
“Ger! Lo punya gue ‘kan?”
Perlahan, seorang gadis yang tengah terlelap dalam tidurnya mulai mengerjapkan mata seraya menggerak-gerakkan tubuhnya tak nyaman. Cahaya terang nan menyilaukan mata yang berasal dari kaca di jendela kamarnya yang tak tertutup gorden, sanggup membuat sepasang bola matanya menyipit sejenak. Salah satu lengannya yang menganggur ia taruh di atas kedua bola matanya yang kembali terpejam.
Hanya beberapa saat, di detik selanjutnya, gadis itu mulai bangkit dari posisi tidurnya. Ia lantas terduduk menyamping di tepian kasur dengan sesekali menghela napas berat.
Tatapan matanya tiba-tiba berubah sendu tatkala ingatan tadi malam kembali berputar di kepala, di mana ia kembali menghabiskan malam bersama seorang laki-laki yang tak pernah menganggapnya ada.
Geraldino Abraham. Laki-laki brengsek yang sialnya membuat Abhigail terpikat begitu dalam. Mata dan hatinya seolah tertutup sebuah batu raksasa, sampai membuatnya menjadi nekad seperti saat ini.
Gerald yang bergaya hidup bebas, pemberontak dan kasar, tak lantas membuat Abhigail takut dan menyerah untuk membuat laki-laki itu mau mencintainya.
Di tempat yang masih sama, Abhigail menolehkan kepalanya ke belakang. Menatap tempat di sebelahnya yang telah kosong, di mana beberapa jam yang lalu Gerald masih merebahkan tubuhnya di sampingnya. Sayang, laki-laki itu sudah meninggalkan tempatnya tanpa mau menunggu Abhigail terjaga.
Helaan napas berat lagi-lagi ia embuskan. Dengan langkah berat, Abhigail berjalan ke arah kamar mandi yang letaknya berada tepat di dalam kamarnya.
Di pagi yang telah cukup terik ini, Abhigail akan mulai membersihkan diri dari keringat di tubuhnya yang terasa begitu lengket. Sekalian, ia juga masih harus berangkat ke sekolah setelahnya, di mana hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester.
****
“Gerald!” Sahutan lembut disertai sentuhan di ujung seragamnya, membuat sang empunya nama yang tadinya tengah berjalan melamun pun seolah ditarik kembali ke dunianya semula. Tatapan matanya yang dingin mulai tertuju pada raut wajah seseorang yang pada saat bersamaan masih menyentuh ujung seragamnya.
Dengan kesal, Gerald menarik kasar tangan Abhigail, sehingga posisi gadis itu kini semakin berdekatan dengannya. Tidak peduli dengan posisi mereka yang saat ini tengah berada di lingkungan sekolah, dengan terang-terangan Gerald menatap Abhigail dengan tatapan yang semakin menusuk hampir tak berjarak.
“Mau apa lagi?” Gerald bertanya datar, dan hal tersebut sanggup membuat Abhigail tersadar dari lamunan singkatnya.
Saat Abhigail hendak menjauhkan diri dari Gerald, tangan laki-laki itu belum mau melepaskannya. Refleks Abhigail mengerjap beberapa saat dengan tatapan seolah meminta sebuah penjelasan dari Gerald.
“Ge-ger?” Sahut Abhigail, terdengar sangat berhati-hati. Ketika tersadar dengan apa yang tengah ia perbuat, barulah Gerald menghempaskan tangan Abhigail. Sedikit memundurkan langkah kakinya seraya menoleh asal ke samping.
“Gue gak ada waktu layanin lo. Cepetan ngomong!”
“Gue …” Abhigail menarik napasnya dalam-dalam, menjeda kalimat yang hendak ia ucapkan. Sementara itu, Gerald masih setia pada posisinya yang berdiri acuh tak acuh mendengarkan perkataan Abhigail.
“Ck, lo mau ngomong apaan sih? Kalau lo gak niat, gak usah maksain diri!” Gerald telah kehilangan kesabaran akibat Abhigail yang tak kunjung berbicara.
Karena terlanjur panik, Abhigail menarik tangan Gerald erat-erat. Mencoba kembali meyakinkan dirinya sendiri akan hal apa yang akan ia ungkapkan pada laki-laki itu. “Gue telat, Ger,” ungkapan pelan dari mulut Abhigail, membuat kedua alis Gerald berkerut dalam.
“Maksud?”
Abhigail lagi-lagi mencoba menarik napasnya dalam-dalam. Kepalanya mulai celingukan ke sana ke mari untuk menatap kondisi sekitar. Dirasa cukup sepi, Abhigail mulai melanjutkan kalimatnya. “Gu-gue … udah beberapa bulan ini gak datang bulan. Ka-kalau seandainya gue hamil, lo mau ‘kan tanggung jawab?”
“Apa?” Gerald refleks menjauhkan diri dari Abhigail dengan perasaannya yang entah mengapa terasa begitu campur aduk.
“Gak usah ngada-ngada! Emang udah lo cek?” Tatapan Gerald berubah nyalang yang ia tujukan pada Abhigail. Sedangkan Abhigail, hatinya mendadak sesak melihat raut wajah Gerald yang jauh dari ekspektasinya.
“Ya, gue cuman bilang seandainya, Ger! Seandainya gue beneran … lo mau ‘kan tanggung jawab?” Tanya Abhigail, sekali lagi. Sialnya, Gerald seolah telah kehabisan kata-katanya untuk ia lontarkan pada Abhigail.
Ada perasaan sesak dan kasihan saat melihat raut wajah penuh luka itu ketika menatap matanya.
Tunggu, sejak kapan Gerald jadi peduli pada Abhigail?
“Gue pake pengaman, gue yakin lo gak akan-”
“Lo lupa? Waktu beberapa bulan yang lo gak pake! Dan lo-” ucapan yang hendak dilontarkan Abhigail refleks terjeda saat tangan Gerald berhasil membungkam mulutnya.
“Fine! Kalau lo beneran iya, gue tanggung jawab. Puas lo?” Jawaban yang terdengar begitu pelan itu sanggup membuat Abhigail membelalakkan kedua bola matanya. Perasaan bahagia yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, terasa menyeruak dari dalam dada.
“Janji!” Raut wajah Abhigail berubah ceria, namun kedua bola matanya terlihat begitu berkaca-kaca. Karena terlalu senang, Abhigail sampai keceplosan mengangkat jari kelingkingnya ke hadapan Gerald yang dibuat kebingungan di tempatnya.
“Apaan sih lo! Kek bocah aja tahu, enggak!” Sentak Gerald. Saat cowok hendak menjauhkan diri dari Abhigail, Abhigail justru malah menatapnya sendu. Sebuah isakan tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
“Ck, bikin repot aja,” walau kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar kurang bersahabat, namun tindakan Gerald yang balas menautkan jari kelingkingnya dengan milik Abhigail, sempat membuat gadis itu lagi-lagi dibuat terkejut. Selang berapa lama, senyuman manis mulai terbit di wajah cantiknya.
“Makasih, udah mau janji satu hal ini sama gue. Demi apa pun, walau ini cuman kata-kata yang keluar dari mulut lo, gue bahagia, Ger.” Terang Abhigail, semakin membuat perasaan aneh dalam diri Gerald kian menggebu.
****
Hari ke dua ujian akhir semester sudah dimulai. Namun, di hari ujian ke dua ini, Abhigail memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah dikarenakan ada urusan keluarga yang mendesak.
Papanya, Dion, mengatakan bahwa dirinya diharuskan untuk cuty satu hari dikarenakan hari ini adalah hari pernikahannya dengan wanita yang belum lama ini ia temui.
Bisa dibilang, papanya adalah seorang single parents. Dari Abhigail kecil, Abhigail tidak pernah tahu seperti apa wajah ibunya. Papanya tidak pernah memberitahu Abhigail tentang; seperti apa rupa sang mama, bagaimana sifat dan sikapnya, dan mengapa beliau tak pernah hadir dalam hidup Abhigail. Seolah-olah Abhigail hadir begitu saja tanpa adanya ibu.
"Bhi, muka Kamu kenapa? Kamu sakit?" Dion melontarkan pertanyaan cemas, tatkala melihat Abhigail termenung kaku di tempatnya.
Tersadar dengan apa yang tengah terjadi, perhatian Abhigail lantas beralih pada raut wajah penuh khawatir Dion yang berada di sampingnya. Omong-omong, saat ini adalah acara di mana para tamu berdatangan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai pengantin, lalu diakhiri dengan menjamu para tamu undangan.
__ADS_1
"Aku nggak pa-pa kok, Pah. Aku cuma agak pusing aja, mungkin karena kemarin sempet begadang juga,"
"Lho? Kemarin Kamu begadang?" Pertanyaan yang terdengar halus itu terucap dari mulut istri baru sang papa, Renita. Raut wajah wanita itu tampak cemas, entah benar-benar cemas atau hanya sekadar dibuat-buat, Abhigail pun tidak tahu.
"Kenapa begadang? Itu nggak sehat tahu buat tubuh Kamu?" Lanjut Renita, spontan Abhigail tersenyum kaku pada wanita itu.
"Nggak bisa tidur, Ma, makanya Aku begadang."
"Oh, ya? Kalau gitu Kamu pasti capek, lebih baik Kamu istirahat saja, Sayang. Toh, acaranya juga tinggal ini aja, iya 'kan, Mas?" Perkataan Renita yang paling terakhir ia teruntukkan pada sang suami yang juga memasang raut wajah sama.
"Iya! Kamu kayak lelah banget, Bhi. Udah, jangan maksain. Kamu langsung ke kamar aja, ya,"
"Nggak pa-pa, nih?" Abhigail tampak ragu untuk meninggalkan tempat. Terdengar helaan napas pelan dari mulut sang papa yang diakhiri dengan sebuah anggukan pelan.
"Nggak pa-palah. Udah, sekarang Kamu istirahat, ya! Papa gak mau lihat Anak Kesayangan Papa jatuh sakit gara-gara kemarin malam tidak bisa tidur,"
"Ya udah kalau gitu, Aku ke kamar dulu ya, Pah, Mah!"
"Iya, Sayang! Hati-hati, ya."
****
"Ugh ... Kok, kepala gue makin sakit, ya? Tapi, gak panas, kok," setibanya di kamar hotel yang telah dipesan dari jauh-jauh hari sebelum hari pernikahan sang papa, Abhigail mencoba memijit pelipisnya saat sakit kepala yang cukup hebat kembali menyerang kepalanya.
Tak ayal, perutnya pun terasa melilit tanpa sebab, sehingga Abhigail memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Gue salah makan, apa gimana sih? Kok, tiba-tiba perut melilit? Kepala aja ini masih sakit, ya ampun,"
Karena bingung harus bagaimana, Abhigail meraih ponselnya yang kebetulan berada di atas nakas. Entah keberanian dari mana, Abhigail lantas menghubungi Gerald. Cukup lama panggilan tersebut berdering, hingga pada akhirnya, Gerald mulai menjawab teleponnya.
"Apaan?" Nada suara galak itu mulai terdengar memasuki gendang telinga Abhigail. Tanpa sadar Abhigail terkekeh pelan mendengar suara itu.
Hanya sebentar. Setelahnya, Abhigail dilanjut meringis pelan akibat kepalanya yang lagi-lagi terasa begitu sakit. "Ger, lo bisa jemput gue, gak?"
"Enggak."
"Tapi, Ger, gue lagi sakit!"
"Gue lagi ujian, b*go!" Nada suara Gerald terdengar sangar namun dengan suara yang pelan.
Mendengar itu, refleks Abhigail menghela napas. "Lo ... masih ujian?"
"Maaf," cicit Abhigail, yang dibalas decakan sebal dari seberang sana.
"Terserah."
"Terus, kapan ujiannya selesai?" Tanya Abhigail hati-hati. Sayangnya, balasan dari sana tetap saja terdengar galak. "Ngapain lo nanya-nanya?"
"Jemput gue di hotel, gue lagi sakit." Mohon Abhigail. Beberapa detik terjadi keheningan, hingga pada akhirnya suara Gerald memecahkan keheningan mereka.
"Terus?"
"Anterin gue ke rumah sakit!" Sambung Abhigail, tak lantas membuat Gerald tergerak untuk membalas ucapan gadis itu dengan penuh kelembutan.
"Ck, enggak!" Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Gerald lantas memutus sambungan teleponnya. Meninggalkan kesan sendu teruntuk Abhigail yang menatap nanar layar ponselnya.
"Lo gak bisa berubah, ya, Ger! Padahal, gue cinta banget sama lo!"
****
"Woi! Bangun! Lo gak mati 'kan?" Bentakan diiringi guncangan di bahu Abhigail, membuat sang empunya yang tengah memejamkan mata lantas dibuat mengerjap hingga berakhir terbangun.
"Gerald? Lo di sini?" Pandangan Abhigail tiba-tiba memburam beberapa saat, membuat Gerald refleks menahan kedua lengannya.
"Woi! Lo gak pa-pa? Pucet banget perasaan,"
"Kok, lo bisa masuk?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Gerald, Abhigail malah balik bertanya pertanyaan lain yang dibalas decakan spontan oleh Gerald.
"Gak penting! Udah, yuk, buruan! Katanya lo sakit," saat Gerald hendak meraih tangan Abhigail, gadis itu malah menjauhkannya dan menatapnya bingung.
"Ke mana?"
"Ke liang lahat! Ya, ke rumah sakitlah, b*go! Lo sendiri yang telepon gue minta ke sini 'kan? Berubah pikiran lo? Ya udah, gue balik-"
"Eeh, jangan! Ya udah, gue ganti baju dulu." Potong Abhigail, seraya mencoba bangkit dari tempat tidur.
Namun, baru saja ia mencoba berdiri, kakinya terasa lemas sehingga berakhir terhuyung ke depan. Beruntung tubuhnya tak langsung jatuh ke lantai akibat Gerald yang tanpa diduga menahan bobot tubuhnya.
__ADS_1
"Ck! Ngerepotin aja terus lo bisanya. Gak usah ganti baju, nih pake jaket gue! Gak pake lama!" Gerald melempar jaket jeansnya ke hadapan Abhigail yang mematung lesu di tempat.
Tanpa mau berucap apa-apa lagi, gadis itu pun menurut. Setelahnya, barulah ia mengikat asal rambutnya, sebelum pada akhirnya kembali menyahuti Gerald.
"Gue udah siap!" Gerald sempat menatapnya datar sekilas. Setelahnya, cowok itu mulai menggendong Abhigail ala bridal style tanpa mengatakan sepatah kata.
"Ger?" Demi apa pun, Abhigail terkejut dengan sikap Gerald yang tiba-tiba menggendong tubuhnya seperti ini. Dengan raut wajahnya yang senantiasa datar, cowok itu mempercepat langkahnya sampai ke dalam lift.
"Gak usah mikir aneh-aneh, gue gini biar gak kelamaan. Lo lelet soalnya," ketus Gerald, masih dengan raut wajah datarnya.
Bukannya merasa tersinggung, Abhigail justru malah mengembangkan senyum manisnya. Dilingkarkannya kedua tangannya di leher Gerald, setelahnya, Abhigail mulai menyamankan kepalanya di dada bidang cowok itu sambil sesekali menghirup aroma khas dari kaosnya yang menjadi favorit Abhigail.
****
"Selamat, ya, Mas! Sebentar lagi Anda akan menjadi ayah!" Bagai sebuah sambaran petir yang tepat mengenai ulu hati, Gerald beserta Abhigail lantas saling pandang beberapa saat dengan tatapan yang sulit dijabarkan.
Ucapan yang tak pernah sakalipun mereka kira akan terlontar dari mulut seorang dokter rumah sakit yang telah memeriksa Abhigail, cukup menjadi sebuah kejutan terbesar di hari ini.
"Anda ... serius, Dok?" Mencoba untuk tetap tenang, Gerald lantas melontarkan pertanyaan pada sang dokter.
Berharap dalam hati bahwa apa yang baru saja dilontarkan sang dokter adalah sebuah kepalsuan belaka, nyatanya, sebuah anggukan mantap dibarengi senyuman manis seolah menggoyahkan pendirian Gerald.
"Ini resep obat dan vitamin yang harus ditebus. Minumnya harus sesuai anjuran. Jangan lupa untuk diminum, ya," perkataan selanjutnya ditujukan pada Abhigail.
Dengan memasang senyuman palsu, gadis itu mengangguk dengan tubuhnya yang terasa bergetar hebat.
Hamil?
Sudah pernah ia duga, namun tidak ia pernah ia kira bahwa itu akan terjadi hari ini.
****
"Gerald, tunggu!" Cukup lama berlari mengejar langkah Gerald yang berjalan meninggalkannya begitu saja, akhirnya Abhigail berhasil mencegat langkah cowok itu dengan berdiri tepat di hadapannya.
Napasnya tampak memburu dengan sesekali mengusap perutnya tanpa sadar. Sialnya, Gerald melihat gerak-gerik gadis itu dengan sangat teliti. Dan hal itu semakin membuat ia kesal setengah mati.
Setelah dirasa napasnya mulai seperti sedia kala, barulah Abhigail meraih tangan Gerald yang rerasa begitu kaku ketika disentuh. Tatapan matanya berubah nyalang, dan Abhigail menyadarinya.
Mungkinkah karena ia tidak menginginkan calon bayinya?
Benar! Ucapan Gerald kemarin yang mengatakan akan betanggung jawab, itu pasti karena terpaksa atas pertanyaan menuntut darinya.
Abhigail sudah tahu, tapi kenapa ia masih ingin berharap sekali lagi bahwa Gerald akan bertanggung jawab untuknya?
Sial! Memikirkannya saja sudah membuat dadanya sesak dan sakit.
Dengan lesu, Abhigail melepaskan tangan Gerald. Kepalanya lalu menunduk diiringi langkah kakinya yang mundur beberapa langkah.
"Maaf! Gue bikin lo terlibat suatu masalah yang begitu besar. Kalau lo gak mau, gue bisa kok buat gugur-"
"Kapan?" Pertanyaan Gerald yang to the point, membuat Abhigail sontak menjatuhkan air matanya. Kepalanya kian menunduk dalam dengan bibirnya yang bergetar hebat.
"Sekarang pun gue bisa buat gugurin-" ucapan Abhigail lagi-lagi terpotong. Dengan satu tarikan lembut, Gerald membawa gadis itu ke dalam pelukannya yang terasa begitu kaku.
Lama tak ada suara. Ucapan Gerald selanjutnya sanggup membuat Abhigail tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis.
"Bukan itu, b*go! Lo bilang kalau lo hamil, gue harus tanggung jawab 'kan? Ya udah, lo maunya kapan?"
Suara tangis Abhigail kian menjadi, dan hal itu sukses membuat Gerald melepaskan pelukannya. Ditatapnya dalam raut wajah Abhigail yang kacau, tak berapa lama kemudian, Gerald berdecak pelan sembari memundurkan posisinya.
"Gue gak tanggung jawab, salah! Gue tanggung jawab, lo-nya malah nangis! Lo maunya kayak gimana sih, hah?"
"Iihh! Gak ada romantis-romantisnya! Ngomong baik dikit kek, gue lagi hamil!" Abhigail kian mengeraskan volume tangisannya. Beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar mereka dibuat menoleh penuh tanya.
Sialan nih cewek!
"Iya, iya! Fine! Lo mau apa, gue kasih semuanya!" Perkataan Gerald selanjutnya sukses membuat tangisan Abhigail berhenti. Raut wajahnya berubah penuh harap. Sialnya, hal itu membuat Gerald tanpa sadar menelan ludahnya susah payah. Takut sewaktu-waktu Abhigail akan meminta yang aneh-aneh.
"Peluk!" Pinta Abhigail. Raut wajahnya tampak menyedihkan, dan Gerald benci melihatnya.
"Enggak."
"Ya udah, gue nangis lagi aja sambil teriak-teriak. Sekalian bilang sama semua orang kalau gue lagi hamil!" Ancaman Abhigail tampaknya berhasil membuat Gerald tergerak. Dengan berat hati, Gerald merentangkan kedua tangannya ke hadapan Abhigail. Semetara itu, wajahnya malah menoleh asal ke samping dengan ekspresi tertekan.
Tanpa berbasa-basi lagi, Abhigail berlari memeluk Gerald dengan senyuman manis yang seolah kembali terukir di wajah cantiknya.
Abhigail senang karena Gerald ternyata mau membuka hatinya untuknya.
__ADS_1
Semoga saja kebahagiaan ini tidak berlangsung singkat, karena Abhigail telah menggantungkan harapan yang begitu tinggi pada Gerald.
To be continue...