Balikan, Yuk!

Balikan, Yuk!
18. Cemburu?!


__ADS_3

Zeva lagi-lagi mengembuskan napasnya entah untuk yang keberapa puluh kalinya. Dirinya gugup dan jantungnya terus-menerus berdegup kencang saat ini. Bukan karena cinta, melainkan karena sebentar lagi namanya mungkin akan dipanggil ke panggung untuk menampilkan sebuah penampilan seni.


Sampai saat ini pun, Zeva masih belum siap akan hari ini. Menampilkan sebuah bakat seni di hadapan para siswa di sekolah barunya cukup membuatnya gugup seharian. Dan lagi, penampilannya kali ini disatukan dengan kelas sebelah, yang tak lain ialah kelasnya Aldevaro. Sedari duduk di tribun penonton, Zeva tak henti-hentinya terus mencuri-curi pandang pada Aldevaro yang berada cukup jauh dari tempatnya.


Cowok itu terlihat begitu asik mengobrol sembari memainkan sebuah gitar akustik di pangkuannya. Dan yang membuat Zeva sedikit merasa kesal, karena sepertinya Aldevaro akan berduet bersama Diandra. Gadis yang mengaku adalah saudara sepupunya Aldevaro.


“Katanya cuman sepupu, tapi kok begitu? Hubungan sedarah haram tahu!” Gerutu Zeva, tanpa sadar. Sialnya, gerutuannya sampai ke telinga Joy yang letak duduknya bersebelahan dengan Zeva. Gadis itu spontan menoleh pada Zeva yang masih setia menatap Diandra dan Aldevaro dengan tatapan yang cukup menusuk.


“Cieee… ada yang cemburu ayangnya deket sama cewek lain. Makanya samperin sono! Lo ngomong kek begitu juga percuma, orangnya gak bakal denger.” Sahut Joy, dengan suara yang terdengar cukup nyaring. Cukup membuat beberapa siswi yang berada di sekitar mereka berdua lantas menoleh, khususnya pada Zeva.


Demi apa pun, Zeva merasa malu dan tidak nyaman saat ini. Banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan tak suka, khususnya Stella. Gadis cantik yang posisi duduknya berada tepat di bawah Zeva.


Ini si Joy kenapa mulutnya makin lama makin ngeselin, ya? Gak tahu apa kalau orang-orang suka gosipin gue?!


“Apaan sih lo! Siapa juga yang cemburu. Biasa aja.” Zeva memutar bola matanya malas dengan wajah datar. Bertepatan dengan itu, netranya menangkap Aldevaro dari kejauhan sana yang ternyata juga tengah menatap ke arahnya.


Sempat terdiam beberapa saat, Aldevaro tiba-tiba mengembangkan senyuman manisnya pada Zeva. Hal tersebut lantas membuat Zeva salting dan dengan segera mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Namun ketika Zeva mencoba kembali mencuri pandang pada Aldevaro, ternyata cowok itu masih setia menatapnya dengan menampilkan senyuman yang sama.


Karena gugup, Zeva kemudian berdeham pelan seraya mencoba menyamankan posisi duduknya. Fokus, Va, fokus! Mending sekarang lo pikirin mau nampilin apa di depan sana. Batin Zeva, lagi-lagi menggerutu.


Sialnya, kedua matanya ini selalu mengkhianatinya, di mana saat ini matanya ini lagi-lagi mencoba mencuri pandang pada Aldevaro. Beruntung saat ini Aldevaro tak lagi menatapnya. Cowok itu terlihat fokus pada kegiatannya, dengan diselingi tawa yang juga dibalas sama oleh Diandra.


****


“Al, nanti di bagian yang ini kita nyanyi bareng, ya?” Diandra memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan deretan lirik lagu yang akan mereka tampilkan nanti di atas panggung. Sebuah penggalan lirik yang ditunjuk Diandra barusan spontan diangguki oleh Aldevaro tanpa bertanya lagi.


“Oke.” Balas Aldevaro. Ketika cowok itu hendak memainkan kembali gitarnya, Diandra sontak menghentikannya. Hal tersebut membuat Aldevaro lantas menoleh. “Kenapa?”


“Bentar lagi giliran kita. Turun, yuk!” Sahut Diandra. Dengan spontan Aldevaro mengalihkan perhatiannya ke arah panggung. “Ya udah.” Ujar Aldevaro. Sebelum cowok itu benar-benar bangkit dari posisinya, dia menyempatkan diri mencuri pandang pada Zeva yang terlihat fokus dengan layar ponselnya. Bibirnya pun tampak bergerak-gerak dengan ekspresi wajah fokus.


Aldevaro tebak, gadis itu akan bernyanyi. Dan hal itu membuat Aldevaro tidak sabar untuk segera melihat penampilan Zeva. Jujur, Aldevaro rindu suara Zeva ketika tengah bernyanyi.


“Al! Ayok!” Sahutan yang cukup keras dari Diandra, seketika menyadarkan Aldevaro. Dengan senyum tipis, cowok itu segera beranjak dari tempatnya dan mulai mengikuti langkah Diandra yang telah lebih dulu meninggalkannya.


****


“Aduuh… gue gugup nih. Lo gugup gak sih, Al?” Diandra lagi-lagi menyahut ketika setibanya mereka di belakang panggung. Sayangnya, yang disahut tidak merespon apa-apa. Ketika menoleh, Aldevaro tengah sibuk dengan ponselnya. Sesekali cowok itu akan tersenyum sendiri, sedikit membuat Diandra kesal. Pikirnya, pasti sedang chattingan dengan Zeva.


“Al!” Panggil Diandra lagi, dengan nada suara yang terdengar lebih keras, sehingga dengan cepat Aldevaro menoleh.


“Kenapa?” Tanyanya, seraya memasukkan ponselnya pada saku celana.


Demi apa pun, Diandra merasa cemburu sendiri di tempatnya. Namun sayangnya, dia sadar betul siapa dan di mana posisinya saat ini. Bagi Aldevaro, Diandra hanyalah seorang gadis rapuh yang tak pernah dianggap kehadirannya dalam keluarga.


Dengan menarik napasnya dalam-dalam, gadis itu tersenyum kaku ke arah Aldevaro seraya menggeleng pelan. “Lo dari tadi sibuk mulu, ya. Lagi chatting sama siapa sih?”


“Oh, kirain ada apa. Kenapa, lo cemburu?” Tanya Aldevaro, seketika membuat Diandra kelimpungan di tempatnya. “A-apaan sih lo!? Ngapain gue cemburu. Kita ‘kan, sepupu, ekhem.” Balas Diandra, seraya membuang mukanya dari tatapan Aldevaro.


Tanpa diduga-duga, Aldevaro malah tergelak di tempatnya. Membuat Diandra yang sempat dibuat waswas oleh pertanyaannya pun dibuat menoleh dengan dahi berkerut dalam.


“Ya ampun, muka lo lucu banget, Dra. Harusnya gue videoin tadi.” Ujar Aldevaro, masih tergelak di tempatnya. Berbeda dengan Diandra yang raut wajahnya berubah kesal menahan amarah.


“Nyebelin banget sih lo, Al! Gak lucu tahu, gak!” Saat Diandra hendak bangkit dan pergi, Aldevaro dengan sigap menahan pergelangan tangannya. “Ya elah, gitu doang pake acara ngambek segala lo. Gue cuman bercanda kali. Duduk lagi.” Suruh Aldevaro, dengan terpaksa Diandra pun menurut walau dalam hati ia masih kesal dengan Aldevaro.


“Eh, giliran kita.” Sahutan lain dari Aldevaro sontak menyadarkan Diandra dari ketermenungannya. Dengan spontan gadis itu menoleh ke arah mana perhatian Aldevaro tertuju saat ini.


“Ya udah, yuk.”


****


“Woi, ya ampunnnn! Lo kenapa gak bilang-bilang sih, kalau punya suara bagus? Gue sampe nangis tadi waktu dengerin suara nyanyian lo!” Pekikan disertai tepukan yang lumayan keras di salah satu bahu Zeva, membuat gadis itu terjengit seraya memegangi dadanya.

__ADS_1


Ditatapnya raut wajah Joy yang terlihat berseri-seri, tak berapa lama kemudian, Zeva melayangkan sentilannya tepat ke jidat gadis itu. Raungan kecil yang keluar dari bibir Joy membuat Zeva tanpa sadar tertawa kecil.


“Hukuman buat lo yang hobinya sering banget bikin orang jantungan.” Gerutu Zeva, seraya melanjutkan langkah kakinya meninggalkan area gedung aula, bersama Joy yang tampak cemberut di belakangnya.


“Eeh, tapi serius suara lo bagus. Bagus banget malah, melebihi suara penyanyi aslinya! Kenapa gak ikutan lomba nyanyi yang ada di tv-tv itu sih? Gue jamin lo bakal dapetin juara 1! Gue daftarin, ya?”


“Apaan sih lo? Berlebihan tahu. Suara gue gak sebagus itu. Malah bagusan suaranya Diandra.”


Mendengar perkataan terakhir dari Zeva yang lebih terdengar seperti sebuah gerutuan, tanpa sadar membuat Joy menghentikan langkahnya. Otak kecilnya dengan cepat langsung memproses perkataan Zeva yang ia tebak tengah merasa cemburu akibat pacarnya yang melakukan duet bersama perempuan lain. Dan yang lebih parahnya, banyak para siswi yang pada akhirnya menjodoh-jodohkan kecocokan mereka tadi.


“Ekhem. Gak usah cemburuan gitulah, Va. Gue yakin kok, pacar lo orangnya setia.” Celetuk Joy, sengaja membesarkan volume suaranya. Refleks Zeva menghentikan langkahnya. Perhatiannya pun seketika langsung beralih pada Joy yang saat ini posisinya telah berpindah menjadi berjalan memunggunginya.


Selang berapa saat, Joy memberhentikan langkahnya. Dengan cukup centil, gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap Zeva seraya memasang senyuman meledek.


“Mereka gak cocok, kok. Mereka ‘kan, saudara sepupu. Lo jangan mikir yang aneh-aneh, ya, Va. Pamali kalau kata orang tua mah,”


“Iiiihhh, apaan sih?! Siapa juga yang cemburu? Gue gak cemburu yahh!” Pekik Zeva, refleks. Dengan spontan Joy langsung berlari meninggalkan Zeva, sebelum gadis itu mulai mengejarnya.


Di sisi lain, Aldevaro yang juga baru keluar dari gedung aula lewat beberapa menit setelah Zeva dan Joy, tertawa geli menyaksikan perdebatan kecil di antara keduanya, khususnya Zeva. Raut wajah gadis itu tampak begitu jutek, namun menggemaskan di saat yang bersamaan. Perkataan dari Joy yang berhasil menggoda Zeva, membuat semburat merah sempat terpampang jelas di wajah gadis itu.


Sayangnya, Aldevaro tidak bisa ikut bergabung di sana. Wajah Zeva yang terlihat salah tingkah, membuatnya tanpa sadar dibuat betah walau sekadar menyaksikannya dari jauh.


“Al!” Sahutan lembut diiringi sentuhan di lengan kirinya, membuat cowok itu spontan menoleh ke sana. Ditatapnya Diandra yang tampak mendongak, mencoba menatap lekat-lekat wajah Aldevaro yang cukup jauh dari jangkauannya.


“Kantin, yuk!” Sahutnya lagi, dengan berani mulai mengeratkan sentuhannya di lengan Aldevaro.


“Sorry, lo duluan aja. Gue harus latihan band dulu sama yang lain.” Tolakan halus dari Aldevaro yang juga disertai dengan melepaskan cengkraman tangannya, sedikit membuat Diandra kikuk di tempat. Apalagi ketika Aldevaro yang langsung melenggang begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Dengan raut wajah murung, Diandra lantas mengeratkan genggaman tangannya pada rok abu-abunya. Melampiaskan rasa sakit bercampur malu akibat penolakan langsung dari Aldevaro.


“Kenapa lo gak pernah lihat gue, sih, Al?”


****



“Ck, ceklis dua tapi gak dibales. Lagi ngapain, sih?” Dumel Zeva, masih setia menskrol ulang roomchat-nya dengan Aldevaro.


Karena masih juga tak mendapatkan balasan, Zeva memilih mengalah dan mengabaikan ponselnya yang ia taruh asal-asalan di meja kantin. Dengan raut wajah yang semakin cemberut, gadis itu mulai memakan donatnya yang ia beli belum lama ini.


Namun, ketika hendak memasukkan suapan lain, suara obrolan dari siswi-siswi yang tak berada jauh dari tempat duduknya, seketika membuat sepasang bola matanya membulat dengan mulutnya yang berhenti mengunyah.


“Btw, Aldevaro sekarang lagi di ruang musik, lho! Gila, tadi pas gue gak sengaja lewat, suara emasnya bikin telinga gue adem.”


“Serius? Sama siapa aja?”


“Ada si Chiko juga, gak?”


“Dih, berondong. Ada lah. Mereka lagi latihan band keknya,”


Tanpa mau mendengarkan obrolan mereka lagi, Zeva langsung saja bangkit dari tempatnya. Dengan langkah tergesa-gesa gadis itu berlari sambil mengunyah sisa donat di mulutnya. Sialnya, ketika sampai di belokan, Zeva tidak sengaja menabrak tubuh seseorang sampai tubuh orang tersebut langsung terjungkal ke tanah.


“Setan! Lo kalau jalan hati-hati dong!”


“Sorry, sorry! Gue gak seng-” Zeva spontan menarik kembali tangannya yang hendak membantu cowok yang ia buat terjungkal itu. Sepasang bola matanya seketika membulat dengan mulutnya yang ikut menganga lebar saat mengetahui siapa sosok yang telah dia tabrak barusan.


“Elo?” Tunjuk cowok itu, yang tak lain ialah Gerald, yang juga baru sadar bahwa orang yang baru saja menabraknya tak lain ialah Zeva.


Tanpa berbasa-basi lagi, Gerald kemudian bangkit dari posisinya. Belum sempat ia meledakan unek-uneknya, Zeva sudah lebih dulu melarikan diri dan kembali menabrak tubuhnya, sehingga mengakibatkan tubuh Gerald harus kembali terjungkal bebas ke tanah.


“Anjng! Awas lo Zeva! Gue akan bales dendam! Arghh*, sia!”

__ADS_1


****


“Dengar laraku… Suara hati ini memanggil namamu… Karna separuh aku … Dir-”


“Stop, stop!” Sahutan dari sang pemain drum, alias Chiko, menghentikan sesi latihan mereka, dari mulai sang vokalis, sampai ke para pemain alat musik lainnya.


“Kenapa, Ko?” Tanya Theo, mewakili pertanyaan teman-temannya yang lain.


Raut wajah Chiko yang sebelumnya datar, mendadak berubah menjadi cengengesan, dengan salah satu tangan yang menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Gue kebelet, pen pipis. Setop dulu, ya.” Ujar cowok itu, kemudian berlari meninggalkan ruang musik, tanpa menunggu terlebih dahulu balasan dari para teman-temannya yang dibuat termangu di tempat.


“Anjr, gue kira ada apaan.” Sahut Theo, seraya meninggalkan kursi beserta keyboard*, dan memilih untuk merilekskan diri di sebuah sofa panjang. Begitupula dengan Aldevaro, Daniel dan William, yang mencari tempat duduk ternyaman untuk mereka.


“Oh, iya. Mumpung gue baru inget, gue pengin nanya satu hal nih sama Bang Al,” William menjentikan jemarinya sembari mengingat-ingat sebuah pertanyaan yang sebelumnya sempat dia lupakan untuk diajukan pada Aldevaro.


“Nanya aja.” Balas Aldevaro, seraya menyandarkan punggungnya pada punggung kursi. Kedua bola matanya pun sempat terpejam untuk beberapa saat.


“Tapi, jangan tersinggung. Ini gue juga tahu dari orang soalnya,”


“Ya udah, apa?” Tuntut Aldevaro, mulai gemas dengan pertanyaan William yang dinilai bertele-tele.


“Em, lo beneran balikan lagi sama mantan lo cuman buat balas dendam?” Tanya William. Seketika itu juga, Aldevaro langsung menyipitkan matanya, dengan perhatian yang beralih pada Daniel.


“Niel. Lo yang bocorin, ya?” Bukannya membalas, cowok itu malah pura-pura tidak dengar dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Aldevaro padanya.


“Serius lo Bang? Lo balikan lagi sama mantan lo demi balas dendam? Gila lo, gue sempet mikir hubungan kalian tuh real. Soalnya tatapan sama sikap lo ke dia tuh kek serius. Wah, parah lo!” Theo yang biasanya suka diam, mendadak bawel dengan berbagai celotehan yang dia ucapkan. Cowok itu bahkan tak henti-hentinya terus berdecak, padahal Aldevaro belum mengatakan apa-apa.


“Nih, ya, Bang! Dendam sama mantan tuh boleh, tapi jangan sampe lo mainin perasaan dia sampe kek real gini. Kalau lo bersikap kek begini, lo sama aja dong kek si Gerald.” William kembali mengajukan perkataannya, membuat Aldevaro dengan malas mulai menghela napas lelah.


“Kok, lo samain gue sama si Gerald, sih?”


“Iyalah. Orang lo brengs*k.” Ucap William, yang kemudian dibalas tawaan kelakar oleh Daniel. Sontak William menoleh dengan raut wajah bingung. “Malah ketawa lagi,”


“Gini, ya, Will, semuanya. Gue gak lagi balas dendam sama siapa pun di sini. Gue tulus balikan sama Zeva.” Jelas Aldevaro. Ucapannya tersebut membuat William maupun Theo saling pandang, yang kemudian perhatiannya beralih pada Daniel.


Merasa diperhatikan, Daniel lantas menoleh ke arah para adik-adiknya yang seolah menuntutnya untuk berbicara. “Ck, dia gak lagi bercanda. Iya, emang awalnya niatan Si Al mau balas dendam, tapi katanya gak jadi.” Balas Daniel, ikut menjelaskan.


Tak berapa lama kemudian, Chiko muncul di tengah-tengah perdebatan. Dengan tampang polosnya, cowok itu menatap satu-persatu raut wajah teman-temannya. “Pada kenapa, nih? Tegang amat perasaan.”


“Terus, jadinya gimana?” Sahut William menuntut, membuat Chiko yang merasa diabaikan jadi melupakan satu hal yang tadinya ingin ia ucapkan pada teman-temannya.


“Jadinya gimana, gimana? Kalian ngomongin apaan, sih?”


“Ck. Intinya, gue gak lagi main-main. Hal yang pernah gue ucapin sama Si Daniel waktu itu cuman sekadar omongan. Gue gak bisa balas dendam sama dia, disaat hati gue masih punya rasa. Gue masih cinta sama Zeva.”


Hening. Tak ada lagi suara sahut-menyahut dari keempat teman-temannya. Mereka semua memilih diam dan mencerna setiap untaian kata yang dilontarkan oleh Aldevaro.


Sayangnya, hal itu tidak berlaku pada Chiko, cowok dengan berbagai ide jahil di kepalanya. Dengan sengaja, cowok itu mengambil sebuah mikrofon yang menganggur, kemudian mulai beraksi.


“Kacang oh kacang… Mengapa para abangku mengabaikan diriku? Apakah karena aku tidak cukup tampan? Oh, kacang… Katakanlah yang sejujurnya padaku… Ho uoo…”


“Berisik, Chika! Lo kalau mau nyanyi pake nada yang bener dong, sumbang amat,” sentak Daniel, seraya terus memegangi kedua telinganya yang mulai terasa sakit akibat nyanyian random Chiko yang jauh dari kata indah.


“Sudah berapa kali ananda bilang, nama gue Chiko! CHIKOOO! C-H-I-K-O!” Teriak Chiko, masih menggunakan mikrofon, sehingga suaranya yang teramat menyebalkan, sanggup memenuhi ruang musik yang luasnya tak seberapa itu.


Tawa kelakar lantas terpampang di raut wajah beberapa teman-temannya yang menertawakan perdebatan antara Chiko dan Daniel. Tidak tahu saja mereka, jika beberapa saat yang lalu, seseorang sudah mendengarkan seluruh percakapan mereka.


Ralat, hanya sebagian. Dan bagian sisanya yang tidak dia dengarkan adalah bagian paling penting, yang mungkin dapat meluruskan sebuah kesalahpahaman.


“Dahlah, ke kelas, yuk! Bentar lagi masuk,” ajak Aldevaro, yang diangguki oleh Theo dan William. Sementara sepasang Tom & Jerry, alias Daniel dan Chiko, masih setia berdebat random tanpa henti.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2