
Zeva menjatuhkan punggungnya ke atas tempat tidur, selepas gadis itu berhasil melarikan diri dari Aldevaro. Kejadian tadi siang ketika berada di dalam kelas, saat cowok itu berhasil mencuri ciuman pertamanya membuat Zeva terus-menerus kepikiran hingga saat ini. Dan sialnya, ketika Adevaro mulai memagut bibirnya, tanpa sadar Zeva malah membalas ciuman cowok itu dengan sepasang netranya yang entah mengapa malah terpejam dengan tidak tahu dirinya.
Beruntung tadi Zeva langsung tersadar ketika punggungnya mengenai dinding. Refleks Zeva langsung mendorong tubuh Aldevaro dengan wajahnya yang memerah padam. Dan tanpa berbasa-basi lagi, Zeva berlari tanpa menghiraukan Aldevaro yang tengah tersenyum puas di dalam sana.
Zeva menutupi wajahnya yang tiba-tiba memanas dengan sebuah bantal. Tubuh gadis itu bergerak ke sana ke mari ketika bayangan Aldevaro yang tengah menciumnya kembali berputar di benaknya.
Selang berapa saat, Zeva mengubah posisinya menjadi terduduk dengan kedua alisnya yang berkerut dalam.
“Kenapa? Bisa-bisanya gue bales ciuman dia? Dan lagi, kenapa gue gak nampar dia? Malah kabur gitu aja.” Zeva terkekeh sinis ketika mengingat kembali apa yang sudah ia lakukan tadi.
Dengan menarik napas dalam-dalam, Zeva lantas mengerang kesal dengan kembali menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, sembari berguling-guling ke sana ke mari.
Sesekali, gadis itu akan berpura-pura terisak, menangis kencang, atau bahkan tertawa seperti orang gila. Anggap saja Zeva frustasi dengan dirinya sendiri yang bisa-bisanya dibuat terbuai dengan sebuah ciuman sialan.
“Huaaa… first kiss gueee!”
“Pasti gara-gara keseringan nontonin drakor, iya ‘kan? Makanya gue tadi tanpa sadar bales ciuman dia? Dan lagi, kalau nanti dia nanya soal gue yang bales ciuman dia gimana?” Zeva terus mengguru sendirian. Mencoba mencari jawaban dari rentetan pertanyaan yang ia lontarkan, namun otaknya seolah buntu, tak dapat diajak berkomunikasi.
“Terus kalau gue besok berpapasan lagi sama dia gimana?” Zeva menghela napas gusar seraya menghentikan kegiatan anehnya. Sepasang netranya menatap lurus langit-langit kamarnya yang dihiasi stiker-stiker bintang yang dapat menyala ketika di dalam ruangan yang cukup gelap.
Lagi-lagi Zeva menghela napasnya. Sebuah guling yang berada di sampingnya lantas ia ambil, kemudian dipeluknya erat.
“Gue harap, besok kita gak akan berpapasan, Var. Gue gak tahu harus kayak gimana kalau semisal kita ketemu besok.”
****
“Woi! Kenape lo? Senyum-senyum aja perasaan dari tadi.” Celetukan disertai tepukan keras di salah satu bahu Aldevaro, menyadarkan cowok itu dari berbagai lamunan indahnya.
Ketika ia menoleh, sudah ada Daniel, salah satu sahabatnya yang tengah menatapnya dengan sorot meminta penjelasan.
“Kenapa, sih? Kepo gue anj*r.” Tuntut Daniel, yang dibalas senyuman manis nan misterius oleh Aldevaro.
“Kalo gue bilang, gue habis dapet lotre, lo percaya?”
Daniel sempat terdiam sejenak. Tak berapa lama, cowok itu tergelak seraya memegangi perutnya. “Menang lotre? Heh, lo sadar ‘kan, kalau dengan lo hidup di keluarga besar lo itu aja, lo udah dapet lotre sekiranya seumur hidup. Ngaco nih anak konglomerat satu.” Ujar Daniel, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aldevaro tak berniat menjawab. Cowok itu malah lanjut senyum-senyum tanpa memedulikan Daniel yang mulai jengah di tempatnya.
“Eeh, nomor rumah sakit jiwa berapa, sih?” Sahut Daniel, tiba-tiba. Membuat Aldevaro tersentak dari lamunannya dengan kedua alis yang berkerut dalam.
“Kenapa emangnya?”
“Gue mau masukkin lo ke sana, biar jadi makin waras sekalian.” Ujarnya. Refleks Aldevaro berdesis seraya menatap tajam cowok itu. “Anj*ng, sialan lo!”
“Apa sih, bab*? Lo mah suka gitu, kasarrr! Bisa-bisanya si Zeva dulu mau aja dipacarin sama lo. Pantes aja minta putus.”
“Heh, lo kalau ngomong dijaga, ya! Gue gak pernah sekalipun ngomong kasar sama dia.”
“Oh, yahhh? Terus, kenapa lo diputusin?” Pertanyaan itu membuat Daniel seketika tak enak hati, apalagi ketika melihat raut wajah Aldevaro yang berubah sendu.
“Gue aja gak tahu salah gue di mana dan kenapa dia mutusin gue dengan cara sepihak waktu itu.” Lirih Aldevaro, yang dibalas helaan napas panjang oleh Daniel.
“Gini, ya, Al! Gue tanya sama lo. Lo masih suka sama si Zeva?” Pertanyaan serius Daniel, tak sedikitpun membuat raut wajah Aldevaro berubah. Namun, tak berapa lama kemudian, cowok itu terkekeh miris ketika mengingat perkataannya tempo hari pada Daniel bahwa dirinya ingin membalaskan dendam pada Zeva.
Tapi sekarang? Aldevaro seolah menjilat ludahnya sendiri, di mana kini niatan cowok itu bukanlah untuk membalaskan dendam, melainkan untuk kembali mendapatkan hati Zeva, dan membuat gadis itu kembali menjadi miliknya.
Lucu, bukan?
“Ya. Gue masih sayang sama dia. Gue bahkan berasa mau gila saat sedetik aja gue gak tahu kabar dia kek gimana.” Daniel berdecak kesal mendengar penuturan Aldevaro. Helaan napas berat pun ia embuskan dibarengi dengan sepasang bola matanya yang memutar malas.
“Gue nanya ‘lo masih suka apa enggak’, bukan ‘lo masih sayang apa enggak’, b*go! Ah, gak nyambung lo mah,”
“Eh, bab*, gue udah serius-serius curhat sama lo, tapi kek gini reaksi lo? Lo ngajak ribut, hah?” Raut wajah Aldevaro berubah sangar ketika menatap Daniel. Jangan lupakan tatapan matanya yang menusuk, seolah siap menyerang cowok di hadapannya.
Daniel menyengir seraya mencoba menenangkan Aldevaro yang mulai tersulut emosi. Padahal tadi niatnnya cuman meralat ucapan cowok itu. Tapi nyatanya, Aldevaro malah baper duluan.
Emang ya, kata orang. Seseorang yang lagi jatuh cinta itu kalau masalah percintaannya disenggol dikit aja, ngamuknya kek singa jantan gak kebagian jatah makan. Untunggg Daniel sabar.
“Bercanda kali, Al! By the way, soal rencana balas dendam lo yang waktu itu gimana? Gak jadi?”
__ADS_1
“Gue gak tahu. Padahal hati gue sakit tiap inget apa yang udah dia lakuin ke gue dulu. Dia niggalin gue tanpa jejak, mutusin gue lewat surat, bahkan untuk hubungin nomornya pun udah gak bisa. Emang sesulit itu ya, jujur sama gue dengan apa yang udah terjadi sama dia waktu itu?”
“Lo … tahu sesuatu?” Tanya Daniel, spontan langsung diangguki oleh Aldevaro.
“Gue tahu dikit dari Nyokap. Katanya, orangtuanya berantem hebat gara-gara masalah perempuan.”
“Bokapnya selingkuh?”
Aldevaro menggeleng pelan sembari mendengus, “Gue gak tahu. Tapi yang pasti, Zeva langsung pergi saat itu juga bareng mamanya. Dan sejak hari itu, gue udah gak ketemu dia lagi, sampai akhirnya gue ketemu lagi sama dia setelah dua tahun kemudian.” Terang Aldevaro. Daniel hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berniat mengucapkan apa-apa.
“Hayooo… melow banget perasaan suasananya? Para abang ini ada apa sebenernya, hm? Pada kangen kita kah?” Sahutan menyebalkan dari arah pintu apartement Aldevaro, spontan menyadarkan kedua cowok itu.
Ketika menoleh, Chiko, William dan Theo, sudah menyengir lebar ke arah mereka. Daniel lantas bangkit dari sofa, dan berjalan ke arah ketiga cowok itu. “Dari mana aja kalian, hah? Gak lihat apa, Tetua dan Wakil Tetua Sekte kalian ini udah nungguin lama? Mana makanannya?”
“Buset dah, Bang! Sabar dikit napa. Ban mobilnya kempes barusan, makanya agak telat.” Sela Chiko, seraya menenteng sebuah keresek besar ke atas meja pantry yang diikuti oleh Theo.
“Pada beli pizza gak, nih?” Sahutan Aldevaro yang masih setia berada di atas sofa, membuat atensi seluruh teman-temannya mulai beralih padanya.
“Beli dong. Sesuai sama permintaan Pak Wakil Tetua.” Ujar William, diakhiri sebuah penghormatan selayaknya seorang bawahan pada atasan dalam film-film kolosal.
“Ayoklah, buruan, gue dah laper nih!” Chiko menatap lapar satu-persatu makanan di hadapannya yang telah ditata rapi oleh Theo.
“Ya udah sih, tinggal makan aja, ribet banget.” Celoteh Theo, membuat Chiko lantas berdesis seraya menatapnya tajam.
“Lo-”
“Udah, udah. Yok, makan! Itung-itung syukuran apartement baru ‘kan,” lerai Aldevaro, ketika menyadari suasana di antara para adik-adiknya mulai sedikit memanas.
“Karena Bang Al, selaku tuan rumah sudah berkata demikian, lantas apalagi yang kita tunggu?”
“Sikaaattt!” Seloroh William dan Daniel yang menambah keseruan suasana.
****
Ting tong!
“Siapa?” Daniel menyahut pada Aldevaro yang perlahan mulai bangkit dari posisi bersilanya.
“Jam segini ada yang mau namu?” William yang tadinya tengah tiduran di atas sofa, lantas mengubah posisinya menjadi terduduk. Perhatiannya pun beralih pada Daniel, kemudian pada punggung tegap Aldevaro yang perlahan mulai menjauh.
Ketika membuka pintu, betapa terkejutnya Aldevaro saat seorang gadis kini tengah berdiri tepat di hadapannya. Helaan napas lega tampak dia embuskan kala seseorang yang sedari tadi ia cari-cari, nyatanya berada di sini.
“Diandra? Lo … tahu dari mana-”
“Gak penting. Kok, lo gak bilang-bilang gue sih, kalau lo sekarang pindah ke apartement? Gue khawatir, tahu gak? Gue temuin lo di rumah enggak ada. Mana Om sama Tante juga gak ada di rumah lagi.” Diandra memberengut kesal, dengan sesekali mendengus. Tanpa menunggu Aldevaro yang hendak mengatakan kalimatnya, gadis itu kemudian menerobos masuk ke dalam. Tak memedulikan Aldevaro yang mulai jengah, kemudian menutup rapat pintu apartementnya.
Saat Diandra telah sepenuhnya masuk ke dalam apartement Aldevaro, sepasang bola mata gadis itu langsung membulat dengan langkah kakinya yang refleks terhenti. Tak berapa lama kemudian, Diandra menoleh ke belakang, mencari Aldevaro yang nyatanya tengah menyandarkan punggungnya di tembok.
“Lo … lagi sama temen-temen lo?” Tanya Diandra pelan. Ia jadi tak enak hati langsung menerobos begitu saja.
“Hm.” Balas Aldevaro, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Diandra, menuju teman-temannya yang terlihat bengong, dengan sesekali akan mengkode Aldevaro lewat tatapan maupun gestur wajah.
“Eheh, ada Neng Diandra. Tumben malem-malem gini ke sini? Mau ngapelin Si Al, ya,” ucapan menyebalkan dari mulut Daniel, membuat Diandra gelagapan. Tidak dengan Aldevaro yang spontan melempar wajah cowok itu dengan bantal yang berada di pangkuannya.
“Ap-paan sih, Niel! Gak lucu tahu, gak.”
“Maklumin aja Kak. Bang Kuda Nil mulutnya emang suka seenaknya,” celetuk William dengan sepasang bola mata yang kembali terlelap sempurna. Daniel yang berada tepat di depannya hanya terkekeh menahan kesal. Bisa-bisanya anak buahnya ini memanggilnya dengan sebutan ‘Kuda Nil’.
“Lo ada apaan ke sini malem-malem?” Sahutan itu berasal dari mulut Aldevaro.
Dengan ragu, Diandra berjalan menghampiri cowok itu yang berada di sofa single. Tak jauh dari posisi William yang berada di sofa panjang yang satunya. Sedangkan Daniel, Theo dan Chiko berada di atas karpet empuk, tengah menikmati camilan dan menonton film Marvel kesukaan mereka.
“Tadinya gue mau nanyain soal tugas yang disuruh nampilin kreasi seni itu lho! Minggu depan yang dites kelas kita sama XII IPA 2. Males banget harus disatuin segala.” Dumel Diandra di akhir kalimat. Membuat Daniel yang tadinya sibuk menonton, langsung menoleh pada Diandra serta Aldevaro.
“Anj*r, untung kelas gue udah.” Aldevaro menoleh, “Lo nampilin apaan?”
“Lo serius nanya gue? Gue ini selain jago maen gitar listrik, bisa apa lagi?” Ujar Daniel, kemudian memilih kembali memokuskan dirinya pada layar televisi.
“Katanya bisa bikin grup maksimal lima orang, lho! Ehm. Gimana kalau lo duet sama gue? Lo ‘kan jago nyanyi sama main gitar tuh, kita duet akustik aja. Gimana?”
__ADS_1
Aldevaro tampak terdiam dengan kedua alisnya yang berkerut dalam. “Ya udah. Lo mau nyanyi lagu apa, entar gue siapin.” Ucapan Aldevaro membuat Diandra tersenyum lebar. Dalam hatinya yang terdalam, dirinya teramat bahagia.
“Lagunya, ya? Gue lagi pikir-pikir dulu sih. Gue masih bingung soalnya,”
“Oke. Entar lo kabarin aja kalau lo udah milih lagunya.” Diandra mengangguk antusias. Seulas senyuman manis seolah belum luntur dari wajahnya.
“Kalau gitu, gue pulang dulu, ya. Ini udah malem banget ternyata.”
“Udah tahu malem, kenapa masih dateng?” Selaan Aldevaro, membuat Diandra memberengut sebal. “Ya, ‘kan gue kira lo-nya ada di rumah. Tahu-tahunya lo sekarang malah pindah ke apartement. Kenapa pake pindah segala sih? Rumah udah segede istana juga.”
Aldevaro terkekeh pelan mendengar penuturan Diandra. “Kepo, ya?”
“Dih! Enggak tuh!” Sungut Diandra, semakin dibuat kesal saja oleh ucapan Aldevaro.
“Kapan-kapan gue cerita, deh. Udah, sekarang gue anterin lo pulang. Gak baik anak gadis di jam segini masih keluyuran.” Aldevaro bangkit dari posisinya, membuat beberapa perhatian teman-temannya sempat menoleh pada cowok itu, hingga pada akhirnya, fokus mereka kembali pada layar televisi.
“Tapi gue bawa motor.”
“Gue ikutin dari belakang.” Balas Aldevaro. Tanpa sadar, kebaikannya sudah disalah artikan oleh Diandra. Gadis itu kembali mengulum senyumnya dengan perasaan hangat berbunga-bunga.
“Makasih, Al.”
“Sama-sama. Yuk!”
****
Entah untuk yang ke berapa kalinya, Zeva terus-menerus berjalan mengendap-endap layaknya seorang pencuri yang takut ketahuan. Dengan menggunakan gaya rambut yang tak seperti biasanya, yakni dicepol satu, seolah sengaja untuk mengecoh seseorang. Tak lupa Zeva juga mengenakan kacamata oval yang sering ia gunakan ketika membaca maupun menatap layar laptop.
Benar-benar berbeda dari yang biasanya bukan?
“Huft … Udah aman belum, sih?” Gerutu gadis itu, ketika dirinya telah sampai di dalam kantin yang luamayan ramai. Kepalanya tak henti-hentinya terus celingukkan ke sana ke mari, sebelum dirinya benar-benar mendudukkan dirinya di bangku kantin.
Dirasa sepenuhnya aman, Zeva kembali menghela napas lega. Ia pun mulai mencoba menyamankan posisi duduknya.
Namun, rasa aman dan nyaman itu tak berlangsung lama, ketika seseorang yang sedari tadi terus ia hindari, kini tengah mencoba mendudukkan diri tepat di hadapannya.
“Hai, Mantan!” Sapa Aldevaro, dengan seulas senyuman menyebalkan terpatri di wajah tampannya.
Zeva memejam kuat kedua matanya seraya mendesis pelan, merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya masih bisa diketahui oleh Aldevaro.
Tanpa keduanya sadari, banyak para penggosip yang berada di kantin mulai membicarakan keduanya, termasuk sapaan dari Aldevaro yang memanggil Zeva dengan panggilan ‘mantan’.
Saat Zeva hendak berdiri dan pergi, Aldevaro ikut berdiri dan menahan pergelangan tangannya. Tatapan matanya berubah datar, namun menusuk. Membuat Zeva refleks membuang muka dari cowok itu.
“Duduk. Gue mau ngomong sesuatu sama lo.”
“Kalau soal yang kemarin, enggak. Gue gak ada waktu.” Zeva menepis tangan Aldevaro, tanpa sadar membuat perhatian cowok itu beralih pada tangannya, namun tak berlangsung lama, cowok itu kemudian terkekeh, seraya membenarkan posisi berdirinya. “Kemarin emang ada apa?” Tanya Aldevaro, jelas berpura-pura lupa. Tanpa sadar membuat Zeva mengepalkan kedua tangannya.
“Lo!” Zeva mengepalkan kedua tangannya tepat di depan wajah Aldevaro, namun ia tarik kembali di saat yang sama.
Sabar, Va, sabarrrr! Batinnya menyemangati diri sendiri.
“Ikut gue.” Aldevaro lagi-lagi menarik pergelangan tangan Zeva. Saat ia hendak melangkah, Zeva refleks menarik kembali tangannya, namun tak sampai terlepas. Cukup membuat Aldevaro menghentikan langkah kakinya.
“Ke mana?”
“Rooftop.” Saat Aldevaro hendak kembali menarik Zeva, gadis itu lagi-lagi menghentikan niatannya.
“Ngapain?”
“Ck. Bawel banget dari tadi. Udah, lo tenang aja, gak akan gue apa-apain juga.” Jelas Aldevaro, kemudian menarik Zeva yang kini mulai menurut.
Di sepanjang langkah keduanya meninggalkan kantin, murid-murid yang didominasi oleh perempuan tak henti-hentinya terus bergosip sana-sini dengan perasaan iri hati.
Pikir mereka, Zeva si murid baru ini begitu hebat. Sudah jadi mantannya Aldevaro pun masih terus dikejar olehnya. Segitu gak bisa dilupain kah gadis bernama Zeva ini?
Sungguh, hal tersebut membuat mereka tidak rela jika sewaktu-waktu Aldevaro memutuskan untuk kembali balikan dengan Zeva.
To be continue...
__ADS_1