
“Ekhem.” Daniel refleks berdeham pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya saat berbagai pemikiran tak masuk akan mulai memasuki otaknya satu-persatu.
Perlahan, perhatiannya kembali pada sang mama yang tampak tersenyum ceria ketika mengobrol bersama Joy. Entah apa yang baru saja mereka bahas. Namun yang jelas, Daniel ikut bahagia melihatnya.
“Niel! Mama mau ngomong berdua sama Kamu,” sahutan dari Arumi, sanggup membuat Daniel terhenyak dari lamunan singkatnya. Seulas senyuman manis lantas kembali ia perlihatkan.
“Em, kalau begitu Saya izin pamit keluar dulu, ya, Tante.” Pamit Joy, sudah hendak melepaskan tangan Arumi yang sedari tadi terus menerus menggenggam tangannya. Sayangnya, wanita paruh baya itu justru kian mengeratkan genggamannya. Walau hanya sekilas, rasanya begitu hangat.
“Tapi jangan dulu pulang! Tante masih mau ngobrol banyak sama Kamu, oke?” Ucap Arumi, yang dibalas anggukan cepat oleh Joy.
“Siap!”
****
“Jadi, Dokter bilang apa soal kondisi Mama? Sebentar lagi Mama udah bisa pulang ke rumah ‘kan?” Daniel bertanya lembut pada Arumi, disela ia menyuapi sang mama dengan potongan buah apel yang telah lebih dulu ia kupas kulitnya.
Terdengar sebuah helaan napas panjang dari mulut Arumi, membuat Daniel spontan memusatkan fokusnya pada raut wajah sang mama. Sentuhan lembut nan hangat dari tangan Daniel, membuat Arumi tidak bisa lagi untuk menyembunyikan kesedihannya.
Air matanya luruh seiring dengan ingatan demi ingatan ketika dokter menjelaskan soal kondisi tubuhnya yang terus menurun.
Melihat sang mama yang tiba-tiba menangis di hadapannya, batin Daniel langsung menyimpulkan satu hal yang selama ini terus mengganggunya. Perlahan, Daniel menarik lembut tubuh sang mama ke dalam pelukannya. Mengusap pelan punggung rapuh yang tak lagi tampak muda itu dengan penuh kasih sayang.
“Daniel yakin, Mama pasti sembuh, kok. Mama jangan sedih lagi, ya?” Bisik Daniel, berusaha untuk menghibur.
“Kalau Mama nanti gak ada, Kamu jangan nakal, ya! Mama sayang banget sama Daniel,”
“Mama kebiasaan, deh! Please, jangan bahas lagi yang begituan! Daniel yakin kalau Mama bakalan sembuh. Udah, jangan bahas itu lagi,” Daniel berusaha untuk tetap terlihat tegar di hadapan mamanya, walau dalam hati ia sudah sangat menangis. Ia benar-benar tidak siap untuk kemungkinan terburuknya, walau pada dasarnya hal ini sudah pernah diungkapkan oleh dokter.
Omong-omong, mamanya ini mengidap kanker payudara stadium akhir. Dan, seperti yang kalian lihat, sudah tidak ada lagi jalan keluar. Semua jenis pengobatan telah dilakukan, namun semuanya tetap berakhir sama.
“Dokter bilang, kemungkinan jangka waktu hidup Mama gak lebih dari satu tahun, Niel. Sebelum hari itu tiba, Mama pengin banget menghabiskan waktu sama Kamu,”
“Ma-”
“Padahal, dulu Mama udah bermimpi banget pengin melihat Kamu menikah dengan wanita yang Kamu cintai, punya anak, terus ngelihat cucu Mama nanti manggil ke Mama dengan sebutan Nenek. Tapi, sepertinya, semua itu hanya akan menjadi mimpi Mama.”
“Ma, please-”
“Belum sempat Kamu benar-benar dewasa, Mama sudah akan pergi meninggalkan Kamu. Maafin Mama, ya,”
Lemah. Daniel sudah tidak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya. Air matanya luruh begitu saja seiring dengan mamanya yang terus menerus berucap sendu, seolah-olah besok ia benar-benar akan pergi meninggalkan Daniel untuk selamanya.
Di tempatnya, Arumi tertegun menyaksikan Daniel, putranya sendiri yang biasanya selalu menampilkan senyum dan tawa receh, kini menjatuhkan air mata tepat di hadapannya. Daniel bahkan sampai memeluk Arumi dengan begitu erat. Isakan demi isakan yang selama ini terus ia sembunyikan seorang diri, pada akhirnya tumpah di hadapan mamanya. Wanita yang sangat ia cintai di muka bumi ini.
“Daniel sayang Mama.”
****
Petang telah berganti malam, dan Daniel baru saja selesai menemani sang mama sampai akhirnya beliau tertidur setelah sebelumnya ia telah lebih dulu makan dan minum obat. Perlahan, Daniel menutup pintu bangsal mamanya. Menatap kosong ke arah langit malam yang tampak polos tak berhiaskan cahaya bintang.
Lagi-lagi otaknya melayang pada hal-hal yang tak seharusnya ia pikirkan. Air mata lagi-lagi turun membasahi wajahnya yang tegas namun rapuh dari dalam.
Pikirannya kacau dan batinnya sakit. Dan Daniel tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi.
“Nih!” Lamunan kosong Daniel tiba-tiba membuyar saat sebuah botol minuman dingin ditampakkan tepat di depan wajahnya. Ketika menoleh, Joy berdiri di sebelahnya dengan mulutnya yang mengapit sebuah permen lolipop rasa mangga.
Dengan tatapan santainya, Joy menyuruh Daniel untuk mengambil minuman di tangannya. Dan dengan terpaksa, Daniel pun mengambilnya. “Thanks.”
“Santai. Btw, kaki sama lengan lo masih sakit, gak?” Daniel dibuat terdiam dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Joy. Entah mengapa, sudut hatinya tiba-tiba terasa sesak, dan Joy pun menyadari akan perubahan suasana Daniel.
Tanpa mengatakan apa-apa, Joy lantas menarik kepala Daniel untuk bersandar di bahunya. Hal itu tentu saja membuat Daniel tersentak. Saat ia hendak menjauhkan diri dan bertanya, ucapan dari mulut Joy telah sepenuhnya menjawab semua yang ingin ia tanyakan.
“Sorry! Tadi gue gak sengaja denger obrolan lo sama Nyokap lo. Gue turut sedih dan gue harap, Nyokap lo bisq segera sembuh dari penyakitnya.”
“Thanks.” Balas Daniel, setelah hampir cukup lama ia terdiam mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Joy.
Terjadi keheningan beberapa saat di antara keduanya. Sampai pada akhirnya, suara Joy lagi-lagi yang membuka pembicaraan mereka.
“Gue … boleh nanya satu hal gak sama lo?” Sahut Joy. Perlahan, Daniel mulai menegakan kepalanya dari bahu Joy. Menatap gadis itu dengan tatapan datarnya.
“Em, tapi sebelum itu, duduk di sana, yuk! Kaki gue pegel,” Joy menyengir lebar diakhir kalimatnya, membuat Daniel tanpa sadar ikut mengangkat kedua sudut bibirnya.
Sialnya, senyuman Daniel yang beginilah yang membuat Joy seakan dibuat terbius beberapa saat. Terlalu manis dan Joy baru menyadari satu hal tentang Daniel, bahwa cowok itu ternyata sangat tampan.
__ADS_1
Benar kata Abhigail!
Bisa suka beneran gue sama nih cowok! Batin Joy menjerit tanpa sadar.
“Woi! Bengong lo? Kenapa? Sekarang lo baru sadar kalau gue ini sebenernya ganteng banget, hm?” Sahutan usil dari Daniel tak sedikit pun mengenyahkan lamunan Joy. Justru yang ada, gadis itu malah mengangguk polos tanpa berkedip.
Dan, kalian tahu seperti apa reaksi Daniel? Cowok itu malah terbelalak dengan jantungnya yang mendadak berdegup kencang. Sial! Apa-apaan si Joy ini? Jadi salting ‘kan?
Tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, Joy lantas menampar dirinya sendiri dengan raut wajahnya yang memerah seperti tomat.
Karena suara tamparan yang terdengar begitu menggema itu, membuat Daniel kembali menolehkan kepalanya ke arah Joy, dan begitupula dengan Joy yang kembali menatap Daniel dengan tatapan harap-harap cemas.
Wajahnya yang memerah padam menarik perhatian Daniel. Salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Daniel menarik dagu Joy dan membawanya ke hadapannya.
Setelahnya, tanpa diduga-duga, Daniel menjatuhkan ciumannya tepat pada bibir Joy yang masih mengapit permen lolipop di dalam mulutnya.
Hanya saling menempelkan. Setelahnya, Daniel mulai menjauhkan wajahnya dari Joy, menatap gadis itu dengan tatapan tak biasa. Joy yang paham dengan kondisi di antara mereka pun lantas membuang permen lolipop yang masih utuh tersebut ke sembarang arah.
Di detik yang sama, Joy menarik kerah jaket yang dikenakan Daniel, dan membalas ciuman Daniel dengan sepasang bola matanya yang perlahan mulai terpejam.
****
Di sepanjang langkah kaki menyusuri lorong-lorong kelas, seseorang tak henti-hentinya terus mengulum senyuman manisnya, sampai membuat beberapa siswa dan siswi yang menyaksikan senyuman itu dibuat terheran bahkan takjub.
Walau salah satu kakinya masih terasa sakit akibat kecelakaan yang menimpanya beberapa hari yang lalu, ia tampak tak memedulikannya, dan terus berjalan menuju kelas. Bukan menuju ke kelasnya, melainkan ke kelas salah satu sahabatnya.
“Hi, everybody! How are you today? Me? Very good of course!” Tanpa merasa malu, padahal kelas tersebut bukanlah kelasnya, Daniel berucap lantang di depan pintu kelas, membuat beberapa beberapa murid, khususnya para siswi dibuat terkekeh menanggapi. Tidak dengan salah satu sahabatnya yang kebetulan baru saja mendudukan diri di tempat duduknya.
“Apaan sih lo? Dipikir lo artis kali sok-sokan nyapa-nyapa begitu. Pergi lo!” Sentak Aldevaro, moodnya mendadak hancur karena ulah Daniel yang muncul tiba-tiba.
Bukannya benar-benar pergi seperti yang disuruh oleh Aldevaro, Daniel malah menyelonong begitu saja, sampai pada akhirnya ia memiting leher Aldevaro dengan penuh semangat.
“Al, kapan lo mau ketemuan lagi sama cewek lo?” Perkataan Daniel yang setengah-setengah, membuat Aldevaro menyimpulkan lain. Dengan kesal Aldevaro menepis lengan Daniel yang dengan berani menyentuhnya.
“Maksud lo apaan nanya-nanya gitu? Mau nikung lo, hah?”
“Ya kali anj*r! Gue cuman, yaah … nanya aja. Soalnya gue juga mau-”
“Caper sama cewek gue?” Selaan Aldevaro yang masih dengan nada suara galaknya, membuat Daniel tanpa sadar berdesis pelan.
Dengan malas, Aldevaro merotasikan bola matanya seraya kembali menepis tangan Daniel yang lagi-lagi tanpa seizin darinya menyentuh bahunya sok akrab. Melihat Aldevaro yang tampak tak percaya, Daniel jadi ingin membuktikan satu hal pada cowok itu.
“Lo gak percaya sama gue?”
“Enggak! Musyrik percaya sama lo!” Dengus Aldevaro, kemudian mendudukan diri dengan santai tanpa mau memedulikan Daniel lebih lanjut.
“Eh buset! Untunggg lo temen gue, Al!” Gerutu Daniel. Selang berapa lama, cowok itu mulai menggebrak meja yang ditempati Aldevaro, menatap dengan tatapan yang begitu menusuk pada Aldevaro yang membalasnya dengan tatapan malas.
“Istirahat pertama nanti, gue tunjukin sama lo!”
“Bodo amat!”
****
Seperti yang sempat diucapkan oleh Daniel, kini, di jam istirahat pertama, cowok itu benar-benar membuktikan satu hal pada Aldevaro bahwa dirinya memanglah memiliki pacar.
Siapa yang akan mengira bahwa cowok itu berpacaran dengan teman dekat dari Zeva, yang tak lain adalah Joy.
Di tempat mereka berdiri, Zeva dan Aldevaro tampak saling pandang beberapa saat, sebelum pada akhirnya perhatian mereka kembali pada Daniel dan juga Joy yang tampak mengulum senyum yang berbeda.
Di satu sisi, senyuman yang ditampilkan oleh Daniel tampak begitu puas. Sedangkan Joy, senyuman gadis itu lebih ke sebuah senyuman malu-malu. Tak pernah sedikit pun Joy merasakan hal seperti ini dalam hidupnya. Dan Daniel adalah yang pertama.
“Lo berdua … sejak kapan mulai deket?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Zeva.
Baik dari Daniel maupun Joy, kedua remaja itu tampak saling pandang beberapa saat, hingga pada akhirnya saling berdeham pelan. “Sejak-”
“Sutt! Jangan dikasih tahu! Mereka aja suka diem-dieman kalau lagi ada masalah.” Joy menyela ucapan yang hendak dilontarkan Daniel. Seketika, Daniel terdiam seraya mengangguk-angguk pelan tanda mengerti. “Bener juga. Ngapain ngasih tahu dua orang ini?” Balas Daniel, tampak Joy mulai mengode cowok itu untuk bertos ria dengannya.
“Dih! Ya udah kalau gak mau ngasih tahu. Gak kepo juga, ya ‘kan, Var?” Seolah tak mau kalah, Zeva ikut menimpal seraya mengode Aldevaro agar berada di satu kubu yang sama dengannya.
Tanpa mengatakan sepatah kata apa pun, Aldevaro hanya mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan Zeva. Raut wajahnya tampak datar, namun hatinya berkata lain. Lihatnya gestur tangan Aldevaro yang menyuruh Zeva untuk segera menjauh dari Daniel dan Joy yang terus saja memamerkan kemesraan mereka.
“Cari tempat duduk, yuk! Males banget kalau harus satu meja sama mereka. Apalagi sama si Kuda Nil,” ajak Aldevaro, yang dibalas antusiasme oleh Zeva.
__ADS_1
“Dih, pake ngatain cowok gue lagi! Awas lo, ya!”
“Apa? Wleek!” Aldevaro memasang wajah usil teruntuk Joy yang hendak melabraknya. Sayangnya, pergerakannya terkunci oleh Daniel yang tanpa disadari tengah mencengkram pergelangan tangannya.
“Udah, biarin! Kita juga nyari tempat duduk, yuk! Di sini gerah,”
“Ck! Ya udah.
****
Hari telah berganti minggu, dan minggu telah berganti bulan. Tak terasa ujian akhir semester sudah berada di depan mata. Tinggal beberapa bulan lagi dan murid-murid kelas dua belas sudah akan mulai lulus setelahnya.
Dan hari ini, adalah hari terakhir bagi murid-murid SMA BIMA SAKTI melaksanakan ujian tersebut. Semuanya tersenyum dan tertawa lepas saat ujian mata pelajaran terakhir telah benar-benar mereka selesaikan tepat waktu.
“Yes! Minggu depan kita lulus ‘kan?” Suara Joy yang nyaring dikala ia baru saja keluar dari ruang ujian, disambut tepukan pedas di dahinya oleh Zeva.
“Lulus matamu, hah? Masih ada US sama UN, Jovankaaaa! Udah, gak usah ngebet pengin cepet-cepet lulus! Gue yakin kok, si Daniel mah aman,” celetuk Zeva, membuat Joy berdesis pelan di tempatnya.
“Ya elah, suka-suka gue dong! Gue cuman berharap, BER-HA-RAP! Gue gak mau ujian lagi, please! Gue capek, hiks.”
“Drama bangettt perasaan!” Gerutu Zeva, yang beruntungnya tak dapat didengar oleh Joy.
“Eeh, Va!” Joy refleks menghentikan langkah Zeva yang berjalan lebih dulu dari dirinya. Zeva yang sedari awal tengah memainkan ponselnya pun mau tidak mau diharuskan menghentikan langkah kakinya juga.
“Apaan?”
“Lo … udah denger beritanya?” Ucapan Joy yang selalu setengah-setengah ketika hendak bercerita, membuat Zeva mendengus pelan.
Kebiasaan emang nih anak!
“Enggak! Berita apaan sih, yang spesifik kek kalau mau cerita!” Zeva sudah hampir kehilangan kesabarannya. Spontan Joy menyengir lebar, sebelum pada akhirnya ia menarik Zeva untuk menjauh dari keramaian.
“Apaan sih? Lo mau ngomong apa?” Zeva mulai mengubah nada bicaranya menjadi sedikit berbisik. Entahlah, ia refleks saja ketika melihat gelagat Joy yang mencurigakan itu.
“Ekhem. Lo tahu si Abhigail ‘kan?” Tanya Joy, mulai membuka cerita. Dan Zeva pun mengangguk cepat tanpa sedikit pun mau menyela.
“Nah, dia ‘kan satu ruangan tuh sama gue pas ujian?”
“Heem, terus?”
Joy mulai menarik napas dalam-dalam, sebelum pada akhirnya ia mulai kembali melanjutkan kalimatnya. “Pas hari kedua ujian sampe sekarang hari terakhir, dia udah gak pernah masuk ke ruang ujian lagi!” Terang Joy, raut wajahnya lantas berubah serius, mengundang perasaan semakin penasaran pada diri Zeva.
“Masa?”
“Iya!”
“Sakit kali?”
“Engggak, Va!”
“Lo tahu dari mana kalau dia enggak sakit?” Sebelum benar-benar akan kembali melanjutkan kalimatnya, Joy lebih dulu memastikan keadaan sekitar. Dirasa cukup aman, barulah Joy kembali melanjutkan ceritanya dengan posisi tubuh yang kian berdempetan dengan Zeva.
“Gue denger-denger dari beberapa guru yang lewat di depan gue, katanya Si Abhigail berhenti sekolah tiba-tiba! Ditanya alasannya kenapa, dia enggak jawab. Akhirnya, sekarang dia beneran keluar dari sekolah,” pungkas Joy, berbisik.
Zeva hanya menghela napas gusar seraya menatap tak percaya akan cerita yang baru saja ia dengar dari mulut Joy. “Serius?”
Joy menginterupsi Zeva untuk menutup mulutnya, ketika terdengar bunyi langkah kaki di sekitaran mereka. Saat suasana kembali senyap, barulah Joy kembali melanjutkan ceritanya.
“Lo ngerasa aneh gak sih, sama si Abhigail? Jangan-jangan dia kenapa-kenapa lagi,”
Zeva lagi-lagi menghela napas panjang, yang diakhiri dengan menggeleng-gelengkan kepala. “Gue juga mikirnya gitu sih. Jangan-jangan, Abhigail gak punya biaya buat bayar uang sekolah?”
“Buset, lo, Va! Lo belum tahu, ya, siapa si Abhigail?” Pertanyaan Joy membuat Zeva semakin tertarik untuk terus melanjutkan percakapan.
“Emang … statusnya tinggi?” Tanya Zeva, terdengar begitu polos.
“Bapaknya aja pengusaha kaya raya! Ya kali buat biaya sekolah doang dia gak mampu? Gue rasa sih enggak semudah itu,” terang Joy.
Karena memang pada dasarnya Zeva tidak tahu apa-apa, jadilah dia hanya mengangguk-angguk pelan di tempatnya.
“Va!” Sahutan yang lagi-lagi terucap dari mulut Joy, membuat Zeva spontan menaikan alisnya.
“Enggak jadi. Lain kali aja, deh,”
__ADS_1
“Dih! Dasar gak jelas!”
To be continue…