
Zeva menghentak-hentakkan kakinya ketika gadis itu melangkah meninggalkan ruang kelas yang telah sepenuhnya sepi. Sesekali, Zeva akan mendengus sebal ketika ingatannya melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu saat di rooftop sekolah. Pengakuan yang keluar dari mulut cowok bernama Gerald itu sukses membuatnya terus kepikiran. Zeva bahkan tak mengerti mengapa dirinya harus ikut terlibat dalam rencana pembalasan dendam Gerald pada Aldevaro.
“Kenapa emangnya kalau gue mantannya? Harus banget lo gangguin gue? Dih,” Zeva menggerutu di sepanjang langkah kakinya di lorong kelas dua belas. Terlalu larut dalam kekesalan, gadis itu sampai tak sengaja menabrak tubuh seseorang yang tengah berdiri tepat di kelas yang satunya.
Gadis itu mengaduh saat tubuhnya hampir terjerembab ke lantai. Beruntung Zeva yang telah sepenuhnya sadar pun dengan sigap menopang lengannya, sehingga kecelakaan kecil itu dapat terhindarkan.
“Sorry, gue gak sengaja!” Ucap Zeva, seraya membantu gadis yang belum sempat ia lihat wajahnya itu yang tengah membenarkan posisinya.
“Iya, gak pa-” gadis itu seketika menghentikan ucapannya, pun termasuk Zeva yang langsung mengubah raut wajahnya.
Dengan spontan, Zeva menjauhkan diri dari gadis itu. Termasuk gadis itu yang tak lain dan tak bukan ialah Diandra.
Buset! Bisa-bisanya gue ketemu sama cewek yang waktu itu. Batin Zeva gelisah.
Sedangkan Diandra, gadis itu benar-benar dibuat gondok karena ternyata orang yang baru saja menabraknya tak lain dan tak bukan ialah Zeva. Mantan pacarnya Aldevaro.
Padahal, sedari tadi Diandra masih bingung harus melakukan apa pada Zeva nanti jika dirinya tiba-tiba berpapasan dengan gadis itu. Sialnya, disaat Diandra masih memikirkan rencananya, Zeva seolah datang sendiri ke hadapan Diandra.
*Apa gue langsung aja\, ya? Gue udah dibuat nangis gara-gara tuh cewek yang bisa-bisanya belum bisa dilupain sama Al.*Pokoknya, gue harus bales semua ini. Diandra bermonolog dalam hatinya.
Terlalu lama berdiam diri, membuat Zeva semakin tidak nyaman di tempat itu. Ia harus segera pergi dari sana. Namun sebelum itu, Zeva akan meminta maaf terlebih dahulu. Karena bagaimanapun, di sini yang salah adalah Zeva.
“Ekhem. So-sorry, tadi gue gak sengaja. Lo gak pa-pa, ‘kan?” Sahut Zeva pelan. Sukses membuat berbagai lamunan tentang Zeva di benak Diandra buyar seketika. Perhatian gadis itu pun refleks beralih pada Zeva yang tampak mengerutkan dahinya ketika menatapnya.
Tanpa sadar Diandra mendengus pelan melihat ekspresi Zeva yang entah mengapa begitu menyebalkan di matanya. Gak sengaja lo bilang? Lo pikir gue percaya!
“It’s okay. Gue gak pa-pa, kok. Btw, lo cewek yang waktu itu maksa dianterin pulang sama Aldevaro, ‘kan?” Tanya Diandra tiba-tiba. Tanpa sadar membuat Zeva menaikkan salah satu alisnya dengan perhatian yang belum juga beralih dari wajah sok polos Diandra.
Ya, Zeva akui jika Diandra telihat begitu menyebalkan dengan raut wajah sok polos yang dimilikinya. Sayangnya, ucapan yang dikeluarkan oleh Diandra sangat bertolak belakang dengan raut wajahnya. Benar-benar mengesalkan!
“Enggak! Gue gak maksa Varo buat pulang sama gue! Justru dia yang maksa gue buat bareng sama dia.” Ujar Zeva, panjang. Bodo amat, dirinya dicap sombong sekalipun. Orang yang mulutnya asal jeplak beginilah yang harus diberi pelajaran.
Diandra tampak terdiam sejenak seraya meresapi untaian kata yang dilontarkan Zeva. Selang berapa lama, ia pun terkekeh dengan sesekali menggeleng-gelengkan kepala.
“Bercanda kali. Oh, ya, gue Diandra. Sepupunya Aldevaro. Lo Zeva, ‘kan? Pasti lo mantannya yang sering Al ceritain ke gue dulu.” Ucap Diandra, seulas senyuman manis terbit di wajahnya.
Entah senyuman itu benar-benar tulus atau hanya berpura-pura, Zeva tetap tidak suka dengan gadis yang mengaku bernama Diandra ini. Selain mulutnya yang asal jeplak ketika berbicara, raut wajahnya pun tampak begitu tak berdosa saat mengatakan setiap kata-katanya.
Ingin Zeva menjambak rambut Diandra, namun dirinya sadar jika mereka baru saja saling mengenal. Dan lagi, Zeva bukan tipe cewek barbar yang memperlihatkan jati dirinya. Cukup Tuhan saja yang tahu.
“Hm. Iya, gue mantannya Varo.” Ujar Zeva. Detik itu juga, aura dingin serasa menyeruak di sekitar kedua gadis itu. Keduanya saling melempar tatapan dingin nan menusuk beberapa saat. Tak berapa lama kemudian, Diandra kembali terkekeh dengan sok cantiknya.
“Sekarang lo pulang sendiri?” Tanya Diandra lagi. Terdengar sangat-sangat menjengkelkan.
“Gue emang selalu pulang sendiri, kok. Cuman waktu itu aja gue pulang dianterin Varo, padahal gue selalu nolak ajakan dia. Waktu itu aja gara-gara gue keukeuh gak mau pulang sama dia, Varo malah dengan nyebelinnya gendong gue. Katanya, gue harus banget pulang sama dia. Btw, emang Varo suka gitu, ya, kalau sama cewek yang diajak pulang sama dia? Sampe harus maksa segala?” Zeva dengan sengaja berucap panjang lebar seraya menyombongkan hal yang sudah pasti Zeva tebak, bahwa hal tersebut hanya terjadi padanya.
Tidak peduli walaupun dirinya dicap sombong atau apalah oleh Diandra. Yang pasti, Zeva sudah teramat kesal dengan gadis itu.
Kita lihat, sampai mana lo akan terus pertahanin wajah sok polos lo itu!
Diandra tak mencoba merespon. Raut wajah yang dibuat-buat polos itu pun sudah tidak ada lagi. Kini dengan sangat terang-terangan Diandra menatap Zeva dengan raut wajah tak suka. Kedua tangannya bahkan tampak mengepal kuat saat Zeva tak sengaja melirik ke sana.
Tanpa sadar, Zeva tersenyum puas dalam hati. Ingin sekali dirinya tergelak, namun seberusaha mungkin Zeva menahannya.
“Oh, ya?” Balasan Diandra, jauh dari ekspektasi Zeva.
__ADS_1
Tetapi, itu tidak masalah. Walaupun mulutnya berkata demikian, namun gestur wajah dan tubuhnya sudah memperlihatkan bahwa Diandra tengah terbakar api cemburu, iri, dan dengki saat ini.
“Udah mau sore. Gue duluan, ya,” pungkas Diandra. Saat hendak melenggang dari hadapan Zeva, tiba-tiba ia teringat satu hal.
“Oh, ya. Gue harap lo sadar, bahwa apa yang udah lo lakuin ke Al dulu itu gak bisa dimaafin semudah lo mengucapkan kata ‘maaf’. Daripada lo bikin dia kayak dulu lagi, lebih baik lo jangan tampakkin diri lo lagi di depan dia. Tadi aja dia ke UKS. Katanya dia pusing, padahal dulu, sesakit apa pun dia, Al gak bakalan pernah mau disuruh ke UKS.” Tekan Diandra, kemudian melanjutkan langkah kakinya yang tertunda, meninggalkan Zeva yang kini terdiam dengan sepasang netranya yang melebar.
****
Zeva menatap nanar layar ponsel yang menampilkan roomchat-nya bersama Aldevaro. Saat jemari tangannya hendak mengetikkan beberapa kata, Zeva kembali menghapusnya. Dengan bimbang, gadis itu melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
Ia benar-benar tidak tahu harus mengirimi chat seperti apa pada Aldevaro.
Semenjak hari di mana ia menolak Aldevaro yang mengajaknya untuk memulai hubungan seperti dulu, Zeva sudah tidak saling mengirim pesan lagi dengan cowok itu. Untuk sekadar berpapasan di sekolah saja rasanya sudah tidak pernah. Aldevaro seolah menghilang dan tidak akan pernah memunculkan dirinya kembali.
Memang benar, dirinyalah penyebab Aldevaro bersikap demikian. Tetapi untuk memulai hubungan dengan orang yang sama yang telah ia sakiti, rasanya begitu tak mungkin. Apalagi kepergian Zeva waktu itu yang tanpa pamit hanya memberikan sepucuk surat sebagai alat untuk memutuskan hubungan mereka. Sudah tidak diragukan lagi jika Aldevaro pasti menyimpan dendam padanya.
Tetapi, mengapa cowok itu malah mengajaknya balikan? Harusnya dia memperlakukan Zeva seperti orang asing, atau bahkan bersikap acuh tak acuh saat bertemu dengan mantan pacar.
Lagi, Zeva meraih kembali ponselnya. Deretan pesan chat beberapa hari yang lalu dengan Aldevaro masih belum juga ia hapus. Dirinya bahkan ingin mengirimi pesan chat lain pada cowok itu. Ucapan Diandra tadi siang membuat Zeva terus-menerus kepikiran.
Zeva khawatir, sungguh! Bagaimana jika Aldevaro bukan hanya pusing biasa? Dan penyebab Aldevaro sererti ini adalah dirinya. Ya, itu sudah pasti.
Drtt… Drtt…
Suara panggilan masuk dari nomor tak dikenal megenyahkan lamunan Zeva. Dengan hati-hati, gadis itu mengangkat palinggilan telepon tersebut. Belum sempat mengatakan apa-apa, suara asing dari seberang sana mampu membuat tubuh Zeva menegang.
“Halo? Lo Zeva? Ini gue, temennya Al. Dia sekarang lagi sakit. Lo bisa jengukin dia di apartemennya, gak? Orangtuanya lagi pada dinas, sedangkan gue sama yang lain lagi ekskul. Nanti gue share alamatnya.”
“Al? Maksudnya Varo sak-” Zeva menghentikan ucapannya saat panggilan telepon tersebut langsung dimatikan sepihak dari seberang sana. Tak berapa lama kemudian, sebuah chat masuk dari nomor yang sama mengalihkan atensi Zeva
“Ini … alamatnya? Varo lagi di apartemen? Sejak kapan Varo tinggal di apartemen?” Banyak sebenarnya pertanyaan yang terbesit di benak Zeva. Namun, gadis itu tak ingin terus-menerus memikirkannya. Ia memilih bersiap-siap untuk pergi ke tempat Aldevaro berada.
Beruntung mamanya belum pulang di jam segini. Jadi, dirinya tidak perlu berpapasan dengan sang mama jika sewaktu-waktu wanita paruh baya itu menanyai soal dirinya.
Di sisi lain, seseorang menatap datar layar ponselnya yang menampilkan deretan chat yang hanya sekadar dilihat. “Gue cuman bisa bantuin lo sampe sini, Al. Sisanya tergantung lo.” Gumamnya, kemudian mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana.
****
Sesampainya Zeva di depan sebuah pintu apartemen yang disebutkan oleh orang asing yang mengaku sebagai teman dari Aldevaro, seketika gadis itu dibuat gugup dan kelimpungan saat hendak memencet deretan angka password di pintu tersebut.
Ya. Orang yang entah siapa itu bahkan sampai memberikan password apartemen Aldevaro pada Zeva. Password-nya adalah, 2341. Jika Zeva tidak salah ingat, angka 2 dan 3 bermakna Z dan E. sedangkan angkat 4 dan 1 bermakna A dan L yang kalau digabung menjadi ZEAL, atau lebih spesifikasinya, Zeva Aldevaro.
Mengapa Zeva sampai berpikiran jauh seperti itu, karena dahulu mereka sering membuat kode-kode aneh yang berkaitan dengan nama mereka.
Zeva benar-benar tidak percaya, ternyata password apartemen Aldevaro adalah kode dari gabungan dua huruf depan nama mereka? Kode aneh yang dahulu sering sekali Zeva anggap alay, namun tetap mereka gunakan untuk membuka password ponsel mereka.
Zeva menenggak ludahnya susah payah. Dengan hati-hati, Zeva mulai menekan angka demi angka password apartemen Aldevaro, walau dalam hati ia masih sangat ragu.
Sayang, rasa khawatir akan Aldevaro yang tengah sakit dan seorang diri di dalam sana lebih besar, ketimbang rasa ragunya.
Tak berapa lama setelah menekan deretan angka password, pintu apartemen itu pun terbuka. Dengan menarik napas dalam-dalam, Zeva pun memberanikan diri masuk ke dalam seraya mengeratkan genggamannya pada tali tas selempang.
“Var? Lo di mana?” Zeva menyahut pelan, dengan perhatian yang menjelajah ke setiap sudut ruangan. Tak berapa lama, sepasang netranya menangkap sebuah pintu ruangan yang sedikit terbuka. Dengan perlahan, gadis itu melangkah menghampiri pintu tersebut yang membuatnya tertarik.
Saat membuka pintu, Zeva refleks menutup mulutnya mendapati Aldevaro dengan tubuh tertentang di atas tempat tidur dengan sesekali mengigau pelan. Hal itu lantas membuat Zeva ketar-ketir. Dengan segera gadis itu menghampiri Aldevaro.
__ADS_1
“Var? Lo gak pa-pa? Kenapa bisa kayak gini?” Zeva membuang asal tasnya. Dengan panik, gadis itu menyentuh dahi Aldevaro untuk mengecek suhu tubuhnya. Panas. Perasaan sesak dan sakit lagi-lagi bersarang di dadanya.
“Kenapa lo bisa sakit kek gini sih, Var? Gara-gara gue, ya? Gue emang cewek jahat, gue gak-”
“Zeva?” Panggilan serak diiringi sepasang bola matanya yang terbuka, sontak menyadarkan Zeva. Dengan terburu-buru, Zeva mencoba menjauhkan diri dari Aldevaro. Namun, langkahnya terjeda saat Aldevaro dengan lancang menarik pergelangan tangan Zeva, membuat tubuh gadis itu limbung dan berakhir jatuh di atas tubuh cowok itu.
“V-var? Le-lepas.” Cicit Zeva. Bukannya menurut dan segera melepaskan Zeva, Aldevaro malah tersenyum dengan sepasang bola matanya yang semakin menyipit.
“Kok, lo bisa ada di sini? Lo tahu gue tinggal di sini? Ini pasti mimpi, ‘kan? Zeva yang cuman berstatus mantan gue, gak mungkin mau jengukin gue yang lagi sakit begini,” lirih Aldevaro. Entah mengapa terdengar begitu menyayat hati Zeva.
“Ekhem. Iya, ini cuman mimpi. Lepasin gue, Var! Lo lagi sakit.” Zeva berusaha bangun dari atas tubuh Aldevaro. Namun siapa sangka, tangan cowok itu yang satunya, dengan gerakan gesit melingkarkannya tepat di pinggang ramping Zeva. Membuat Zeva seketika menegang seraya memelotot.
“Var! Lo apa-apaan, sih? Jangan jadi kurang ajar, ya!” Zeva menatap sangar sang empunya yang malah terlihat terkekeh renyah dengan sesekali terbetuk pelan.
“Katanya ini cuman mimpi? Karena ini mimpi, gue pengin peluk lo kayak gini. Atau … gue pengin berbuat lebih dari ini.” Gumam Aldevaro, semakin membuat Zeva menegang dibuatnya.
Belum sempat merespon apa-apa, Adevaro lantas mengubah posisinya menjadi Zeva yang berada di bawahnya. Hal tersebut lantas membuat Zeva kelabakan, di mana ia pun juga terkejut, mengapa di waktu yang sesingkat itu, Aldevaro dapat dengan mudah mengubah posisi mereka.
Zeva menenggak ludahnya kasar saat wajah Aldevaro perlahan mulai mendekat. Refleks gadis itu menoleh saat Aldevaro hendak mendekatkan bibirnya pada bibir Zeva. Sehingga yang terjadi saat ini adalah, bibir Aldevaro mendarat di pipi kirinya.
Aldevaro menatap nanar Zeva yang menolak di bawahnya. Dengan sedikit memendam rasa kecewa, Aldevaro menjatuhkan tubuhnya di samping Zeva dengan satu lengan menutupi kedua matanya.
“Bahkan Zeva dalam mimpi gue pun nolak gue.” Gerutu Aldevaro, kemudian terkekeh miris.
Zeva menoleh menatap Aldevaro yang berbaring di sampingnya. Dengan hati-hati, gadis itu bangkit dari tempat tidur. Ia akan mencari dapur di apartemen Adevaro dan membuatkan bubur untuk cowok itu. Mau bagaimanapun, Aldevaro tengah sakit saat ini. Dan sepertinya, saat ini dia tengah mengigau. Tidak bisa membedakan mana kenyataan dan khayalan.
Saat Aldevaro menyingkirkan lengan dari matanya, netranya tak mendapati siapa pun di dalam kamarnya. Hanya ada dirinya seorang diri.
“Kayaknya gue udah gila.” Gumam Aldevaro, kemudian mengecek suhu tubuhnya sendiri menggunakan punggung tangannya.
Dan, masih panas. Bahkan terasa lebih panas dari sebelumnya. “Bisa-bisanya gue halu ketemu lo di sini, Va. Gue emang udah gak waras.”
****
Hampir setengah jam Zeva keluar dari apartemen Aldevaro untuk membeli bubur, gadis itu akhirnya kembali ke tempat itu dengan sekantung keresek hitam berisi bubur polos tanpa topping.
Niat hati yang awalnya hanya ingin membuatkan bubur dan bukan membeli ke luar, lenyap begitu saja saat tak mendapati beras maupun makanan lain di dapur apartemen Aldevaro.
Dengan berat hati, Zeva pun memutuskan membeli bubur yang kebetulan jaraknya tak begitu jauh dari gedung apartemen Aldevaro.
Dengan langkah pelan, Zeva kembali memasuki kamar Aldevaro dengan sebuah nampan yang berisi semangkuk bubur, segelas air putih, obat penurun panas dan sebuah kompresan.
Melihat tubuh cowok itu yang bergelung dengan selimut, Zeva dengan hati-hati melepas selimut tersebut. Terdengar sedikit erangan kecil serta tubuhnya yang perlahan menggeliat.
Saat berusaha membuka matanya, Aldevaro kembali menangkap sosok Zeva. Dan pastinya, Zeva yang berada di hadapannya adalah Zeva palsu, alias ini hanya mimpi.
“Lo kenapa balik lagi?” Aldevaro mencoba mengubah posisinya dari terlentang menjadi duduk menyandar di kepala ranjang. Sesekali, cowok itu akan berdesis pelan saat rasa pusing kembali menyerang kepalanya.
“Lo pasti belum makan, ‘kan? Makan dulu, ya. Habis itu minum obat, biar lo cepet sembuh.” Ujar Zeva. Senyum tipis terbit di wajah cantiknya, membuat Aldevaro sedikit tersentak, namun tak berapa lama, ia tersadar akan sesuatu.
“Ngapain lo repot-repot urusin hidup gue? Emang lo siapanya gue?” Pertanyaan menjurus itu membuat Zeva bingung harus menjawab apa?! Untuk sekadar menatap mata Aldevaro saja ia tidak berani.
“Gue …”
“Tinggalin gue sendiri. Biarin gue mati sekalian,” potong Aldevaro. Ketika cowok itu hendak menarik kembali selimut, Zeva menghentikannya. Sebuah tangan hangat nan halus menyentuh pergelangan tangan cowok itu.
__ADS_1
“Gue gak suka sama ucapan lo. Makan sekarang, atau gue pergi dan gak akan munculin diri di hadapan lo lagi.”
To be continue...