenapa?” Sahutan lembut namun terkesan datar itu berasal dari Adel. Teman sekelasnya yang tengah berdiri tepat di samping jajarannya.
Omong-omong soal hari ini, kelas Zeva tengah melakukan kegiatan olahraga di lapangan outdoor. Mereka semua tengah pemanasan, sehingga posisi mereka tampak saling baris-berbaris di tengah lapangan.
“Eh? Gak tahu! Kuping gue mendadak panas, aneh banget.” Ujar Zeva sedikit berbisik. Tak ada balasan dari Adel, si gadis pendiam yang sering dikucilkan satu kelas. Gadis itu hanya diam dan kembali melakukan pemanasan seperti yang tengah dipraktekan oleh Gani dan Ucok di depan sana.
Zeva lantas menghela napas lelah melihat sikap acuh tak acuh dari Adel. Ia tidak paham sama sekali, mengapa Adel selalu menjaga jarak dari semua orang? Ketika Zeva mencoba untuk dekat pun, gadis itu malah merespon dingin, seolah kehadiran Zeva begitu merusak suasananya.
Namun, Zeva tak ingin ambil pusing. Toh walau ia tak punya teman di sini sekalipun, dirinya masih biasa-biasa saja. Ia tak merasa insecure sama sekali.
Hanya saja, Zeva juga ingin seperti orang lain, di mana mereka akan saling bertukar rahasia dan tertawa bersama.
Sebenarnya, Zeva juga punya beberapa teman atau lebih tepatnya sahabat. Hanya saja, karena dirinya yang sering sekali berpindah-pindah tempat, lama-kelamaan hubungannya jadi sedikit merenggang. Bahkan untuk sekadar saling mengirim pesan saja ia sudah jarang.
Salahkan Zeva yang semakin anti sosial, sehingga untuk sekadar membuka WhatsApp saja ia sudah malas.
Terlalu larut dalam lamunannya, Zeva bahkan sudah tidak sadar jika peregangan mereka sudah selesai. Banyak dari para siswi yang mulai berteduh di pinggir lapangan dengan sesekali mengobrol santai. Sedangkan para siswa, mereka sibuk mengambil alat-alat olahraga di ruang kesenian.
“Woi! Ke sana, yuk! Cowok-cowok pada mau main bola,” tepukan disertai sahutan itu seketika membangunkan Zeva. Gadis itu celingukan, dan ketika telah menemukan di mana seseorang yang baru saja menyahutinya, ia pun tersenyum canggung.
“Pemanasannya udah, ya,” tanya Zeva, seraya ikut melangkahkan kakinya bersama gadis yang belum ia ketahui siapa namanya itu. Namun dari penampilannya, sepertinya seorang cewek tomboy. Terlihat dari potongan rambut serta cara bicaranya yang agak, ekhem, songong.
__ADS_1
“Iyalah. Lo mah ngelamun, sih. Btw, kok lo gak pernah ikut gabung sama yang lain, sih? Mentang-mentang anak baru,” gadis itu terkekeh renyah di akhir ucapannya. Ketika keduanya sudah berada di pinggir lapangan, ia lantas mengajak Zeva untuk ikut duduk. Dia seperti itu pun karena peka melihat Zeva yang masih saja sungkan saat diajak bicara.
“Btw-”
“Eh, Joy! Lo gak ikut main bola sama temen cowok lo?” Sahutan melengking itu terdengar dari arah belakang, membuat ucapan gadis yang dipanggil Joy itu pun lantas terjeda.
Joy atau pemilik nama lengkap Jovanka Davisha, menoleh pada sumber suara tersebut seraya berdesis dengan raut wajahnya yang tampak sangar.
“Diem lo Badut Rempong! Mau mulut lo gue sumpelin cabe?” Sentaknya, yang langsung membungkam mulut gadis berambut sebahu yang diikat ke atas, Jessy.
“Ya elah, ‘kan gue cuma nawarin.”
“Gue gak butuh lo tawarin,” sentaknya lagi, dengan perhatian yang kembali pada Zeva.
“Nama lo … Joy?” Sahut Zeva, hati-hati. Takut jika ucapannya akan membuat gadis tomboy itu tersinggung.
“Bukan! Itu mah nama panggilan gue. Gue juga gak tahu kenapa mereka jadi manggil gue Joy. Padahal nama gue tuh Jovanka Davisha! Tapi, ya, kalo lo juga mau panggil gue Joy juga gak pa-pa.” Ujar Joy. Seulas senyuman tulus terbit di wajahnya, sedikit membuat Zeva kaget.
Bagaimana tidak kaget?
Barusan saja gadis itu tampak marah-marah, dan raut wajahnya terlihat begitu mengerikan, sampai membuat Zeva yang duduk di sebelahnya gemetaran.
Tapi lihatlah sekarang! Joy tersenyum! Raut wajahnya terlihat beribu-ribu kali sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Sangat cantik.
“Gue Zeva,” Zeva mengulurkan tangannya tepat ke hadapan Joy. Di tempatnya, Joy tampak mematung dengan sepasang netra yang terbelalak.
Detik berikutnya, Joy tergelak, namun ia menerima uluran tangan Zeva. “Lo lucu banget sih, Va, astagaaa! Pantesan si Aldevaro bucin banget sama lo.” Celetuk Joy, membuat Zeva terdiam dengan otak kecilnya yang mulai berpikir keras.
“Aldevaro? Lo tahu dari …”
“Ya elah, gue juga nontonin basket kali waktu itu! Gue duduk di depan lo! Makanya gue sampe langsung tahu kalau orang yang disamperin si Al waktu itu elo.” potong Joy. Semburat merah kini mulai menghiasi kedua pipi Zeva. Ia malu, sangat. Bisa-bisanya ia melupakan hal itu.
“Hebat lo, Va, baru jadi anak baru udah dapetin tuh cowok! Dia itu paling anti sama hal yang begituan, asal lo tahu!” Ujar Joy, Zeva hanya terdiam seraya meresapi setiap untaian kata dari gadis itu.
“Jangan-jangan lo pindah ke sekolah ini biar bisa ketemu sama Aldevaro, ya? Lo udah pacaran lama sama dia, ‘kan, makanya tuh cowok paling gak mau dideketin cewek manapun. Sekarang gue akhirnya paham.” Ujarnya lagi, membuat Zeva berdecak sebal karena gadis itu dengan seenaknya menyimpulkan.
“Kok, bisa gak tahu pacar sendiri sekolah di mana? Aneh lo, Va,”
Zeva berdesis seraya memijit pelan pangkal hidungnya. “Dia bukan pacar gue,”
“Masa sih? Ooh, temen?” Tebak Joy, yang dibalas gelengan kepala oleh Zeva. “Bukan,”
Joy mendelik menatap Zeva. Tak berapa lama kemudian, gadis itu kembali berpikir. “Ooh, TTM!” Tebaknya lagi, dan lagi-lagi dibalas gelengan kepala serta helaan napas lelah oleh Zeva.
“Bukan juga,”
“Lha, terus..? Mantan? Enggak mungkin-”
“Emang. Gue cuma mantannya.” Terang Zeva. Dan saat itu juga, Joy langsung melebarkan mulutnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zeva.
“Hahaha! Lo bercanda, ‘kan? Mana ada hubungan sama mantan seromantis itu? Kecuali kalo kalian emang proses balikan,” tak ada jawaban apa-apa lagi dari mulut Zeva, membuat Joy menghentikan tawanya. Raut wajahnya pun berubah serius.
“LO BENERAN MANTANNYA SI ALDEVARO?!” Pekik Joy, membuat perhatian seluruh pasang mata kini beralih pada mereka, khususnya Zeva.
Sialan!
Kenapa Joy ini ember sekali? Sekarang identitas dirinya jadi terekspos, ‘kan?
“Gak tahu ah! Gue kesel!” Zeva bangkit dari posisinya dengan tampang cemberut. Ia sudah tidak tahan berada di sana di mana orang-orang sekelasnya mulai berghibah tentang dirinya.
Mati-matian Zeva berusaha untuk tidak diketahui oleh siapa pun, kini semua itu hanya tinggal angan-angan saja. Awas lo Joy! Batin Zeva dendam.
“Eeh, ZEVA! LO MAU KE MANA? MASIH JAM OLAHRAGA, ANJ*R, JAN KABUR!” Teriak Joy yang sama sekali tidak digubris oleh Zeva.
__ADS_1
“Aduhh… Marah pasti tuh anak. Tapi ya, gimana mau gak marah, sekarang satu sekolah tahu kalau dia mantannya si Aldevaro. Aaghh, sialan! Kenapa lo ember banget sih, jadi mulut?”
****
Zeva mendengus sebal ketika tujuan akhir gadis itu dari lapangan adalah rooftop sekolah. Semilir angin yang menerpa wajah dan sebagian rambutnya sedikit membuat Zeva merasa tenang. Tanpa sadar gadis itu mulai memejamkan kedua bola matanya untuk menikmati segarnya angin pagi.
Sayang, perasaan tenang itu tak berlangsung lama saat ingatannya menjurus pada kejadian beberapa saat yang lalu.
Jika Zeva tidak salah kira, mungkin setelah ini banyak yang akan menggosipinya yang tidak-tidak. Tadi saja para siswi di kelasnya berbisik-bisik, dan masih terdengar sangat jelas di telinganya.
Anggap saja Zeva memiliki pendengaran super, makanya Zeva bisa dengan yakin jika mereka tengah membicarakannya.
“Aaghhh\, sialan! An*ng! B*bi! Eughhh!” Zeva meneriakkan semua unek-uneknya tanpa peduli apa yang baru saja ia ungkapkan.
Ya. Zeva mengamuk serta mengucapkan kata-kata kasar yang sudah lama tidak ia gunakan. Zeva mengeluarkan kata-kata itu hanya disaat ia tengah merasa kesal pada sesuatu yang selalu tidak pernah berpihak padanya.
Terkadang pula, Zeva akan menangis, namun menurutnya, hal itu kurang cocok Zeva lakukan saat ini.
“Dahlah, males gue! Pengen pulang aja, huaaaa!” Teriak Zeva sembari mencak-mencak di tempatnya.
Tanpa dirinya sadari, seseorang dari arah belakang tengah menertawai apa yang tengah Zeva lakukan saat ini. Dia bahkan sengaja menyalakan kamera ponsel, dan menangkap momen langka itu dengan memvideonya.
“Pulang aja! Pulangnya gue anterin, gak pa-pa.” Teriak Gerald, seraya melangkah pelan mendekati Zeva.
Zeva sontak terjengit mendengar teriakan itu. Gadis itu sudah pias saat menyadari bahwa orang yang baru saja menyahutinya tak lain adalah cowok aneh nan berbahaya, Gerald.
Melihat Gerald yang tersenyum puas saat berjalan ke arahnya, Zeva jadi merasa tidak nyaman. Apalagi ketika cowok itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya.
“Hi, Pretty! Lama gak ketemu. Gimana? Lo udah kangen sama gue alias Geraldino Abraham yang paling ganteng seantero sekolah ini? Pasti lah, secara gue ‘kan ganteng banget, gak ada yang ngalahin,” cerocos cowok itu, yang entah mengapa terdengar sangat menjengkelkan di telinga Zeva.
Saat Zeva hendak melenggang dari hadapan Gerald, tangan cowok itu telah lebih dulu mencengkram pergelangan tangannya. Sehingga membuat Zeva yang baru beberapa langkah berjalan, langsung kembali berhenti dengan sudut hatinya yang terasa semakin tidak nyaman.
“Di sini aja. Gue denger-denger tadi lo kek marah-marah gitu di sini? Sampe nyebutin nama-nama binatang. Gak nyangka gue, cewek misterius kayak lo juga bisa ngomong kasar,” kekeh Gerald, seketika membuat bulu kuduk Zeva meremang.
Dengan cukup kasar, Zeva menarik tangannya yang dicekal Gerald. Raut wajah gadis itu berubah waswas, apalagi ketika Gerald berjalan mengelilingi tubuhnya, kemudian berhenti ketika telah berada tepat di hadapan Zeva.
“Kenapa? Kok, tegang gitu mukanya? Takut gue sebarin ke anak-anak lain?”
“Apa sih, gak jelas! Minggir, gue mau ke kelas.” Zeva lagi-lagi menghentikan langkahnya saat Gerald menghalangi jalannya.
Terlalu kesal akibat ulah cowok aneh di hadapannya, Zeva sampai tanpa sadar mendesis dengan fokus sepasang bola matanya yang tertuju pada netra cowok itu.
“Makin cantik, deh,” ujar Gerald random. Bukannya dibuat terbang akibat pujian darinya, Zeva malah enek. Ingin sekali Zeva melayangkan sepatunya pada kepala cowok itu.
“Mau lo apa sih, Ger? Gue punya salah apa lagi sama lo sampe lo terus-terusan usik hidup gue?”
Pertanyaan Zeva membuat Gerald tertarik. Salah satu sudur bibirnya bahkan terangkat membentuk sebuah seringaian tipis. “Lo lupa? Lo udah nempatin bangku kantin milik gue, area gue!” Tekan Gerald, membuat Zeva mengernyit bingung.
“Itu doang? Lo dendam karena masalah sepele itu doang?” Tanya Zeva, dan cowok itu pun mengangguk.
“Lebay juga ya, lo jadi cowok. Kalau hal itu beneran bikin lo dendam sama gue, fine! Gue minta maaf.” Ucap Zeva. Nada suaranya tidak teredengar seperti sebelumnya yang terkesan sarkas. Suaranya terdengar lirih ketika mengucapkan kalimat permintaan maaf itu. Tatapan matanya pun tampak lesu, membuat Gerald seketika terpaku mendengar ucapan gadis itu yang diluar ekspektasinya.
“Lo-”
“Udah, ‘kan? Jadi tolong, jangan usik gue lagi. Gue gak ada waktu buat nemenin lo main.” Sela Zeva. Saat gadis itu hendak melangkah pergi, Gerald lagi-lagi menghentikan niatannya. Tangannya bahkan sudah sedia mencengkram pergelangan tangan Zeva, lagi.
“Permohonan maaf lo, gue terima. Tapi untuk gak ngusik hidup lo lagi, sorry, gue gak bisa. Karena gue butuh lo buat balas dendam sama seseorang,” terang Gerald, tanpa sadar membuat Zeva mengepalkan kepalan tangannya, kemudian menepis kasar tangan cowok itu.
“Lo manfaatin gue buat balas dendam sama siapa emang? Di sekolah ini, gue gak kenal siapa pun, termasuk lo!” Zeva sudah terlanjur marah dan kesal. Kesabarannya yang sempat ia pertahankan beberapa saat yang lalu, langsung melebur kala Gerald dengan terang-terangan mengatakan tujuannya, mengapa dirinya tidak bisa melepas Zeva.
“Lo lupa? Ada satu orang yang sangat lo kenal di sekolah ini,” bisikkan Gerald, membuat Zeva melebarkan matanya. Otak kecilnya pun langsung menunjuk siapa orang yang dikenal Zeva menurut Gerald.
Perlahan namun pasti, Zeva memberanikan diri kembali menatap Gerald yang tengah tersenyum puas ke arahnya. Jantung Zeva berdegup tak karuan saat cowok itu malah tertawa, seolah mendengar isi hati Zeva yang tanpa sadar memanggil nama, Aldevaro.
__ADS_1
“Ya, ‘kan? Siapa suruh lo mantannya.”
To be continue...